Penggantiku, Kamu?

1130 Kata
"Lagian ..." Yaya menoleh, membentuk perserikatan atensi agar Asha merasa dihargai. Engghh ... sebenarnya salah dia juga, sih. Toh, sepanjang ngegas tadi, dia emang kayak nggak perduli gitu sama Asha, makanya Asha misuh-misuh, "Siapa lagi coba yang lebih deket sama Raka selain lo?" Begitu katanya, untuk menekan amukan Asha. "Nih, ya, coba, deh, lo absen. Serumah, berdua. Kenal orang dalem serupa Bu Gran dan Pak Hang, elo. Dikhawatirin di RS sampe nginep berhari-hari menomorduakan kerja yang we knowss Raka itu over-demen sama kerjaan, itu lo. Ya, terusss ... apalagi, sih, yang harus bikin lo merasa tersaing?" "Ya, bener juga, sih, Ya," respon Asha, wajahnya naik ke atas. Berpikir sesuatu. "Tapi, apa itu cukup buat menunjukkan kalo dia emang punya rasa yang sama kayak gue?" Yaya mengangkat bahu. Mengambil potongan rujak, "Toh, ya, Sha, di antara semua kambing di kandang, kenapa lo harus nyari kambing yang udah punya pawang?" "Diiihhh!" Asha menipuk kepala Yaya kesal. "Hahahaha." Yaya malah ketawa. "Bagus, ya, lo! Giliran dia ketemu sama sahabatnya yang cucok king kong, lo malah nistain gue! Timses macam apa lo?!" "Timses offside, Sha!" Asha mencibir. Meski ia tahu, Yaya tak sejahat itu untuk tak mendukungnya. Toh, selama mereka berteman, Yaya selalu sedia, ada, siap, dan selalu memberinya berbagai tips trik, bahkan membantunya seputar kecantikan yang padahal Yaya sendiri parah banget di sana. Hingga akhirnya, muncul out of topic ... "Ya," panggil Asha. "Hem?" Dia merespon tanpa menoleh. Lagi buka i********: feed soal rajut syal. "Menurut lo Draco gimana?" Seketika, mata cewek itu berbinar. "Wat hepen wit yu mbakyu? Apa ini pertanda lo bakal pindah di lain hati? Tumbenan lo ganti topik dari Mas Raka ke Ndoro Draco yang wahhhh itu ..." Karena Yaya terlalu kencang ngomongnya, Asha pun membekap mulutnya. "Lo bisa diem nggak, sih!" "Ampun, ampun!" Yaya memberontak. "Bengek gue, Sha, lepas!" Lalu, dilepas. "Lagian lo yang bener aja! Baru aja gue nanya, udah melayang aja tuh otak kalo gue mau ngarah panah ke Draco," protes Asha, melipat tangan di d**a. "Astaga, Sha," tandas Yaya menepuk jidat. "Apa lo nggak lihat betapa Draco cari perhatian lo?" Alis Asha menyatu, "Maksud lo?" "Nih, ya ..." Yaya mendekat. Mereka pun saling mencoba membisik-bisik tahu ini hal privat. "Lo sadar nggak, sih? Dari kemarin, Draco itu berusaha bikin lo nyaman." "Ah, nggak, Ya." Asha menepis. "Draco itu ... cuma karena kebetulan aja nganggep gue temennya." "Bingo!" Yaya menjentikkan jari. "Awal mulanya temenan, nanti lama-lama jadi nyaman, besoknya ... spesial. Avv ... so sweet." Asha memejamkan mata. "Please, Ya ... lo jangan mode 'Aldo' begini. Gue jadi pengen nyumpahin supaya lo dan Aldo nikah aja." "Ish! Do'anya, ya!" "Ya, makanya lo jangan bikin kepala estetik gue jadi pening begini ..." "Oke-oke," ujar Yaya, menyetop. Dia juga nggak mau kali ada pertumpahan ruqyah di sini. "Gue serius, nih, nggak canda lagi. Suerr ..." "Yaudah, buru." Dan, Yaya pun menumpahkan spekulasinya. Yaya jadi ingat semua hal yang Asha curhati. Menggabungkannya dengan kesimpulan yang menurutnya paling tepat. Menurutnya, ketika Asha bercerita kalau saat semalam Asha kesal setengah mati pada Raka dan Thayana yang seharusnya malam itu sudah pada tidur. Maksudnya, di jam tidur yang biasanya malah ... berduaan di balkon kamar Raka. Jadi, struktur kamar di kastil milik Raka itu ... terdapat kamar mandi, wastafel, perpustakaan, bahkan balkon. Mirip apartemen gitu. Bedanya, balkonnya versi lebih mewah dan elit. Malam itu ... Asha mendengar sedikit yang mereka perbincangkan. "Aku juga suka banget ngelihatin bintang sambil minum kopi gini. Bahkan, sampai kebawa pas aku ke Turki. Aku emang agak ngehabisin waktuku kemana-mana, Rak." Thayana ketawa. Waktu itu, Asha kebetulan berada di balkonnya. Dia sedang ingin rindu Ayah-Ibu yang sudah tiada. Seperti yang biasa jadi tradisi setiap manusia. Terkadang, ketika kita sudah tak memiliki satu harapanpun, kita cenderung mengumpulkan serpihan tenang lewat menghibur diri sendiri. Dan, penghiburan terbesar Sena saat dunia tak berpihak lagi padanya adalah dengan bersama Ibu. Acapkali terbersit ... 'Andai, ya, keluarga kita baik-baik saja.' 'Andai, waktu itu, aku sebesar ini waktu Ayah dan Ibu bertengkar. Pasti aku akan lebih mudah melerai kalian berdua. Dan, kita akan baik-baik saja.' Asha yang menunduk, sayup-sayup mendengar Raka terkekeh. Ada suara adukkan gelas juga. "Iya, aku juga ... masih ingat kamu suka hal yang begini." "Suka hal yang begini itu, Rak, nggak akan menghilangkan betapa serunya ngobrol sama kamu," kata Thayana. Bisa Asha duga, dari tawa cicit Raka, dia sebenarnya ikutan tersipu. Dan, hati Asha remuk. *** Sudah satu jam mereka di sana. Mereka berbincang soal banyak hal. Saat ke karnaval bersama, naik komedi putar bareng, beli gula kapas, baju trend couple sebagai lambang persahabatan. Anything. Semua yang menyenangkan bernama kenangan manis bernama cinta. Dan, Asha ... tak kuasa mendengar itu semua. Meski Asha memaksa duduk termenung, menajamkan pendengaran, jauh di lubuk hati, ia sepi. Hingga satu telepon datang. 'Drttt .... Drrtt ....' Asha termenung sesaat. "Draco?" bingungnya. Sekarang pukul 9 malam dan Draco, seorang Draco menghubunginya? Wah ... ada apa ini? Asha yang khawatir barangkali Draco ingin mengagakan hal penting, lantas mengangkat telepon dari Draco. "Halo," sapa dari seberang sana. "Halo juga, Drac," jawab Asha riang. Dia menyapu sisa-sisa air mata di jawahnya. Senyumnya mengembang sekarang. "What happen? Tumbenan telepon aku." "Ah ... cuma." "Kamu nyasar, ya, pasti?" Draco tertawa, "Itu tebakan yang kalau jadi kenyataan akan menyebalkan dan memalukan, Sha." Asha jadi ikutan ketawa. "Lagian ... seorang chef jam segini itu seharusnya tidur, nutup semua eksperimen, atau persiapan untuk acara-acara seminar barangkali nanti kamu diundang jadi bintang tamu." "Tapi, masalahnya, aku terlanjur dikontrak dengan sangat lama terikat ke kamu, Sha " Sekarang, bahakkan tawa Sena mengudara. "Terikat apa? Jadi pembantu dan sukarelawan yang nggak akan pernah kugaji?" "Euh ... kamu jahat." "Itu nada merajuk. Astaga ... Draco si cowok macho, bisa-bisanya manja begini ke aku?" "Kan, kamu spesial buatku." "Sesepesial Aldo yang jejelin banyak mie ayam dan martabak telur untukmu, kah?" Draco terlihat mendecak penuh goda. "Well, dia lebih hi-tech dari kamu, wleee." "Ihhh, dasar, Draco! Bisaan, ya, julidnya ..." Mereka berdua pun saling melempar tawa dan bahagia. Asha bisa melepas mendengar berbagai pengalaman Draco soal betapa ia menjelajah makanan sampai ke ujung dunia. Mereka banyak bertukar cerita soal banyak hal dan peristiwa. Asha pun memberanikan diri untuk bertanya, "Eh, tapi, kamu belum cerita, loh. Soal kenapa waktu itu kamu datang ke kampus? Kamu, kan, bukan anak kuliahan. Udah lulus. Lantas, kenapa kamu ke sana waktu itu? Terus juga, ah, ya ... aku nggak lihat ketemuan sama siapapun. Kecuali datengin aku, Aldo, Yaya." Dia terkekeh sebentar. "Kenapa? Kamu takut aku kayak kamu? Yang saking jomblonnya cuma bakal lari ke kamu?" "HEH!" Asha menyela, menyunggingkan senyum. "Sebagai teman yang akan meledek habis-habisan kalau kamu nggak laku, ya, jelas aku bakal godain kamu. Bahkan, aku bakal bilang, 'nggak guna, ya, punya muka tamvan tapi nggak ada yang mau'." "Yaudah, kalau gitu aku mau nikah aja sama kamu." DEG.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN