Tujuh hari berlalu sejak berpulangnya Endang. Rumah Anya kembali sepi, setelah kerabat Endang- Retno dan dua putrinya kembali pulang ke Solo. Menyisakan Anya yang kini duduk berhadapan dengan dua pekerja rumahnya. "Bi Yarni, Pak Parmin," Anya membuka suara lantas bergantian menatap sepasang suami istri yang sudah puluhan tahun bekerja dan mengabdi di keluarganya. "Maaf kalau ini terlalu cepat. Tapi njenengan berdua pasti sudah dengar juga tentang rencana pindah lagi ke Batam. Jadi maaf kalau saya nggak bisa pertahanin Bi Yarni dan Pak Parmin bekerja lebih lama." "Pokoknya saya ikut Non Anya, itu pesan nyonya yang selalu diulang-ulang beberapa hari sebelum meninggal, Non," potong Bi Yarni dengan cepatnya. "Bi... " "Itu amanah, Non. Tolong jangan cegah saya. Kedua anak kami sudah ikut su

