Kontan saja, wajah cowok itu langsung mengerut yang ditambah dia menoleh ke sana-sini. Mengecek bahwa sudah mulai berlalu-lalangan suster beserta tim dokter yang mulai mengecek pasiennya di pagi hari.
Dia pun menyadari, ah … rupanya ia sampai lupa jika dirinya sampai numpang tidur di sini. Memalukan sekali. Sungguh.
Lalu, Leon pun bertanya, agar tak begitu canggung. Pasti kali ini, akan banyak bermunculan jokes-jokes aib seputar dirinya, pasti, itu pasti. Dan, setelahnya bakal jadi ledekan selama di tongkrongan.
Astaga …
Ya ampun, dia ini, niatnya emang perduli dan pengennya jelas menolong, malah dipenuhi insting-insting peluang nyebelin kayak gni.
Kan, jadinya, membunuh keikhlasan itu sendiri?
Astaga.
“Lalu, bagaimana keadaan Ireska, Ibumu dan yang lainnya? Bagimana juga biaya rumah sakit?”
Raka pun tersenyum, yang langsung ditangani Leon dengan mengomel, “Hei, aku ini sahabatmu, orang terdekatmu, dekat denganku juga. Oleh karena itu, beritahu aku. Bagikan informasi saja. Akan aku coba bantu apapun yang terkait sama mereka. Ayo, sini.”
Raka menggeleng. “Enggak perlu, Leon. Mending kamu pulang saja. Toh, kamu juga harus nganter dan nangani, siapa, ya, itu kata Hazel, karyawan ‘di luar ambang batas’ yang ingin kamu tegur sampai bikin darah kamu tinggi?”
Leon pun menggeram, “Ah, iya, gadis itu.”
Raka takjub, “Wah, jadi dia seorang gadis.”
Matanya melebar. Oke, ini menarik. Dia jadi mendoakan dalam hati, agar seenggaknya, benci jadi cinta antara sahabatnya itu dengan gadis itu bisa terjadi. Se-mo-ga.
“New, sih, sebenernya,” kata Leon mengangkat bahu. “Aku juga nggak ngerti kenapa HRD bisa memasukkan dia.” Bibir Leon bahkan mencebik. Itu membuat Raka tertawa, karena hei … sahabatnya ini … lucu sekali.
Lalu, dia cuma berdehem. “Dan, bukankah itu seharusnya kamu nggak perlu terlalu keras sama dia? Berkat dia bukan di level very hard?”
“Justru itu, karena dia benalu yang masih bayi dan baru, aku jadi bisa menuntaskan dia dari awal, sebelum dia, semakin menggila di tempat yang bukan tempatnya nyari spotlight dan popularitas.” Lalu, bergidik. “Owuuhhh … Itu sangat … ngeri.”
Lalu, Raka justru tertawa, sembari mengilah, “Hei, kamu jangan terlalu khawatir gitu. Dia juga belum tentu pemuja spotlight.”
“Iya,” respon Leon menggaruk pelipis. “Aku harap juga begitu. Karena aku terlalu singkat batas waktu hidupnya, hanya untuk berurusan dnegan orang-orang seperti itu.
Dan, sebagai kawan, Raka pun mengelus pundak sahabatnya tersebut, menenangkan.
***
Namun, kawan yang lain rupanya juga menunjukkan kesetiaan yang lain.
Hazel, dengan tanpa nggak keduganya, pagi itu, rupanya mengunjungi rumah sakit sembari membawa mobil mewahnya. Katanya, sih, buat jemput si Babang Leon.
Yang langsung aja disirami tawa Raka yang tentu nggak ngerti mengapa coba semesta justru menyatukan dua sejoli beda dari inchi terujung sampai inchi keujung yang lain buat barengan.
Seolah …
Dari filosofi, memang, keduanya mati.
Dari karakter, nggak suah ditanya, sama-sama … nggak bener.
Satu galak, satu tebar pesona.
Yaps. Mereka nge-jreng dengan cara mereka sendiri.
Dan, saat masuk mobil tersebut, yang mana mobil itu lebih patut dipakai seorang artris atau selebriti dunia, dengan Hazel yang sibuk membaca majalah fashion wanita. Mungkin pula, itu adalah mangsa barunya, Leon pun melenguhkan napas dan bertanya, “Nggak bosen?”
Hazel kemudian cuma mengedipkan mata.
Membuat Leon seketika memutar bola mata. “Seharusnya aku nggak usah tanya mengapa otakmu terlalau terbalik seperti itu.”
“Hei, tapi aku sukses.”
“Dan, banyak orang suskes nggak waras.”
Hazel pun … manyun.
Seriusan, itu imut sekali.
Baiklah. Itu adalah kalimat pembuka pagi dan hari yang baru yang sangat nyelekit.
Yang langsung saja ditepis dengan satu perkataan baru yang membuat Leon diam mendengarkan. Sesi curhat pun selanjutnya … dimulai.
“Aku baru saja nganter anak-anakku ke sekolah. Kamu tahu, Leon? Mereka nampak bahagia sekali begitu mereka mengobrol dengan perempuan.”
Leon mengangguk, “Dan, kamu, cerita kayak gitu, hampir setiap hari, yang entah itu tanda bahwa kamu masih bucin dengan istrimu dan mendambakan istrimu bangkit dari kubur lalu menyayangi anak-anakmu, mengurus mereka, dan, kalian bahagia. The end.”
Hazel ketawa.
“Aissshhh … kamu ini, empatilah sedikit, jangan sadis sekali begitu.”
Namun, sahabatnay justru makin serta merta mendesis. Dia mungkin udah saking alerginya dengan segala hal terkait Hazel.
Hingga Hazel pun sampai ketawa. Serius. Dia bahkan belum cerita banyak. Tapi, emang bener, sih.
Siapa, sih, bapak yang nggak terenyuh melihat anaknya seketika pilu melihat anak-anak lain punya Ibu?
Kan, jiwa insting pemburunya jadi bangkit lagi?
Dan, dia jadi menginginkan untuk segera menikah dengan yang baru lagi?
That’s all is make a sense, konkret!
Saat itu juga, Leon menggeleng. “Mending kamu nikahi aja, deh, anak baru yang tukang bikin masalah degan viral itu. Aku nggak mau mencabik-cabik dia di hadapan kamu.”
“Hei, brrro, santaaaiiii …” Hazel menenangkan. “Dia nggak seperti yang kamu pikirkan, pasti. Lagipula dia anak baru yang new banget keterimanya. Please, ya, makhluk bermulut bon cabe, jangan hiperbola begitu.”
Mata Leon pun membola, “Iya, nggak seperti. Tapi, total seperti yang aku impresikan.”
Hazel melepaskan tawa. “Jangan bilang ini karena kamu masih trauma pasal yang dulu.” Hazel pun melenguh. “Ohh, ayolah, Leon, aku emang playboy cap kapak, tapi, kamu, ternyata sangat nggak bisa move on dan berlagak perkasa. Kamu … sangat menyedihkan.”
“Wuhhh, well, seenggaknya aku sama sekali nggak biadab kayak kamu.”
Oke, perang dunia pun terjadi dan menyuluh di sana.
Biasanya, kalau sudah begitu, hanya Raka yang biaa menangani mereka berdua.
Jadi, ibarat kata, Raka adalah penengah dari segala perseteruan yang terjadi dan menyetrum di antara mereka.
Dan … kini, mari kita pindah ke lokasi yang berbeda namun bertempat yang sama.
Hari ini, berbekal nge-grab yang ternyata tukang grab-nya adalah Papa dari Yaya tersebut, kini, Alo, Yaya, Asha, berangkat kerja dengan barengan.
Yang sebenernya, diwarnai ketragisan huru-hara geludan tawa, sebab, Bu Gran beserta Tuan Hang sempat mampir ke kontrakannya mengucapkan selamat.
Meski, sih, Asha pada detik ini, juga kepikiran, ‘Kok, Kak Raka nggak ikut, ya?’
Namun, Bu Gran pula cuma bisa mengangkat bahunya bingung harus merespon apa.
Tapi, yang namanya energi, kalau sudah keisi, ditambah berbagai ragam ekspresi dari teman sendiri, kita, akan dengan mudah, justru, melupakan semuanya.
“Asssshiapppp, lagu selanjutnya.” Aldo udah megang mic gitu aja. Super semangat. Enggak usah heran. Pagi di Jakarta, berarti sama dengannya adalah, taat pada macet yang mengundang sabar. Begitupun dengan Aldo dan Yaya yang memanfaatkan itu, pake karaokean.