Disitulah, senyum Asha menyembul.
Perlu diketahui, itu dua tahun yang lalu.
Saat Asha berusia 16 tahun. Dan, dirinya, 18 tahun. Alias … very fresh graduate banget, lah.
Apalagi, Raka masih rookie banget soal urusan bisnis-berbisnis.
Ibarat pemula ada di title ‘kentang’, Raka justru berada di tahap super mega ‘akar’-nya. Sangat permulaan.
“Emang Kakak nggak capek?” tanya Asha sesumbar.
Kini, keduanya duduk bersama di kursi taman pameran elit yang juga jadi tempat pengiklanan bibit unggul bunga anggrek beragam warna, beraneka macam, berbagai bentuk. Dimodif sedemikian rupa hingga menyerupai merak raksasa lengkap dengan lampu gantung besera aksesoris kerlap-kerlip lain yang nggak kalah meramaikan.
Emamg bener-bener tempat yang i********:-able banget, lah, kalo ngajak doi ke sini, atau buat yang sekedar mejeng.
Raka, yang juga tengah meneguk sprite itu pun, justru mengetuk-etukkan botol berisi air tersebut ke kepala Asha. Seakan memberi pelajaraan.
Tentu, itu membuat sang Empu mengaduh sakit.
“Aw! Jangan!” Langsung balas. Pakai pukulan ember pop corn raksasa---karena pesannya versi jumbo size. “Kapok nggak, kapok nggak?”
Namun, adegan dangdut romansa justru terjadi detik itu juga.
Yang mana, Raka yang hendak mengempaskan ember tersebut, justru, salah tangkap meraih pergelangan tangan Asha. Menjadikan jarak yang tadinya berjauhan, kini berubah menjadi bedekatan.
Hanya saja … yang membuat ambigu adalah … posisi hadap-hadapan yang kini sedang mereka lakukan.
Seolah seperti dua orang yang tadinya terlibat insiden, namun, hendak … berciuman?
Dan, kontan saja …
Begitu mata Raka terpaut dengan wajah cantik Asha yang lugu dan manis, Raka langsung membuang muka, mendesis, ‘Gara-gara ember!’
Hingga, yang lolos dari mulutnya adalah … “Kamu aja yang nggak pernah menghargai etos kerja. Males. Nggak pernah mau belajar! Selalu aja kayak gitu! Mau jadi apa kamu, hah?!”
Maaf, Asha …
Tak pernah Asha bayangkan jika dirinya akan berubah menjadi seperti itu dalam beberapa situasi serta kondisi.
Tapi, jujur, Raka tak ada maksud sama sekali untuk jahat padamu.
Hanya saja … akan sangat aneh, bukan, jika Raka mengatakan, dia hanya tak mampu menahan debaran ketertarikan?
Ah, tidak …
Raka kini menutup wajahnya. Sempurna ter-cover bantal gambar mickey mouse.
Tanpa ia sadar, ini kamar … Asha yang justru tidur di sofa?
“Astaga … sejak kapan dia ada di sana?”
Langsung saja, Raka pindahkan saja gadis itu ke kasur kamar gadis itu.
Yang … saat mengelus rambutnya, terbersit keinginan dalam dirinya untuk mengatakan, ‘Sha … aku sayang kamu.’
Tapi, Raka memilih untuk menutup malam dengan binar-binar cahaya debar.
Yang tentunya, hanya dirinya dan Tuhan Yang Maha Esa saja yang tahu apa maksud dan maknanya.
***
Biasanya, saat pagi hari, hal yang paling kita inginkan untuk menyapa mood kita adalah dengan kombinasi udara segar, sinar mentari yang menyehatkan kulit dan suhu, pun juga soal membaca buku sembari minum teh hangat dengan pelengkap pisang goreng yang legit serta manis.
Tapi, pagi, yang pukul jam 09.00 itu, usai Raka berolahraga, tepatnya jogging, mau nggak mau, cowok tampan itu harus memekik tertahan berkat munculnya makhluk yang nggak ia duga, apalagi undang untuk berada di sampingnya saat ini.
Ya … dia adalah … Draco.
Lengkap dengan blazer light pink yang cerah, celana jeans yang ujungnya dilipat ke atas seperlunya, juga t-shirt dan velcro sneakers warna putih bersih. Seakan ingin memberi kesan teduh, yang tentunya manis. Dan, ya, oh … jangan lupakan rambut rapinya, model comma hair, sangat cocok untuk berbagai acara formal maupun sekedar ngumpul sama teman-teman.
