"And now ... your're breaking my heart."
Usai mendengar itu, tumpukan kertas bekas hasil fotokopi yang kini dipegang Asha, tanpa babibu lagi, kontan dilemparkan, tepat, di wajah Draco. "Enyah sana!"
Draco cuma ketawa tamvan aja. "Bisa kupastikan, Sha, kamu bakalan 'rindu banget' sama aku."
"Iya, pasti," kata Asha tak kalah songong dan menantang. "Apalagi, itu cuma terwujud in your head!"
"Kalau bisa untuk dunia real, kenapa harus di imajinasi aja, sih, Asha?"
Langsung aja, Asha memutar tubuhnya, menghadap cowok yang jelas aja lebih tinggi dari dirinya. "Sayangnya, aku lebih tertarik sama dunia imajinasi yang selalu punya kesempatan buat jadi kenyataan, bukan dunia nyata yang selalu aja nyakitin aku."
"Makanya, Sha, kalau kamu sakit, rangkul aku aja."
Percayalah ... mendengar kata itu langsung pada empunya, hanya akan membuat perutmu seketika pecah dan salah satu sudut bibirmu berkedut karena tak tahan.
Alhasil, Asha pun menyemburkan tawanya. "Ya, sudah, aku gandeng tangamu aja. Kasihan soalnya, jomblo."
"Enak aja." Tentu, Draco nggak mau dikatai 'nggak laku'. "Seenggaknya meski status masih sendiri, hatiku, Sha, udah ada yang ngisi."
"Cih ..." Asha mencibir. "Percuma, Mas, udah diisi tapi belum ada yang resmi sebagai yang termiliki."
Walhasil, tertawalah mereka.
Tapi, jauh dari tempat itu, seorang lelaki tengah euforia sendiri, berkat yang tengah ia lakukan menghasilkan effort sekaligus memberikan dampak yang baik.
Dia bahkan berseru, sembari mengepalkan kedua tangan tanda kemenangan ke depan, "Lihat, kan, Bang? Lihat! Mereka, tuh, emang cocok banget! Parah, sih! Baru aja sehari lalu kita ngajak ngobrol Draco soal Asha dan hal-hal yang dia suka, eh, ternyata ... dia benar-benar bukan hanya pembelajar yang baik, tapi, praktikal yang jitu."
Yang bikin ngelus dadanya adalah ... Aldo nepuk-nepuk bahu yang di sampingnya.
Bikin orang yang tadinya mau nyantai ria, malah jadi emosi.
"UDAH, UDAH, UDAH!"
Karena kaget tubuhnya didepak gitu aja, apalagi rangkulannya malah dihempas dengan amat mesra hingga Aldo harus mencium tembok berkat terbalik karena pukulan turbo tak terduga tersebut, mungkin inilah yang menyebabkan otaknya justru tiba-tiba geser.
"Oh, kalau babak duanya, sih, udah, ready, Bang," terangnya yang sambil mengusap pipi.
Jelaslah ...
Orang sensasi rasanya 'nyeri'.
Tapi, justru, jawaban itulah yang membuat telinga Raka berdiri dan fokus menatap dirinya penuh atensi.
"Apa?"
"Ya, iya, Bang. Gue sebelum jemput ke butik hari ini, yang biasa dipake Asha untuk re-stock baju-baju di olshopnya, gue udah atur pertemuan sama Draco."
Raka kontan menaikkan alis. "Perasaan yang cuma punya nomornya gue."
"Iya, emang." Aldo membusungkan dadanya jumawa, hingga dirinya kini dekat sekali di samping Raka. "Justru, Bang, buat totalitas, gue ngetik dan bilang ke Draco, pake atas nama lo."
Kelopak mata Raka kontan melebar, "Maksud lo?"
"Ya ... gue bilang aja, ini semua atas restu dari lo. Dalam kata lain, semua hal yang nanti jadi prosesi PDKTannya Asha sama Draco, hingga mereka jadian dan nikah itu semua karena ..."
"STOPPPP!!!"
Raka menjauhkan Aldo dari dirinya, membuat cowok itu mengerjap sesaat. Jelas ikut bingung karena Raka sendiri tak biasanya jadi begini.
"Lo kenapa, Bang?" tanya cowok bertubuh tinggi 170 cm itu.
