“Sha … bagus nggak?”
“Apanya? Parfume JAR Bolt of Lightingnya?”
Yaya mencibir. Lagian, Asha ada-ada aja malah nanyain testimoni parfume lengeseran nyonya sultan fakultas mereka, Qenny, yang tiap apapun dipakainya bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. “Hishhh … outfitnya.”
Asha pun tampak berpikir sejenak. Tentu yang dihayati dengan jari telunjuk berada di dagu. Saat ini, mereka tengah jalan bareng usai mengerjakan tugas kuliah dan bekerja di salah satu mall elit Jakarta Selatan.
Namun, yang mencolok mata saat itu adalah … dress floral yang dikenakan Yaya.
Guys, percayalah … Yaya ini, tipe cewek yang lebih suka pakai sweatshirt. Nyaman, gerak banyak no problem, tomboy jadi femin kebeli, yang tentunya berbeda sangat dengan Asha yang cenderung lebih oce sama yang tengah dikenaka Yaya saat ini. Atau pakai semacam painted pens.
Intinya, urusan aura cewek, Yaya agak nggak terlalu menjiwainya.
Be yourself versi dirinya adalah dengan sejadi-jadi ‘tentram’ dirimu saja.
Itulah yang membuat Asha selalu takjub akan sosoknya.
“Lo cantik, Ya ...” komentar Asha.
“Boong.”
“Lihat! Lo justru nepis opini gue mentah-mentah kayak gitu!” terang Asha. “Gimana gue nggak diam aja selama lo ngoceh nanya pendapat?”
Kini, Yaya menggerutu. “Ya, masalahnya, ini bukan mode gue banget, Sha.”
“Tapi, Ya, keluar dari zona nyaman nggak selamanya buruk. Selalu ada dampak positif bahkan untuk diri kita sendiri. Lo, kan, tahu itu … Ye, nggak?”
“Iya, deh, iya, deh.” Yaya ngangguk doang, meski nggak pasrah sepenuhnya. “Yang deketnya sama Draco penuh inspiratif dan Mas Raka yang too good to be true.”
“Tuh, kan … malah ngeledek!” Asha pun bersiap mengangkat cup minumannya. Tapi, nggak jadi karena Yaya yang tadinya jahil sangaddd gitu, yekan, sudah mengeluarkan bendera putih.
Mengatakan, “Ampun, Ndoro …”
Yang tentu hanya dibalas rotasi bola mata kesal sampai nggak bisa ngomong apa-apa lagi.
Jangan-jangan tensi lelahnya telah terlanjur tinggi.
Namun, seperti persahabatan keket pada umumnya, endingnya, ya, sama juga.
Gelegak tawa pelahan beradu di antara dinding-dinding love-hate relationship antara mereka. Ini berkat Yaya yang sok ngeimutin diri dia minta diampuni.
Serius … jatuhnya malah cringe.
“Bisa aja lo. Bukan lo banget tahu, nggak?” Asha pun menoyor kepalanya. Makin-makin, dah, tuh ledakan tawa.
“Tahu,” tukas Yaya. “Dan, lo pikir gue mau ngelepas jiwa swag sejak lahir gue demi lo? Ya, enggak, keleus ..”
Putaran kepala Asha menjadi samping menyamping. “Udah, ah … cheers ..”
“Cheerss ..”
Bunyi ‘ting’ sejenak menguasai suasana.
Meski lantunan lagu John Mayer bergema juga di sekitaran restora cepat saji bertema makanan Eropa tersebut.
Dan, seperti kebanyakan nongki ala cewek yang bahasannya nggak jauh-jauh dari hasil penelitian terhadap siapapun bin apapun yang terjadi [re : ghibah], mereka ngalor-ngidul bahas sana-sini.
“Iya, ya ampun, Sha, gue juga heran kenapa Juan begitu didemenin sama cewek-cewek se-universitas, padahal menurut gue … dia cuma ‘lakik’ banget aja gitu, gimana, ya, nge-klaim dia? Ah, ya … overrated. Yang harusnya dipuja itu si Laksa. Gantengnya unreal yang jatuhnya justru parah banget kalau nggak dipake buat kepentingan public. Entah itu buat entertain atau public speaking, eh … sayangnya, dia lebih tertarik urusan KPK sama hukum, kan, sayang …”
Asha yang hanya mengaduk-aduk minumannya tanpa ada niat menginterupsi ‘bakat tak terduga sekaligus terpendam’ Yaya, cuma bisa senyum sambil ketawa doang.
Memang terkadang, yang kita kira cuek saja pada banyak hal, justr selalu memiliki pandangan tak terduga yang justru terdengar menarik saat opininya mencuat ke permukaan. Yup, menurut Asha, Yaya ahlinya urusan mengamati dan memperhatikan. Fokus jelas merupakan kekuatannya.
Lalu, mendadak, Yaya ganti topic.
“Terus, hari di mana lo sama Draco hang out bareng, tuh, emang sebagai deklarasi kalau Yayang Babang Raka udah nggak bersemi lagi di hati?”
Asha menarik salah satu sudut bibir kanannya. “Hei … emang kalo misal gue makan bareng, jalan buat ngehabisin waktu biar nggak kuliah-kerja terus, gue lantas punya love sama orangnya?”
“Ya, kasusnya, kan, beda, Melinjo …” Yaya kelihatan icemosi. Matanya mencuat selebar amukan yang ingin sekali meremas Asha karena kadung ‘gemas’. “Lo sama Draco, kan, ibarat dompet atau tas atau semacamnya, yang mana sudah punya tali di masing-masing sisi yang berdampingan, namun, nggak ada kancing buat memperkuat statusnya.”
Tapi, Asha, malah menggelengkan kepala nggak habis pikir, “Kenapa harus dianalogiin gitu?”
“Ya, biar lo nyadar, Mbak, betapa Mamas Draco tergila-gila sama lo.”
“Ada-ada aja.”
Sayang, istilah semacam itu justru mengemukakan berbagai pertanyaan lain yang akhirnya berderakan menjadi daftar.
Kayak …
‘Terus, lo dijejelin apa aja sebagai tumbal dia buat lo tertarik?’
‘Dia nggak ajak lo ke nge-date merakyat? Kayak … ngobrol bareng di MRT?’
‘Ih … harusnya lo spill kalo lo pengen banget ice cream yang di MCD!’
Untuk merenggangkan jalinan semua rasa penasaran sahabatnya, Asha hanya mampu menitikbertakan kata berupa …
“Yang bikin lo PD banget kalo Draco naksir gue itu apa, Ya?”
“Nah …” Mata Yaya kian berbinar. “Yang ngebuat lo nggak yakin-yakin juga kalo gue udah jadi target perburuannya apaan coba?”
“Ya, karena, kan, Draco itu spesies langit, mana bisa jatuh cinta sama penduduk bumi yang sebenernya lebih elit lagi dicap sebagai ‘kaum tanah’?”
“Justru itu, Mbak Bro …” Yaya menekan. “Justru kepada tanahlah langit bisa sadar bahwa mereka emang nggak akan pernah selamanya bisa tinggi. Akan ada waktu di mana mereka merendah, tunduk, jatuh, meneletangkan diri menikmati kerendahan. Apa lo nggak pernah sadar kalau kita cenderung iri dan insting kita condongnya lebih kepada yang nggak bisa kita miliki?”
DEG.
Seharusnya, nggak ada yang harus memintal di hati Asha. Nggak pernah diizinkan pula sebetulnya kepada kepala untuk naik mimbar teraktivasi mengirim sinyal perintah memikirkan ke arah sana.
“Jadi, itulah kenapa gue dan Raka nggak akan pernah ‘kuasa’ buat bersama, Ya?”
Helaan napas terasa berat. Yaya menunduk sebentar, memegang bahu kiri sahabatnya. “Coba lo inget-inget, apa, sih, yang paling bikin lo ‘tersihir’ buat suka sama model Raka? Sampai rela menggadaikan semuanya?”
Lanjut, mematrikan kedua tangan. Ala-ala detektif tengah mengintrogasi di meja investigasi.
“Apakah itu sebagai reward tertinggi karena dia telah berbuat baik ke lo selama ini yang jelas-jelas di matanya lo nggak lebih dan nggak kurang hanya seorang adik kecil perempuan nggak punya apa-apa selain sebisa dirinya ngasih bantuan buat adopsi lo?”
“Atau …” Yaya menggantungkan kalimat, kemudian berbisik. “Lo jangan-jangan karena sudah cenderung masang target pokoknya harus model Raka, karena cuma dia satu-satunya patokan baik yang lo temui di hidup lo? Bahkan, sama Bapak lo pun, nggak, iya, kan? Makanya, Asha, lo harus cek. Barangkali selama ini, bukan Rakalah masalahnya. Tapi, diri lo sendiri yang menipu.”