Crocodile

1077 Kata
Nggak tahu kenapa, rasanya hancur berkeping-keping. Nggak ngerti, kok, bisa? Tapi, jelasinnya, seperti ada satu panah yang melukai hingga darah terasa nyeri bersemi-semi dalam desiran pilu yang menyakiti. Penuh perih, berkat hati yang lunas terlilit. Terutama saat adegan Raka merangkulkan tangannya ke pinggang Thayana untuk memberi tanda kepemilikan. Yang tentu dibalut tangkupan tangan untuk memeriksa apakah wajah gadis itu baik-baik saja. Jujur, Asha tak bisa berkomentar apapun. Kelu di lidahnya memandu sebuah perilaku mampu yang hanya bisa berbalik menahan semua pekat. Lalu, menumpahkannya dengan menggandeng tangan Draco sembari mengatakan, “Dingin … Aku mau pulang.” Dan, Draco, yang tentu saja kebingungan karena bagaimanapun, Asha bisa memegang peran penting sebagai wanita untuk membantu menenangkan Thayana, apalagi sang kakak terlibat untuk menolongnya, justru mengkehendaki angkat kaki dari lokasi kejadian. “Tapi, Sha …” Namun, berkat yang ia temukan hanyalah karangan sorot mata tatapan penuh sendu, maka, yang bisa ia dedikasikan hanya … “Baik. Aku antar.” Asha pun mengangguk. Lemas. *** Ini sudah pukul 10 malam. Tapi, mobil lama Raka, Avanza, baru ia pakirkan menandakan bahwa ia baru saja sampai ke kediamannya. Tentu bersama Thayana yang masih terisak mengusap peluh dan air mata di sekitaran wajahnya. Dahi gadis itu sempat membiru berkat di pukul. Kakinya terluka saat menghindari kejaran Malvin yang sungguh berambisi menyakitinya. Sayang, itu bahkan belum apa-apa jika dibandingkan betapa pedih sebuah kilas memori dan kenyataan, bahwa Malvin telah di sini, memburunya. Itulah yang tak pernah bisa ia terima dengan kepala sedingin dan semenerima-nerimanya dirinya. Raka yang melihat itu pun mengembuskan napas kasar. “Nggak usah nangisin makhluk hina kayak dia! Buktinya, aku dikirim alam raya buat ikutan mengadzhab dia!” Thayana balik menatap Raka. Wajah laki-laki tampan itu nampak kesal karena sepanjang pertarungan mulut tadi, Raka sampai balik menghajar Malvin karena bersikap di luar batas. “JADI, LO, MAU AJA GITU SAMA MURAHAN? DICINTAI SAMA CEWEK PALING NGGAK PUNYA HARGA DIRI KAYAK IBLIS INI?” Raka menggerletukkan gigi, telunjuknya menunjuk memperingati, “JAGA MULUT LO, YA!” Lalu, meletakkan tangannya di pinggang, menantang. “BUKANNYA DI ANTARA KITA DI SINI, LO BAHKAN SAMPAI RELA-RELAIN DARI LUAR NEGERI KE SINI DEMI NEMUIN DIA? SAKING BUCINNYA SAMPE LO NYAKITIN DIA HINGGA JADI TONTONAN GINI? LO NGGAK USAH BERLAGAK PRICEY KALAU KELAKUAN LO NGGAK KURANG DAN NGGAK LEBIH DARIPADA TERAMAT TERCELA SEKARANG INI!” “KURANG AJAR, LO, YA!” Bugh! Malvin melayangkan tinjunya. Lunas di pipi kiri Raka yang berhasil menghasilkan lecet di salah sudut bibirnya. Bahkan, hingga saat ini, sisa-sisa perkelahian berupa lebamnya tubuh serta wajah Raka sampai bajunya berantakan sedikit menguarkan nyeri di dadanya. Thayana menunduk, dia merasa bersalah. “Maaf, Rak,” papar Thayana. “Gara-gara aku, kamu lantas harus jadi kayak gini.” Raka pun menyanggahnya dengan memekikkan tawa, “Hei! Justru ini semua berkat memang bakat b*****h dia, Thay. Dia pantas mendapatkannya.” “Tapi, untuk seukuran kamu sampai masuk ke kantor polisi karena aku, Rak!” seru Thayana. Yang setelahnya, ia menyeka bibirnya yang terasa kering tersebut dengan lidahnya. Mungkin, merasa pelik juga atas semua sensasi rasa yang memenjaranya. “Aku selalu nyusahin kamu bahkan dalam keadaan-keadaan di mana yang bisa menolongku cuma kamu! Bahkan sempat tadi ada wartawan yang mencurigai kamu, Raka. Untuk semua citra, usaha, kemampuan, kelebihan yang terus kamu push up sampai akhirnya menjadi kayak sekarang, aku senantiasa menghancurkannya seolah … kamu sudah sangat lelah membangun istana pasir tapi, aku, merubuhkannya.” Air mata telah luruh. Lomba lari bersama kalut yang menghitam di sekujur tubuh. Menjadikan Thayana secepat mungki keluar dari sana. Sungguh, Raka hanya boleh melihatnya dalam kondisi mencekam, meski itu seminim mungkin. Bukan dalam situasi di mana air mata harus berjatuhan. “Aku pergi …” “Lantas …”Namun, Raka menginterupsinya, sengaja menggantungkan kalimat agar kaki gadis itu berhenti. Jakunnya naik turun menahan geram. Jelas saja. Ada perasaan tidak setuju yang memayung di kepalanya. “Apa pernah kamu melihat ada istana pasir marah, demo, koar-koar, bt, mogok sama laut yang memang telah diciptakan untuk membuatnya rata?” Thayana berbelok, memejamkan mata lama untuk menatap Raka. “Raka, kamu jangan konyol.” “Aku nggak pernah sekonyol ini semenjak tahun-tahun lalu di mana aku cuma bisa mastiin kamu baik-baik aja dari jauh, tersiksa karena memang aku nggak mampu, tertampar sebab langit pun jangankan restu memberi kesempatan pun tidak.” Dada Raka naik turun. Alis berlawanannya meninggi satu sama lain. “Aku udah jatuh cinta sama kamu semenjak awal kita ketemu, Thayana Shareen. Aku udah tenggelam atas semua yang berkaitan sama kamu meski kamu lebih milih Malvin daripada sejenak saja peka bahwa aku selalu berusaha untuk seenggaknya ada buat kamu.” “Aku tahu, membuatmu mendengar ini sungguh terlambat dan bodoh. Menyembunyikan segala ‘perihal aku ke kamu’ juga bagian paling pengecut yang konsisten aku lakuin, tapi, apa pantas buatku merebutmu demi bahagiaku, Thay?” DEG. Thayana terdiam. Raka benar-benar mengucapkan itu sekali tandas tanpa beban atau jeda yang menghadang. Ada lukisan sorot mata tak kuasa yang berdebum di balik wajah sedunya. Laki-laki itu menggeram pelan, mengusap wajah, terlihat pias. Seolah semesta ingin ia teriaki karena mampunya hanya soal itu. Dan, gravitasi bumi rasanya itu semakin berhenti tatkala Raka mendekat padanya. Menatap gadis yang selama ini menjadi poros semua perhatian serta rindunya. Mengatakan dengan amat instens bahwa, “Itulah yang membuat aku teriris, Thay. Ngelihat kamu sakit berarti mencambukku seinchi demi seinchi bahwa aku telah salah menitipkan kamu. Makanya, aku cuma bisa benci diriku sendiri. Meski aku sadar, Malvin lah yang paling b*****h di situasi sekarang ini.” Itu … adalah pengakuan paling emosional terjujur yang selama ini Thayana baru dengar dari seorang Raka Nugraha. Sang sahabat cowok yang selama ini terkenal tak pernah perduli dengan hal-hal eksternal sejenis ; cinta. Jujur, begitu mendapati semuanya, salah yang terbersit memang memaku sebongkah demi sebongkah penyesalan. Tapi, demi Raka, agar tak lagi menjadi monster yang terus menerus terluka kepada pendam sekaligus menutup diri demi menjaganya, terpaksa, saat itu, Thayana melayangkan tamparan amat keras padanya. Yang meski … “Bukan dengan ini caranya, Kak.” Itu Asha. Menghadang tangannya dengan mengunci pergelangan tangan gadis itu, hingga Raka pergi dari sana. Meski, yang perlu dicatat saat itu adalah ... betapa Asha tegar atas semua pengakuan Raka. Seolah menjelma menjadi Raka kedua yang memilih menampik dirinya sendiri meski kenyataannya, dirinya telah lebur dalam didihan air panas yang melukai sekujur tubuhnya. “Kita masuk.” Pergilah mereka menuju tempat paling netral di antara semua ruang ; kamar. Untuk berbicara dari mata ke mata menuju hati yang paling … tersakiti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN