Sesampainya di rumah Arni cemberut, ia melirik almamater yang sudah basah di cuci dan di gantungkan di balkon kamarnya, berarti dia tidak menggunakan almamaternya besok di sekolah.
Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu membuat Arni tersadar dari lamunannya dan terdengarlah suara Bi Hanum dari luar.
"Arni ayo makan keburu malem"
"Iya Bi!!!!"
Arni berjalan menuruni tangga, meskipun ia malas ketika makan malam tiba, karena disana ia akan bertemu dengan Ayahnya yang selalu melarang ini-itu terhadap Arni.
Di meja makan sudah ada bi Hanum, kak Arya, Kak Nisa, nek Zahra, Kek Hilman dan tak lupa adiknya yang masih di bangku kelas 6 SD Zaidan.
Baru saja Arni duduk di meja makan, ayahnya sudah memberikan serentetan pertanyaan.
"Masa jabatan kamu sampai kapan? Jangan terlalu fokus organisasi ingat ujian!! Tadi di sekolah di suruh jadi babu lagi?"
Dengan satu helaan napas Arni menjawab sabar dan menundukan wajahnya sambil menatap makanannya.
"Bulan September. Iya Arni juga tau!
Engga!!"
"Pokoknya Papa ga mau tau, kamu jangan ikutan organisasi apa-apa lagi rangking jadi turun juga, sekolah itu belajar, bukan main-main!!"
Ayahnya kembali berceloteh, namun Arni hanya mengangguk saja. Sudah terbiasa dirinya selalu di pojokkan karena kesibukannya di sekolah. Bahkan kepergian ibunya pun sering disebut-sebut salah dia.
Jika mengingat kata seorang Ibu. Rasanya Arni ingin menangis. Sudah 5 tahun ibunya meninggalkan keluarganya, detik-detik terakhir ia masih mengingat jam berapa, tahun berapa dan wajah terakhir ibunya sebelum ibunya pergi meninggalkan keluarganya. Ayah yang dulunya lembut dan selalu menuruti kemauan Arni mendadak menjadi kaku, dan selalu menyalahkan Arni atas kepergian ibunya karena yang terakhir bersama ibu adalah dirinya.
'Benarkah ia yg salah?'
Mendengar itu hatinya miris dan seakan teriris, harusnya Arni yang lebih terluka akan kepergian ibunya duku, karena secara langsung Arni menyaksikan detik terakhir keberadaan ibunya.
Arni melirik Zaidan, adiknya yang malang. Sejak umur 6 tahun Zaidan sudah ditinggalkan oleh ibunya tapi, bila perlu Arni ingin seperti Zaidan yang tidak mengetahui dan mengerti apa-apa sehingga adiknya itu selalu terlihat riang gembira.
Matanya mulai berkaca-kaca jika ia mengingat masa lalu suramnya, sampai seseorang menepuk pundaknya.
"Udah de, bapakmu emang gitu!! Jangan nangis ah!!" Bi Hanum tersenyum kearah Arni, dengan cepat Arni mengusap air matanya dan melanjutkan kegiatan makannya.
Bibi Hanum adalah adik ayahnya dan merupakan Mahasiswa akutansi semester 6 di universitas XYZ, bibinya memang lebih dekat dengannya, selain sesama wanita mereka juga memiliki hobby yang hampir sama, meskipun ada kak Nisa, akan tetapi kak Nisa selalu sibuk berkerja di kantornya. Pulang pun palingan malam.
Setelah makan malam Arni merenung sendirian di kamar, sebelum akhirnya terlelap di bawa oleh kegelapan.
Pagi tiba, suara dering ponsel, menyebabkan gadis yang sedang tertidur pulas menjadi gelisah
Tet-tet-tet-tetttttttt
"Shhhh berisik!!!"
"Arni bangun udah siang, kamu ke sekolah engga?" dari luar pintu, kak Nisa membangunkan Arni.
Arni langsung mengedipkan matanya dan mencari ponsel yang sejak tadi minta di lempar karena bunyinya yang membisingkan.
"Hal-"
"Ar ke Sekolah cepetan!!!" Suara Bella terlihat buru-buru dan panik
"Emangnya ada apa?" Tanya Arni yang masih memejamkan matanya dan belum sadar akan nada suara Bella yang panik.
"Sekarang tuh pembagian kelas Arni sayang!!"
"Terus?"
"BU JASMIN NYURUH PENGURUS OSIS YG NGURUSNYA, TERUS TADI DIA MARAH-MARAH KARENA ELO BELUM DATANG....KAMPRET!!!!!!!!"
Klik
Arni mematikan panggilannya dan mulai melakukan ritual pagi sebelum berangkat sekolah.
Karena bisa gawat jika berhubungan dengan bu Jasmin, guru wanita Killer seantero sekolahnya.
Arni keluar kamar dan langsung bersiap-siap, sesampainya di pintu depan, ia berteriak.
"Arni berangkat!!!!!"
Tap. Tap. Tap. Tap. Tap
Gudubrakkkkk----
"Aww sakit!!" lirih Arni setelah tersandung pintu gerbang rumahnya
"Aduh Arni, kenapa lagi? Buru-buru amat. Bareng kakak aja ayo!" kak Nisa turun dari motor dan membantu Arni berdiri. Arni terus berceloteh agar kak Nisa mengendarai motor dengan cepat, karena Kak Nisa sudah terbiasa dengan celotehan adiknya, jadi dia hanya mengangguk tanpa berkomentar.
Dan disinilah Arni, di depan gerbang sekolahnya.
"Makasih kak, Arni duluan ya"
"Iya hati-hati jangan jatoh lagi"
Arni menganggukkan kepalanya dan mulai memasuki lingkungan sekolah, dia melihat pengurus OSIS dan MPK sudah kumpul di lapangan yang dipimpin oleh lelaki tampan dengan name Tag Dika Putra Pratama atau Ketua MPK di sekolahannya. Tidak hanya menjabat sebagai ketua MPK akan tetapi dia juga menjabat sebagai ketua Basket sekolah selama 2 periode berturut-turut.
Ehem..
Dehaman Arni membuat semuanya menoleh.
"Maksudnya ini ada apa?" tanya Arni dengan melirik Dika sinis. Sudah bukan rahasia umum jika ketua OSIS selalu bersitegang dengan ketua MPK. Dan siswa yang lain hanya menonton sambil menunggu adu mulut antar Arni dan Dika.
"Makannya Ar jangan datang siang mulu!" Dika balas menatap sinis Arni dengan nada cemoohannya. Arni langsung melirik anggota organisasi yang berada di kubu Dika, mereka juga saat ini sedang menatap sinis kepadanya.
"Kakak kan engga tau di suruh datang pagi! Lagian ini masih setengah tujuh kok!!. Dan Siapa yg nyuruh kalian datang pagi?"
Lisabel atau wakil ketua OSIS mengernyitkan alisnya dan Arni yang melihat hal tersebut mulai membatin
'kenapa semua orang di sekelilingnya suka mengernyitkan kan alis, apa lagi si Kevin songong'
" Loh!! kata kak Dika disuruh datang pagi!?" ucap Lisabel polos, kini giliran Dika yang menjadi sorotan. Meski di tatap oleh banyak orang Dika tetep memasang wajah tampan yang arogan
"Lagian dia sering di sms ga pernah nyalakan hpnya?"
"Eh maaf perasaan tadi pas kak Bela telphone hpnya nyala deh! diangkat lagi!!" Bella yang mendengar sahabat baiknya selalu disalahkan oleh Dika, mulai membela dengan sengit.
"Ah udah-udah, lanjut aja ke acara sekarang, malu di lihat siswa-siswi lain!!" ucap Arni yang mulai risih di tatap oleh hampir seluruh penghuni sekolah, minus makhluk astral ya, kecuali Dika si makluk astralnya.
Mereka pun melanjutkan perintah dari sekolah untuk mengumumkan perihal pembagian kelas.
Arni memang tahu dari awal bahwa Dika sedikit tidak menyukainnya karena, dahulu saat ada turnamen basket, sekolah lebih memilih OSIS daripada eskul Basket dalam mengirimkan lomba Basket, padahal Arni tidak tahu apa-apa masalah persoalan itu, karena hal tersebut sekolah yang menunjuk.
Akan tetapi menurut adik kelas, Dika iri terhadap Arni yang sering di turuti perintahnya oleh pengurus OSIS bahkan oleh pengurus MPK sekaligus, namun Arni selalu positive thinking akan masalah itu dan sering menganggap bahwa
'Dika suka sama gue, bukan iri, cuman guenya aja ga peka-peka, jadinya si Dika marah-marah deh!'
Setelah selesai mengumpulkan seluruh siswa dan siswi di lapang, mereka mengumumkan perihal pembagian kelas. Siswa-siswipun menuju kelasnya masing-masing untuk berebut kursi paling belakang.
Arni keluar dari toilet dan bergegas menuju kelasnya.
"Arni bisa tolong ibu" ibu Rani yg baru keluar dari perpustakaan menghentikan langkah Arni yang kelewat buru-buru itu.
"Ada apa bu?"
"Coba tolong kamu ambilkan Buku paket BK di meja ibu"
"Siap bu!" Arni pun berjalan menuju ke ruang guru dan mencari meja ibu Rani, sesampainya di sana ia melihat tumpukan buku paket berjudul
BIMBINGAN KONSELING.
"Wuaduh banyak bener!"
Arni kebingungan mengambil semua bukunya, tapi mau tidak mau ia mngambil semuanya dan buku itu menutupi wajah Arni yang kelewatan menahan berat di tangannya.
Ia mendengar dua langkah mendekat.
"Eh Nak bantu Arni ya kirim bukunya ke kelas."
Nah Arni kenal suara siapa ini, siapa lagi jika bukan ibu Rani yang membuat Arni sampai kewalahan seperti ini.
"Hem"
Tapi suara yang kedua dengan jawaban singkatnya, membuat kening Arni berkerut karena dia tidak ingat siapa pemilik suara tersebut, selain asing suara tersebut hanya sejenis dehaman saja.
Tiba-tiba sebagian buku di depan wajah Arni berpindah tempat, sehingga wajah Arni terlihat dan begitu Arni mendongkakkan kepalanya dia terkejut melihat wajah tampan di depannya.
"Lo!" Arni terkaget-kaget karena Dewa yunani versi remaja hadir di hadapannya.
Kevin memutar bola matanya dan berjalan mengikuti bu Rani yang sudah duluan didepan mereka.
Dalam hatinya Arni berteriak kesal.
Muka cakep tapi songongnya minta ampun!!
Arni berjalan di samping bu Rani dan mencoba bertanya dengan apa yang di pikirkannya dari awal.
"Ibu wali kelas Arni ya bu?" tanya Arni dengan senyuman tulusnya.
"Iya, ibu juga engga nyangka bisa jadi wali kelas, kelas unggulan lagi"
"Ah ibu bisa aja" Arni cengengesan dan menatap sinis kearah Kevin.
Mereka pun sampai di lorong sekolah paling ujung dan di kanan lorong terdapat pintu dengan berlogo krlas XII MIPA 1.
"Loe stop di sini!" hadang Arni kearah Kevin.
"Maksud!"
"Ya loe boleh kembali ke kelas satu sana!"
Sebelum perdebatan mereka semakin menjadi-jadi bu Rani menengok ke belakang dan menyahut.
"Eh kenapa malah debat"
"Itu bu Kevinkan kelas X kasihan dia ntar ga masuk!" ucap Arni kikuk dan kalimatnya seolah-oleh mengungkapkan perhatian untuk keadaan Kevin.
"Loh Al kan sekelas sama kamu Ar" ucap bu Rani lembut dan tenang, tapi untuk Arni itu ucapan terhorror sepanjang hidupnya, bagai di tusuk ribuan belati, mata Arni melotot tak percaya.
"Loh kok Bisa Bu!!!!"
"Bisalah!, udah cepet masuk!"
Arni melirik ke arah Kevin yang masih setia mengikutinya sampai kedalam dan menaruh buku paketnya diatas meja guru.
Arni pun mengedarkan pandangannya ke sepenjuru kelas.
Barang kali ada bangku yang masih kosong dan ia pun menemukan bangku kosong di sudut belakang dan di samping Rara, Arni berjalan dan duduk setelah menyapa Rara di sampingnya, namun ekor matanya melirik Kevin yang masih berdiri di depan kelas. Arni memang tidak hadir saat pembagian kursi di kelasnya, karena sibuk mengurusi pembagian kelas bersama organisasinya.
"Maaf ya tadi pada saat pembagian tempat duduk ibu lupa ngenalin anak baru di kelas kalian!
Kenalin dia Kevin Andreansyah Alvaro pindahan dari Jakarta, siswa yang berprestasi loh!"
Arni mencebikkan mulutnya dan mulai mngomel dalam hati
'Berprestasi dari HONGKONG!!! yang ada nyusahin!!'
"Kalau boleh tau? prestasi apa aja ya bu?" Ira disudut sebelah kanan bertanya dengan wajah cemerlang sambil curi-curi pandang kepada Kevin.
"Juara 3 Olimpiade Fisika tingkat provinsi jakarta, juara 1 Majalah Tampan 2017, juara 1 puisi tingkat provinsi dan masih banyak lagi. Kalian bisa tanya langsung ke narasumber tampan kita hari ini"
"Kevinmah emang tampan bu! Abang aja suka!!!" komentar Agus KW, ya Agus memang masih termasuk siswa pintar di seangkatannya, mengingat juga ia merupakan ketua eskul Futsal.
Semua orang tertawa mendengar guyonan bu Rani dan Agus KW, berbeda dengan Arni yang kini melotot tak percaya, mulutnya terbuka lebar, ia masih tidak percaya bahwa siswa menyebalkan di depannya itu ternyata siswa berprestasi.
"Kalau boleh tau panggilan namanya siapa, pengen si tampan yang jawab langsung bu" Lalla merajuk terhadap bu Rani dan hanya di balas senyuman oleh bu Rani.
"Al" singkat padat dan jelas itulah jawaban Kevin. Yang lain hanya ber oh ria atas jawaban datar seorang Kevin. Namun Arni menatap Kevin tidak suka karena perkenalan dirinya yang terdengar arogan dan cuek.
"Oh iya kamu duduk ke tempat tadi, tapi,,,,, loh kok jadi Lala yg di situ!!" Bu Rani menunjuk Lala yang dari tadi cengengesan. Merasa tidak bersalah Lala mulai mengeluarkan nada bujukannya
"Ga papakan bu!"
"Ga bisa Lala, tadikan udah di konclong sesuai kesepakatan, harus adil dong! Lagi pula ibunya Al nitipin anakmya sama Arni loh!" Bu Rani menggunakan nada dan ekspresi setenang mungkin mengingat Lala salah satu siswa yang keras kepala di kelas. Melihat jawaban tetap dari bu Rani, membuat Lala meminta maaf dengan canggung dan tersenyum polos, alhasil Lala mendapatkan sorakan dari penghuni kelas.
Arni masih kebingungan atas drama yang di ciptakan oleh bu Rani dan Lala.
'Kenapa bawa-bawa nama gue?'
"Ya sudah cepat pindah tempat Arni dan Lala, sok langsung saja! Hayo!" tegas bu Rani dengan aksen sundanya.
Sedangkan Arni yang merasa namanya di panggil celingak-celinguk tak mengerti. Seketika Lala pindah ke pojokan menghampiri Arni, Arni yg bingung akhirnya ikut berdiri dan mengikuti Lala berpindah tempat di bangku kiri kedua terdepan hanya bisa terdiam dengan pandangan kosong. Setelah drama Lala selesai, bu Rani menginterupsi Kevin untuk duduk disebelah Arni. Kevin pun menghampiri meja Arni dan duduk di bangku sebelah kanannya. Arni yang sudah tersadar menatap Kevin horor dan tercengang kearah bu Rani.
"Ibu ini serius" tanya Arni polos
"Engga!! Kalau kamu sekarang ibu nikahin sama Al di KUA"
Dan menggelegarlah tawa seluruh kelas, sedangkan Arni hanya mendengus kesal dan menatap sinis Kevin.