Namun, cringenya, bawa banyak banget pesanan yang sebenarnya dikerjain Aldo.
Beda banget sama Raka yang cuma pake kemeja flannel yang dikombinasikan dengan kaos stripe panjang. By the way, dia baru aja selesai ganti baju. Tentu, usai berkeringat penuh.
“Lo …”
“Gue mau nepatin janji, konselor langsung sama lo, Bang.”
Yang saat itu juga, bergetarlah hp Raka. Sebuah notofikasi pesan masuk membuatnya mengklik buka.
Dan, tahu sajalah, siapa pengirimnya.
ALDO
Ke kafe Vovo, ya, Bang. Kalo client comblang kita dating.
Dalam hati, Raka mengumpat, ‘Emang dia pikir gue jadi agen jasa perjodohan?’
***
“Ah … iya, lo bener banget. Pasti kemarin lo bikin Asha senyum-senyum, kan?”
Draco tersenyum ramah, mengulum bibirnya ke dalam, agak lama, sembari mengangguk kikuk, “Iya.”
Makin keras, dah, tuh, tepukkan Aldo di pundaknya, “Bagus, bro! 10 poin buat lo!”
Namun, Draco justru memilih untuk mengulur tangan ke depan, seolah mempersilahkan, atau yang lebih mudahnya, sebuh gesture ‘menyanjung’.
“Itu juga … semua berkat … Bang Raka …”
Tapi, itu membuat mata Raka yang sebelumnya hanya menunduk menyesap cola, langsung menatap penuh wajah Draco. Serius, di situasi kayak gini, siapapun orangnya, pasti hanya bisa menarik napas kasar saja. Pun sama halnya dengan Raka.
Dia tidak dongkol sama sekali, tidak.
Tapi, ada perasaan datar yang membelit, yang mungkin saja ini bersumber dari memang dari awalnya tak pernah ia niatkan untuk melakukan ini, meski … ia tahu, hanya dengan cara inilah, Asha bisa bahagia.
Hufttt … Dengan cerapan semacam itu, Raka meneguk minumannya sampai habis.
“Tapi, beneran, sih, Drac, lo itu … 4D banget di mata gue. Ya, maksud gue, untuk ukuran orang multitalent yang punya nama sangat bagus di mana-mana, mengetahui bahwa lo freak dan fakir bangeeett di urusan love story, bikin gue heran … apa lo sendiri nggak pernah jatuh cinta?”
Draco mengangkat bahu kanannya. Astaga … percyalah, Draco ini … sangat manis. “Kedengaran aneh, ya?”
“No … unique, malah.” Aldo menggelengkan kepalanya. “It’s just like … a clever boy yang sweet dan menggemaskan. Kayak, kertas putih tanpa noda namun bermandikan cahaya.”
Sekarang, Draco senyum. Bibirnya ditutup kepalan tangan. Tampak sopan yang seolah menunjukkan bahwa di balik dirinya yang luar biasa ini, sesungguhnya ia adalah sosok yang introvert.
“Gue cuma … nggak ngerti apa bagusnya sebuah jatuh cinta sama cewek, yang selain bikin kita rapuh serta selesai, yang gue percayai selanjutnya adalah … jatuh cinta … berarti menyerahkan sakit hati hanya kepada dirinya. Gue pribadi, Do, nggak pernah menyukai satu wanita pun di dunia ini, selain Mama dan adik-adik gue, baru kali ini … gue tertarik sama seorang cewek yang bahkan nggak gue duga akan dia orangnya.”
“Wow …” Aldo tampak antusias. Matanya berbinar. “Berarti lo---”
Sebelum pernyataan Aldo selesai, sudah terinterupsi duluan oleh gebrakan meja yang agak kencang dari Raka.
“Lo tuh sebenarnya suka nggak, sih, sama Asha, Do? Bukannya Asha sendiri yang bilang, hanya lo yang Asha mau? Sampai bersikeras mau nikahnya hanya sama lo aja? Kenapa lo justru melibatkan Draco untuk hal yang kayak gini? Lo mau ngetes Asha cemburu apa nggak gitu sama lo?”
Oke, baby Nugraha … kamu mengacaukan semuanya.