Pengabadian Perasaan

1194 Kata
“Waktu kakak pergi ke luar negeri. Meski, ya, aku diajak juga. Semacam ke Korsel, Polandia, dan yang lainnya, tetap aja, aku kena virus sepi. Yang akhirnya, karena manusia makhluk paling pintar mencari pengganti, aku pun mencari di mana aku bisa tetap menikmati duniaku, yang nggak lupa juga buat … bersyukur.” “Dan, ya, itu membuatku terjun ke dunia design. Main sama software editing, nyobain style-style kece yang lain. Yap, semuanya.” Raka makin melebarkan senyum. “Iya, Sha, itulah cinta. Saat kamu menemukan yang abru, lalu, kamu sendiri nggak lelah buat terus terjun ke dalamnya.” DEG. ‘Apa itu seperti Kak Raka yang menuntaskan semua tentang dirinya untuk diabdikan kepada Kak Thayana?’ batin Asha penuh tanya. Raka pun menghadap penuh padanya mengendikkan bahu, “Itulah yang aku rasakan saat aku bekerja, wawancara, semuanya. Aku akan anggap bahwa aku terlalu banyak memiliki cinta sampai aku bahkan membagikannya kepada oranglain, terlepas mereka membutuhkan amupun tidak.” “Apa itulah yang membuat Kak Raka jadi sangat percaya diri?” Dia menggeleng kecil. “Astaga …” Memegangi kepalanya. “Aku tidak percaya diri.” “Lalu?” “Aku hanya mengendalikan apa yang sekiranya mampu kukendalikan.” Dan, disinilah Asha, bolak-balik di kasurnya mirip kayak koki Jepang sedang men-roll nasi untuk sushi, tengah kesibukan dengan imajinasi manisnya sendiri. Percayalah, Asha bahkan senyam-senyum sekarang tatkala mengingat wajah Raka yang memberitahunya untuk … ‘Kamu cukup bahagia saja dengan apapun pencapaian dalam hidupmu, Sha. Tidak ada yang ammpu menuntutmu, menuntunmu, dan percaya sama dirimu sendiri kecuali, ya, kamu jugalah orangnya. Makanya, nanti, saat masuk ke ranah abru, terutama dunia kerja, sapalah semuanya dengan penuh cinta. Buang rasa malu.’ ‘Bahagiakan semua proses yang suka ‘ngambek’ dengan menguji kepercayaan dirimu. Ingat. Itu bukan malu-maluin. Tapi, menjadi apa adanya dengan atmosfer baik mulai ujung kaki hingga ke ujung kepala, itu sudah cukup untuk menjadikanmu segalanya.’ Oke, jangan tanyakan Asha yang mendadak menjelma jadi orang gila sebab malam-malam rela-relanya ia tertawa lepas tanpa ada yang lucu meski di kepalanya riuh akan pesona Raka yang menggebu. Sip, rumah sakit jiwa, sangat direkomendasikan untuk ditelepon sekarang. Sementara di seberang sana, Raka sedang tergopoh-gopohnya. Ditemukan, sang Ibu dan Ireska, dirampok bahkan hampir dibegal ke tahap sangat parah oleh lelaki tak dikenal, yang ternyata, semenjak dari awal mengincar mereka di hotel tempat mereka menginap. Keduanya, sih, tidak terluka parah. Untungnya, loh, ya. Namun, itu cukup untuk membuat Raka bingung, berkat, ini jelas mengingatikannya pada resiko ditinggal mirip kejadian kelamnya dulu. Atau perasaan takut yang menjeruji persis saat dirinya harus rela Asha di ruang operasi oleh dokter tanpa ia sendiri tahu Asha nasib pasnya bagaimana selain hanya bisa menyerahkan kepada tenaga ahlinya. Disitulah, Raka, di ruang tunggu beralaskan kursi panjang, ia berdo’a sebaik mungkin agar … keduanya baik-baik saja, meski, luka mengucur dari kepala. Dan, kalau kamu tanya apakah Raka baca pesan Asha atau nggak, sayangnya, belum. Berkat hpnya saat ini mati total berkat tadi, ia terburu-buru dan hectic abis selama lagi ngerja. Makanya, nggak mentingan hal eksternal kayak gitu. Boro-boro ngadain perhatian, buat mastiin aja yang ajdi media malah drop. Oke, back to topic. Hingga … “Rak?” Seseorang memanggilnya. Langsung menghambur begitu saja dan duduk berdampingan dengan sahabatnya itu, usai dirinya mengintip ke kaca jendela kamar. “Gimana keadaan Ireska?” Raka men dongak, wajah laki-laki itu nampak pucat, pasi diterpa heningnya bimbang, dan amukan perih yang menganga. “Leon, kita do’akan aja.” Leon pun mengangguk. “Iya, semoga nggak terjadi apa-apa.” Raka mengamini. “Terus … satunya?” Mata Leon langsung menyipit ngernyih. “Mangkal.” Yang jawaban itu, sontak saja, menghadirkan tawa dalam diri Raka. ‘Ah … Hazel duda berkedok wajah millennial yang keren banget popularitasnya, dia masih … aja haus betina. Sungguh nggak bisa diduga.’ “Dia amsih saja nggak mau berubah,” komentar Raka. “Dan, apakah tokoh utama kita berkat terkenal akan seimpati, empati, kesabaran, meski karakter lo lebih warna-warni dari itu, apakah lo … marah gitu setiap ketemu dia? Tertekan gitu, missal?” Leon pun menatap sahabtnya itu malas, namun, penuh sarkas, ia lontarkan, “Dan, lo, sohib yang seringnya jadi penengah berkat gue sang tokoh utama ini seringnya lebih kea rah meledak, apakah lo … udah ganti karakter jadi provokator dalam selimut?” Raka senyum, “Lo … sungguh nggak pernah beda. Persis kayak si ‘hooh’ yang nggak ganti juga.” “Harap ngaca.” Leon menatapnay penuh fokus. “Lo bahkan ampe detik ini masih payah dan cuman bisa curhatin betapa uring-uringan lo nanganin Adek kesayangn gue.” “Isshh, bisaan, ya, lo.” “Iyalah.” “Entar lo, kualat punya karakter kayak gue. Awas lo uring-uringan.” “Enggak punya adek cewek, ibu ngebet nyuruh nikah, tunangan nggak keduga, sahabat yang sekarang nggak ciamik lagi padahal dulu first love, sama calon ipar laknat yang sohibnya galak meski cewek.” Oke, sepertinya, kalian tahu siapa mereka semua. “Lo makin mirip sama Hazel.” “Terimakasih.” Dia menunduk, menyatukan tangan khas orang lagi ngasih salam kebajikan. “Dan, itu bukan kalimat kehormatan.” Dan, sebelum Raka meneyru lebih lanjut, Leon lebih dulu membalas, “Harap testimoni segera diberikan kepada yang sesungguh, sepantas, sepantar, tertuju, dan sebenernya. Jangan diem-diem begini dan lewat perantara.” “Astaga …” Raka memegangi jidatnya. Ia sedikit tertawa. Yaiyalah, pembicaraan seperti itu, di malam hari, apalagi dalam suasana tegang begini, tentunya, itu sangat … konyol. “Harusnya kita berdua yang mikir bagaimana kita ahrus memebrikan testimoni yang elit, Leon.” “Sayangnya, aku ngggak tertaik jika testimoni itu soal … asmara.” “Jadi, kamu sudah berencana untuk melajang seumur hidup?” Lihat, Leon pun menatapnya dengan baus. “Ow, ow, benar kata Hazel, kamu sangat menakutkan.” “Seenggaknya, untukmu, aku masih punya kesabaran, Sang Tuan Nggak Peka.” “Dan, Tuan Paling Galak Sedunia.” Itulah persahabatan Raka yang selama ini, jangankan pernah naik, muncul kepermukaan pun .. tidak. Kenalkan, RLH Squad. Berisi tiga cowok petinggi di perusahaan masing-masing, meski sahabatannya kekeut banget, yaitu, Raka-Leon-Hazel. Tiga makhluk blaster bumi surge beda alumni yang akhirnya entah bagaimana semesta memutuskan untuk mempertemukan mereka, hingga menakdirkan, untuk menjadi komplotan saja. Sejarahnya begini … Raka satu SMA bareng Leon, tapi, TK-nya sama Hazel. Iya, tahu, kok, beda jauh, tapi, hei … bukankah … justru unik karena pasalnya, mereka bisa sedekat ini sekarang? Yaps. Mengagumkan sekali, bukan? Dan, itulah, mereka, kompak. Tanpa terkecuali. *** Pagi menjelang. Matahari dengan unyu-unyu dan sinar limitnya, perlahan-lahan merasuk ke sal-sela lubang hingga kaca jendela untuk memberi sambutan selamat pagi yang hangat. Namun, ada satu orang yang tertidur dengan posisi nggak layak seperti kamu tengah berada di bus. Dia tidur begitu saja. Tidak berbaring. Namun, hanya, duduk. Beku. Meski, kepalanaya sendiri sering freestyle sampai mengganggu oranglain yang hendak duduk di bangku yang sama. Raka pun menggeleng bersemu. Sungguh, nggak tega kalau harus melakukan ini. Meski, ya, ini demi kebaikan sahabatnya tersebut. Yang kemudian, Raka dengan terpaksa, ia menepuk pundak sahabatnya itu, untuk membangunkannya. “Sudah morning, bro.” Raka mengatakannya. Yang entah itu menyapa, entah pula sebagai alarm semesta agar laki-laki itu kembali ke … alamnya. Hehe.                            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN