DEG.
“Sha, hoi!”
Itu suara yang berasal dari telepon genggamnya.
Menyajikan gambar dua manusia beda jenis kelamin yang tengah bersama.
Ya, dia adalah Draco dan Thayana.
Keduanya tengah di Switzerland dan lagi mode santai-santainya menikmati makanan serba madu yang eksentrik namun epic buat dicobain jika kamu berkunjung ke sana.
Dan, langsung saja, mendengar itu, Asha pun melonjak. “Eh, iya, gimana?”
Thayana yang melihatnya dengan kening berkerut pun, angkat suara, “Gue lihat lo kayak lagi nggak fokus gitu? Kenapa, Mbak Bro? Any problem?”
BANYAAKKKK.
Oke, salah, harusnya ditambahin bold.
BANYAAAAKKKK.
Sip. Tinggal kurang negas dan nge-gas.
Banyak banget malah.
Dia, Asha, seriusan masih nggak menyangka kalau dirinya seketika viral di ponsel Aldo berkat aksi ciuman dirinya dengan bosnya sendiri, Leon Dharmawangsa.
Meski, sih, itu juga bisa dihitung sebagai rejeki.
Hehe.
Mayan, coi.
Buat interview.
‘Apa pengalaman kamu selama kerja di perusahaan X?’
‘Dikiss boss, Pak.’
Wah, bahaya. Hehe. Slappp.
Satu, itu ciuman pertamanya. Catat. Ini akan tak terlupakan berkat segala sesuatu yang terkait perdana, pasti sangat … sulit untuk mengacuhkan debarannya. Eaaakkkk.
Dua, dia nggak tahu yang dinyium dia adalah Bos besar tempatnya bekerja. Leon.
Si killer super duper yang jomblo abis, makanya, dia melampiaskan hasrat ngamuk ke diri sendiri berkat jomblonya terlampau ngenes dengan marah-marah.
Oke, Asha mungkin terkesan menistakan.
Namun, memang kenyataannya, itulah yang diucapkan Aldo kepada dirinya sedikit infomasi soal Leon yang nyebelinnya pake juga embel-embel nanyain testimoni, “Enak nggak, Sha?”
Manghadeh emang ….
Tiga. Dia yang sudah kehilangan harga diri, kini, makin tak ada artinya berkat saat di hari pertama dirinya bekerja, dia sudah kena mimpi buruk seluruh pekerja di alam raya, sebab, belum apa-apa, dirinya kudu harus dipecat berkat satu insiden yang bahkan … tak disengajanya!
Galakkan, tak disengajanya!
Astaga … mau protes pun juga percuma.
Berkat, dari desas-desus terpercaya sekaligus sumber-sumber teraktual menyebutkan, cari masalah dengan Leon sama dengan membuatmu makin merasa bodoh berkat kemampuannya yang menangkis dan mampu memabwamu apda titik to the point yang plot twist.
Alias … bersamanya, kamu hanya akan menjadi kurcaci yang pasrah soalnya hampir setiap apapun yang terkait dengan kelaur dari mulutnya, pastilah itu benar dan fakta adanya.
Gila.
Sejak kapan takdir Asha justru menyetujui agar Asha berurusan saja dengan lelaki kejam yang parahnya … tak terkalahkan?
Kenapa tak ia berciuman saja dengan lelaki budiman yang menjaga, merwat, punya keterseimbanagan keteguhan semqacam dirinya dengan Raka?
Yang meski sering ebrselisih, Asha dan Raka cenderung terus-menerus saling emncari dan menemukan?
Ah, itu so sweet sekali. Seperti Cinderella. Dan, Asha nggak boleh terbang emlayang hanya karena khayalaan sebab yang ajdi kenyataannya meski pahit tetaplah hal yang ahrus dihadapinya.
Oh, astaga, demi Tuhan.
Ia tak mengerti mengapa lantas jadi begini?
Langsung, terlemparlah sepatu milik Asha yang dibelikan Raka beberapa bulan lalu tepat saat mereka jalan-jalan ke Bangka Belitung itu. Namun, selalu, di saat kita ngamuk ke orang yang salah, tak ayal, seringkali, salah sasaran karena yang berdosa terlalu jago menghindar.
Lupa kalau sekiranya saat itu, ia juga tengah idcall dengan Thayana dan Draco. Mereka cengo aja ngelihat kelakuaan Asha dan Aldo yang benqar-benar seperti anak kecil.
Yang satu jahil. Yang satu, pusing dan terus diledekin.
“hei, stop, stop,Asha, kamu kelihatan … bar-bar sekali,” ucap Thayana.
Yang entah itu adalah peringatan atau justru penistaan bahwa Asha dengan begitu mudahnya rupanya terpancing padda makhluk setan seperti Aldo yang terus menerus menggodanya.
Namun, Asha hanya memerdulikannya dengan mendegus kasar. Menjawab, “Kak, kalau Kakak di sini, Kakak juga nggak akan segan-segan membunuh Aldo, tahu!”
“Hahahahah.” Itu suara Draco. Menggelegarkan tawa. “Astaga, Sha, tak kusangka kamu dan pacarmu begitu memiliki hubungan yang jenisnya sangat complicated.”
“Jenis hubungan complicated?” Thayana menodongkan pertanyaan.
Draco mengangguk. “Iya, apa kamu tak tahu sebuah jenis hubungan yang love-hate relationship?”
“Benci-benci sayang gitu maksudnya?” Yaya tiba-tiba nonol dan nyeletuk.
Yang langsung diberi jentikan jari ‘benar’ sebagai konfiormasi dari Draco. “Yap.”
“Wah, aku jadi makin yakin buat percaya kalau Asha memang ditakdirkan untuk selalu memiliki jenis hubungan seperti itu pada siapapun.”
Draco mengerutkan hdhai, bingung, “Maksudnya?”
“Ya, kamu lihat saja, siapa diantara kita yang punya hubungan mulus selurus jalan tol saat bersama Asha? Pasti, meski awalannya nyantai, baik, cerah, benderang, bersinar, dan baik-baik saja, kita selalu memiliki satu hal yang ‘menyebalkan’ yang menjadikan kita, anehnya, tamba awet sama Asha. Kayak, contohnya …”
“Ah, iya.” Draco mulai connect. “Kayak aku dan Asha. Meski awalnya aku manipulatif yang seolah penuh intrik, namun, nyatanya, setelah semua pelurusan itu mengudara, aku dan Asha jadi makin dekat. Kayak from hate to be loved.”
“Itu konsep kamu.” Thayana menoleh ke arahnya.
“Nah, iya.” Draco mengangguk mengamini. “Kan, kamu emnag ahlinya urusan verifikasi.”
Dan, bersemulah mereka berdua dalam jotos-jotosan.
Bedanya, versi lmbut yang gaya bule Amerika gitu. Gahol tapi baby version.
Yang langsung aja menuaikan cibiran dari Yaya. “Kalia berdua juga, tuh, like bad relationshoip.”
“No, no.” Tangan Thayana tak menyetujui. “Kita ini udah kayak sahabat. Toh, juga, aku dan Draco sesame jomblo yang nggak punya ketertariksan satu sama lain.”
Makin, makinlah Yaya mendegus. “Lupa, deh, kayaknya kalian sama sesuatu yang bernama alam semesta itu bermula dari ketiadaan.” Lalu, manyun. “Awas aja, tuh, dari yang sepi justru berevolusi jadi saling jatuh cinta ke masing-masing diri.”
Dan, Aldo sudah ngakak duluan.
Emang seringnya gitu.
Dan, Asha baru memikirkannya sekarang.
Dia begitu banyak hubungan buruk ke baik atau sebaliknya kepada siapapun.
Termasuk kepada Thayana yang baik sekalipun.
Yang itu menjadikan sebuah spiral-spiral keterdugaan soal apa saja yang memungkinkan terjadi pada diri Asha saat ini.
Iya, Pak Leon.
Bagaiamana dari koneksi keduanya yang saling menyumpahi atau dari Leon yang sangat membenci dia setengah mati, justru membuat rajutan-rajutan ledakan besar ‘big bang’ menghantarkannya pada sebuah suka berkat merea sudah pernah saling berbagi mata yang sama dalam keintiman sebuah … euhm, berciuman?
Ah, tidak.
Asha bahkan kini menyengir tak mungkin dan dia yakin sekali itu tak terjdi.
Sebab, itu hanya kepalanya saja yang sudah korslet dan penuh, lalu, saking over-thinkingnya, dia jadi menyimpulkan atau memberi satu inspirasi yang tak terduga-duga.
Oke, ini sangat berbahaya.
Tak bisa.
Tak boleh ia memikirkan hal seperti itu.