Yang dijawab dengan angkat kaki Raka Nugraha yang sempat misuh sendiri. Jujur, pengakuan Aldo tadi bak pisau belati yang mewariskan serabut yang memprovokasi pikiran tenangnya. Ditambah lagi, saat Raka membuka ponselnya, dia menemukan bekas pesan yang tadi ditransfer Aldo kepada Draco sialan itu.
Raka Nugraha
'Asha suka banget sama bunga mawar putih.'
'Lo nanti belinya di toko Flower Scene di Jalan Thamrin. Yang punya namanya Bu Huneri. Dagang cendol juga. Nah, sekalian, tuh, lo beliin gue, 6 biji, ya. Soalnya 5-nya mau buat asisten pakcomblang gue, ah, lo nggak kenal, deh, mirip artis Kpop, Taehyung BTS soalnya.'
'Terus di sampingnya ada toko Es Koala, Asha suka banget, tuh, sabi kali lo borong 10, 6 buat asisten, 2 gue, sisanya, ya, jahat banget kalo lo kasih Asha segitu, kan, lo mau jadiannya sama Asha bukan sama asisten gue, jadi thinking sebetter mungkin, deh, ya, lo.'
'Sama lo sabi juga mintain tanda tangan cowok yang jadi model di iklan Deodorant samping Mall Killa's, meet and greet hari ini taukkk, palingan tiketnya 3 juta.'
'Asha ngefans berat sama dia semenjak dia main film Ada Sebab Dengan Kita Cemburu. Gantengnya kayak gue, 10:10 perbandingannya, hehe. Udah, gitu aja.'
'Entar kita briefing juga, yak. Gue perlu nilai kesetiaan, kesabaran, dan semua akhlak muliyaaa lo, okeh? Cemoga cukces adeeeqq ...'
Jakun Raka naik turun.
Ada gejolak emosi yang bak air laut pantai menabrak karang lalu terpecah namun percik demi percik airnya menggenang di sela-sela bebatuan karang yang keropos dan terkelupas.
Begitulah aliran darah menajamkan urar-urat syarafnya.
Hingga, menjadikan dirinya tak bisa lagi membendung emosi sampai-sampai menyetujui aksi bahwa yang terbaik adalah ...
"ALDO!!!! LO, TUH, MAU MALAK ATAU MAU NYOMBLANGIN, SIH????!!!"
Yap.
Meneriakinya.
Meski dalam jarak yang amat jauh sekitar ... 50 meter.
Serius.
Tak pernah Raka bayangkan, Asha berteman dan jatuh cinta dengan makhluk semacam Aldo.
Enggak ada akhlaknya terlalu over.
Sampai Raka kehilangan harga dirinya.
'Nasib, nasib ...' batin Raka. Dia memegangi kepalanya yang kini sudah sangat pening berkat Asha dan egonya.
***
Raka kini membaringkan tubuhnya begitu sampai di rumah.
Ototnya tegang, tentu.
Mengingat betapa padatnya dirinya hari ini dengan segala macam agenda yang membelit sedikit demi sedikit tenaga yang dimilikinya.
Raka pun mengembuskan napas kasar.
Dalam kondisi seperti itu, biasanya, kita, cenderung 'terpaku' pada ingatan-ingatan yang mendatangi kepala, sebuah memori yang tanpa sengaja kita dapatkan. Tapi, membuat darah kita berdesir begitu kita menyadari betapa berharganya satu momen tersebut.
Contoh, dalam kasus Raka seperti sekarang ini.
Kini, yang menjelma di otaknya, hanya kilasan adegan-adegan seperti yang ada di film.
Wajah Asha.
Tengah berlari di tengah-tengah keramaian, menebus setiap orang yang berlalu lalang, membawa balon shaun the sheep. Dan, oh … jangan lupakan bando menyala berbentuk bulan di atasnya. Benar-benar seperti anak kecil.
Namun, yang paling membuat Raka terkejut adalah … gandengan tangannya. Persis seperti hendak membawa sang pasangan duduk di kursi pelaminan. Bedanya, Asha dan Raka ini penuh aksi. Mereka berdua menuju ke wahana bianglala.
“Pelan-pelan, Sha.”
Asha pun menoleh santai, “Nggak bisa, bair buruan, aku mau naik yang gambar kuda poni.”
Raka jadi memutar bola mata, “Apapun gambarnya, selama sama aku, ya, sama aja, Sha.”
“Sama aja apanya?”
“Lengkapnya.”