Takdir

1043 Kata
Thayana lalu bilang lagi, kalau, "Sha, aku bilang gini, karena usai sedemikian harapan itu, kita tata rapi-rapi, kita perbaiki sedemikian hati-hati, kita taati bagaimana caranya untuk mendapatkannya, seringkali kita lupa, bahwa ... akan selalu ada takdir terbaik, soal mana yang sepantasnya untuk kita." Asha yang menangkap kata-kata itu pun, mengatakan, "Jadi, yang Kakak maksud itu ... kita boleh berusaha sekeras mungkin, tapi semesta tidak akan pernah melupakan, bahwa mereka pun menghamba pada keputusan 'yang sejatinya'?" Thayana mengangguk, "Benar, Sha. Aku cuma ... bicara sama kamu, agar jika nanti aku kelewatan, aku harap, nasihat ini, bisa kamu ingatkan lagi ke aku." 'Sungguh hati malaikat sekali Thayana ini,' gumam Asha. Takjub. Tentu saja. Itu tak perlu ditanya lagi. Setelah ditimbang-timbang lagi ... benar juga, sih, kata Thayana. Siapa, sih, yang nggak kecewa ketika yang kita sayang dan jaga, perlahan lenyap gitu saja dari pandangan kita? Tapi, apakah kita pernah mengevaluasi, atau setidaknya introspeksi. Bukankah setiap pedih itu terjadi karena kita terlalu menggenggam? Maka, rasa sakitnya mengembus hingga ngilu sampai menusuk ke tulang? Atau pernahkah kita sadar, bahwa dunia ini perihal 'latihan mengikhlaskan'? Rasanya ... Asha sangat bingung. Yang di sisi lain, ia juga ingin melepaskan Raka kepada yang seharusnya. Dia ... bukan hanya tak punya daya. Tapi, juga hak, untuk memetakan sedemikian rasa canggih ini, untuk dikadokan kepada pujaan. Alhasil, Asha pun mengembungkan paru-parunya, bertanya. "Lalu, Kak? Bagaimana jika kita sama sekali nggak mampu untuk bahkan sekedar melepaskannya? Jangankan mampu, Kak, nyali aja nggak ada." Berkat itu, Thayana tertawa. "Kamu ini, apa, sih, Sha. Hidup itu nggak cuma soal mampu. Tapi, harus nekat. Itulah yang disebut mau." Kening Asha spontan mengancing, "Maksudnya, Kak?" "Ya, maksudku. Kamu mau aja dulu. Usil coba. Jangan berekspetasi besar dan tinggi untuk sementara waktu saja. Nanti, lama kelamaan, kamu pasti mampu." Senyuman pun, terbit dari wajah Asha. Iya, kah? Jalan seperti inikah lah yang seharusnya ia ambil? Yang sepatutnya menjadi keputusannya sebelum semuanya terlambat? Asha menimang, sembari menatap langit-langit ruang keluarga tempat keduanya berpijak. "Apa boleh kalau selama itu kita mencari penggantinya untuk dilampiaskan?" "Tidak, Sha. Gunanya pengganti itu ... untuk dinikmati. Bukan sebagai barang bekas yang mana saat kamu butuh, kamu menginginkannya, setelah tak butuh, kamu mencampakkannya." "Jadi ..." "Euhm?" Thayana mengangkat satu alis, menanti pertanyaan. "Apa kakak menyukai Kak Raka?" Saat itu, mata Thayana membulat sempurna. Ah, ya, lupa disebutkan, keduanya kini tengah menikmati minuman rasa strawberry yang ada di botol kemasan. Sebagai penekanan, Asha pun menitikkan kepada pertanyaan tersebut. "Apa kakak pernah lebih dari sekedar rasa sahabat sama Kak Raka?" *** Bibir cowok itu mengerucut. Yap. Raka Nugraha. Kini, dirinya tengah menaiki Nissan GT-R50 dengan pakaian yang semakin membuat gerah kemacetan Ibu Kota, berkat hari ini, ia mendapat tawaran untuk jadi model di bisnis dagang online usaha kostum metropolitan, milik sahabatnya. Dan, disinilah ia. Tengah terpanggang karena AC yang ada di mobilnya juga rusak. Sungguh kenyataan yang amat meng ... garongkan. Ia jadi pusing sendiri. Ya, salah sendiri. Kan, seharusnya ia memakai mobil satunya saja, Lotus Evija, yang baru-baru ini ia beli untuk rewardnya sendiri yang memang dari awal ia niatkan untuk ngajak Asha jalan-jalan. "Aiisshhh, ngomongin jalan-jalan, aku jadi kepikiran Draco cucungut sialan itu lagi." Dia membanting stir dengan tangan kanannya. Perlahan namun pasti bak kilatan alur cerita film yang berkelibatan di kepalanya, semua statement Aldo seakan menghujani telinganya, yakni, menyeru tanpa permisi dan menyergapnya. 'Dan, memang, bukannya karena Bang Raka dan Asha, nggak akan pernah bisa bersatu? Apalagi itu juga sangat tidak logis untuk jadi masuk akal, bukan? Nah, itulah kenapa, Bang, kita siapkan aja, yang seharusnya, sangat pantas untuk bisa menggantikan Kakak.' Itu ... sensasinya nyeri sekali. Raka kontan saja menjawab, 'Tapi, Asha itu masih kuliah! Bagaimanapun, ia harus lulus dulu baru boleh memikirkan hal-hal yang sangat menyangkut 'masa depan' begini!' Jujur. Itu antara protes sekaligus pernyataan tak rela. Bagaimanapun, di mata Raka, Asha tetaplah adiknya. Kesayangannya. Segala hal menyangkut Asha sudah disempurnakan dalam undang-undang bernama ; penjagaan. Tak boleh ada yang menganggu Asha apapun itu motifnya. Tidak pernah. Tidak akan pernah. Aldo spontan saja menautkan tangan sembari menggigit bibirnya. Yang Raka tahu, itu adalah jenis ungkapan terbuka tanpa terselubung, yang mana, pasti amat sulit untuk mencapai kesepakatan tanpa saling sikut dengan dirinya. Karena dari antar pendapat saja sudah berbeda. Mereka ... teramat sangat berjarak. Yang akhirnya Aldo pun mengatakan ... 'Lalu, bagaimana jika di usia Asha yang amat matang ini, dia akan bertemu orang yang salah?' 'Orang yang keluar dari daftar rules yang selama ini Abang anut dan jaga?' 'Bagaimana jika akhirnya hal-hal yang tak kita duga karena menyangkut perasaan dan pertama kalinya, justru membuat Asha terjerumus pada hal-hal yang berbahaya?' 'Apa jadinya juga jika itu semua justru membaur jadi bahagianya?' 'Bukannya itu akan jauh lebih sulit untuk kita semua cegah?' 'Persis seperti kita meminta hobi oranglain, skillnya, segala rutinitasnya diubah berdasarkan yang kita percaya, padahal kita tahu, bahwa memang pada dasarnya, memang dari mulanya saja kita tidak ada yang sama?' 'Kita semua lahir untuk sebuah kenyataan pasti, bahwa kita semua ... berbeda?' SIAL. Berkat semua bisikan yang tak pernah membisu itu, Raka jadi semakin geregetan sendiri. Iya. Semua ungkapan Aldo memang tidak ada yang bisa dibantah. Tapi, apakah patut, dirinya, yang notabenenya, bukan Yang Maha Esa, bukan Sang Maha Segala, lantas memutuskan untuk menjodohkan semua kebetulan-kebtulan ala cupid agar Asha dengan si Draco itu? Bagaimana kalau Draco justru menyakitinya dengan cara yang tak Raka duga? Tapi, menurut penuturan Aldo. 'Yaya itu, kan, Bang, peka banget sama orang-orang yang lagi punya rasa spesial, menurutnya, Draco, tuh, memang ke Indonesia hanya demi Asha tercinta? Bukannya pun sebagai Kakaknya Asha, lo juga sering ngedapetin Asha asik ngobrol sama hapenya?' Raka mengangguk. "Benar juga. malam itu pun bahkan aku mendengar beberapa godaan cheesy yang biasa dilontarin kaum laki seperti Draco bahkan aku yang sudah jadi tradisi saat memuja gadis yang disukai." Sampai rasanya, Raka geli sendiri. Tapi, yang ia bingung, haruskah hal seperti ini, ia pilih? Akankah Draco jadi pilihan tepat? Hingga ... TIT TIT. Raka tersadar. Klakson dari mobil-mobil yang ada di belakangnya, telah mengantri, sedemikian panjang. Mungkin sepuluhan, ada lah. Tapi, yang sebenarnya bukan Raka yang terlambat sadar, namun hadirnya seorang wanita modis dan khas sosialita yang turun usai menghadang mobil Raka dengan mobil tak kalah eksklusif lainnya. Sungguh, penggambaran sebenarnya makhluk-makhluk lingkar atas. Terperanjat, Raka bilang, "MAMA?" Oke. Ini neraka baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN