DEG.
Seseorang baru saja mendengarnya. Semenjak Asha teleponan dengan Draco soal pertanyaan kampus tadi, Raka sudah berdiri di sana. Tangan laki-laki itu mengepal. Buku-buku jari memutih.
Entah kenapa, ia tak rela jika ada yang menyentuh Asha.
'Belum kelar mentalin Aldo, udah dateng lagi cucungut satu,' batinnya.
Dia merasa bahwa semesta mempermainkan pentas bercandanya dengan keterlaluan dan menyebalkan.
Raka nggak tahu ia harus bagaimana karena mendengar mereka membuat telinganya panas dan ingin menyumpal pendengaran Draco dengan amukan agar cowok itu tahu diri.
Sayang ... respon Asha lebih dari membuatnya tersudut.
"Boleh, deh, kalo sama kamu, dah. Kan, kamu bakal kasih jaminan aku jalan-jalan ke luar negeri, kan?"
Raka menggigit bibir, 'Kenapa kamu jadi murahan gini, sih, Sha? Sama Aldo kamu berani buka-bukaan dan sekarang kamu ngerelain diri kamu sendiri buat dimangsa cowok predator nggak jelas kayak Draco.' batinnya.
Lalu, Draco menjawab, "Jangankan luar negeri, ke ujung bulan sampe bikin villa di mars buat anak-anak kita pun, aku mau, Sha. Asal sama kamu."
"Aw!"
'AW?!'
Kini, emosinya seakan otomatis naik ke ubun-ubun. Meletus!
Raka menutup wajah. Asha ... kamu keganjenan sekali dan lihat besok apa yang Kakakmu lakukan.
***
Hari itu, Asha baru bisa tidur pada pukul dua malam.
Dia begadang. Ada beberapa tugas yang harus dia selesaikan ditambah playlist lagu Draco yang membuat kepalanya entengan.
Waktu itu, sih, Asha berkomentar. "Bisa, ya, kamu semultitalend ini."
"Demi kamu, Ratu," jawabnya mulai madu. "Membahagiakanmu tanggung jawab untukku."
"Oh, Raja ..." Nah, kan, jadi ikut-ikutan gila drama. "Ratu amat tersipu pada kesetiaan Kanda yang begitu dalam pada Dinda."
Mereka berdua kemudian melontarkan kegelian yang sama sama-sama.
"Kita cheesy banget, ya."
"Iya." Draco mengangguk. "Mungkin, kalau kita pacaran, setiap orang yang ngelihat bakal ngelus d**a. Karena ikutan ngeri lihat pasangan sama-sama gulanya. Pada terlalu manis omongannya."
"Kayak mahkota di mulut setia bisa diragukan?"
"Hahahaha." Draco meluapkan tawa. "Ngomong-ngomong, mau nyanyi bareng nggak?"
"Ayuk. Kebetulan, nih, di kamar gue ada piano. Dan, gue, bisa mainin, sih. Asal lagunya nggak rempong aja."
"Mbah dukun gimana?"
Asha tak tahan untuk tak terbahak. "iiiIhhh, kamu makin lama makin receh, ya."
"Kan, membahagiakan Ratu merupakan hukum wajib untukku."
"Terus, kita goyang sambil mainin piano dan lo pake biola?" Lalu, Asha memejamkan mata. "Itu akan jadi collab lagu dangdut paling fenomenal yang pernah ada. Karena dibilang ngajakkin goyang juga iya, dibilang ngajak syahdu ala klasik, jelas juga."
"Tapi, pada intinya nggak jelas."
"Nah ..." Asha menjentikkan telunjuk dan jempol, membuat bunyi dari situ. "Ada ide nggak buat nggak perlu ke RS hanya karena inspirasi gila malem ini?"
"Uhmmm ..." Draco tampak berpikir.
"Please, ya, Draco, gaya kamu jangan kayak model metropolitan gitu."
Sekarang, Draco menepuk jidat. Tawanya melaut. "Astaga, Asha ... Aku cuma naro tanganku di dagu. Berpikir."
"Tapi, pose kamu mikir menggoda iman, Draco. Yang ada, kegantenganmu bikin aku pengin ngamuk."
"Emang, beda, ya, kamu." Draco menggeleng-geleng kepala. "Orang handsome malah mau dianiaya. " Kamu sungguh menakutkan, Asha."
"Well." Asha mengangkat bahu, nggak care. "Itu jenis penjagaan agar nggak masuk perangkap karena tampang mereka. Yang penting hati, kan, bro?"
"Yoi ..." Draco mengangguk. "Untuk tutorial peka pada buaya dan setia, kamu bisa andelin aku buat mendetect semuanya. Atau ... aku mungkin yang bakal kamu tanyakan."
"GR!" Asha mencibir. "Siapa juga yang lovey-dovey sama kamu, wlee?"
"Hahahaha. Ah, udah, ah, Sha. Kita jadi collab nggak, nih. Entar aku ubah modenya jadi vidcall, nih."
"Eh, jadi-jadi. Tapi, bentar, aku lagi nyalain kameraku yang lain. Mau aku rekam."
"Bagus, Sha." Draco mengangkat jempolnya. "Kita sama-sama ukir kenangan jadi dokumentasi. Nggak cuma sekedar monumen perasaan."
***
"IYA, YA ALLLAAAHH, BANG!!!! ASHA AMAN TENTRAM, DAMAI, DAN NYAMANNN KALO SAMA GUE, ASSTAGHHFIRULLLAH BAWEL BANGET, SIH, LO, AASTATANG!! GUE LELEPIN LUMPUR LAPINDO LO, YEH!!!" Aldo grasak-grusuk.
Siang ini, nggak ada badai, nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba dirinya diajak ngumpul di meja khususon.
Yang horrornya, diajakin sama Babang Durjana.
Yap. Mas Raka Nugraha.
Lalu, Raka yang merasa gendang telinganya akan lepas dari tempatnya usai mendengar kagetan Aldo yang hiperbola aaaaabbbiiiezzz pun, menekan telinganya. "Nyelo, ya ampun, nyeeloooo," gerutu yang sekaligus juga agar Aldo sadar.
Bahwa, dengan begini saja ia sudah tak tahan.
Apalagi jika laki-laki itu ia restui dengan Asha.
Sungguh.
Tak terbayangkan rumah tangga mereka.
Raka pun menggeleng. 'Nggak, Rak, udah. Kembaliin kewarasan yang lo punya. Balikkin.'
Kemudian, Aldo pun mengambil tempat duduk di sampingnya. Meski, masih dengan helaan napas nggak habis pikir. "Lo lagian kenawhy, sih, Bang? Pagi-pagi buta begini udah ngeribetin adek lo. Mana bawa-bawa tanggung jawab gue sebaagai laki!"
Dan, lihat.
Seperti perempuan dilecehkan, Aldo membutterfly hug dirinya sendiri. Itu semakin membuat Raka terkesima. Tapi, juga muncul setan dalam dirinya untuk mengumpat cowok itu.
'SERIUSAN .... ASHA DAPET COWOK KAYAK GINI DARIMANA, SIH? NGGAK BENER AMAT-NYA SELEVEL RUCIKA. MENGALIR SAMPE JAUH,' batinnya.
Dan, sudah jadi ritual, jika ada orang yang lelah dan memilih nggak mau tubir sama orang yang pantas ditubir, ia akan menepuk jidatnya sendiri. Mendesis, "Do ... ini demi keberlangsungan kita bersama. Udah, lo jangan bikin gue jadi pusat perhatian karena kita mejengnya teriak-teriak. Tolong yang elit, ganteng."
Percayalah.
Raka harus menahan napasnya sendiri saat mengatakan itu.
Lelah dia lelah.
Mendengar itu, Aldo mengerucutkan bibir sebentar, yang tak butuh waktu lama, mengikuti intruksi. "Yaudah, sok atuh, mau ngomong apa."
BINGO!
Kebenaran otak Aldo mendarat sempurna. Senggaknya dengan ini, Raka bisa euforia. "Jadi gini, Do."
Tatapannya mulai serius. Inget! Konsep mereka kali ini adalah ... classy. "Gue tahu banget, nih, sebagai pacar, lo sangat amat teramat menghargai pendapat pacar lo."
Aldo, yang ikut-ikutan menghayati, menganggap jaket gambar kotak pandora sebagai jas mewah. Menyekanya sesaat. "Oh, ya, pasti."
Raka mengangguk nggak kalah syahdu. "So ..."
Aldo menunggu. Mengangguk sekali.
"Apa pandangan Asha terhadap Draco?"
KRIK. KRIK.
Aldo mangap sekejap. "Why, why?"
Raka menggaduh. Ya, kan, memang nggak ada yang salah dari pertanyaannya.
Sekarang, giliran Aldo yang merenggangkan alisnya usai bertaut kencang tadi. "Lo tsundere, ya, Kakak Ipar?"
Tapi, setelahnya mendapat satu baku hantam. "Aw! Sakit!"Ternyata, bahu Aldo ditinju. Dan, ketika Aldo mengaduh pilu, Raka kontan menyuapi kripik kentang untuk dijadikan cemilan kriuk kriuk yang bisa Aldo makan. Mungkin ... biar Aldo melupakan hal tadi dan boleh jadi sebagai tanda pula ia meluapkan kekesalannya.
"Lo, tuh, ya, otak dipake dikit." Oke, itu pernyataan paling pas untuk setidaknya bisa menahannya dari u*****n-u*****n. "Seperti yang lo tadi panggil gue kakak ipar, gue pun juga sedang berusaha jadi kakak ipar yang baik. Nah, masalahnya, nih, cungut, pertanyaannya, kan, gue nggak tahu jenis makhluk apa yang bisa melengserkan posisi lo di hati Asha."
Aldo manggut-manggut. "Iya, juga, ya."
By the way, nggak usah heran wahai netijen, di antara timses, Aldo emang paling lola. Dia gampang banget buat dibabat sana-sini. Ditambah lagi, Raka bisa aja soknya urusan hasut menghasut dan omong-omongan.
Padahal apa susahnya, sih, buat bilang bahwa dirinya juga penasaran dan perduli?
Lanjut ....
Raka meneruskan, "Nah, itu maksud niat baik gue." Lalu, merangul Aldo. "Gue mau lo jangan sampe lengser hanya karena title apalah-apalahnya itu cupang satu."