Sore sudah merambat turun ketika truk pengangkut kacang meninggalkan lahan pertanian di bawah kaki gunung itu. Langit berubah jingga, menyapu barisan pepohonan dan memanjangkan bayangan sawah-sawah di sepanjang jalan. Truk berguncang setiap melewati jalan berlubang, dan suara tawa para petani memudar semakin jauh di belakang.
Di dalam karung-karung yang menumpuk itu, dunia para kacang kembali riuh. Bukan lagi riuh karena panen, tetapi karena rasa penasaran dan ketidakpastian yang mulai tumbuh seperti benih liar.
“Kita mau dibawa ke mana sih sebenarnya?” tanya Lencir sambil menatap gelap di dalam karung.
“Sabar, sabar… mungkin tempat yang lebih bagus. Lebih terang,” jawab Samin, meski suaranya sendiri terdengar ragu.
Krak… brakk… truk berhenti mendadak, membuat seluruh isi karung terguling ke depan.
“Aduh kepalaku!” seru Krompel, kacang yang selalu tampak sedikit penyok.
“Masa punya kepala, kamu?” seru yang lain sambil tertawa kecil.
Meski saling menggoda, ketegangan tetap terasa. Mereka dibawa pergi dari ladang—rumah yang mereka kenal sejak pertama kali tumbuh. Dan kini, mereka berada di dunia yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
---
Truk akhirnya masuk ke sebuah area luas dengan bangunan sederhana berdinding seng. Lampu-lampu bohlam kuning menggantung di luar, menerangi halaman kecil dan menyorot tumpukan karung dari panen yang berbeda.
“Mampir ke gudang tengkulak dulu!” teriak salah satu buruh yang duduk di samping sopir.
Gudang itu tampak seperti bangunan yang sudah lama tidak diperbarui. Plafonnya bolong di beberapa bagian, dan lantainya berdebu. Meski begitu, aktivitas di sana cukup ramai. Para pekerja menurunkan karung sambil mengelap keringat.
“Taruh di sudut sana! Besok pagi baru disortir!” teriak seorang mandor.
Karung-karung termasuk yang berisi Samin dan kawan-kawan diturunkan dan ditumpuk. Ketika semua pekerja mulai meninggalkan gudang, satu per satu lampu dimatikan.
Klek… klek… klek…
Hingga akhirnya hanya satu bohlam kecil di sudut yang tersisa. Cahayanya redup, hampir tak cukup untuk menerangi bayang-bayang.
Pintu gudang ditutup.
Dunia para kacang jatuh ke dalam keheningan.
---
Beberapa menit berlalu. Lalu…
“Sekarang kita… di mana?” suara kecil terdengar dari dalam karung.
“Sepertinya gudang… bau debu dan karung-karung lama,” jawab Samin sambil mencoba merangkak ke posisi lebih nyaman.
“Samin… aku takut,” kata biri-biri kecil bernama Talu, kacang yang paling muda dan paling gampang panik.
“Tenang, tenang. Kita masih bareng-bareng. Itu lebih penting.”
Di sudut lain karung, Lencir menggerutu, “Yang penting besok jangan sampai kita masuk kelompok yang dibawa ke pabrik. Aku dengar dari kacang panenan sebelah, katanya pabrik itu kejam! Ada yang digoreng, ada yang dipanggang, ada yang…”
“Sudah! Jangan nakuti!” potong Samin.
Tapi kata “digoreng” sudah cukup membuat sekarung kacang tanah merinding. Dunia ini ternyata lebih luas dan lebih berbahaya dari yang mereka kira.
---
Angin malam merayap masuk melalui celah-celah papan gudang. Suaranya seperti gesekan halus, serupa bisikan.
Namun tiba-tiba…
Cekrek… cekrek…
Ada sesuatu yang bergerak di luar karung.
“Apa itu?” tanya Talu, suaranya gemetar.
“Shhhh… dengarkan,” bisik Samin.
Cekrek… cakar-cakar… sruttt…
Lalu suara yang sangat dikenali semua makhluk kecil di dunia pertanian muncul.
“Tik… tik… tik…” suara langkah cepat dengan kuku kecil menggores lantai.
“MUSUH!!!” pekik Lencir dengan suara paling pelan namun panik.
Tikus.
Makhluk yang menjadi mimpi buruk bagi kacang tanah.
Dari celah karung yang sedikit terbuka, mereka bisa melihat sosoknya: tubuh coklat gelap, mata merah menyala seperti bara kecil, bergerak cepat dan penuh kewaspadaan. Tikus itu menghidu-hidu, mencari sumber makanan.
“Aku mencium kacang segar…” desis suara tikus itu lirih, membuat bulu kuduk para kacang—kalau mereka punya—pasti berdiri.
“Jangan ada yang gerak!” perintah Samin cepat. “Jangan bersuara!”
Namun celaka, Talu terlalu takut untuk tetap diam. Napasnya memburu begitu cepat sampai terdengar oleh yang lain.
“Talu…” bisik Krompel, “napasmu kedengeran sampai karung sebelah!”
“T-t-tidak bisa… aku takut…”
Tikus itu berhenti. Kepalanya berputar ke arah tumpukan karung tempat mereka berada.
“Oh tidak…” desis Lencir pelan.
Tikus itu melompat perlahan, mendekati tumpukan karung yang berisi mereka.
---
Samin cepat berpikir. “Kita harus buat karung ini bergoyang! Biar dia pikir ada manusia datang!”
“Caranya gimana? Kita kan kecil!” kata Lencir.
“Kalau semua serentak bergoyang… pasti bisa!”
Para kacang saling pandang—meski sebenarnya mereka tidak punya mata seperti manusia, tapi mereka tahu maksudnya. Mereka menegakkan diri, menekan sisi karung menggunakan gerakan kecil mereka.
“Siap… satu… dua… TIGA!”
Karung itu bergoyang sedikit.
Tidak cukup.
“TIKUS DATANG!” teriak Talu tiba-tiba dalam panik.
Karung bergoyang lebih keras karena seluruh kacang berdesakan ke satu arah.
Tikuuuuus!
Karung itu akhirnya benar-benar bergerak, terguling ke depan.
BRUK!!
Tikus itu kaget, melompat mundur beberapa langkah.
“Apa-apaan itu? Karung bisa jatuh sendiri?”
Tapi tikus masih penasaran. Ia mengendus dan mulai mendekat lagi.
“Kurangi goyang! Dia balik lagi!” bisik Samin.
“Kita harus cari cara lain,” kata Krompel, “gimana kalau kita bikin suara manusia? Aku bisa meniru suara pintu dibuka.”
“Coba!”
Krompel menggosok tubuh kacangnya ke karung, menghasilkan suara krkkk… krkkk… yang terdengar cukup seperti pintu kayu berdecit.
Tikus itu mendadak mematung.
“Manusia?!”
Lalu dari luar gudang terdengar angin kencang menghantam seng.
BRAAAAK!
Tikus itu kaget bukan main.
“Astaga! Malam-malam begini? Sudahlah, aku cari makan di tempat lain!”
Dan dengan itu, tikus itu kabur ke arah tumpukan karung di sisi jauh gudang, meninggalkan mereka dalam kebingungan namun sangat lega.
---
Ketika suasana kembali tenang, napas seluruh kacang seolah kembali turun.
“Kita selamat…” ujar Talu dengan suara sangat kecil.
“Untuk saat ini,” kata Samin, “tapi besok pagi kita akan disortir. Dan itu… mungkin lebih menegangkan daripada tikus.”
“Kenapa?” tanya Lencir.
Samin terdiam.
“Karena aku pernah mendengar,” lanjutnya perlahan, “kacang yang masuk kelompok premium biasanya dibawa ke pabrik. Dan di pabrik… hidup mereka berubah total.”
Sunyi menyelimuti isi karung.
Tak ada yang benar-benar mengerti apa yang menanti mereka. Tapi masing-masing bisa merasakan ketidakpastian yang makin besar.
Setelah diam cukup lama, Krompel mencoba mencairkan suasana.
“Eh, tapi siapa tahu kita justru dapat tempat bagus. Mungkin jadi cemilan orang kaya? Atau jadi kacang rebus yang dijual di konser dangdut. Itu kan hits banget!”
“Bisa juga kita jadi suguhan di acara mantenan!” tambah Talu.
“Kalau aku mau jadi kacang yang dibeli ojol, biar lihat dunia luar tiap malam,” kata Lencir sambil tertawa.
“Ah, kalian ini… ngobrolnya ngawur,” kata Samin sambil tersenyum kecil. “Yang penting kita hadapi besok bersama-sama.”
Dan dengan itu, para kacang perlahan kembali diam. Malam semakin pekat, angin dingin masuk dari sela papan gudang, dan suara jangkrik dari luar terdengar bagaikan orkestra alam yang mengantarkan mereka pada malam pertama di luar ladang.
Malam yang panjang.
Malam yang akan mengubah hidup mereka.
---
Tapi tak satu pun dari mereka tahu…
Bahwa besok, di gudang itu, nasib para kacang mulai bercabang.
Ada yang menuju pabrik.
Ada yang menuju pasar malam.
Dan ada yang tak pernah menduga bahwa mereka akan memasuki dunia manusia dari sisi yang paling gelap…
Petualangan baru pun menunggu, hanya beberapa jam dari sekarang.