STM 39

1515 Kata

"Makan ya? Belum makan siang kan?" Aku kembali menggeleng. "Kenapa? Kalau nggak mau makan di sini, kita cari cafe lain." Lagi-lagi aku menggeleng. "Geleng-geleng terus. Lagi datang bulan?" tanyanya lagi. Untuk ketiga kalinya aku masih menggeleng pelan. "Hmmm ... kalau kita segera menikah, gimana? Masih geleng kepala juga?" ledeknya sembari menaik turunkan alis. Kali ini aku terdiam, membuat laki-laki yang kini duduk di seberang meja itu terkekeh. "Diam berarti mau," sambungnya lagi dengan ekspresi menggoda. Aku hanya mencibir kecil untuk mengurangi kegugupan. Mendadak salah tingkah sebab dia menatapku sedari tadi sembari menyandarkan punggungnya ke kursi. Di ruangan yang tak terlalu luas ini, hanya ada aku dan dia. Dadaku masih saja berdebar tiap kali mengingat kejadian beberapa m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN