CHAPTER 4. KESIALAN ARNI

1282 Kata
Sesampainya di kantin Kevin dan teman-teman barunya duduk di tengah-tengah, karena tempat duduk seisi kantin sudah terisi penuh. Maklum jika sekolah baru masuk, maka semua kelas juga masih bebas, yang artinya guru sibuk sana-sini menyiapkan perihal KBM. Di kantinpun banyak para perempuan yang mencuri-curi pandang penuh perhatian terhadap Kevin. Bisa di deskripsikan Kevin itu berkulit putih, giginya rapih dan putih, tingginya 177 cm, alis dan Bulu matanya hitam pekat tebal, di lengkapi bola mata yg hitam pekat juga, yang jika ditatap seperti menghujam intimidasi. Hidungnya mancung dan runcing, badanya atletis, rambutnya di potong seperti gaya salah satu pemain bola terkenal Christiano Ronaldo. Seragamnya tidak besar dan juga celananya tidak kekecilan yang jelas apa yang dipakai oleh Kevin melekat pas pada tubuh atletisnya. Bajunya di keluarkan dengan dasi yang menggantung berantakan, jam tangan hitam di hiasi biru melekat pada tangan kanannya. Kevin sedang asik memakan bakso spesial yang memang tadi di rekomendasikan oleh duo Agus sebagai makanan terenak dan terlaris di sekolahannya. Ketika mereka sibuk mengobrol menanyakan kehidupan sekolah Kevin di Jakarta, segerombolan perempuan memasuki kantin dengan dandanan remaja-remaja masa kini dan menghampiri ke meja Kevin. "Eh Agus, traktir dong??" gadis cantik, berwajah arab dengan lipstick merah menyala dan berpakaian ketat, melirik Agus yang di sebut mereka dengan Agus KW a.k.a Agus yang dekat dengan Kevin "Eh Ambar!! Sorry gua lagi boke nih! Noh loh minta Rizal" Ucap Agus KW dengan cengiran polosnya. "Elah Lagian gua bohong kok!!" ucap wanita yang di panggil Ambar itu sambil berjalan duduk diikuti temannya yang lain. Segera mereka bergabung bersama Agus dan kawan-kawan. Gadis yang di sebelah Ambar melirik Deni dengan mengisyaratkan 'siapa di sebelah Agus?' Deni yang mulai tersadar menyenggol Agus KW. "Ah iya ladies !! ini Al siswa baru" Tunjuk Agus KW ke arah Kevin, sedangkan Kevin yang merasa namanya di panggil mulai menatap ke arah gadis-gadis yang berada di hadapannya dengan berwajah acuh tak acuh. "Ah Al ya, kenalin gue Ambar!" "Gue Bulan" Gadis dengan behel di giginya, berlipstick merah dan terlihat sedikit agak kurus dan pendek di banding yang lainnya. "Gue Caroline" Gadis berlipstick pink dan berbehel biru di giginya, terlihat sedikit tomboy itu dapat di lihat dari penampilannya yang sedikit urakan. "Gue Hani, pacarnya si Tompel tuh!!" Gadis berlipstick pink pucat, dengan senyuman polos dan terlihat sedikit natural di antara yang lainnya menunjuk Ardian yang dari tadi sibuk memakan baksonya tanpa memperhatikan kedatangan pacarnya. "Al" Ucap Kevin cuek, ia menggunakan panggilan Al hanya untuk orang asing saja dan yang biasa memanggilnya 'Kevin' hanya orang yang ia sayangi, keluarga dan orang-orang yang ia sayangi saja. sudah tak aneh jika Kevin di keliling oleh gadis-gadis berwajah menor ala-ala masa kini, namun ia tetap tahu bahwa gadis yang berwajah menor tidak selalu berhati jahat seperti yang di ceritakan di dalam novel-novel bertajuk kisah cinta semasa sekolah. Ini hidup yang kadang terbalik. Mereka mengobrol asik di selangi ketawa dan aksi jail dari Janu yang menggoda siswi-siswi yang lewat. Kecuali Kevin ia hanya menjadi penonton setia dan sedikit melamun. 'Waspada?' Ia masih tidak mengerti ucapan Arni tadi, waspada dari apa? Sampai suatu ketika siswi-siswi yang terlihat memakai almamater OSIS memasuki kantin dan akan melewati meja Kevin. Tiba-tiba Ambar berdiri dan mengangkat kakinya untuk menghalangi jalan gadis-gadis tersebut. "Eh Ar tar gua curhat lagi ya???" Ambar berbicara kepada salah-satu siswi yang berada di gerombolan tersebut. "Eh Ambar, boleh kok!!! Tapi,,, cium pipi gue dulu" ucap suara itu, yang kemudian Kevin mendongkak dan melihat wajah gadis yang di temuinnya tadi pagi 'Arni'. Kevin memperhatikan obrolan gadis-gadis itu dan mengernyitkan alisnya. Seorang ketua OSIS berteman dengan siswi-siswi menor yang jelas-jelas menyalahi aturan sekolah. "Hih luh mah Ar kagak waras napa!!" Agus Asli menyahut sambil melihat Arni iba. "Hah napa loe Gus!" tantang Arni sambil melirik sinis Agus Asli dan ia melirik Kevin sekilas, namun mata mereka bersitatap secara kebetulan yang menyebabkan Arni menoleh salah tingkah. "Mending cium gue Ar, kan enak di cium bu KetOS" Janu mengerling kearah Arni yang langsung di hadiahi tonjokan pada tangannya oleh Ardian. "Eh Ni bilangin, ke kakak lo sore tar tanding bareng kampung gue" Ardian menyahut. "Siap!! Eh Bar gue duluan ya, anak-anak udah nunggu tuh" Arni menunjuk teman-teman yang sudah memanggil-manggil Arni. "Eh padahal gabung aja loe di sini" ucap Caroline, yang di iyakan oleh kawan-kawannya. "Iya entar-entar lagi. Duluan ya!! Bar loe chat aja ya" Arni melirik Kevin lagi sebelum pergi dengan sedikit berlari ke arah teman-temannya yang menunggu dia dengan padangan jengkel. Namun Arni merayu mereka satu-persatu, hingga gelak tawa terdengar dan menjadi pusat perhatian kantin. Merekapun melanjutkan mengobrol ria bersama, namun dari awal Kevin hanya berwajah datar dan cuek karena ia merasa risih di tatap terang-terangan oleh Ambar dan kawan-kawannya, terlebih siswi-siswi di kantinpun tak berhenti-hentinya melirik Kevin dari tadi. Tak lama Arni datang lagi. "Vin lo di panggil ke TU tuh!" Ucap Arni langsung to the point, Kevin tiba-tiba menatap Arni dengan menaikkan sebelah alis tebalnya. "Gue kira,,,, lo kangen sama gue Ar!" Janu berakting seperti kecewa di putuskan berkali-kali oleh pacarnya. "Gilbang lo, udah ah ayo cepetan Vin!" Ucap Arni menahan geramannya dan memukul dengan ringan bahu Janu. "Lo kenal Al Ar?" Bulan dan Hani bertanya bersamaan. Awalnya arni kebingungan 'Al! Siapa Al?' namun ia langsung tersadar dan hanya menganggukkan kepalanya dan pergi lagi bedanya kini dia diikuti oleh Kevin. "Loe dari SMP mana?" tanya Arni sambil melirik Kevin pasalnya ia merasa aneh, kevin yang merupakan calon peserta didik baru tapi dia sudah bisa bergabung bersama kelas XII seangkatannya, anak nakal pula. Ekspresi Kevin sedikit kebingungan, hingga akhirnya ia berwajah datar kembali. Ternyata Arni menganggap ia anak baru dari kelas X. Jadi Kevin tidak menjawab, dalam pikirannya berkomentar. Untuk apa menjawab? Pertanyaannya juga salah! Ya jelas jawabannya pun makin salah! Karena merasa di acuhkan oleh pria di depannya Arni menjadi salah tingkah dan mulai lirik kesana-kesini, iapun mengalihkan pembicaraan. "Pakaian lo emang ga bener-bener ya." ucap Arni terdengar jengkel atas penampilan Kevin, padahal ia jengkel karena pertanyaan yang tadi tidak di jawab oleh Kevin. "Lo siapa gue?" tanya balik Kevin "Heh apa musti gue sombong dikit!!" "Lo emang sombong!" "Apa? Lo bilang Hah!!" jawab Arni penuh emosi "Lo b***k ya?" "Lo tuh ya udah salah, ngeyel lagi!!" "Wajar bikin salah namanya juga belajar di sekolah!!" "s****n" Desis Arni dengan sangat pelan Hampir tak terdengar. Percakapan atau lebih tepatnya perdebatan mereka terhenti karena sudah sampai di ruang TU. Tanpa berkata Arni meninggalkan Kevin sendirian sedangkan Kevin mengedikkan bahunya tak perduli dan mulai memasuki Ruangan TU. Arni menghentakkan kakinya dan bergumam "Adek kelas kok songong, mentang-mentang cakep dan kaya. Cih" Kringgggg, kringggg, kringg Bel pulang sekolah berdering menunjukan sudah pukul 2 siang, setaip pintu mengeluarkan semut-semut berseragam keluar dari persembunyiannya yang berjumlah ratusan. Arni berjalan sendirian, karena sahabat karibnya Bella sedang kumpulan eskul Paskibra, maklum Bella menjabat sebagai ketua di sana. Ketika Arni sedang melamun di halte tiba-tiba terdengar bunyi handphonenya. "Hallo!" "Iya bi" "Jam 3 lah" "Oke" Arni di telphone bibinya untuk membeli pencuci wajah di minimarket terdekat. Sambil berjalan Arni mendengarkan musik melalui aerphone di hpnya, ia sedikit memilih jalan karena tadi terjadi hujan deras menyebabkan becek dan air menggenang di sepanjang jalan aspal yang bolong karena rusak. Saat tanpa sadar akan menginjak jalan yang banyak airnya, ia segera menyeimbangkan badan "Hufttt" suara helaan nafas menyatakan bahwa ia berhasil melewatinya. Namun nasib! ketika Arni tersenyum karena tak jadi menginjak air, Sretttttttt "Ahhhhh" sebuah mobil merah melintasi jalan raya di sampingnya dan mengemudi di jalan yang berlobang hingga airnya bergejolak ke atas dan tiba saatnya terciprat ke arah Arni lebih tepatnya Almamater kesayangannya basah dan kotor. Arni terdiam ia syok akan kejadian barusan. Hingga akhirnya satu suara yang menyebalkan terdengar dari mobil di sampingnya. "Makanya kalau jalan hati-hati dong" Arni menatap sinis, sebelum akhirnya berteriak "Kevinnnnnnnnn!!!!! Adek kelas s****n!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN