"An-Anya ... Revanya." seno mencoba mengguncang pelan pundak Anya. Si pemilik nama hanya mengangguk kaku merespon Seno. Tubuhnya masih terlalu lunglai setelah mendengar kalimat menohok dari ayahnya beberapa saat lalu. Bahkan sampai Anya sendiri tak sadar kalau saat ini tengah berada di dalam kamar Seno, bukan kamarnya sendiri, melainkan kamar Seno. "Mi- mi- minum dulu, Anya." Seno mendadak ikut kaku kala menghadapi Anya yang seolah menjelma menjadi patung tanpa nyawa seperti ini. Turut merasa bersalah lantaran insiden tadi, Seno sampai dibuat bingung sendiri bagaimana harus menghadapi Anya. Setelah menyesap hingga tandas air mineral yang dibawakan Seno, Anya tetap mematung tanpa suara. Dengan menggunakan punggung tangan gadis itu mengusap ujung bibirnya yang masih terasa perih. Seno yan

