Terbaik Untukmu

1093 Kata
Bu Gran mengibaskan tangannya. Kain batik bercorak Solo yang yang bertengger di bahunya kini makin mirip selendang begitu disampirnya secara sembarang. Wajahnya pias, karena begitu turun dari angkot, lantas harus menggotong banyak sekali oleh-oleh yang memang diniatkannya untuk disantap bersama Tuan Muda dan Non yang menghuni rumah bak kastil tersebut. Tuan Hang pun menekus, “Inilah kenapa, Bu, aku sampai melarangmu untuk membeli hal-hal semacam ini, bahkan sampai banyak jumlahnya. Jadinya, kan, repot sendiri.” “Astaga, Pak …” Bu Gran balik memperotes. “Tapi, ini demi Non Asha dan Den Raka, siapa tahu mereka rindu dengan jajanan Magelang.” Kontan, Tuan Hang pun melirik ke arah  kardus ukuran besar yang sampai hati dililit lakban hingga bubble wrap sekalian. Dia melotot, “Oh, bahkan, isinya masih mencuat di atas sana. Sampai lututku pun masih tinggian dia.” Kemudian, menatap Bu Gran dengan dua tangan di pinggang. “Apa ini tidak terlalu aneh, Bu?” Bu Gran jadi misuh, “Sudah, kalau tidak mau membantu, urus saja kebun!” Yang setelahnya, dengan kekuatan mega dahsyat yang entah darimana, Bu Gran menggotong berkardu-kardus jajanan, yang belum termasuk pakaian ke dalam rumah. Yang tentu saja, tak sampai hati Tuan Hang membiarkan hulk versi wanita itu sendirian. Dia … masih punya hati. “Nanti buatin aku bakso bakar, ya, Bu,” katanya meminta upah. “Iya,” jawabnya. “Pas sahabatnya Bung Karno, pejuang kemerdekaan, mampir ke rumah ini.” Oke, yang bisa Tuan Hang lakukan … tentu hanya … menganga. *** Well … Jika Bu Gran diperbolehkan untuk me-review soal before and after kepergiannya juga Tuan Hang, urusan kebersihan, kerapian, tatanan, ketertiban, kemakmuran asupan juga keharmonisan, sebetulnya selalu nggak kalah jauh dari dirinya. Yang tentu saja artinya, baik selama ia tak ada maupun ada, semuanya sama saja. Seolah menujukkan bahwa penghuni rumah itu, memang sebenar-benarnya paling sadar soal kebersihan dan nggak memanfaatkan begitu saja dirinya, mentang-mentang ia hanyalah pembantu. “Itulah yang bikin aku betah sekali di tempat ini, Tuan Hang,” jelas Bu Gran. “Di majikan-majikan lain yang terkenal super sibuk, mereka cenderung memanfaatkanku pergi dengan membuat seberantakan-seberantakannya, dan membuatku yang baru saja pulang, harus atau mau tidak mau membereskan apa yang telah mereka bencanakan. Tapi, keluarga ini tidak. Aku sama sekali tak dianggap sebagai pembantu. Justru, mereka saling merangkulku sebagai Ibu dan sering meminta pendapatku. Aku benar-benar sangat dihargai di sini.” Tuan Hang mengangguk. Jelas, dia merasakan hal yang sama. Seumur-umur bekerja sebagai tukang taman dan kebersihan teras besera semacamnya, Den Raka sering berebutan dengan Non Asha untuk saling berebut membantunya. “Nggak mau! Tuan Hang itu milikku!” Asha tarik-tarikan selang hijau karen ia ingin sekali membantu Tuan Hang menyemprotkan air ke pohon bonsai. Namun, Raka nggak mau kalah, “Mana ada?” Suaranya nyaring membantah. “Tuan Hang lebih dulu kenal sama aku. Tentu, aku yang lebih dekat dengannya.” “Tapi, kan, Asha duluan yang hapal seluruh tanaman di sini, bhakan sampai ke tanaman hiasnya,” ternganya yang tentu saja nggak mau ikutan kalah. “Hayooo … emangnya Kak Raka yang ngakunya dekat tapi tahunya cuma pergi sana, pergi sini. Tuan Hang pasti sangat kesepian dan stress berkat kelakuan Kak Raka!” “Nggak bisa, pokoknya aku!” “Nggak, aku!” “Tarikannya copotin dulu nggak!” “Nggak mau!”                                       “Nyerah aja udah!” “Pelit!” “Keras kepala!” Tuan Hang pun mencoba mengambil ajlan netral, hendak memisakan keduanya yang sangat nggak mau kalah. “Den, Non, sudah, ya, lepas aja. Nanti----” Dan, belum selesai adegan itu membuahkan hasil, yang terjadi justru di luar dugaan, air yang selama ini menghuni selang da tengah tertahan, ini, menyemburkan airnya ke seluruh permukaan hingga turut memuncaki wajah Den Raka dan Non Asha.  Membuat mereka kontan saja basah kuyup. Hingga, kelakuan semacam rebutan itu, masih dilestarikan hingga sekarang. Yang pastinya, hanya berlaku begitu mereka sedang free dan nggak terlalu terganggu dengan jadwal masing-masing, dong, ya. Sampai … selang beberapa detik setelahnya, saat Tuan Hang dan Bu Gran baru saja masuk ke dalam ruang tamu, seseorang tampak merajut dari pintu kanan rumah yang lebih mirip kastil tersebut. Diliat dari ekspresinya yang muram serta bibirnya melengkung ke bawah [re : cemberut], menatap mereka, Bu Gran menelan ludah menyadari memang dari awal, dialah yang sudah cari gara-gara. Namun, Bu Gran hanya bisa mematung sampai … “Bu Gran …” Seperti anak kecil, Aden yang usianya telah menginjak kepala dua ke atas, menghambur lalu memeluknya seperti tengah pulang kepada seorang Ibu sembari merajuk. “Kenapa Ibu nggak telepon aku kalau akan datang hari ini?!” Lihat, intonasinya tinggi. Mirip seorang bayi sedang nangis penuh image cengengnya. “Kan, aku sampai ke terminal tadi pagi berkat anaknya Ibu bilang lagi perjalanan ke sini.” ‘Pantas saja Den Raka ini terlihat lusuh,’ batin Bu Gran geleng-geleng. “Terus, kenapa nggak pakai pesawat saja? Kan, udah kukasih bugetnya! Kalo Ibu mual sepanjang perjalanan, muntah, sakit, terus, Ibu ke rumah sakit, Ibu mau?” “Astaga, Den …” Bu Gran tersenyum. “Belajar darimana perhatian begini?” “Ah, nggak tahu,” seloroh Raka melipat tangan. Sepertinya sangat menghayati scene perngambekkan. “Dan, apa pula ini?” Raka menunjuk ke bingkisan yang amat tidak manusiawinya. Berjubel dan tertumpuk satu sama lain. “Ibu beli ini semua?” Bu Gran mengangguk. Raka makin shock. Ya, lagipula, lengkap sangadd … dari mulai Ampyang, g****k, Getuk, Grubi, Kripik Slondok, Tape Ketan hingga kaos dan gantungan kunci ada semua. Tapi, tahu apa yang Raka tangkap dari semua hal yang bisa disimpulkan? “Ibu mau jualan online oleh-oleh khas Magelang?” DASAR! Bu Gran dan Tuan Hang jadi merebakkan tawa. “Astaga, Den, ini, ada-ada saja. Siapa pula yang mau berdagang bahkan saat bersama maajikannya.” “Ya, itu hak Ibu.” Mata Raka naik ke atas. “Lagipula, kalau Ibu jadi konglomerat, akulah yang akan bangga meski aku aja cukup buat bayar semua kebutuhan Ibu.” Sungguh … Raka ini selalu saja punya ruang dan seolah nggak pernah kehabisan inovasi dan kreasi untuk membuat oranglain jadi tersipu. Meski memang, semua yang berkaitan dengan Raka adalah baik, Bu Gran juga selalu mengerti, bahwa apapun itu … harus ia pagari dengan batasan. “Makasih, Den.” Serius. Bu Gran tak kuasa menahan air mata terharunya. “Eh, Ibu jangan nangis.” Raka mengusap luruhan air mata yang berjatuhan tersebut penuh kelembutan. “Sini.” Yang lalu, dipangkkan kepala sang Ibu yang selama ini mengasuhnya dengan bermandikan sayang. “Tenang, ya, Bu.” Karena Bu Gran tak bisa membayangkan, dengan bagaimana ia membalas kebaikan Den Raka. Sedikitpun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN