"Om Danang?" Laki-laki dewasa itu menatapku lekat. Dia pun sepertinya sama denganku yang shock bertemu di rumah ini. "Hanin? Kamu di sini?" Aku sedikit membungkukkan badan lalu tersenyum tipis. "Papa kenal sama perempuan itu? Dia Hanin, yang sering aku ceritakan sama papa," ucap perempuan itu, Tania. Kekagetanku bertambah saat mendengar panggilan papa keluar dari bibirnya. "Ja-- jadi dia?" Om Danang menunjukku dengan jarinya. Lagi-lagi sepertinya dia masih nggak percaya jika akulah perempuan yang sering diceritakan anaknya. "Iya, Pa. Dia!" Tania menatapku tajam sembari menghela napas kasar. Tak ingin ada keributan di teras, ibu meminta kami masuk ke rumah semua. Tania dan papanya duduk di sofa seberang meja, sementara aku duduk di samping ibu dan Mas Eros. "Tania dan papanya data

