Sepanjang jalan pulang, yang mana Asha nggak seorang diri membelah lautan mobil Jakarta, tengah berlalu lalang meski lengang petang itu, tetap saja, gaduh nggak bisa musnah begitu saja dari kepalanya.
Air yang merintik di kaca mobil seumpama satu demi satu pertanyaan yang Asha jujur ingin tahu jawabannya versi sebenar-benar ia.
Karena, berada di labirin menyebalkan yang mana dirinya saja yang terjebak di dalamnya, sungguh memusingkan.
Apalagi soal …
‘Barangkali selama ini, bukan Rakalah masalahnya. Tapi, diri lo sendiri yang menipu.’
Cinta memang gitu.
Nggak jelas alasannya.
Nggak ngerti titik mulanya.
Tahu-tahu tumbuh.
Tahu-tahu berkembang.
Tahu-tahu menggelegar.
Tanpa paham, mengapa ia harus menggelepar di dalam sana.
Sembari memegang liontin berukir hati di leher, Asha menghirup angin dingin hujan malam, lemas berkata dalam hatinya, bahwa …
“Sudahi saja, semuanya.”
***
“Hei … mangkir di pinggir jalan juga?”
Itu suara Draco.
Yang kontan saja membuat Asha melebarkan mata. “Wow … kamu di sini juga?”
“Well …” Dia ngangkat salah satu bahunya. Sementara tangan kanan yang tak digunakan ia untuk memegangi paying diletakkan di kantung coat warna khaki. Memang, ya. Meski namanya Draco yang terkesan maskulin, versi Draco yang ini justru suka berbagai macam perpaduan kalem. “Aku cuma sedang kebetulan aja beli payung.”
“Oh, gitu …” Asha mengangguk-angguk. “Kirain lagi mau sama sang special. Secara, kan, apartemen kamu ke sini jauh banget tempatnya.”
Dia memamerkan giginya. Manis sekali. “Niatnya gitu … Tapi, aku lebih milih jalan sama yang punya dia.”
“Minta restu sama pacarnya?” Asha tampak kaget.
“Astaga … sama yang selama ini jagain dia, lah.”
Kemudian, keduanya pecah dalam tawa.
“Bagus itu.” Hingga, tangan Asha mengarah ke puncak rambut cowok itu. Mengelusnya penuh bangga bak majikan kepada kucingnya. “Ututtututttuu … semoga jadi, ya.”
“Diaminkan.”
“Harus versi paling serius.”
“Yang ini versi mega double kubik pasti.”
“Hahaha … ada-ada aja.”
Jadi, keduanya, ketemu di jalan. Tepatnya di kedai bakso berdinding bambu yang tentu yummy banget kalo dimakan hujan-hujan meski temennnya selalu pakai es teh manis. Sungguh, benar-benar menjiwai ‘standar kenikmatan’ nasional pola pikir Asha ini.
Namun, yang bikin unyu dan paling bisa dibanggain dari view lokasi kompleks sekarang ini, adalah … sungai kecil bersih banget di bawah sana. Walhasil, tanpa nunggu waktu lama, duduklah keduanya yang tanpa janji maupun agenda, kebenaran banget bisa mengaktualisasi sebuah kegiatan bersama.
“Pokonya, kamu yang harus traktir,” mandat Asha. Menyeluruh banget pakai acara tunjuk segala.
“Iya, iya,” respon Draco sekenanya. “Lama kelamaan bisa diabetes aku kalau terus-terusan sama kamu terus. Manisnya ngelebihin gula anak kecil yang manja tapi …”
“Tapi …”
Karena kikuk, Draco cuma bisa menggaruk tengkuknya yang nggak gatal sama sekali itu. “Ah, udah, lupain.”
“Ya, ampun, Draco.” Asha justru mencolek wajah Draco dengan kerupuk lebar wana putih yang tersedia di keranjang pelengkap. By the way, ada pilus, lontong, dan yang lainnya. “Kusawer, nih, ya, muka kamu, biar terpesonanya makin paripurna sama aku.”
Aseli, Sha, asal aja kamu tahu, betapa ada gebyar gemebyar di hati Draco waktu itu.
Meleleh begitu saja, berkat sebelum kamu bilang itu, jantungnya sudah bedebum bak trampolin yang hanya bisa melayang lalu mendarat lagi.
Telah jatuh cinta sama kamu dengan serius.
***
Tepat sudah … satu jam mereka di sana.
Sebenernya hanya ngobrol remeh temeh dan gossip sepengetahuan Asha yang tentunya juga dibalut sama kisah-kisah unik Draco.
“Nggak, Sha, seriuously, collab sama chef ternama Indonesia, Rwertrio, itu bener-bener kayak mimpi buatku. Aku sama sekali nggak kebayang untuk berada di situ. Apalagi sampe demo begitu saja di pagelaran kompetisi masak Nasional bulan lalu, yang menurutku, aneh aja kalau harus di sana. Aku, you know … kata orang aku mudah kikuk dan tiap kata-kata yang keluar dangdut abis, Sha.”
“Ya, lantas, kamu mau anggap itu apa? Beban yang otomatis kedaftar dalam diri kamu, Drac?”
Draco cepat menggeleng. “Aku hanya … bingung bagaimana menjadi normal.”
“Menurutku, sih, Drac, standar normal itu, ya, kita sendiri yang memilikinya. Kita sendiri pula yang menentukan. Bahkan hanya kita saja yang berhak puas atas jenis apapun kendali yang berhasil kita dapatkan. Karena, kamu, mereka, milikmu, segala tentangmu, nggak akan pernah di garis finish yang sama pula seperti mereka.”
“Kayak … aku hanya mampu jadi sejati-jatinya aku, Sha?”
“Iya, Drac. Kamu dan dirimu, investasi besar sebuah ‘sejati’.”
Dan, di akhir kata itu, mereka semakin dalam membahas betapa ujung dari diri mereka sendiri sulit untuk diri sendiri pahami.
Keduanya seolah menjelma menjadi dua orang ayng telah alam tahu demi tahu perihal masing-masing yang terkait ‘mereka’ lalu sekejap bertransfromasi menjadi kritikus membangun agar masing-masing mereka berubah menjadi lebih baik.
Namun, tatkala keduanya tengah sibuk, ada satu keributan yang sekali lagi seolah jadi keajaiban juga karena begitu tepat mendarat di lokasi yang sama.
“Lepasin aku, lepasin!”
Itu teriakan yang kasar. Sedikit menangis meski wajahnya bertabur benci mendalam. Penuh sinis. Dirinya ditarik bak karung beras diseret menuju gudang. Bedanya, versi gadis cantik ini, dirinya berusaha untuk terus menerus diam di tempat sembari menggelorakan tolakan.
Yang paling parah adalah … “Kamu aku laporin ke polisi kalau kamu terus kayak gini!”
Eh, yang cowok malah nantangin, nadanya begitu tinggi.
“YA, UDAH, SILAHKAN, SEKALIAN, BAWA JUGA SELINGKUHAN-SELINGKUHAN KAMU YANG ADA DI BERBAGAI NEGARA! UDAH DISEWA BERAPA AJA KAMU? JAM TERBANG UDAH KE MANA AJA? MARS UDAH?”
Tentu, itu mengibarkan amarah.
“Dasar berengsek!”
Sampai satu tamparan telak yang teramat kencang membusungkan bekas merah di pipi mulus cowok yang rasanya sulit untuk nggak diklaim ‘rupawan’.
Ya, meski kelakuannya nggak kalah kembar sama setan.
“Aku udah bilang, ya, sama kamu! Di antara kita, sama sekali nggak pernah terjalin apa-apa! Aku bukan milik kamu, kamu pun udah bukan tanggung jawabku! Sekarang kamu pulang! Kamu pergi dari sini dan jangan tampakkin diri lagi!”
“KAMU NGUSIR AKU?”
Lihat!
Bahkan kini, bahunya dicengkram kuat oleh cowok itu.
Aura matanya pun bahkan penuh aura kebelingsatan.
Sang cewek jelas saja terisak, lalu berteriak, “AKU BENCI KAMU!”
“DASAR PEREMPUAN---- AKH!”
Emosi itu … tak jadi tersalurkan.
Aksi balas tampar berganti adegan kejutan menjadi pukulan.
Membuat sang empu tersungkur mencium lantai aspal dengan mesranya.
Namun, yang membuat Asha terkejut waktu itu adalah …
“Jangan sekali-kali kamu sakiti dia,” katanya dingin.
“Sok-sokan!” Sang lawan mendecih. “Emang kamu siapanya?”
“Pacarnya! Paham?!”
… Raka Nugraha.
Orang yang sejak bersama Yaya tadi sudah menghuni pening di kepala Asha.