“Well, walaupun jawaban lo ada benernya dan nujukkin kalo lo adalah orang paling berempati yang pernah gue kenal. Ya, meski, sebelas dua belas, sih, sebenernya sama Raka Nugraha, sahabat kita yang … hubungan percinntaannya nggak kalah hitam kayak lo.”
Leon mendesis. Padahal, yang hitamnya super itu Hazel. Tapi, yaudahlah, begitulah api, suka nggak mau kalah sama air yang jelas-jelas memadamkan dia. Makanya, Leon nggak ambil pusing.
Terus, Hazel pun bilang lagi, “Tapi, bro, justru itu. Karena mereka berdua sma-sama primadona, otomatis, itu bakal jadi hal super luar biasa, jika lo mendistrak keduanya. Lo bisa aja, kan, buat mereka saling marah sama lo, namun, demi pamor dan citra malaikat yang mereka punya, bro, percayalah, mereka bakal balikan dengan cepatnya tanpa lo sendiri andil tangan di dalamnya.”
“Jadi, mereka bakal mempertahankan fake-identity mereka yang .. sok-sokan manis gitu di hadapan public berkat keduanya sama-sama selebrgram?”
“Oh … tentu aja.”
Langsung saja, keduanya bersitatap dengan senyuman paling laur biasa. Yang kemudian berjabat tangan sembari menepuk pundak masing-masing. Itu, sungguh rencana yang sangat bagus. Yakni, mempertahankan strategi untuk menangani suatu masalah yang berasal dari oranglain dengan … ngebut ke kekurangannya.
Yaps, pebisnis seperti itu. Jado memanfaatkan kekeringan menjadi peluang dan kesempatan.
‘Sekarang, waktunya, game dimulai,’ batin Leon. Dia akan memenangkan game ini.
Sebentar lagi.
***
“Jadi, keduanya, udah nggak papa, Dok?”
Sang dokter mengangguk. Dia bersama suster sedang berada di luar ruangan, menunggu suster lain yang tengah mengoptimalkan pengobatan dengan menyuntikkan sesuatu agar segera usai. “Ya, Tuan Raka. Ibu Tuan dan tunangan Tuan baik-baik saja. Hanya perlu istirahat sedikit meski tadi sudah siuman.”
“Untuk lukanya sendiri, Dok, apakah separah itu?”
Dokter tersenyum singkat saja, “Tidak, Tuan Raka. Untungnya, perampok tidak terlalu dalam saat menyeretkan pisau di kepala dan di lengan mereka berdua. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, akan lebih baik jika mereka dibiarkan di rumah sakit dengan pendampingan tenaga medis agar cepat memulihkan kondisi mereka.”
“Ah, syukurlah .,..”
Nafas lega dari Raka diikuti dengan arah matanya yang langsung menancap ke ruangan penuh kaca.
Di sana, terbaringlah wanita yang selama ini sering berseteru dengannya. Yang selalu tak bisa ia mengerti mengapa pola pemikirannya bisa mengatur dan selalu seperti itu. Yang meski, jauh di lubuk hatinya, dia amat sangat menyayangi perempuan itu. Bahkan, lebih dari apapun. Dan, tak terlukiskan dnegan apapun.
Disitu, tanpa sadar, mengalirlah air mata yang mengucur tanpa ampun. Yang bahkan tak ia minta untuk menyeru ke pipinya. Wajah Raka sedemikian waktu, basah tanpa ia duga. Ia … rindu pada semuanya yang telah berbeda 180 derajat seperti sekarang ini.
Takut sama hal-hal terkait segala yang merenggutnya. Khawatir smeuanya akan mengambil alih hal-hal yang selama ini, jadi, bahagianya, seperti pengalaman-pengalaman dirinnya yang telah lalu.
Dan, itu … tak ia izinkan, tak boleh.
Jangan sampai terjadi.
***
“Oh, Bu Gran, Mama sudah baik-baik saja. Tadi, udah sempet siuman, meski sebentar, tinggal nunggu lagi aja, soalnya, kata dokter, Mam butuh banyak istirahat.”
Kini, Bu Gran berserta Tuan Hang, datang untuk menjenguk Nyonya Besar, yang difasilitasi juga, makanan untuk dimakan Den Raka apda nantinya.
Sebab, mereka khawatir.
Saat Non Asha baru aja ekterima di kerjaan barunya, Den Raka justru harus dihadapi masalh pelik yang sangat buruk seperti sekarang ini.
Yang untung sajalah, sungguh, Pemilik Semesta masih sangat berbaik hati pada Raka, yang memberikan keberlangsungan nyawa, serta seenggaknya keselamatan untuk Mama beserta Ireska.
Terlepas, betapa berseterunya mereka.
Tapi, hei, bukankah mereka ini … sama-sama hinggap di satu circle yang sama?
Yang mana, mereka bahkan berbagi takdir yang senada pula?
Hingga, mereka harus berkonfrontasi soal pilihan terbaiknya itu apa?
Kayak … harus, nggak, sih, Raka mengenyahkan instingnya demi wanita ini?
Lalu, menghilangkan kesan-kesan yeng memusingi kepala smenjak dulu?
Soalnya, hei, serius, seluruh masalah yang membelitnya, baginya, tak pernah habis-habis.
Hingga, Raka, yang kini berada di ruang perawatan Ibunya tersebut, menunduk kuyu. “Aku nggak bisa bayangin kalo Mama nggak ada, Bu Gran.”
Dan, Bu Gran, Cuma bisa, mengelus pundak majikannya tersebut.
Hingga, munculah satu perempuan nggak terduga, yang dengan kursi rodanya, menginterupsi mereka semua. Mengatakan, “Kamu di sini, Raka,” katanya. Berjalan begitu saja dengan menggiring pegangan pada roda. Tertatih-tatih, ia mendekat.
Yang langsung saja, dibantu Raka. Berdiri, menghampiri gadis itu.
“Eh, aku bisa sendiri,” ucap Ireska bingung.
Ya, pasalnya, Raka dan dirinya, kan, nggak pernah punya riwayat pertemanan yang bagus. Sekalipun bagus juga, itu hanya di acara-acara penting yang, ya, attitudenya nggak layak pula untuk ditambahkan ke dalam daftar teman. Makanya, menurutnya, ini bukan ‘Raka’ banget.
“Ah … nggak papa. Aku bantu aja. Repot nanti kamu soalnya.”
Dahi Ireska pun mengerut. “Ada apa ini?” Wajahnya mendongak menghadap Raka. Namun, ia tak bisa se-intens itu, berkat, kepalanya masih dijamui oleh luka yang membuatnya sangat … pusing. “Kamu nggak seharusnya begini, Raka. Aku serius, nggak papa. Percaya, deh.”
Raka cuma mengulum kecil bibirnya. “Iya, kah? Kamu baik-baik saja? Tapi, kelihatannya kamu kerepotan, Ireska.” Lalu, berjongkok di depan Ireska yang tampak mengulum bibirnya sembari menyampir poni.
“Ireska, anggap aja ini sebagai tanda terimakasih dari seorang anak yang nggak tahu harus ngomong apalagi kepada orang yang telah ikhlas mau membantu sang Mamanya, hingga, sang Mama nggak kehilangan naywa.”
Lalu, Ireska menutup wajahnya dengan tangan.
Dia sungguh nggak menyangkan kalau Raka sudah tahu begitu sdaja soal kebenarannya.
Yang soal dia … menggantikan Mamanya Raka untuk nggak dibacok orang tersebut untuk melindungi Mama Raka yang apdahal target sesungguhnya.
‘Astaga, Raka …,’ batin Ireska.
“Aku … justru yang harusnya minta maaf ke kamu, Raka. Atas semua perilaku burukku pada kamu waktu itu. Yang mengakibatkan kita jadi punya atmosfer nggak baik semenjak hari itu. Tapi, serius, Raka, aku … hanya nggak tahu harus bagaimana saat bersama kamu. Dan, aku, you know, saat itu, cuma perempuan labil yang punya emosi buruk. Jadi, aku kesuitan untuk mengatasinya di depan kamu. Bahkan ke Mamamu dulu.”
Raka senyum. Dia mengangguk lepas saja. Kebat-kebit yang melesat dari hatinya.
Sekarang, bermeter-meter panjang keenggaksukaannya seakan terlempar dan terdaur ulang menjadi sebongkah perasaan penuh bahasa bernama syukur dan sumringah, berkat … “Wah, ternyata indah sekali, ya, hidup itu,” gumam Raka setelahnya dengan intonasi yang sangat kecil. Terdengar seperti bisikan.
“Euhm?” Ireska yang tadi sibuk dengan air mata yang mengucur begitu saja, kini, menampilkan wajah penuh tanya kepada Raka Nugraha.
“Iya, hidup, indah sekali,” jelasnya.
Lalu, ia menerangkan, “Aku selalu takjub, sama orang-orang yang akhirnya menemukan turning point hidupnya sendiri. Alias, sebuah titik belok yang menjadikan mereka akhirnya sadar dan berubah kea rah ayng bahkan sangat lebih baik dari sebelumnya berkat suatu pengalaman penting. Kayak kamu, aku, Asha, Tayana, semuanya.”
Terus, cowok itu mendongak. Lihat senyumannya bahkan tak kunjung mau untuk tenggelam.
“Aku jadi selalu percaya, bahwa, ya, alam raya itu, ya, sebaik itu. Kamu bahkan bakalan menemukan dirimu sendiri di tengah-tengah perjalanan. Kamu juga tanpa diduga akhirnya membersamai titik terputih dalam dirimu.”
Mulutnya yang menjeblak terbuka itu, setengah saja menahan pekikan terkejutnya. Ireska sungguh tak menduga Raka akan berbicara sesuatu yang amat … menyentuhnya itu.
“Wah, aku jadi semakin percaya, jika, siapapun kamu, terlepas seperti apa riwayat burukmu, ya, kamu hanya bisa terlahir jadi orang baik. Dan, itu, mutlak sebenar-benarnya diri kita.”
Hingga, saat itu juga, Ireska menatap Raka menjauh lebih dalam lagi membahas kronologi pertemuan mereka.
Yang katanya, “Agar kamu mendapatkan pelajaran, nggak perduli seperti apa mereka dan kesalahan macam apa yang akan jadi keputusan mereka.”
Dari situ, Ireska berseru, “Aku doakan, Rak. Semoga kamu, baik-baik saja, selalu.”
“Pastinya.”
Lalu, mereka tos pake ibu jari yang ketemu lagi sama ibu lain jari persis seperti dua orang yang tengah mengikjat janji.
Yang kemudian, setelahnya, tertawa. Barengan pula tanpa sengaja.
“Kamu, manis juga, ya, Sha.”
Usainya, mata Ireksa membulat, “Sha?”
DEG.
Yang, beberapa detik setelahnya, Raka merutuk pada keganjilan yang tiba-tiba mengetuk dirinya tersebut, ‘Aihh … apa ini karena aku berhutang budi untuk bertemu Asha yang baru aja oke tentang pilihannya, ya?’
Oke, kalau begitu, nanti, saat Mamanya sudah siuman dan dia sudah baik-baik saja, Raka akan menyempatkan waktunya untuk berbincang sejenak dengan sang Adik kesayangannya tersebut.
Karena, ya, yakali, Asha harus memandangi gumapalan hitam serupa awan mendung sebelum hujan yang menggantung di kantong matanya itu untuk menggangu moodnya?
Kalau Raka panda masuk akal. Tapi, kan, Raka ini another level dari manusia. Dia manusia ayng kategorinya sangat kompeten. Eaaakkkk …
Balik lagi … wah, bisa-bisa, atmosfer mereka, bisa jelek, dong, entar pas saling sapa?
Tidak-tidak.
Ingat, Raka.
Kamu pebisnis dan ambil keputusan termasuk akal adalah … keahlianmu.
Oke?
Raka pun mengangguk, keputusan kini terlah berpihak ke arahnya.
***
“Iya, bagusss …”
Nah, tiga person paling kuker sedunia itu, tengah saling menfoto temennya sendiri.
Di koridor, tangga, eskavator, taman belakang, dan yang lain sebagainya.
Yang sebenarnya, sih, menurut Asha ini cukup istimewa, ya.
Berkat, bro, bayangkan jika kamu nggak punya teman yang udah pernah kerja di sini lantas jadi senior yang bia mengajakmu ‘menggila’ sebelum di training beberapa hari ke depan?
Tentu, ini adalah sebuah kehormatan yang nggak boleh Asha sia-siakan berkat, ya, oranglain, belum tentu kayak dia. Iya, kan?
Hingga, Aldo pun menyeletuk, “Inilah definisi, orang rupawan disamping orang rupawan difoto orang rupawan bersahabatan dengan orang rupawan pergi bareng sama orang rupawan, satu squad sama orang rupawan, barengan sama orang rupawan.”
Langsung saja, itu berefek menciptakan gunung raksasa berbunyi ‘Heuuhhh’ dari masing-masing lawan bicaranya.
“Do, serius, itu informasi yang sangat tidak berguna.”
Dan, Aldo cuma mengangkat bahu yang kini mereka pindah ke lokasi yang lain.
Sampai akhirnya, datanglah saat mereka dikontrol oleh Kepala Divisi. Yakni, Pak Udon. Namanya ngingetin sama Udon Jepang emang. Tapi, percayalah, meski begitu, Pak Udon ini, justru akan mengingatkanmu pada Pak Raden khas Jogja yang make baju beludru plus blankon. Kontras sekali.
Ditmbah lagi, pembawaannya khas ala Kanjeng-kanjeng di Istana Keraton.
“Ndhuk Asha, kamu silakeun bawa ini ke Pak Iron, ya. Dia minta ini disunting lagi.”
Itu map. Bercorak batik. Entah apa, deh, yang membuat si pak Udon kembaran Pak Raden titisan Kanjeng itu .. begitu nasionalis dan sangat … cute.
Dia mencolok yang positifnya akan membuatmu ‘mudah’ untuk mengingat Ia.
“Baik, Pak.”
Yang saat perjalanan tersebut, karena Asha sendiri berada di lantai lima, sementara Pak Iron berada di lantai satu, iya, kafetaria, yang mana, emang, ini sebenarnya menuju jam-jam makan siang sebetulnya.
Dan, menurut informasi dari Yaya juga, Pak Iron, suka banget mojok di meja bunder yang biasa dipake buat gerombolan.