Dan, di kafe elit bernama Getir Rasa itupun, anak dan Ibu tersebut memutuskan untuk berbicara.
Yang sebenarnya, sih, Raka udah ketahuan dia malas sekali bertemu dengan makhluk yang teramat sangat berjasa ini.
Bukan mau durhaka, tapi, Mamanya ini punya etiket perbangkangan yang tak henti-henti membuatnya pusing karena terus menerus menanyakan hal yang bahkan Raka nggak tahu jawabannya.
Itulah mengapa, dirinya bisa mengembuskan napas berat bahkan sebelum mereka memulai pembicaraan usai 10 menit hinggap di sana.
Nah, jika kamu bertanya, kenapa Raka tak bertanya saja soal kenapa sang Ibu sampai menghadang anaknya yang alih-alih bisa menemuinya atau janjian saja selayaknya hubungan harmonis Ibu dan putranya?
Maka, faktanya, alasannya hanya satu, 'Mama nggak sudi jika kamu masih membonceng Ibumu sendiri alih-alih teman-temanmu yang lainnya sudah bahagia karena sudah nggak perlu bingung lagi meneruskan estafet keluarga dengan siapa?'
Dan, bukankah itu, sudah sangat cukup 'pas' untuk meneruskan konversasi lagi ke sub-sub tema serupa?
Kayak ...
Lantas, apa kamu nggak pernah menyukai wanita?
Bagaimana dengan menonton itu? Kamu sudah, kan, Rak?
Astaga.
Jika saja ia bertemu dengan juru kunci hidupnya, sudah ia cari itu, lokasi dimana kini sang jodoh menetap.
So, berkat keheningan yang semakin tak menyenangkan, Sang Ibupun, memutuskan memulai pembicaraan dengan perkataan klise yang sebenarnya penuh makna.
"Jadi, begini-begini aja kabar kamu?"
Raka tersenyum. Singkat yang nggak bisa disebut menenangkan sekali. Tapi, itu amat cukup untuk membungkam. "Selalu berprofit, kan?"
"Aaisshhh ..." kesal sang Mama. Oh, iya, namanya Sarah. Single parent sejak Raka masih balita. "Percuma saja kamu selalu mendapatkan kantong-kantong gendut jika urusan percintaan sial sekali."
"Dan, ya, kepada u*****n Mama yang entah itu memotivasi atau justru membunuhku karena membuatku minder setengah mati, lebih baik kita sudahi saja, ya, Ma, perbincangan sehat ini."
Itu ditawan dengan kuluman bibir ke dalam yang teramaaaatt ... manis.
Seolah ... membujuk.
Tapi, Sang Mama justru mendecih.
Raka yang sudah biasa dengan semua itu, memilih acuh saja dengan meminum mango juice yang kebetulan tadi ia pesan.
Sementara Ibunya, minum green tea. Favoritnya.
"Mama nggak pernah ngerti sehat versi kamu itu gimana." Lihat, cibirannya bahkan makin panjang yang boleh jadi jika diukur akan pas 5 cm. "Lalu, harus tunggu berapa lama lagi kamu menemukan buruanmu, Raka? Kamu, kan, sudah keliling dunia. Bahkan, sejak sekian minggu lalu. Apa belum ada gadis manapun yang 'nyangkut' di hatimu?"
"Mama, kan, bilang, pilih saja perempuan-perempuan Spanyol?"
"Aiihhhh, anak ini ..." Tangan Bu Sarah mengepal. Hendak memukul. Tapi, arah tatapan mata Raka yang polos tak tahu apa-apa membuatnya berhenti, tertahan di udara.
"Apa, apa?"
"Urusan begini saja, kamu baru mendengarkan Mama."
Raka pun menggeleng sekejap. "Itulah mengapa pepatah bilang, Ma, kalau belum waktunya, ya ... gak bakal dapet. Ke ujung planet sekalipun, aku nggak akan memilikinya. Kan, semesta ini ngatur dengan cara yang di mana itu seharusnya."
Sekarang, sang Mama memegangi salah satu sisi di kepalanya. "Aduh, migrain Mama. Dasar kamu dan pelarianmu."
Kini, Raka bisa tersenyum. "Nah, dengan itu, berhentilah mengirimi wanita-wanita untukku yang bahkan aku nggak tertarik untuk mengencani mereka. Biarkan aku dengan 'timing'-ku. Sebagaimana aku menyukseskan perusahaanku, tentu, urusan jodoh, akan sangat mudah untukku."
Semamkin mengaduh, "Astagaa ... anakku dan kepercayaan dirinya."
Namun, yang Raka lakukan justru memanggil waitress yang ada di sana, sembari mengatakan, "Saya pesan steak ukuran jumbo."
Kontan, Sang Mama berdiri dan memprotes, "JADI, KAMU AKAN BERPESTA PORA DI ATAS KEPEDIHAN MAMA?"
Oke, Raka.
Kamu durhaka.
***
TING TONG.
Bel telah berbunyi.
Seketika, seseorang pun keluar untuk memeriksa siapa yang datang.
Dan, benar saja, ternyata Tuan Rumahlah yang datang.
Thayana pun tersenyum senang. "Kamu ..."
Untuk itu, Raka ikut menyembulkan senyum juga, tapi dengan ekspresi kikuk yang menggemaskan. Menodongkan pistol ala-ala dengan jemarinya. balas, "Kamu?"
Kemudian, keduanya tertawa.
Thayana bahkan menepuk pundak Raka. "Apaan, sih ..."
"Lucu?" balas Raka tak kalah meledek.
"Aneh!"
Lagi, mereka pun saling terbahak. Setapak demi tapak Raka menyusuri rumah yang lebih mirip disebut kastil itupun, ia menyempatkan diri untuk bertanya soal remeh temeh atau perihal hal-hal yang mungkin membebani sahabatnya itu.
Yang tentunya, dijawab well done sekali oleh Thayana.
"Nggak, kok, Rak, meski rumah kamu benar-benar besar, tapi, membersihkan isinya sama sekali bukan masalah buatku. Mungkin, ini juga, ya, yang dirasain Asha setiap kali di sampingmu, Rak."
Raka yang tadinya hanya berjalan lurus saja, kini, tatapannya beralih dan termanuver kepada Thayana. "Asha?"
"Iya, Asha." Mata Thayana tampak berbinar, yang kemudian mengulum bibirnya ke dalam. "Sorry, Raka. Sebelum kamu pulang, kita, ya ... curhat satu sama lain."
"Ah, nggak, nggak, Thay," respon Raka nggak keberatan. "Lagipula, ngobroljuga hal biasa. Hanya saja ... seorang Asha? Dia ... setahuku, perempuan yang sangat pemalu, tapi bisa dekat dengan cepat bareng kamu."
"Well, aku merasa tersanjung." Thayana tersenyum. "Aku rasa itu kekuatan tertidur dari diriku, ya, Rak."
Iya, Thay.
Sejak dulu, sejak awal sekali, Raka mengenalmu, dia sudah jatuh duluan berkat sikap baikmu dan ramah pada siapapun.
Makanya, Raka tidak heran, jika Asha pun, yang pendiam dan pemalu seperti kali pertama bersama Raka, dia akan nyaman juga dengan Thayana.
Itu sebuah kabar yang sangat ... baik. Raka merasa bahagia jika hadirnya Thayana membuat Asha tidak terlalu kesepian. Meski, ya, dengan teramat 'ikhlas' dia bisa menyerahkan Asha pada Aldo dan Yaya.
Tapi, bukankah memiliki saudara di rumah dengan jenis kelamin sama, jauh lebih menyenangkan?
Karena pola pemikiran, tata bahasa, jalan kesimpulan, cenderung sama?
Lalu, Thayana kembali melanjutkan, "Tapi, Rak, ada satu hal yang membuatku sangat takjub dari Asha, Ka."
Raka, yang mendengarnya hanya menaikkan alis. Hingga membuat Thayana menaikkan dua bahunya.
"Jauh dari dugaanku, Rak, dia sangat dewasa."
Sekarang, giliran Raka yang mengerutkan alis. "Maksudmu?"
"Ya, ternyata, selama ini, alasannya selalu tak bisa diam keluar, dia membangun olshop sendiri, sejak dahulu, bahkan diam-diam dari kamu, Rak. Dialah yang membuat rumahmu jadi lebih rapi. Tempat ini tidak akan jadi kastil tanpanya."
"Tanpa kita tahu juga, Asha bahkan sering dekat dengan orang-orang yang bekerja denganmu sejak usianya 17 tahun, dia membuat mereka sangat nyaman padamu. Menjadikan mereka tak seenaknya memandangmu. Uang-uang yang kamu kirim, bahkan telah Asha lipat gandakan di buku tabungan yang mengatasnamakan warisanmu. Entah bagaimana kamu mendidiknya, Rak. Tapi, satu hal yang aku tahu, Rak, Asha sangat mengagumkan. Asal kamu tahu itu."
Tapi, Thyana ... yang justru diterjemahkan oleh Raka adalah ... berarti Asha sudah melakukan persiapan, untuk pergi darinya?
Memikirkan itu, Raka langsung lesu dan menutup kulkas usai mengambil sebuah air mineral botolan.
"Eh, kok dikasih aku, Rak? Bukannya kamu yang mau minum?"
"Nggak, Thay. Buat kamu saja."
Padahal, akulah yang memang kehilangan selera.