Boleh Tidak Aku Menyatakan Tak Suka?

1105 Kata
 "Haha, bisa aja, kamu, Sha." "Nah, pertanyaan, nih, buat saba-sabi sebelum akhirnya haha-hihi, kok situ bisa jadi ngacir di mari?" Diangguki pasukan, "Nah, iya, tuh." Yaya ngelanjut, "Kan, you sibuk sangaddd yekan. Ada apa gerangang paduka sampai blusukan ke negeri ini tercintaahh?" Draconya, sih, cuma mesem hensem doang. "Ohh ... awal mulanya, sih, kenapa ke Indonesia karena di Indonesianya ada yang saya suka, Sha, Ya, Do. Kebetulan kangen banget juga saya sama pukis, Sha. Mungkin efek karena saya bosen juga sama hot dognya Jerman kali, ya?" Asha tertawa, mukul lengan Draco yang lagi garuk tengkuk, "Ya ampun! Masnya ini, ada-ada aja tahu! Malah, ya, aku, tuh, pengen banget ke Jerman! Astaga! Lagian, kan, situ chef! Jangankan pukis, bulgogi Korea aja dibabat! Ngapa jadi dilema gini?!" Yaya menggeplak kepala Asha dengan buku. Sang empu mengaduh sakit. "Kuping dibawa kuping! Kan, dia bilang mau ketemu pujaan hati! Lo, emang, ye, Sha, kadang-kadang!" "Ah, iya, iya." Draco membenarkan. "Sudah-sudah. Intinya gitu, deh." Asha menatap Draco lama dan tatapan jahil. "Wah, terus siapa tuh, masnya yang bisa bikin hati masnya berera-rera ala liriknya Rita Sugiarto?" Draco menggeleng, "Ada, deh. Saya juga agak aneh kalo cerita begini." Riuh pun merangsek. "Woohoooo~" Jemari Asha, Yaya, Aldo, udah kayak emak-emak rumpi. Bergengs gitu stylenya. Lalu, untuk mewaraskan situasi, Draco pun kembali mengingat. "Oh, iya, Sha, baru kesentil, nih, dulu, kan, cita-citamu juga untuk keliling dunia, kan?" Sayang, ada bencana setelah itu. Raka menyentak, "KOK, KAMU NGGAK BILANG, SIH, SHA, MAU KELILING DUNIA?" Melanjutkan, "Kan, kalo kayak gitu, pas aku ke LA, Amsterdam, Dubai, Hungaria, aku ajak kamu!" Asha menoleh, mengerjap, tak mampu menahan keterkejutannya, "Kakak ngapain ke kampus aku?" "Emang kamu pikir kampus ini punyamu aja, hah?" Oke. Tanda-tanda tubir. *** Raka menarik rambutnya kesal. Anak-anak rambutnya sekarang jadi tempatnya melabuhkan amarah. "Astaga, Raka!" Thayana, yang baru aja duduk di depan double seat cafe pesanan Raka, emang pada dasarnya janjian mau ngobrol, langsung buru-buru meletakkan minuman pesanan. "Kamu kenapa, sih, Rak?" Raka menepis tangan sang cinta pertamanya itu yang berusaha menenangkannya lewat sentuhan lembut di lengan. "Nggak papa," jawabnya. Tentu agar Thayana Shareen, perempuan di hadapannya ini tidak sakit hati. Sungguh, sebenarnya Raka hanya sedang bertengkar dengan kepalanya sendiri. Entah kenapa juga rasanya tidak sefavorit dulu. Atau karena memang berkat tadi pagi, kepalanya jadi makin tidak steril karena seorang Asha? Bodoh!                                       Dasar bodoh! Bagaimana mungkin, dirinya, sang kakak yang amat terhormat tidur sekamar dengan adiknya sendiri? Dalam keadaan mabuk dan berpelukan? Untung tidak ada hal yang 'lebih' daripada itu. Tapi, kalau, harus begitu, sih, Raka ... "Lo kenapa senyam-senyum gitu, Rak?" Dirinya spontan tersentak, menunjuk dirinya sendiri, "Gue?" "Iya, lo!" Alamak! Ketahuan! "Sembarangan!" Raka menepuk kepala Thayana pakai sendok. Kecil sekali. "Lo salah lihat kali." Padahal, sebenarnya, sih, Raka malu setengah mati. Astaga ... dia ini kenapa, sih? Masa, iya, dia jadi gila hanya karena Asha Nayana? Masalahnya lagi ... jantungnya tak bisa berhenti berdegup dan ngernyihan ngeri merasuk ke kepala. Tiba-tiba pening. Seolah ada hal yang tidak beres yang Raka bahkan tak tahu itu apa. But ... bagaimana bisa, dan kenapa?  Alhasil, Raka cuma dengan cepat menegak mango juicenya. Thayana menarik napas kecil. Jelas ... perempuan, kan, memang perasa urusan sedang 'tidak diperhatikan' maupun tidaknya. Alhasil, untuk menyairkan suasana dan sedikit penghiburan, Thayana mengatakan, "Rak ... kalo ada yang salah, lo cerita aja sama gue, ya. Kan, lo udah dengerin gue cerita juga." Dia juga meminum ice teanya, kemudian mengecap sekilas, muncul satu hal yang baru disadari, "Wait ... apa ini karena semalam aku cerita soal Malvin, Rak?" Bingo! 'Sebenarnya, iya, Thay,' batin Raka. 'Gara-gara kamu datang lagi setelah 8 tahun lalu memutuskan bersama Malvin, bintang sekolah yang keren itu, si kapten basket, sama-sama lanjutin karir ke Swiss dan bina hubungan serius sampai mau ke tahap nikah kayak sekarang, ya ..., meski nggak jadi, aku jadi kepikiran, Thay.' 'Aku nggak ngerti kenapa kamu harus datang lagi di saat aku belum nemu sosok seperti kamu lagi. Di tambah, malam itu hari peringatan Papa.' 'Kamu, Thay, nangis ke aku malam itu, cerita kalau kamu lari dari Swiss ke Indo supaya kamu bisa nenangin diri dari gagalnya pernikahan kamu sama Malvin karena Malvin hamilin cewek lain. Apa yang sebenarnya kamu cari, Malv? Sahabat yang dulu suka kamu ajak taruhan masalah rangking, si aku, Raka, tempat di mana lukamu kuhapus jadi bahagia? Atau Raka tempat pelampiasan abadimu? Aku sedia jika harus disampingmu, Thay, kapanpun. Tapi, untuk begini terus, aku rasa ... harus ada 'titik' di antara kita.' 'Tapi, anehnya, Thay ... Saat kamu kembali, rasanya aku seperti sudah merasa ter-isi.' 'Entah siapa, entah apa. Aku pun nggak tahu. Yang aku mampu adalah mencoba mengenalinya. Lewat perasaan paling halus sekaligus paling menyaring.' 'Aku minta maaf, Thay. Aku hanya merasa ... seakan ... aku mungkin bisa memenuhiku tapi tidak melingkupimu, seperti dulu. Seolah kamu memang payung tapi tidak menghunusku. Apa mungkin cinta memang punya tanggal kadaluarsa, Thay? Saat kita dari awal tak ada apa-apa, jadi asing pun adalah jawabnya?' Dan, itu ... berakhir jadi mabuknya Raka malam itu. Kegaduhan di d**a dan kepalanya memaksa Raka untuk mencari pelampiasan. Hingga terjadilah reka adegan lengkap bagaimana ia memperlakukan Asha. Semalam. Aish ... ini benar-benar membuatnya gila! Bisa-bisanya dia kepikiran masalah nggak ada guna macam itu? Dasar! Tapi, fakta sesungguhnya, sungguh ... Yang Raka lihat waktu itu THAYANA SHAREEN. Biasa Raka panggil Sha semasa kecil. Bukan berarti maksud Raka itu memanggil Asha dengan Sha, tapi untuk mencurahkan semuanya ke Thayana. Karena Thayana sedari dulu dekat dengannya, si penempat spesial di d**a Raka, sahabat sekaligus musuh akademik, Raka pun memberitahukan betapa beratnya ia usai semuanya harus ia lalui tanpa Thayana. Ya ... Raka kehilangan. Eh ... curhatan gila tersebut justru teralamatkan pada Asha. Sungguh aneh dan bikin uring-uringan. Raka sampai ingin mengumpat. Raka pun cuma menggeleng, "Nggak, kok." Melanjutkan, "Gue benar-benar nggak papa, Thayana Shareen." 'Dan, memang, pada dasarnya memang nggak papa. Aku selalu suka juga bahkan siap saat harus ada dan mendengar keluh kesah kamu. Jadi bermanfaat bagi orang yang membuat hidup kita bermakna, Thay, keindahan juga.' Thayana senyum, "Syukurlah, Rak, aku senang dengarnya." Raka tertular senyum, dia mulai makan waffle, sedikit demi sedikit. "Lalu, rencana lo setelah ini apa, Thay?" Sekarang bibir Thayana mengulum ke dalam, wajahnya berubah agak muram. Oke, mulai sekarang, ini akan tidak beres. Thayana bilang, "Itu dia masalahnya, Rak." Raka mengerutkan kening, menautkan tangan, "Loh, bukannya, memang sudah clear, Thay? Ini waktu terbaik buat kamu kenalan sama cowok yang lebih baik dari Malvin? Kan, Malvin udah sama yang lain." "Sayangnya, nggak semudah itu, Rak. Kadang, beberapa hal yang harusnya nggak perlu terjadi, justru diaminkan alam raya buat betul-betul jadi milik kita." Di sana, Raka tercekat. Entah ini tragedi atau justru anugerah Ilahi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN