“Thayana …”
Seorang perempuan paruh baya, lengkap dengan syal dan gaya trendi dengan bintik-bintik flek khas bule, datang ke rumah tersebut begitu Raka tengah membantu Bu Gran hendak menyiapkan makanan.
Kebetulan, di hari kepulangan Ibu Gran, mereka sepakat buat bikin gado-gado.
Yang meski, nggak ada Asha di sana.
Maklum, jadwal Asha, akhir-akhir ini sangat padat.
Mengingat makin pesatnya usaha-usaha bawah tanah yang ia kelola sendiri dengan kepalanya.
“Thayana …” panggilan itu makin menggema. Kini, dirinya mencoba untuk masuk ke dalam usai mengetuk-ngetuk pintu tak ada jawaban.
“Den,” panggil Bu Gran.
Raka yang tengah sibuk menata pare rebus dan kol di atas piring pun menoleh, “Ada apa, Bu?”
“Sepertinya ada yang nyari Non Thayana, Den,” jawab Bu Gran, berbisik.
Dan, kontan saja, karena sama-sama lagi reweuh mengurus makanan, Raka pun memutuskan untuk mengetahui siapa yang memanggil-manggil Thayana.
Karena, bagaimanapun, ia tetap khawatir jika insiden semacam Malvin terulang lagi.
Akan sangat menyebalkan, tentu, jika itu terjadi.
Namun, begitu sampai di depan pintu, alangkah terkejutnya ia begitu melihat hadir seorang tamu tak diundang yang kontan memeluknya begitu saja.
“Eh?” Raka tidak bisa bergerak. Berkat kunci telak yang merangkup di tubuhnya. Yakni, tangan-tangan sang Ibu memeluknya erat. “Ibu ini … siapa?”
Lalu, satu hajaran pas bersarang di belakang kepala Raka. Membuat sang empu mengaduh sakit.
‘Siapa gerangan pula Ibu-Ibu yang datang kemari? Kenapa mampir-mampir langsung anarkis dan ngeri begini?’
Raka was-was, namun, seketika mereda begitu kata-kata sang Ibu tadi melelehkannya dalam kedamaian.
“Apa kamu lupa sama Ibu yang dulu suka jewer kamu karena dating ke Sydney cuma buat godain tupai?”
Raka tunai melotot. “Tunggu … apa Ibu ini?”
“Yes, Clarissa Viatg Mehen,” terangnya bangga.
“Astaga … Aunty …”
Lalu, reunianlah, mereka.
“Aunty apa kabar?”
Tante Clarissa ini pun, sumringah, “Bagus, deh, nggak jadi durhaka kamu, Rak.”
Mereka pun saling melempar tawa, bahagia.
***
Duduk di ruang tamu sembari menyantap es podeng sembari mengunyah cita arsa khas gado-gado yang legit nan manis, emang perpaduan pas buat mengganjal perut siang itu, apalagi menikmatinya dibarengi sama tamu special yang kembali membuat kita memuat segala kilas balik memori yang lepas landas.
“Tante inget banget, Rak, nggak bakalan pernha Tante lupa waktu kamu malah nyasar di lawang sewu. Mana pernah pula kita di Bali, tuh, kamu mau nyium moneyetnya.”
Raka menutu wajahnya, tampak malu, “Astaga, itu aib sekali, Tante.”
“Namun, berkesan, Tampan.”
Lagi, keduanya saling menhamburkan tawa ke langit. Menerbangkannya hingga pipih sampai menjadi satu pernyataan yang tanpa pertanyaan pembuka, sudah dibuka gerbangnya.
“Tante, datang ke sini sebetulnya, ingin mengucapkan terimakasih padamu, Raka,” ungkapnya.
Raka pun terperanjat, “Loh, kenapa?”
Tante menggeleng sejenak. “Sebelum Malvin datang ke sini, dia sebenanya sudah membuat kekacauan di Sydney. Dia marah-marah di rumah Tante dan mengata-ngatai bahwa Thayanalah yang membuatnya jadi begini. Dia nggak bisa tahan untuk melakukan hal yang nggak seharusnya dilakukan oleh dua orang yang belum menikah sampai .. begitu gadis yang memuaskan hasratnya pergi darinya, dia marah dan ingin melampiaskan semuanya ke Thayana.”
“Tante langsung ambil penerbangan tercepat waktu itu, Raka. Karena sebagai seorang Ibu, Tante sangat khawatir saat emosi Malvin yang tak terkendali, Thayana bakalan kenapa-napa, ditambah lagi, selama di Sydney waktu itu, Malvin tak jemu-jemunya meneror teman-teman Thayana dengan ancaman akan membunuh mereka semua jika mereka tak memberitahukan lokasi keberadaan Thayana sekarang.”
Raka menganga. Kepalan tangannya menggebu mendengar itu semua.
Sebab, bagaimanapun, proses pertemuan dan restu untuk Thayana dan Malvin, jelas berkaitan langsung dengan dirinya.
Raka seakan saksi nyata terjadinya hubungan asmara mereka yang jika ditanya momen tersebut, Raka hanya bisa menilai, bahwa Malvin … jauh lebih baik dari dirinya ditimbang dari prestasi akademik, non-akademik, social serta perilakunya.
Namun … bak bunglon yang tengah memimikrinya, Raka justru terperosok ke dalam jurang berpayungkan langit tipu muslihat dari seorang Malvin, yang katanya … tidak ada duanya.
“Aku … minta maaf, Tante, aku gagal menjaga Thayana.” Hanya itu yang bisa Raka katakan, begitu tulus dari hatinya. Sungguh, dia teramat menyesal. “Aku … sungguh … tidak pernah menduga bahwa bakalan seperti ini akhirnya.”
Namun, Tante Clarissa, yang memang sejak dahulu kondang akan betapa lunasnya sebuah ‘pengertian’, yang terverifikasi mendarah daging di seluruh tubuhnya itu pun, menyapukan tangan ke wajah lelaki tampan itu. Menggeleng. “Tidak, Raka. Tante justru berterima kasih sekali padamu.”
Sebab Raka, pertengkaran yang berujung adu jotos malam itu demi untuk menyelamatkan Thayana, meski kamu kelepasan mengemas semua perasaanmu jadi kembang api yang berbalik serang ke bumi hingga menghasilkan bedebum amukan karena kendalimu atas Thayana dirobek oleh takdir semesta, itu sangat teramat lebih dari cukup, untuk membuatmu, tampak, bahkan, sangat panats untuk memiliki satu buah mahkota kebanggaan kaum adam, abhwa sejatinya, kehormatan tertinggi seorang laki-laki, bukan dari betapa ia berhasil mendapatkan semuanya, melainkan, sukses untuk bertanggung jawab kepada apa yang dititipkan pada mereka.
Untuk kali pertama usai sekian tahun lalu tak berpelukan lagi dengan Tante baik itu, kini, mereka saling memeluk guna mengucapkan ‘selamat, telah baik’ kepada masing-masing.
Mereka telah mendedikasikan diri … menjadi yang terbaik.
***
Raka meletakkan jus kiwi di nakas. Diliriknya sejenak seorang gadis yang tengah meeting lewat aplikasi zoom bersama rekan-rekan kerjanya.
Dia menarik napas pelan, “Sudah sore, Thay. Aku tahu kamu sibuk banget, tapi …” Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Serius. Usai beberapa kejutan yang menerpanya hari-hari terakhir ini, membuatnya menjadi lebih kaku dan kikuk untuk berkomunikasi dengan orang-orang di dekatnya. “Bu Gran sampai membawakan teman tukang pijatnya untukmu takut kamu mungkin terkilir berkat kemarin atau … kamu barangkali mau makan-----”
Belum pula kalimat itu selesai, Thayana sudah beranjak dengan begitu cepatnya ke arah Raka. Dia bilang, “Apa Mama sudah pulang?”
Dalam detik-detik krisis itu, Raka jelas saja mematung.
Sebab dalam jarak seperti ini, aroma parfum Thayana yang semerbak membuat pipinya menyembul untuk menaikkan warna merah jambu yang tentu akan membuatnya semakin aneh … untuk ukuran cowok juga.
Alhasil, yang Cuma bisa Raka suguhkan hanyalah … “Iya,” mengangguk sembari menyengir kaku. Degupan jantung ini … serasa terus menerus sama persis begitu dirinya di masa sekolah lalu, diam-diam memperhatikan Thayana dari jauh.
“Jadi … apa kamu mau … turun? Atau … ada yang perlu kuambilkan sesuatu? Ah, kalau nggak, ya, euhm … ah, telepon aku saja, okey, call me. Aku pasti bakal gas dating di detik pertama.”
Thayana melengkungkan bibirnya. “Aku mau bicara empat mata saja … denganmu.”
DEG.