Kenapa Aku Harus Ternodai?

1082 Kata
Tapi, yang namanya kafetaria, aneh banget kalo nggak rame. Asha sampai harus menahan napas untuk berubah jadi jerapah yang mendongak supaya kepalanya lebih tinggi dari orang kebanyakan itu pun, pengap. Semua laki-laki di sini udah kayak tiang yang agaknya lebih pantas jadi tiang bendera pusaka di Istana Negara buat ngibarin bendera pusaka. Dan, oh, ya, sebenernya juga, kafetaria ini kayak surge, loh. Ya, gimana nggak? Hampir semua programmer, manajer, admin, bahkan staff lain, digratiskan utnuk makan cemilan apapun, untuk tidur di tenda instagrammable yang ada di halaman samping gedung, atau … boleh main VR game selama jam istirahat. Yang uniknya, setiap bidang, punya jam istirahat yang beda-beda. Contoh, untuk designer grafis kayak Asha gini, dia boleh bebas main sana sini selama dua jam penuh menuju jam istirahat serempak semua bidang pada pukul 8 sampai 10 pagi. Beda sama Yaya dan Aldo, anak IT, istirahat bidangnya jam 2 sampai 4 sore. Seru, serius, buat kerja di sini. Meski, ya, nyebelinnya gini. Saat ada kepentingan harus rela berdesak-desakkan hanya untuk menemukkan oknum yang kita cari dari saban hari. “Pak Ironnn … Pak Irrrooonnn ….” Asha berusaha untuk melantangkan panggilannya. “Permisi, permisi.” Tubuhnya yang kecil ia tancap gaskan juga agar sebisa mungkin cepat menyalip dan menyerempet mlautan manusai yang sibuk borong jajan. “Astaga, dimana, ya?” Sampai akhirnya, Asha memutuskan buat memegangi lututnya yang rasanya udah kayak mau mati itu. Nyeri total. Namun, selalu, di saat kita memutuskan buat istirahat sejenak, oknum maupun benda yang kita cari, kadangkala suka datang mendekat tanpa kita duga dan kita minta. Yap. Pak Iron jalan dengan santainya melewati diri Asha yang itu … tepat di hadapannya. “Pak, Pak, tunggu bentar, Pak, Pak, stop …” Namun, yang namanya kaki laki-laki, lebih besar dari kaki perempuan, yang tentu saja langkahnya beda ukuran alias lebih panjangan, Asha pun, tanpa sengaja tersandung tumit milik oranglain yang menjadikan dirinya … ‘CHUUUU’ IA DICIUM TEPAT DI BIBIR YANG SELAMA INI TAK PERNAH DISENTUH SIAPAPUN! Oke. Ini emmang terlalu kepslok. Tapi, shock yang merajam Asha saat itu, selaras dengan kapital yang membuatmu tercengang berkat betapa terkejutnya Asha akan kejadian tersebut. Yang kontan saja, dalam kondisi mata masih membulat, Asha pun memutuskan, untuk mendorong d**a bidang cowok jas elit yang memakai kacamata bundar dengan wajah tampan soft boy namun sebenernya hell-boy itu, dengan kekuatan mega dahsyat. Astaga. Bibirnya … kini ternoda! “Kamu?” Dan, makin berdebar pula, berkat cowok yang begitu tak ia kenal dan pahami itu, rupanya, berada di tahta setan untuk memenjarakannya. Guys, percayalah. Ini tak ayal, sebuah … petaka. *** “Jadi, lo gagal nyium primadona kedua, yang gara-gara lo ngehindari Haraha yang terus ngejar lo, lo jadinya nyium cewek yang sampai detik ini pun, bikin lo uring-uringan berkat dia cewek yang pengen lo basmi?” Dan … BHAK! Sepatu mahal punya terbang ke kepala sahabat laknat yang mulut embernya sekenceng jalan dia. Jadi, duda playboy alias Mas Hazel sampai mengosogkan jadwal meetingnya hanya untuk menggoda sahabat seperimanan yang kacau balau dunia citanya itu. Yap. Demi menggoda, meledek, mentertawakan Leon. Bahkan, gelegar terbahaknya, seolah sampai bisa didengar ke Himalaya sekalipun saking cetarnya. “BEWAAHHAHAHAHAHA.” “Laknat lo, ya!” Sekarang, kaus kaki yang melayang. Namun, Hazel nggak tobat-tobat, yang buktinya, masih aja, tuh, dia, berani-beraninya masih ngerusuhin Leon dengan gelegar tawanya yang jauh lebih mirip sama letusan gunung Krakatau. Dia bahkan nggak lari gitu aja ataupun menghindar dari amukan. Yap. DUda laknat itu … justru menantangnya. Sungguh, menyebalkan, bagi  Leon itu sendiri. “terus, lo, gimana rasanya? Nikmat nggak? Oke nggak?” Aissshhh … serius, ingin ia musnahkan saja sahabatnya itu. Kerjanya cuma bikin kepalanya yang semula pusing, semakin menjadi-jadi peningnya. Ia sampai … nggak ngerti lagi harus berkata apa. HHabis sudah maklum pahamnya apda orang yang sangat dihormati di Exlite itu. “Awas, ya, Leon, gue jadi punya tanduk-tanduk, ah, nggak, panser-panser insting, kalau lo, bakalan punya ‘schemistry’ luar baisa cakep berkonsep ‘love hate relationsick’ sama cewek yang … tadi lo cium di depan orang banyak itu. Ge ramal, lo bakal suka dia.” “Banyak omong lo!” Dilemparlah berkas penting ke mulut monyong sang Duda tampan. “ukan Dilan! Pergi sana!” “Iya-iya,” patuh Hazel. Namun, tinggal beberapa langkah menuju pintu keluar, dia sudah balik lagi. Dan, di kursi putar itu, ia berbisik nyeleneh, “Ini pertama kalinya lo ciuman, kan?” “KOMODO!” Percayalah. Itu teriakan yang sangat memalukan berkat sepatu mahalnya, hampir mengenai manajer keuangan di abwah dia. Biang kerok yang sebenarnya awal mula terjadinya ini semua. Ya, dia adalah Pak Iron. Bapak sekuat iron, yang sampai-sampai untuk dicaripun, nggak bisa. Yang sayangnya, Leon tidak tahu aklau Bapak itulah akarnya. “Masuk.” Dengan harga diri yang tersisa, Leon pun berusaha memanipulasi perasaannya yang kembang kempis dengan menarik dasi ala cowok banget itu dengan … penuh emosi. ‘Sial. Mengapa pula gue harus berurusan sama si pembuat masalah itu? Ekstrim lagi. Man ague cium dia?’ batinnya. Astaga. Ingin Leon jeburkan dirinya sendiri saja ke lubang buaya. *** “Kamu?” Leon bertanya. Bahkan, kini, wajah Asha ditangkup sempurna oleh tangan Leon yang begitu sigap menahan gadis itu agar tak jatuh. Maklum, efek kejut, jadi dia sendiri tak mengerti harus berbuat apa. Hingga, sepersekian detik berikutnya usai bersitatap, asha pun bangkit. Melepas keintiman jarak dan kedekatan mereka yang sama-sama saling menatap satu sama lain. Yang bedanya … Tentu saja Asha menunduk karena … ini pertama kalinya ia begitu. Dan, Leon yang masih nggak nyangka semesta begitu mempermainakn kebenciannya dengan serius. Seolah .. ‘Demi, nih, w, nyium bekicot kayak dia?’ Oke. Jangan bayangkan ekspresinya. Menggeleng tanpa aba berkat terlalu cepat. “Permisi.” Begitu kata Asha, bermaksud pamit. Namun, itu ditangkap Leon tentu saja dengan jenis keenggaksopanan yang lainnya. Yang kontan saja, amkin menumbuhkan kebencian dalam dirinya eprihal agdis pemuja spotlight itu. Di kepalanya, pasti, nih, cewek ini, nih, bakal bikin thread gitu di Twitter yang ngebangga-bangain dirinya berkat sukses nyium seorang CEO. Walhasil, tangan gadis itu pun dicekal. Membuatnya memutar sempurna 180 drajat ke arahnya. Jangan tanya soal jarak, mereka berdua sangat dekat. Namun, penuh dengan pandangan yang, dari Leon sendiri, sangat mengintimidasi. “Kamu bercanda?” Wajahnya menunduk mendekat. Sangat dekat. Sampai napas seketika beradu di pipi Asha. Astaga, jantung gadis itu, bisa copot, meski, pemberontakkannya, sia-sia. “Lepas!” Wajah itu semakin menghampirinya. Asha melonjak terkejut. Mau nggak mau amta mereka mengetuk satu sama lain. “Karena kamu nggak tahu saya, maka kamu, dipecat.” DEG.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN