Yang saking niatnya, tuh sampe bawa box jadul yang biasa dipake pedagang asongan pinggir jalan, buat ngadain hiburan nyanyi-nyanyian.
“Wuuwhhh wuwuhhh wuhhhh …” Bibirnya bebentuk ‘o’ dengan bulat sekali. Dari ekspresi, sih, sangat menghayati. “Ku saaaaaayaang diiiiaa.”
“Riinndudu dia …”
“Inginkan diaaa.. …”
Suara boleh jelek, tapi meriahnya, nggak tertandingi.
Asha pun mengernyih geli. “Enggak, deh, kalian ajaa.”
Yaya pun mengtuk kepala sahabatnya tersebut. “Lo, percayalah sam gue, Sha. Lo bakal stress begitu kerja di dalemnya. Untung, deh, lo di divisi 15 kayak gue. Entar lo se-tim sama gue sama Aldo. Soalnya, ini, kan awal bulan, ya. Ya, otomatsi sering diadain ‘rolling’, dan, ya, gue sama Aldo biasanya pasti ada … aja … satu monument momen, yang dimana, kita bisa, barengan. Oh, ya, tapi ngomong-ngomong, lo ngejabat apaan, ya, Sha nanti di kantor?”
“Ahhhh, iya, tuh.” Aldo nyahut. Membari meng-unhold dulu kesibukannya yang lagi riweuh buat nyelesein lagu yang atadi sibuk banget dinyanyiin. “Kita sepanjang malem, baru nyadar, lupa nggak nanya sama lo ngambilnya kena apa? Sampe IT, Sha, serius, nih, gue ngomong pake kapital : KELAR HIDUP, LO, Sha. Susah coiyy … Derita umat cerdas, budiman, telaten, teliti.”
“Semua kerja juga mmebutuhkan ketelitian dan integritas kali, Do,” ucap Yaya penuh rasionalitas.
“Yeehhh …” Asha pun lanjut nimbrung dengan mendecak. “Lo pikir, gue yang ambil jurusan Design, langsung majang ke IT mentang-mentang gue ikut numpang ke perusahaan teknologi?”
“Ya, barangkali, yekan. Lo, kan, strong gitu, Sha, orangnya.”
Asha geleng-geleng.
Langsung, toyoran dari Yaya menghajar. “Udah, deh, mending lo diem aja. Kalo, Asha udah bilang Design, berarti lo …” Yaya [un menatapnya. “Ambil di bagisan yang sama juga, dong?”
Tanpa perkataan apapun, Yaya Asha senyum sebagai jawabannya, dan, dia membuka jendela mobil untuk menghirup angina segar saat pagi itu menjelng. Yaps, dimana mereka sudah terbebas dari macet dan mobil melenggang dengan begitu cepatnya. Seru.
***
Tak terasa, sampai juga.
Dua rombongan dengan kasta yang beda sama-sama berlalu dari parkiran.
Leon turun, yang disambut d**a-d**a oleh sahabat laknatnya. Meski, ya, doi mengekor juga.
Dan, sudah Leon bilang, percuma ngomongin batu, eh, nggak semen macem dia.
Namun, saat berjalan bareng-bareng gitu, pastinya, kita akan ketemu sama orang yang nggak cuma kaya bin senada sama kita dalam urusan pertemanan, kan? Kita pasti juga ketemu sama orang yang beda banget pula sama kita?
Nah, begitu pun dengan Leon, di sana, ada primadona perusahaannya, sebut saja Haraha, yang ngefans plus yang bucin berat sma dia, sampe lebih mirip kayak … j****y.
Hahaha.
Mungkin emang terlalu nyelekit. Tapi, kenyataannya, Haraha udah kayak nggak punya harga diri sampe berani di setiap koridor buat hanya dengan nempelin tangan dan kepala dia buat bersenderan ke Leon.
“Aku sayang kamu, sungguh.”
Sekarang pun wajah gadis itu kontan menghantui kepalanya. Serius, itu sangat menggelikan. Apalagi, sahabat nggak ada akhlaknya tersebut, justru mengingat-ngingat momen apa saja yang terjadi sama dia.
“Aseli, kenapa nggak sama lo aja, sih, dia? Kan, bagus, tuh, kemistrinya. Lo tukang selingkuh sama yang nyenengin di mata lo. Dia pun main-main sama cowok yang di amat dia menggoda juga di mata dia.”
“Isshhh, sembarangan.”
Hazel menoyor. Muka yang lebih mirip kayak Timothee Chalamet itu, cuma tertawa lepas saja. Oke, kegantengannya kini mendadak berada di intensitas super berlibat dan maksimal. Ngeri.
“Justru, kalau mengikuti kaidah kepernovelan yang abhas cinta sejati. Gue harusnya dapetin cewek yang berlawanan kayak gue. Semacam, ya, dia harus sabar gitu minimalnya.”
“Enggak adil,” cercah Leon. “Lo mau yang jernih, namun, lo sendiri, banyak noda.”
“Yang ada, kasihan gue sama ceweknya, total lagi.”
“Dan, percayalah, gue jauh lebih kasihan sama cewek yang annti bakal sama lo, Tuan Nyelekit.”
Lalu, Leon cuma mendesis kasar aja. Serius. Enggak ada gunanya untuk sekarang ini berdebat dengan sohibnya. Oiyapssss, Mas Hazel.
Sekarang, alangkah lebih cakepnya, jika dirinya, sibuk sama … gimana caranya biar bisa ngelepasin tali Haraha di dirinya.
Beneran, deh, itu cewek mengerikan abnget.
Yang tentunya, dengan Maha Kuasa Yang Lagi Juga Maha Besar, Hazel yang emang ceplas-ceplos itu, tiba-tiba aja dapet kemudahan untuk secara tiba-tiba kepikiran buat bahas jawaban yang persoalannya merajut di kepala Leon.
Dia mendeham, “Nah, bro, si Haraha itu, kan, track record cintanya lenbih hancur daripada gue, yekan? Dan, gue rasa lo juga udah nggak tahan banget sama dia, yang … ngeselin parah namun, dia juga taring investor kita yang … sayangnya, nih, juga jago banget … urusan dapetin suntikan dana segar yang baru. Oleh, karena itu, gimanana kalo kita manfaatin kegengsian dia?”
Alis Leon mengerut “Maksud lo?”
“Ya, gini aja, Bro.” Dia menepuk bahu. “Gimana kalo lo bikin skandal aja sama si primadona nomor dua di perusahaan ini? Kan, mereka saingan, tuh, sabi buat bikin o terlepas dari jerat-jerat jatuh cinta.”
“Jadi, lo mau gue jadi kambing hitam mereka berdua berantem? Nyuruh gue jadi makhluk berengsek biang kerok permusuhan wanita yang notabenenya sangat … mencintai kedamaian dan sangat kompak terhadap emansipasi?”
Terus, Leon geleng-geleng nggak sudi. “Lo pikir gue mau ajdi sehina itu? Mana, konflik utamanya rebutan laki lagi? Kayak nggak ada laki lain di dunia ini aja. Padahal, nyatanya, di dunia ini tersebar 150 juta miliar laki-laki yang bisa kamu jatuh cintai. Terus, ngapa bucin?”
“Gini, nih, kalo kodok nggak pernah ngorek.”
“Apan, sih.” Sial. Leon hampir tertawa.
“Leon sayangquuu …”
“Gelhyyyy …”
“Ah, iya, Leon,” panggilnya merevisi. “Cinta itu, kepada siapa yang bertuan, ia pun nggak akan begitu mudahnya terganti. Kayak lo suka banget sama jambu, gue suka banget sama duren, kan, nggak bakal keganti.”
“Kenapa nggak bisa?”
“Kecuali lo pernah tersakiti sama jambu atau gue tersakiti sama duren tersebut. Tapi, kan, impresi gue dan pengalaman seumur-umur jambu kencan sama gue, kan, baik-baik aja.”
“Terus, kenapa harus ada toxic relationship kayak orang-orang pada umumnya? Karena mau aja hilang akal berkat kebegoan kata setia? Gitu maksud lo?”
“Itu terjadi sama yang … nggak bisa lepas dari tali.”
“Bodoh.” Leon mencibir. “Padahal mereka jelas punya kendali pada hidup mereka sendiri.”
Kontan saja, sahabatnya itu ketawa. “Lo ada-ada aja, Leon. Mikirin oranglain sampe sebegitunya.”
‘Seolah-olah lo itu, lo cuma keras depannya aja, aslinya mah melted dan lembut banget di dalem.’ Hazel menggumam dengan penuh gelengan kepala nggak ngerti.
Dia menunduk manis sebentar. Dalam lubuk hatinya, tersimpan kenangan-kenangan yang dulu. Namun, tak pernah angkat suara untuk diceritakan kepada oranglain. Leon, pun, Raka sekalipun.