Suara deru mesin truk kecil terdengar semakin jelas. Karung besar tempat Pino berada ditumpuk bersama lima karung lainnya. Mereka kini berada di gudang pinggir kota yang cukup besar, penuh tumpukan sayuran, buah, dan kacang-kacang dari berbagai ladang. Bagi manusia, ini biass saja. Bagi para kacang tanah, ini adalah terminal dunia—tempat nasib dipilih secara acak tanpa bisa protes.
Sementara pekerja berkeliling merapikan dokumen, karung Pino sempat dibiarkan tergeletak miring. Hal itu membuat para kacang di dalam karung berguling-guling tanpa henti.
“Woy, woy! Jangan injek gue!”
“Salah gue kalau karungnya jatuh!?”
“Sabar, sabar, semua sabar—eh, Pino lu gak papa kan?”
Suara itu datang dari kacang tua retak yang tadi menyapa Pino, namanya Sapar—nama yang ia klaim sendiri.
“Gue… baik, Pak Sapar,” jawab Pino pelan.
“Panggil Sapar aja, jangan pake 'pak'. Udah terlalu sering gue dipanggil ‘pak’ sama kacang-kacang baru, seolah gue sepuh banget. Padahal gue cuma… ya, kebanyakan tersenggol pas panen.”
Memang retaknya cukup besar, membuatnya terlihat rapuh.
Pino ingin tersenyum kalau saja dirinya punya bibir.
“Btw, Pino,” lanjut Sapar, “denger-denger kamu baru pertama kali keluar tanah ya?”
“Iya.”
Sapar meghela napas panjang. “Berarti lu harus siap ngeliat hal-hal aneh di dunia luar. Pasar itu… macem-macem. Ada pembeli baik, ada pembeli kasar. Ada tangan halus, ada yang kasar banget. Kadang kita diinjek, kadang dilempar, kadang dipilih dengan santai sambil diciumi ibu-ibu yang mau masak.”
“Diciumu…?” tanya Pino bingung.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Katanya buat ‘ngetes segar atau enggaknya’. Padahal mo seleksi pasangan kali…”
Kacang-kacang lain langsung tertawa.
Tawa itu berlangsung singkat sebelum pekerja datang mendekat dan mengangkat karung mereka. Sekali lagi seluruh tubuh kacang terombang-ambing hebat.
“WOOOOY! ADA GEMPA LAGI!”
“ITU PENJAGA KARUNG, BODOH!”
“Aduh, tulang ekor gue—eh gue gak punya tulang!”
Truk bak terbuka berhenti tepat di depan gudang. Karung-karung dilemparkan ke dalam truk begitu saja, tanpa perasaan.
BRAK! BRAK! BRAK!
Pino langsung mental ke sisi karung, mengenai kacang lain, lalu terpental balik ke tengah tumpukan.
“Aduh…” dia mengerang kecil.
Sapar langsung mendekat. “Santai, No. Di atas truk, guncangannya bakal lebih parah dari tadi. Tapi kalau lu survive bagian ini, artinya lu siap masuk dunia baru.”
Pino mengangguk, meskipun dalam hati ia bertanya-tanya apakah dirinya benar-benar kuat menghadapi apa pun yang menanti di depan.
---
✦ Di Dalam Truk – Dunia Bergetar
Truk mulai bergerak. Jalanan dari gudang menuju jalan raya cukup rusak. Setiap lubang membuat karung-karung terombang-ambing.
“AAAAAAK!”
“Gue kejedot karung sebelah woy!”
“Kepala gue muter-muter!”
“Lu gak punya kepala, b**o!”
Di atas itu semua, suara manusia bercampur dengan suara motor, klakson, dan teriakan pedagang di pinggir jalan.
Di sela-sela guncangan itu, Pino mencoba berbicara.
“Sapar… apa semua kacang mengalami hal ini?”
Sapar berpikir sejenak. “Hmm… sebagian besar iya, tapi perjalanan tiap kacang beda-beda. Ada yang langsung dibawa ke pabrik dari ladang. Ada yang dikeringkan dulu di rumah warga. Ada yang bahkan dipake buat mainan anak kecil sebelum dimasak.”
“Mainan…?”
“Iya, ada manusia iseng begitu. Tapi setidaknya yang itu lebih lama hidupnya.”
Pino tertawa kecil walau gugup.
Kacang lain ikut nimbrung.
“Pino, lu ke pasar itu tandanya lu bakal punya hidup yang lebih… penuh kejutan,” kata kacang bernama Mursid. “Soalnya pasar itu pusat dunia. Kita bisa ketemu kacang dari ladang lain, bisa ketemu biji jagung, bisa ketemu bawang yang baunya busuk tapi pinter ngomong. Bahkan kadang ketemu cabe yang galak banget.”
“Bener!” sambung kacang lain. “Gue pernah denger ada kacang yang kabur dari pasar dan hidup bebas di got belakang restoran.”
“Terus gimana nasibnya?”
“Mati kedinginan.”
“Trus kenapa lu ceritain?!”
“Biar dramatis.”
Truk terus melaju. Lama-kelamaan guncangannya berkurang, menandakan mereka masuk jalan aspal. Suara-suara kota mulai terdengar jelas. Klakson lebih nyaring, suara obrolan orang lebih ramai, dan aroma makanan mulai tercium dari luar.
Bau gorengan, bau ayam panggang, bau sate, bau rempah-rempah.
Semua bercampur membuat para kacang kebingungan.
“Wah, dunia luar wangi amat,” gumam Pino.
“Itu karena banyak makanan, No,” jelas Sapar.
“Enak ya wanginya.”
“Enak buat manusia. Buat kita? Wangi masakan artinya… haha… ya lu tau lah.”
Pino langsung terdiam.
Kini ia sadar bahwa perjalanan ke pasar bukan sekadar petualangan… tapi mendekatkan mereka pada apa yang manusia sebut sebagai takdir kuliner.
---
✦ Sampai di Pasar Argomulyo
Truk berhenti mendadak.
“BRUAAAK!”
Seluruh kacang di dalam karung mental lagi.
“Ouch!”
“Siapa sih yang nyetir kaya orang dikejar tuyul?”
“Nyetirnya kayak lagi balapan Tamiya!”
Pekerja membuka bak truk dan mulai menurunkan karung-karung.
Untuk pertama kalinya, dari celah goni karung, Pino bisa melihat sekilas suasana pasar.
Warna-warni kain lapak.
Tumpukan sayur yang berantakan.
Ibu-ibu yang membawa tas belanja.
Suara tawar-menawar.
“WOOI SERIBU LIMA! SERIBU LIMA!”
“CABENYA FRESH NIH, MAAK!”
“BU, JANGAN DITAWAR KEBANYAKAN YA BU!”
“Tempat macam apa ini…” gumam Pino terpana.
“Selamat datang… di pusat kekacauan,” ujar Sapar bangga. “Inilah tempat di mana segalanya bisa terjadi. Persahabatan, perpisahan, permusuhan, persaingan, dan—”
“Dimakan?” sela Pino.
Sapar menghela napas. “Ya. Itu konsekuensinya.”
Karung Pino diletakkan di sudut lapak seorang pedagang laki-laki berusia sekitar 40-an. Kulitnya sawo matang, tubuhnya kurus, memakai topi lusuh, dan kaos biru yang sudah memudar. Namanya Pak Mardi, penjual kacang yang terkenal murah meriah di pasar itu.
Pak Mardi membuka karung sedikit.
“Wah ini bagus-bagus nih,” katanya sambil mengambil segenggam untuk ditimbang.
Dan cahaya kembali masuk.
Terang.
Hangat.
Dan menakutkan.
Pino takjub. Ia bisa melihat lebih jelas hiruk pikuk pasar. Manusia berlalu-lalang seperti raksasa. Setiap raksasa membawa tas, keranjang, atau plastik penuh sayuran.
Beberapa kacang terjatuh begitu karung dibuka.
“WOOII GUE KESERET! TOLONG!”
“Jangan injak gueee!”
“Maaaak! Tolooong! Eh gue kacang, gue gak punya emak!”
Kacang-kacang yang jatuh ke meja langsung digulung dan ditumpuk di wadah kecil untuk dijual kiloan.
Pino masih berada di dalam karung, tapi ia tahu tinggal menunggu waktu hingga pekerja mengambil sekop dan memindahkannya.
---
✦ Pino Keluar dari Karung
Dan benar saja…
Beberapa menit kemudian, tangan Pak Mardi meraih sekop dan menyiduk bagian dalam karung. Pino ikut terangkat.
“WAAAAH!”
“Aku terbang!!”
“Lu tuh bukan burung, No!”
Ia dijatuhkan ke dalam bakul kecil bersama kacang-kacang kelas menengah lainnya.
Di sana, ia bertemu kacang-kacang baru.
“Halo pendatang! Selamat datang di lapak Mardi!”
“Wah baru banget nih, masih bau tanah!”
“Eh jangan gitu, kasian bocilnya.”
Kacang yang menyapa itu bernama Dina—kacang betina yang tubuhnya mulus tanpa retakan. Di sampingnya ada Gendon—kacang besar yang bentuknya sedikit bulat tidak simetris.
“Namamu siapa?” tanya Dina.
“Pino,” jawabnya.
“Pertama kali ke pasar?”
“Iya…”
“Wah siap-siap kaget ya. Pasar ini pusat drama.”
“Drama?”
“Iya,” timpal Gendon sambil mendengus. “Lu nanti lihat sendiri. Di sini, kacang bisa disortir, dipisah, diaduk-aduk, dicium ibu-ibu, dilempar bocah, bahkan… dicuri tikus.”
“TIKUS!??”
“Yep.”
“Itu serem….”
Belum sempat mereka meneruskan percakapan, suara ibu-ibu terdengar mendekat.
“Harga kacangnya berapa, Pak?”
“Seribu lima ratus per ons, Bu.”
“Hemmm… saya lihat dulu ya.”
Ibu itu menyentuh bakul kacang. Jemarinya yang dingin menyentuh tubuh Pino.
DEG!
Pino langsung gemetar—sensasi disentuh manusia pertama kali.
“Ooh yang ini bagus-bagus,” kata si ibu sambil meraup sebagian kacang. Pino nyaris ikut terambil, tapi tergelincir kembali ke bakul.
“Fiuuuh…”
“Untung lu gak ikut diambil,” kata Dina.
“Kenapa… untung?” tanya Pino.
“Karena yang disentuh duluan biasanya langsung masuk kantong belanja, No.”
“Oh…”
Pino menatap langit pasar. Suara tawar-menawar terus terdengar. Pengunjung datang dan pergi. Begitulah ritme hidup di pasar.
Namun di sela-sela semuanya, ada pertanyaan mengambang di pikiran Pino.
Setelah ini…
Apa yang akan terjadi padanya?
Akan dijual?
Dimasak?
Dipilih anak kecil?
Atau… bernasib seperti kacang lain yang hilang di keranjang tikus?
Sapar, yang akhirnya disiduk dan dijatuhkan ke bakul yang sama, berbisik lembut.
“No… lu harus siap dengan apa pun. Dunia pasar itu keras. Tapi kalau lu kuat, lu bisa bertahan lebih lama dari kacang lainnya.”
Pino mengangguk pelan.
Ia tak tahu masa depannya seperti apa.
Tapi satu hal pasti…
Hari itu adalah hari pertama ia melihat dunia manusia dari dekat.
Hari pertama ia merasakan apa itu takut, kagum, dan cemas sekaligus.
Dan hari pertama ia sadar…
Dirinya hanyalah kacang kecil di dunia besar yang tak pernah berhenti bergerak.
Namun… petualangannya baru saja dimulai.