Gone

1104 Kata
Oh, jadi namanya ... Thayana Shareen. Satu-satunya yang paling bisa menggambarkan dirinya adalah : terlampau ... sempurna. Thayana memiliki fitur wajah estetik khas orang Rusia yang menawan dan manis dalam satu waktu. Intinya ... siapapun yang mendapatkan hati Thayana, dia sangat beruntung. Dan, itu ... meletuskan satu letusan besar gurung berapi purba turbo, bernama Asha Nayana. Dia berkali-kali mengulum bibir ke dalam lantaran kesal kenapa pula dirinya harus bertambah satu saingan jika tanpa siapapun saja Raka tidak bisa menoleh padanya? Tentu amat mudah bagi semesta mencongkel posisinya, dong. Iya, dong. Sekarang contohnya. Tadi, saat di kampus, Raka langsung menarik tangan Thayana untuk kembali ke mobil bersamaan dengan geretan pada Asha. Jadi, Raka bak lelaki beristri dua yang tengah meminta kedua belahan jiwanya itu untuk menurut masuk ke mobil. Dia menjelaskan, "Sha, kenalin, ini Thayana Shareen. Dia akan tinggal di rumah kita sementara." Asha spontan membelelakkan mata, "KAKAK SERIUS?!" Tarikan napas panjang Raka yang diikuti kuluman kebelakang tentu lebih dari cukup untuk mempertegas pernyataan tersebut menjadi 'iya'. Sungguh. Saat itu, hati Asha tercabik. Rasanya ... teramat perih. Bahkan, untuk dilukiskan sekalipun. Asha tak mengerti kenapa pula ini perlu terjadi. Apa memang ini satu pertanda dari alam semesta bahwa memang Raka tidak akan pernah sedikitpun pantas menjadi miliknya? Sekarang, keperihan itu mengalir ke mata. Panas dan pedih. Asha pun memutuskan segera masuk mobil, biasanya dia di kursi depan di samping Raka yang menyetir. Namun, kini ... "Owh, maaf, ya, Adiknya Raka," terang Thayana dengan eye smilenya. "Aku sebenarnya juga nggak mau di depan, tapi alat make up aku, tas aku, sama gadget aku, di dashboard depan semua." Asha tercengang. Yakali, kalau seandainya diri Asha gitu, ya, yang di depan, bakal juga ngerampok bahan-bahan pentingnya Thayana. Ogah b-g-t, kali. Tapi, tak apa. Asha berusaha untuk tenang. "Oh ... gitu, ya." Tersenyum kecil, supaya bisa menahan gejolak yang memang harus bisa ditahan. Serius, first impressionnya agak down sama cewek ini, ya, meski di beberapa aspek, Asha memang harus ngaca banyak sama dia. "Abis travel, kah, Kak? Soalnya, nih, biasanya ... anak cowok-cowok doang yang berani 'bongkar-pasang' markas dashboardnya Kak Raka. Dan, biasanya, dominan, dari mereka bergelar satu hal spesial. Kalo bukan sahabat, ya ... temen jalan bareng." Oke, sebenarnya, Asha kepo. Thayana pun ketawa. "Lucu banget, sih, kamu kalo lagi ngejelasin gitu." Dia mengacak rambut Asha. Dalam hati, Asha mengernyih, 'Masa, sih? Emang nggak lihat 'kretek' gitu, ya, selama sedari tadi kita bersitatap?' Terus dia melanjutkan, "Aku itu ... sama Kakakmu, lebih dari yang kamu kira." "CALON ISTRI BERARTI?" Ngegas, gengs. Dia makin tertawa, "Yang berpeluang berstatus itu." Asha pun berpikir keras. 'Apa, dong? Satu-satunya yang pantas jadi istri Kak Raka, ya, satu ... dia harus cewek.' Makin-makinlah Thayana terbahak. "Tebak, dong ..." Asha menggeleng, "No idea, Kak." Lalu, Thayana yang menggeleng tak habis pikirpun, berbisik, "Aku itu ... sahabat sejak kecilnya, Raka." DEG. Goals banget itu sensasinya. Kreteknya sampe ke tulang. Perih, gundah, mati, dan membelah. Jadi satu. Sebuah ; tragedi dan bencana. Yang sayangnya ... nggak mau punah. 'Apa jangan-jangan Kak Raka justru menyimpan rasa sama cewek yang notabenenya tumbuh dan berkembang bersama sama dia?' Fix, patah. *** The Real of Ngeselin Moment itu ketika kamu ingin mendapatkan sesuatu, tapi sainganmu, selain lebih keren dan 'oye' dari dirimu, dia juga lebih ... baik darimu. Dan, itu ... telak. Belum sehari mereka bersama, Thayana sudah banyak menarik perhatian dan menjadi magnet di kastil mewah Raka. "Astaga ... jadi karena di tengah pesta pertunangan di Swiss, si Malvin, calon suami Non Thayana, ternyata sudah punya istri bahkan anak? Hanya saja ... dia ingin menutupi skandal karena bersikap kasar pada istrinya?" Bu Gran bertanya. Kini, mereka di meja makan. Raka baru saja menjelaskan semua alasan logisnya kenapa Thayana Shareen, gadis kaya bak Princess tersebut, harus bersama mereka sekarang. Tuan Hang melanjutkan, "Makanya, hanya karena perusahaannya lebih luar biasa daripada milik keluarga Non Thayana, dia pun membuat surat penjanjian tak tertolak, agar Non Thayana mau tidak mau menikah dengannya?" Bu Gran kembali meneruskan, "Ini juga diperparah berkat Tuan Henry ini memiliki saham terbesar sekaligus donatur utama perusahaan luar biasa keluarga Non?" "Wah ... ini sulit dipercaya, Bu," ujar Tuan Hang. Beliau menepuk jidatnya sekali. Sangat tak habis pikir, sepertinya. "Pasti Non Thayana terpukul sekali sekarang." Raka menyahut, "Betul, Tuan Hang." Lalu, tatapannya beralih pada Thayana. "Dia pasti masih kepikiran soal hal tersebut. Ditambah lagi, Henry sepertinya sedang memburu Thayana untuk bisa melaksanakan hal tersebut. Jadi ... satu-satunya tempat teraman untuk Thayana sekarang ... bersama kita, Tuan, Bu." Mereka pun kompak mengembuskan napas kasar. "Syukurlaah," ujar Bu Gran. Dia mengelus pundak Thayana. "Untung, Non, baik-baik saja. Tidak bisa Ibu bayangkan kalau Non tidak kemudian ke Indonesia." Thayana tersenyum, menumpuk tangan Bu Gran, menghangatkan, "Tidak apa, Bu Gran. Memang dari awal, saya sudah komunikasikan ini pada Raka. Saya juga dari dulu curhatnya sama Raka, Bu. Dan, kebetulan juga, saat hari pertunangan itu ... saya memberitahu Raka. Tapi, Raka tidak datang, tahu sendirilah, Bu Gran dengan kesibukkan atau kesoksibukan dia ..." Bibi tertawa, "Itu style Den Raka sekali." "Tentu ...," jawab Thayana. "Aisssshhh ... Non ini ... sepertinya dekat sekali dengan Den Raka." "Haha, sebetulnya iya dan tidak juga, Bu." Thayana mengulum senyum. "Saya dan Raka sahabatan sejak kecil. Tetanggaan malah. Makanya kami dekat. Dan, saat di Swiss itu ... Raka protect sama saya, Bu. Alhasil, pas kejadian itu menimpa saya, Raka ... seolah siaga untuk menolong saya. Dia menjemput saya ke bandara, membawa saya ke hotel, dan menemani saya." DEG. "Jadi ... selama ini ... yang Kak Raka bilang lembur terus itu ... karena untuk ... Kak Thayana?" Thayana tampak terkejut, "Raka? Apa kamu merahasiakan kita? Kamu berbohong?" Raka menarik napas tipis, "Sha ... lagipula, urusanku, nggak ada kaitannya dengan kamu." 'Sakit, Rak ... sakit,' batin Asha. *** Asha mengerucutkan bibirnya sebal. Ewh! Kenapa pula harus ada Thayana kalau bahkan ngegas nggak nyelonya dia saja sudah lebih dari cukup membuat Raka tak pernah mampu melihat dia? Kan, sekarang, Asha jadi lebih merasa super inferior karena sudah dilandasi hilang harapan, sekarang pula ia dihadapkan seorang pelakor baru—sebenarnya nggak pantas dibilang pelakor, sih, cuma, saudara tak sekandung yang kebetulan jadi cinta pertama yang akhirnya bertemu, tapi, skip—? Asha jadi penuh gemuruh. Dia berseru, "Nggak bisa, Ya! Gue kebakar cemburu! Tiap ada dia, gua bahkan nggak punya kesempatan untuk lagi-lagi kesemsem sama Raka?" Yaya yang tadinya cuma melengos dari abis ngampus dan berniat minum soda dari refigenerator, walhasil jadi melongo, "Kok, lo, tijel, sih, Sha? Kan, dia emang punya lo!" Lalu, Yaya meneguknya. Asha dengan terperangah menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan kanannya. Sungguh. Kata-kata Yaya teramat melukai hatinya. "Lo, kok, jadi nggak dukung gue gini, Ya?!"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN