Kita pun Sama-Sama Punya

1046 Kata
"Kenapa, Kak? Kok, bisa di kampus gini?" "Emang di sini yang titlenya masih mahasiswa kamu doang?" Asha menganga. "Ya, tapi, Kak Raka, kan, ada project yang harus Kak Raka selesein. Dan, gedung fakultas kakak bukan di jalan ini, beda tempat! Lah, terus ngapain coba ke sini? Jemput aku?" 'Niatnya gitu, Sha ... Tapi, karena tadi dia niatnya mau ngater Thayana dulu ke hotel, kebetulan satu jalan sama kampus, dan aku mau pulang dulu, baru jemput kamu,' batin Raka. 'Tapi, karena nemuin kamu lagi pada have fun sama Aldo, si calon menantu bin adik ipar laknat, jiwa pengen tubir mendadak bangkit, Sha. Nggak bisa ditolak, hehe.' Tapi, yang keluar dari mulut Raka adalah ... "Mau misahin yang bukan muhrimnya," tukasnya. Langsung melepas gandengan tangan Aldo yang tadi sebenarnya lagi bercandaan mau gandengan sama Asha ke minimarket. Biasa ... beli pasokan cola buat ngegibah. Eh, malah sekarang digenggam Raka. "Pokoknya, Kakak nggak suka, ya, kamu intens-intens gitu sama Aldo cucungut nggak jelas!" Asha menggerutu, "Tapi, Aldo pacar aku, Kak!" "Suami bukan?" "Hah?" "Masa baru pacaran udah berani pegang-pegang? Nggak bisa! Kamu harus tetap terjaga kesterilannya! Dan, itu tugas Kakak!" "Le mineral kali, ah, terjaga keasliannya ..." Yaya mencibir. Aldo pun menyahut, sadar adanya ketidakadilan di sini. "Kok lo tijel, sih, Bang?" Dan, lagi-lagi, Raka mengabaikan, "Pokoknya nggak boleh! Kakak nggak ridho 100℅!" "Tapi, Kak ..." "Dosa kalo nggak ikut perkataan Kakaknya!" Asha mengerucutkan bibirnya sebal. "Yaudah, lepasin tangannya! Sakit ini!" "Bilang apa dulu?" "Hah?" "Bilang apa dulu?" Astaga ... Raka serius menginginkannya? "Kak, tapi kita udah gede!" "Heeem ..." Raka mengerucutkan bibir unyu, menggeleng penuh goda bak anak kecil tengah merajuk. "Bilang apa dulu?" Asha menoleh ke teman-temannya dulu, memeriksa kondisi. Lalu, ia mengucapkan kalimat, "Sayangku, Kak Raka, paling ganteng seantarikca ... lepacin, ya. Asha cayang banget sama Kak Raka. Cinta mati malah. Cayang, deh." Raka senyum. Dilepasnya tangan itu. Wajahnya dirudukkan sebentar, disejajarkan dengan wajah Asha yang menunduk malu. Astaga ... pipi gadis itu memerah. Raka jadi gemas. Dia pun menyubit pipi Asha pelan. "Jadi pengen nyium." Asha melotot. Dan, itu, diikuti semua orang yang ada di situ. Hingga seseorang maju, bertanya, "Ini siapa, Sha?" Asha mengerjapkan mata cepat. "Ah, ini, Kakakku, Draco. Namanya Raka Nugraha." "I don't think so ..." Karena yang dilihat Draco, sepertinya, ada perasaan terselubung tidak beres yang menyelip di d**a Raka.Nyeri sebel sedap gitu. "Eyy ... kamu apaan, sih? Jangan lihat kayak mau nerkam gitu? Seolah penuh laser keamanan tahu!" Asha memukul lengannya, tersenyum. "Iya, kah?" tanyanya. Raka tampak mengantupkan bibir berusaha sok cool. "Cuma ... aneh aja, Asha. Kakak bisa se-so sweet itu sama adiknya sendiri. Kecuali ... kalau cowok kayak aku nge-so sweetin kamu, wajar. Kan, aku bisa, tuh, nikung kamu dari Aldo kapanpun." Semburan tawa dari Yaya menyerang. "Hahaha ..." Dia berjalan menuji Draco, menepuk pundaknya. "Gas lo, bro ... nggak nyelo!" "Ih, kok lo malah dukung dia, sih, Ya?" Aldo protes. "Ya, dia lebih hot dari lo! Ya, gue, pro ke dia, lah?" Aldo memanyunkan bibirnya. "Heh, awas, ya, lo ngapa-ngapain Asha! Hak paten gue dia!" Raka meringis sinis, "Hak elpiji yang ada lo!" Aldo menganga, "Bang! Kok, lo bela dia, sih?! Mau lo ditikung sama cowok yang jauh lebih keren dari lo? Bah ... Kakak kok kalah macho!" "Bangsul!" Raka mengumpat. "Itu harusnya jadi bahan ngaca lo hari ini! Gimana bisa saingan lo lebih amaizing dari lo, bebek!" "Beuh ..." Aldo mencela. "Yang, ada, sebelum ada, nih, king kong di ekosistem kita, Bang, lo saingan mulu ama gue! Heran, jadi Kakak kok saking nggak restunya sampe nggak mau kalah! Kakak nggak ada adab, nggak ada akhlak, lo!" "Omongan lo, ya!" Raka siap menimpuk. "Hayo, ring tinju kita!" Dan, Aldo balas menantang. Draco lah yang sekarang terkekeh. "Apa mereka selalu begitu, hem?" Asha yang cuma menyipitkan mata karena meringis dan tersenyum mengangkat bahu, "Baru pertama kali kamu lihat mereka begini, Drac. Mereka bahkan jauh lebih absurd dari yang bisa kamu bayangkan." "Oww .... so weird. And how lucky you are ..." Asha tersenyum, "Apaan, sih!" Lalu, memukul lengan Draco. Hingga ... pada akhirnya, datang seorang perempuan dengan pakaian feniminim yang classy, menghampiri mereka. "Halo? Ada Raka di sini?" Dia ... serius, cantik banget. Lebih cantik dari yang bisa dibayangkan cewek-cewek malah. Dia membawa aura keperempuanan yang nggak hanya anggun tapi menawan. "Eh, itu, Rakanya, mbak ..." Yaya menunjuknya. Bisa Asha tebak. Yaya pasti juga sepersekian detik tadi, terpesona juga pada si Mbak-mbak ini. "Makasih, ya." Mbak-mbak itu tersenyum. Dia pun berusaha mendekati Raka. Tapi, dihentikan oleh Asha. "Pacarnya, ya, Kak?" Dia cuma senyum dikit doang. Dikitttt banget. Yang sayangnya, kadar keindahan senyumnya, punya daya power bak saripati tebu yang jika diminum panas-panas menghasilkan sensasi luar biasa segar, melepas dahaga, juga bahagia. Mungkin inilah definisi, ada yang memang pantasnya menjadi perempuan kelas ekslusif dengan perempuan kelas biasa. Dengan sedikit usaha, kemampuannya punch banget buat bikin oranglain terkesima. "Ah, enggak ..." Dia menggeleng, sembari menutup mulutnya dengan tangan. Anggun dan manis sekali. "Aku sama Raka, memang lagi bahas hal yang penting saja." Lalu, kepalanya terangkat naik begitu muncul di pandangan matanya, Raka dengan seseorang yang tak kalah tampan. "Rakaaaa," panggil perempuan ini. Masih tersenyum. Dalam detik itu juga, Asha sudah bisa menangkap arah mata Raka yang juga balas menatap hangat. Tapi, saat itu juga, Asha menunduk. Jemarinya terkait satu sama lain, saling memilin. 'Sama seperti semesta yang selalu bergerak, terus-menerus tumbuh berkembang, sampai bintang demi bintang, pupus, membentuk bintang baru, tak ayal, kaum bintang lama iri kepada keindahan transformasi ataupun model bintang baru tersebut.' Asha ingin percaya, bahwa mampunya cuma soal bagaimana membuat Raka menyukainya, agar perasaaannya berbalik. Tapi, mengapa seolah takdir tak menginginkan itu terjadi? Mungkin, memang benar. Dari awal. Tak seharusnya perasaan ini dimiliki. Tak seharusnya Asha menautkan hati pada orang yang selama ini memberi dan merawatnya sepenuh hati. Pun, yang paling menyedihkan sekarang adalah ... Apa yang ia rasakan sekarang, tak pantas disebut 'cemburu'. Melainkan, sebuah 'peringatan'. Agar menjadikan yang demikian terjadi saat ini, sebagai pelajaran, agar tak berlebihan lagi ke depannya. "Terus, Asha?" tanya perempuan itu. Sepanjang Asha bermonolog dan mengevaluasi dirinya sendiri, mereka telah berbincang.  "Oh ... itu." Ketika Raka menunjuk, perempuan itu menutup mulutnya yang menganga. Lalu, menghambur ke arah Asha. "Hai ..." Spontan, menarik tangan Asha, menggamitnya. "Makasih, ya, udah jagain Raka." DEG. Berarti selama ini Asha jadi tempat penitipan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN