Sementara itu, Asha sedang berpikir. Sel-sel di otaknya seolah demo untuk memperhatikan apa maksud dari ini semua.
Karena begini …
Pertama. Raka tiba-tiba saja berangkat duluan tanpa mengantarkan dirinya atau si sahabat kecil tercinta yang masih Asha curigai, ya, Thayana.
Untuk kali pertama seumur hidup sepanjang Asha mengenalnya, ini betul-betul rekor karena semarah, sejengkel, sejahil apapun Asha padanya, tak pernah sedikitpun Raka kabur darinya dengan cara pagi-pagi pergi begini.
Biasanya, seminimal mungkin, ia akan pamit kepada Bu Gran.
“Oh … kalo pas aku Tanya Raka, sih, Sha, katanya lagi ada project penting banget yang nggak bisa ditinggal.”
Asha pun bertanya lagi, “Emang apaan, Kak?”
Thayana tampak menggigit bibirnya lama, dia hari ini lagi makan pancake. Jadi sendok mungil itu tampak beradu untuk masuk ke dalam mulutnya. Lalu, ia menjawab, “Urusan bisnis di kampusnya?”
“Hah?”
Oke.
Ini sama sekali nggak masuk akal.
Untuk sekelas mahasiswa unggulan kayak Raka, dipaksa karena suatu tugas itu amat sangat nggak mungkin.
Bukannya baru tiga hari lalu Raka akhirnya mendapatkan laba tertinggi di perusahaan yang juga ia rintis?
Ah, entahlah, lebih baik, Asha ngampus aja.
Kedua.
"Kakak ipar, kakak ipar." Aldo memanyunkan bibir. Percayalah. Kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu terdengar ‘dramatis’. Jadi, seakan ngajak berantem orang. “Gue nggak percaya lo sehebat ini. Udah baik, budiman, peka, pintar, segala-gala-galanya, deh, buat lo, Kak.”
Tangannya yang meraba-raba pun ditepis keras oleh Raka.
"Belum resmi lo gue angkat!"
Aldo membulatkan mata. "Yaelah, kenawhy lagi, sih? Kurang sempurna apalagi, sih, gue? Masih tinggi aja standar lo, Bang.”
Asha pun jadi tersenyum. 'Ya, ampun, Aldo.'
Raka pun mendecih, “Kurang-kurangin, tuh, perasaan maha tinggi lo. Lo cuma satu dari sepersekian cowok yang ngantri demi Asha.”
Dalam hati, Asha membatin, ‘Mana ada? Aldo justru first banget! Kan, daridulu, sama sekali, tuh, nggak pernah bawa cowok manapun, apalagi yang sampe dibawa ke jenjang serius kayak Aldo gini. Ada-ada aja.’
“Tjh.” Aldo mendecak. Melipat tangan depan d**a. “Entahlah ini karena lo emang perduli atau ikutan ngerasa terancam.”
Seakan ada api yang menyulut dadanya, Raka pun, menepik, “Ngapain juga gue harus merasa terancam kalo pada dasarnya, Asha juga bukan punya gue? Dan, hingga detik ini, gue berhasil membuktikan bahwa memang diantara kami emang nggak ada apa-apa.”
DEG.
Itu tamparan yang telak menenggelamkan hatinya.
Dirinya.
Pun, cipta-cipta harapan yang sejak semalam, berbekal saran dari Draco, luluh lantak.
Tak tahan, dan demi mengembalikkan kewarasannay di tengah badai yang melanda d**a, Asha pun pergi.
Mencari pelarian terbaik untuknya menumpahkan tangis.
Tanpa ia tahu, ada kejadian besar yang menimpa disitu.
“Oh gitu …”
Aldo termangu menerima jawaban itu.
Yang sebenarnya, tak sepenuhnya juga.
Tapi, sebagai insting laki-laki, daripada Asha semakin jauh dalam menggapai ambisi yang memang tak pernah mungkin, lebih baik, detik ini, ialah yang akan mengakhiri semuanya.
Membiarkan segala kesedihan itu bertaburan dan berterbangan, sebelum terlunta-lunta jadi pecinta tanpa menemuakn balasannya.
Yap.
Bagi Aldo, yang mungkin Asha, sahabatnya itu butuhkan, adalah bagaimana ia seharusnya tunduk pada konsep ‘mencintai’ dirinya sendiri dulu.
***
Lalu, dengan tekad yang begitu, Aldo pun menerangkan, “Sepertinya, Draco memang sosok paling cocok buat Asha terlepas apapun yang ia butuh, Bang.”
Raka mengaitkan dahi. “Maksud lo?”
“Draco bukan cuma cowok kompeten yang bisa bikin cewek-cewek juga jatuh cinta sama dia, Bang. Tapi, mampu, bikin Asha tersenyum, terlepas dari bagaimana buruknya kondisi hati Asha, Bang.”
“Kesimpulan macam apa itu?”
Raka menganga. Yang lalu, menjilati bibirnya sendiri yang tampak kelu. Sekali lagi, ini terdengar mustahil. Asing sekali di telinganya.
“Do, denger, ya. Laki-laki, siapapun itu, kalau mereka punya image bagus di mata publik, ya, cewek juga pasti udah bakalan melirik. Asha cuma kobam sama pesonanya yang udah dibuat-buat demi menggaet fans. Dan, itu nggak boleh terjadi.”
“Tapi, Bang …” Aldo mendesak. Sementara Raka ogah-ogahan menatapnya. “Gue mau yang terbaik untuk Asha. Masa lo nggak mau juga demi bahagianya? Masa kita harus egois?”
DEG.
Seketika, Raka teringat pada protesan Asha yang mengatakan, bahwa yang sejatinya 100% mengubah dirinya itu, ya, Raka. Tidak ada siapapun lagi.
Raka pun, mengacak belakang rambut. “Yaudah-yaudah, apa yang paling bisa bikin dia puas dan bahagia?”
Setelahnya, Aldo pun menatap Raka serius dan lurus-lurus. “Kita comblangin dia sama Draco.”
“APA?!”
***
“Eh, Kak Thayana.”
Entah itu sapaan atau panggilan.
Yang jelas, muntahan kata itu refleks teralir keluar begitu matanya menyibak yang kemudian membuatnya menemukan satu pemandangan tak lazim, di mana Thayana sedang membawa patung anatomi tubuh.
“Hei, Asha,” jawabnya santai. “Bisa kamu bantu bawain?”
“Eh?”
Tanpa babibu, Thayan kontan memberikannya pada Asha yang keheranan.
Patung ini, jujur, sebenarnya tidak terlalu berat, hanya ukurannya saja yang mam[pu membuat sekujur perut hingga lehermu tertutup karena mengangkatnya. Hingga, keduanya terus mengangkatnya sampai tibalah keduanya di kamar Thayana.
Yang sebenarnya adalah kamar Asha yang dulu. Yang sepeninggalannya menjadi kamar tamu. Untuk penataan yang amat rapi, amnis, elegan, serta khas Thayana sekali, Asha pun sempat terkagum sejenak.
Sampai sebuah kalimat membuyarkan tatapannya.
“Udah, Sha, taro sini aja.”
Dan, selesai sudah kegiatan angkat berat yang sebenarnya lebih bisa dikatakan olahraga siang.
“Wah … kakak ini guru?”
“Euhm …” Thayana menggeleng. “Itu cuma salah satunya.”
“Lalu?”
Kemudian, menyubit pipi gembul Asha. “Aku ini dokter Asha.”
“Dokter pribadi yang nanti akan jadi istri Kak Raka?”
Semakinlah, Thayana tertawa. “Kak Rakamu itu, percayalah, dia hanya akan menikah saat umurnya 45 tahun.”
“Saking jomblonya.”
“Saking ngenesnya,” timpal Thayana.
Dan, usai itu, mereka banyak bertukar cerita.
Asah jadi baru sadar, bahwa hari ini, Bu Gran nggak ada.
Begitupun dengan Tuan Hang, yang ternyata memiliki acara keluarga yang nggak bisa ditunda masing-masing.
Ya, meski versi Tuan Hang buruk, seperti ada yang harus dirawat di rumah sakit.
Sedangkan Bu Gran, ada yang membahagiakan.
Hingga, tanpa sadar, sebuah monolog menyembul dari bibir teduh Thayana.
“Mungkin, takdir itu kayak gitu, ya, Sha.” Dia menoleh ke arah Asha, menajamkan kata-katanya, yang sekaligus juga untuk menekankan kata-kata ini lebih kepada siapa.
Hei, bukankah, di beberapa waktu, kita cenderung berbicara yang sejatinya, karena menasihati diri sendiri sulit?
Atau, berkat insting otomatis yang mana kita akan selalu pada diri kita sendiri, lantas kita cenderung mengeluarkan kata-kata untuk menasihati diri kita sendiri?
“Kita nggak tahu kapan, dimana, siapa, yang akan pergi meninggalkan kita. Mengecewakan kita. Melepas tali yang tadinya sudah bertalian kuat tanpa kata ‘antara’. Kita hanya berputar-putar pada fase itu. Tanpa tahu, siapakah sebenarnya yang sejati untuk dan milik kita.”
Seketika itu, yang terpikir di benak Asha, hanya satu, RAKA.