Bodoh Level Skakmat

1137 Kata
Dengan degup di d**a yang menyicil dan menggeragas, Raka merasa bahwa sejumput demi jumput salju yang tengah mencair di dadanya keruh begitu saja. Ya, bagaimana tidak? Siapa pula yang mampu menahan deretan aritmetika rona bahasa bernama ‘bahagia’ saat kamu dipertemukan dalam momen tak sanggup untuk sekedar ‘biasanya’ oleh dia yang bahkan kamu puja semenjak awal mula kamu menyimpan hati dengannya? Begitupun Raka. Wajahnya pias terantuk malu. Jadi, bisanya, hanya menunduk. “Kamu mau duduk di mana?” tanya Thayana. Matanya menarik ke atas, menatap lembut nan santai. Bulu mata lentik yang tertawat dengan bibir merah muda manis itu memiliki efek menderukan bongkahan bangunan porak poranda yang bertindihan di wajah Raka berkat … degupan yang dihasilkan. Menjadikan laki-laki itu mau tak mau menilik ke arah yang lain, panik jika cakrawala penenunan ‘bagaimana ia bisa jatuh pada seorang hawa’ lantas membuatnya … bertekuk lutut begitu saja. Meski, ya, jadi bucin jelas bukan dosa, tapi, harga dirinya itu, lho … “Terserah kamu saja.” Terlihat, kan, bagaimana gugupnya Raka bahkan untuk mengungkapkan sepatah kata sederhana semacam itu? “Ya sudah.” Thayana mengulum bibirnya. Sedikit merapikan poninya yang tersampir di kiri. Jadi, petang ini, menjelang waktu istirahat dambaan umat, Raka dan Thayana menghabiskan waktu di escape arsitektur Raka yang terletak di ruang keluarga. Niatnya, sih, sengaja dibuat hanya untuk haha-hihi nonton bioskop atau serial yang lagi digandrungi pemuda hits berkat scene baper-baperan yang multifungsi. Alias sabi dan recommended abis buat jadi bahan ledekan. “Gimana?” Thayana memulai percakapan dengan menandaskan tanya. Raka pun sekejap terkesiap, “Apanya?” “Harimu?” ‘Hatiku?’ batin Raka. Entah salah dengar atau betulan memang senyata-nyata ia budeg beneran yang sayang tak Thayana perhatikan dengan seksama. Padahal ada manik-manik ekspresi wajah kesemsem yang merajut serta memintalnya. “Oh, baik,” tutur Raka pada akhirnya. “Syukurlah,” respon Thayana. Gadis itu mengangguk sesaat. “Aku khawatir kamu … akan terluka parah waktu itu.” Raka mulai random. Pembicaraannya melenceng jauh. Out of topic, yang seketika saja menumbuhkan raut bingung dari si cantik Thayana. “Jadi, ya …” Senyap, ia bahkan mengelus lehernya. Sebuah bahasa tubuh yang amat familiar untuk mendeksripsikan suasana Raka yang dimabuk … asmara. “Jadi, ya … sebab itu kamu pun memerpelakukan aku dengan istimewa?” DEG. Tuh, kan, malah disambung Thayana! Raka menunduk canggung. Ditambah lagi, bak tongkat bisbol yang memukul bola kasti hingga home run, Thayana selunas itu tanpa cicilan menabrakkannya apda ‘telak’. “Astaga, Raka Nugraha, sejak kapan kita begini?” Thayana keheranan. Lagipula, untuk ukuran pengaruh daya magis sulap, rasa-rasanya asing jika atmosfer mereka lantas harus begini. “Nggak tahu.” Raka melengos begitu saja, mendahului. Thayana tertawa. “Kamu aja yang angkat tema justru jadi bisu, terus, apalagi aku?” “Yaudah, kalo gitu, mau kamu?” Raka kini menatapnya dekat. Mungkin, meminta penjelasan atau penerangan yang lebih menukik agar ia lebih memafhumi. Thayana pun menatapnya tannpa kedip, “Ya, santai aja.” Ingin sekali rasanya Raka melepaskan yang telah menghuni kerongkongannya begitu kalimat Thayana tadi mengalun ke gendang telinga. Cowok itu, pun dengan segenap hatinya, mendambakan santai dan cengengesan sebagaimana padu padannya sebuah normal untuk mereka berdua. Tapi, nggak ngerti, deh, kenapa, sih, selalu saja, pengungkapan kagum itu berakhir jadi semua penyiksaan sekaligus bencana yang menghujani benteng raksasa? Hingga yang tadinya berlingkar temu menjelma jadi penuh kikisan jarak? Andai aja yang ada di pikiran bisa ditelepati, Raka tentu ngak akan susah-susah untuk menransferkan kalimat … ‘Tha, aku bahkan masih nggak percaya sama semesta yang akhirnya merollercoaster alur cerita hidupku jadi akhirnya ungkapin ke kamu tanpa pernah kurencanakan untuk mentugukan semua prasasti perasaanku suatu hari di detik tertentu.’ ‘Aku sungguhan kelu berkat terlampau gugup, meski, hanya sekedar berdamping napas curi-curi pandang di arena matamu. Yang tentu, sekali kamu izinkan balik melihatku, aku akan raup dalam arca-arca usang yang mendokumentasikan indahmu dalam diriku semenjak dahulu.’ ‘Cupu, aku Tha. Cupu yang nggak ngerti ngerangkai kata-kata apalagi untuk menjelmakan patung sebesar snow ball biar kamu tahu betapa bodohnya aku urusan ginian. Bodoh level skakmat payahnya malah.’ ‘Dan, nggak etis juga, Thay, buatku, masa aku yang jelas-jelas khatam bahwa kamu tengah dirudung duka sama perasaan yang bikin kamu jatuh kepada Malvin, lantas aku ambil kesempatan rela jadi pahlawan kesiangan yang berbaik hati menggandengmu dalam title pelampiasaanmu hingga kemudian bertransformasi jadi satu-satunya untukmu?’ ‘Ah, nggak, itu bakalan sangat absurd. Meski tidak curang sama sekali.’ ‘Tapi, Thay, justru itu, karena kamu ‘berarti’ dalam persoalan menghuni hati yang selama ini sepi, maka, bagiku, untukmu, ya, harus yang nggak kaleng-kaleng. Minimal sekali … aku memperlakukanmu setara poin semangka gitu. Jangan kentang. Apalagi kulitnya.’ ‘Bukan karena aku malu, tapi, kamu memang dihadiahi sang Pemilik Alam Raya untuk … diberikan kepada Yang Mampu. Jadi, transaksi untukmu, harus serba eksklusif.’ Makanya, yang mampu Raka keluarkan untuk merealisasikan segala serabut di benaknya pada Thayana hanyalah … “Yang ucapanku kemarin … jangan dianggap serius,” beber Raka. Yang tentu saja jika diteliti maksudnya, ia hanya tak ingin membuat Thayana tak nyaman berkat dirinya. “Dari awal aku juga tidak pernah berjuang buat kamu, Thay. Bisaku ngagumin kamu dari jauh. Terpesona dengan seberagam genggam keunikan yang mampu membius sebenang demi sebenang.” “Aku tahu, Raka Nugraha,” ejeknya sembari menyodok lengan Raka. Lalu, menerlingkan mata. “Kamu juga pasti hectic juga lihat betapa awan aja ogah nanungin kita.” “Kita indoor, Thay, mana bisa lihat awan.” Lalu, menyeru ke atas, menujuknya. “Noh, dinding anti bocor. Kosong blong yang sekalipun ada pemandangan hanya lampu kelas mahal punya.” “Tapi, design rumahmu ada yang berlapis kaca, Raka!” adu Thayana. Nggak mau kalah. Melakukan gesture serupa yang arahnya lebih kepada samping kanan.  “Tuh, langsung menembus ke bentangan tumbuh-tumbuhan hias!” “Tapi, aku bahkan nggak lihat awan, Thay,” ucap Raka. “Karena kamu nggak menciptakan.” “Yang punya langit bumi, kok. Dia yang menciptakan. Aku tahu.” “Tapi, dalam kondisi mendung sekalipun, kamu bisa menggeret semua awan-awan kapas untuk kamu ciptakan sendiri.” Raka kontan tersenyum, menyahut dengan kata, “Jadi, maksudmu, sepi dan lapang itu kita yang menentukan?” “Tepat!” pekik Thayana. Yang meski kalimat tak terduga penuh makna itu mengandung berbagai macam sarat pesan atas kehidupan, Raka masih saja durhaka dengan mencibir berkat menyadari … betapa tumbuhnya gadis yang di sampingnya itu. Ia bahkan memanfaatkan sisa-sisa sedihnya untuk dikumpulkan lagi menjadi sebuah kekuatan. “Aku suka perempuan yang telah bahagia saat ia dewasa.” “Sebab kebanyakan dari mereka masih manja?” Raka menggeleng, “Karena di antara keenggaksempurnaan, mereka mampu menangkap arti sebenarnya dari kata ‘apa adanya’.” Semburat warna merah jambu itu pun … merangkap total, di pipi keduanya. Merunduk … sipu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN