01
1. Pesan Sialan.
Danish kini berusia dua puluh tiga tahun. Dia juga seorang manajer di hotel milik papanya. Ya! Dia seorang anak tunggal dari seorang duda dan pengusaha sukses bernama Suryo Alexi pria berusia Lima puluh tahun dengan total kekayaan yang melimpah. Pak Suryo tidak pernah menikah lagi setelah kepergian ibu dari Danis Alexi sepuluh tahun silam. Belum ada seorang pun wanita yang di kenalkan pada anak semata wayangnya itu sebagai ibu sambungnya. Meski sudah berusia setengah abad Pak Suryo masih sangat terlihat lebih muda dari usianya dan tak kalah tampan dengan si anak yang masih sangat muda.
Danish pulang ke rumah dan mendapati Sang Papa sedang duduk di depan TV sembari menatap layar ponselnya. Benda berbentuk kotak kecil nan canggih itu seolah menjadi benda terpenting yang selalu ia bawa. Terlebih akhir-akhir ini sang papa sering tersenyum sendiri ketika mengetik pesan di gawainya.
"Aku pulang," sapa Danish, menjabat tangan Papanya. Biasanya dia akan duduk sejenak menemani Pak Suryo dan menanyakan kabar. Namun, kali ini dia segera menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Dia sudah tidak sabar ingin melihat benda kecil nan mahal yang baru saja di belinya. Senyum dan semangat mengiringi setiap embusan nafasnya.
Langkah demi langkah pemuda itu menaiki tangga dengan wajah ceria di ikuti siulan-siulan penuh semangat meski badanya sangat lelah karena bekerja seharian.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dan dia bergegas ke dalam. Melempar tas kerjanya sembarangan dan meraih sebuah kotak berwarna merah berbentuk hati yang ada di saku depan jasnya. Danish duduk di kursi rotan yang ada di balkon lantai dua kamarnya. Itu adalah base camp favorit saat dia berada di rumah.
Di pegangnya kotak berwarna merah menyala itu dengan tangan kiri. Kemudian dengan pelan tangan kanan membukanya. Terlihat cincin dilengkapi berlian berwarna merah muda yang pasti sangat cocok bila di lingkarkan di jari manis kekasihnya. Untuk mendapatkan cincin itu Danish menguras setengah tabungannya karena harganya yang fantastis.Untuk membuat Sella bahagia dia akan melakukan apapun, uang bukanasalah besar untuknya.
Meski pun Danish satu-satunya calon pewaris hotel bintang lima milik papanya, tidak semua uang milik papanya bebas ia habiskan semaunya sendiri. Pria itu tetap menjadi pekerja dan di bayar. Tentu saja dia merintis usaha lain, yang baru berjalan satu tahun. Karena tidak ingin kalah dari ayahnya.
Angin yang bertiup di balkon rumahnya menerpa wajah, memberi kesejukan yang tak terkira. Sangat menyegarkan. Cincin berlian yang masih ada ditangan kanannya di perhatikan dengan saksama, sudah tidak sabar ingin segera mengajak sang kekasih dan melamarnya di atas kapal pesiar yang sudah di sewanya. Minggu malam besok rencana kejutan sudah siap. Kedua sudut bibirnya tersungging membayangkan wajah cantik Sella yang bahagia dengan kejutan lamaran yang audah di rencanakannya ini.
Danish mengarahkan pandangan ke pergelangan tangan, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 21.37.Dia memutuskan segera mandi. Kemudian baru menelefon Sella untuk memberi tahu bahwa dia ingin menjemputnya besok.
Pria itu masuk ke kamar mandi. Tak lupa menyambar handuknya yang ada di gantungan. Kemudian mulai membasahi tubuhnya dengan air. Sangat bersemangat. wajahnya terus berseri dan senyuman menghiasi setiap hembus nafasnya.
Kran yang berada di atas kepalanya mengalirkan air dingin mengguyur seluruh tubuhnya. Membersihkan busa-busa halus yang melekat di permukaan kulit. Kemudian Danish mengambil handuk dan melilitkan menutupi bagian sensitif miliknya. Dia berdiri di depan cermin. Memperhatikan bentuk tubuhnya yang sempurna. Tinggi, lengan berotot, perut dengan roti sobek dan kaki yang jenjang. Soal wajah dia memang sangat imut. Badan L-men, wajah bebelac dengan warna suara berat yang memikat. Kumis dan jambang selalu ia bersihkan setiap hari. Tidak membiarkan rambut liar tumbuh di wajah imut nya.
Setelah puas memandangi wajahnya. Dia kembali tersenyum malu. Ya! tiap mengingat bahwa besok dia akan melamar sang pujaan hati membuat hatinya kembali berdebar dan bahagia. Satu usapan lembut di hidung mancungnya mengakhiri ritualnya seusai mandi di depan cermin, bukan berdandan dia hanya merawat kulit wajahnya agar tetap tamoan.
Kemudian, Danish berjalan keluar dari kamar mandi tak lupa mengenakan pakaian tidurnya, yang berbahan adem dan tipis sangat nyaman untuk tidur. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan alas berwarna putih tulang. Pria itu sangat menyukai warna-warna cerah. Semua benda di kamarnya di d******i warna putih, kelambu dan karpet bulu juga berwarna senada.
Tangan kananya meraih ponsel yang ada di meja kecil di samping ranjangnya. Ada satu pesan yang harus di bukanya. Ya! Dari pujaan hatinya, siapa lagi kalau bukan Sella. Sejenak dia merasa aneh Karena tak biasanya Sang Kekasih mengirim pesan, dia lebih sering melakukan video call atau voice note.
Klik!
Danish, membuka pesan dari Sella.
[Aku ingin sendiri dulu]
Satu kalimat yang dibaca Danish dengan waktu sekian detik saja. Matanya melotot tajam mengulang-mengulang kembali isi pesan yang di kirim Sella. Dadanya terasa berat, dia yang semula santai, kini menjadi kaku. Menggelengkan kepala penuh tanya. Otot tubuhnya menegang dan embusan nafas kesal membuatnya terlihat sangat menyeramkan.
"Apa maksudnya ini?" gumamnya pelan sambil berusaha menghubungi Sang kekasih lewat panggilan telefon. Kedua ibu jari sibuk menekan-nekan layar ponselnya. Hatinya semakin tak karuan.
Tut ... Tut ... Tut....
Berkali-kali bunyi itu terdengar. Namun, tak kunjung diangkat oleh pemiliknya. Risau sudah memenuhi isi otaknya dengan prasangka buruk mengenai pacarnya.
"Sialan!" lirih Danish, dan mencoba menghubunginya lagi. Tidak ingin di hantui dengan sesuatu yang tidak pasti.
Panggilan terhubung, terlihat dari angka detikan yang ada di layar ponselnya. Namun, tak ada sapaan sama sekali. Membuat Danish yang sudah mencoba bersabar menjadi naik pitam. Pria itu mengepalkan satu tangannya lalu memukul-mukul pelan pahanya.
"Apa maksud pesan Kamu? Sella?!" tanya pria itu dengan suara tingginya. Emosinya sudah di atas ubun-ubun. Tenggorokannya yang kering di basahi dengan ludah yang berkali-kali ia telan.
"Kita udahan ya, aku tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Kamu!" jawab suara di seberang dengan tegas. Tanpa rasa bersalah, tanpa alasan. Sangat epic dan berhasil savage.
"Baiklah! Kalau itu mau Kamu!" sahut Danish tidak ingin terlihat lemah dan gengsi jika harus memohon untuk mempertahankan hubungan mereka.
Klik!
Sambungan telefon di matikan.
Mata Danish terpejam. Tidak! Ia tidak ingin meneteskan air mata untuk wanita yang telah memutuskan hubungan dengannya secara sepihak tanpa alasan yang mendasarinya. Sungguh berani wanita itu membuang laki-laki limited edition seperti dirinya.
"Dasar wanita gila! Sampah!" umpat Danish tak kuasa menahan rasa sakit hatinya. Dia membanting ponsel yang ada ditangannya.
Berganti baju ala kadarnya dan segera keluar kamar. Ingin menemui wanita itu di tempat tinggalnya.
**
2. Tak Kuasa untuk marah.
Braak!
Danish membanting pintu kamarnya dan segera berlari kecil menuruni tangga, di ujung tangga sekilas dia melihat sang papa yang tertidur dengan ponsel masih di genggam di atas dadanya. Pria itu mengambil kunci mobil di dekat meja TV kemudian membuka pintu dan segera berjalan cepat menuju garasi.
Dia duduk di belakang kemudi, menghidupkan mobilnya dan langsung menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen milik Sella. Mobil terus berjalan membelah kesunyian malam, di temani hati yang gundah pria itu mencoba tenang dan menguasai pikirannya. Meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
Sampailah mobil itu di perempatan terakhir sebelum belok ke tempat tujuannya. Detikan di lampu merah yang menunjukkan angka empat puluh terasa begitu lama, hingga Danish bertambah kesal dan tetap melajukan mobilnya tanpa menunggu lampu hijau menyala. Pria itu terus menginjak pedal gas dan sampailah di parkiran yang berada di lantai paling bawah gedung apartemen itu.
Apartemen yang ditempati Sella adalah miliknya, setelah resmi berpacaran Danish meminta kekasihnya yang biasa menyewa tempat kos untuk menempati apartemennya yang kosong. Tak sulit buat Danish untuk segera menemui Sella dan menanyakan semuanya.
Di depan lift, Danish menunggu dengan gusar. Jam di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 23:07 malam sudah begitu larut. Ketika pintu lift terbuka Danish melangkah masuk dan menekan angka sesuai dengan unit apartemen dimana tempat tinggal gadis itu. Suasana malam yang sepi membuatnya bisa mendengar degup jantungnya yang cepat dan embusan nafasnya yang berat karena masih merasa kesal.
Ting...
Pintu lift terbuka.
Danish berjalan cepat menuju apartemen miliknya. Dan sampailah dia, di depan pintu apartemen nomor 907. Setelah mengembuskan nafas panjang dan menguasai emosinya dia memencet bel dengan telunjuk kanannya.
Tidak ada sahutan.
Danish kembali menekan bel pintu.
Dan seseorang muncul di balik pintu sejenak setelah terbuka. Sella menatapnya dengan datar seolah tak terjadi apa-apa.
"Untuk apa ke sini malam begini?" tanya wanita itu cuek. Manik matanya hanya menatap sekilas lalu berbalik memasuki ruangan, dia sadar diri apartemen yang sedang di tempatinya sekarang adalah milik pemuda itu. Tidak mungkin dia mengusir sang pemilik dari rumahnya sendiri.
"Apa maksud pesan yang Kamu kirim?" Danish balik bertanya. Sambil memaksa gadis itu menghadap ke arahnya. Ingin marah! Namun, tetap tak kuasa ketika melihat mata sayu Sella. Jantungnya selalu berdebar dan tak bisa meluapkan amarah yang sudah di rasakan sejak dalam perjalanan. Nafasnya masih menggebu dan tangannya sedikit gemetar, belum bisa menerima keputusan sepihak dari wanita yang dicintainya.
"Aku ingin sendiri dulu!" jawab Sella tegas. Dengan paksa melepas kedua tangan Danish yang menggenggam kedua lengannya. Netranya menghadap ke bawah. Tidak mampu melihat kesedihan di sorot mata Danish. Meski rasa cinta itu sudah tak ada lagi, tetap saja kebaikan pria itu selalu di ingatnya.
"Apa yang membuat Kamu bertindak seperti ini?" tanya Danish dengan suara pelan mencoba selembut mungkin. Mengikuti Sella dari belakang ingin melihat jawaban lewat pancaran di manik matanya.
"Apa kurang jelas! Aku ingin sendiri! Tidak butuh alasan kenapa aku ingin sendiri! Mengerti!" sahut Sella tak ingin mengatakan alasan sebenarnya. Tidak mungkin!
"Tunggu!" seru Danish lalu mendorong pelan tubuh Sella ke dinding, mengunci dengan kedua tangan yang berada samping kiri dan kanan leher gadis itu. Wajah mereka saling berhadapan, hanya berjarak sekian senti. Danish bisa melihat dengan jelas bibir ranum nan merah milik Sella yang selama ini tak pernah di sentuhnya. Ya! Selama dua tahun mereka menjalin hubungan Danish tidak pernah mencium bibir gadis itu. Hanya beberapa kali dia mendaratkan ciuman di kening dan pipi milik Sella.
Bersama dengan embusan nafasnya Danish semakin mendekatkan wajahnya pada wanita yang di cintainya itu. Nafas dari hidung Sella semakin terasa di kulit pipinya. Bibirnya yang merah dan menggoda semakin jelas terlihat di netranya. Untuk kedua kalinya amarah itu kembali redam karena rasa cinta yang begitu besar untuk sang pujaan hati Sella Anindya.
"Apa yang Kamu lakukan!" bentak Sella mencoba mendorong Danish yang semakin mendekat. Namun, usahanya sia-sia tenaganya tak menggeser sedikit pun, Pria tampan itu masih di posisi semula bahkan semakin dekat. Baju malam berbahan tipis yang dikenakan Sella menggelitik dirinya untuk melakukan hal lain. Namun, hatinya terlanjur sakit. Sungguh dia tidak menyangka hubungannya dengan Sella berakhir seperti ini.
'Selama ini aku memperlakukanmu seperti ratu! Tapi Kamu membuangku seperti sampah! Memutuskan hubungan dengan sepihak! Kejam sekali! Dasar Iblis sialan!' batin Danish. Mulutnya mengatup dengan nafas berat dan tatapan tak percaya melihat gadis manis yang dipujanya ternyata menyimpan senjata yang siap menghancurkan rasa cintanya kapan saja.
Sella masih mencoba melepaskan diri dari kuasa Danish. Tidak suka di perlakukan seperti itu, kasar dan kekanakan menurutnya. Kadang Danish memang kurang dewasa untuk beberapa hal.
"Lepaskan aku!" pinta Sella menarik lengan kanan Danish.
Sudah tidak tahan melihat tatap mata pemuda itu yang seolah-olah ingin menerkamnya.
Danish mundur, refleks Sella berjalan menjauhi pria itu. Kulit wajah yang biasanya terlihat putih kini memerah karena marah.
Danish kembali meraih tangan Sella, mencegahnya enyah bebas begitu saja darinya.
"Jelaskan kenapa Kamu mengakhiri semuanya begitu saja?!" tanya pria itu pelan dengan menekankan bahwa dirinya benar-benar ingin tahu alasan Sella memutuskan hubungan mereka dengan tiba-tiba.
"Lepaskan!" bantah Sella menarik lengannya dari jawatan tangan Danish. Namun, hal itu membuat mereka berdua sama-sama terjatuh di atas sofa. Badan kekar pria itu menindihnya. Sangat dekat tanpa sekat. Selama ini mereka berpacaran tak pernah mereka melakukan hubungan di luar batas, jangankan hubungan suami istri, ciuman bibir pun tidak pernah sebelumnya. Mereka dengan posisi ini mungkin untuk pertama dan terakhir kalinya.
Dengan tubuhnya yang berada di atas Sella seperti itu, setan menggoda Danish, ingin memaksa gadis itu, menerima kejahatan imajinasinya. Sejenak pikiran seperti itu terlintas dalam benak Danish. Namun, dengan segera pria itu menepisnya. Tidak! Sella tidak pantas mendapatkan ciuman pertamanya apalagi sesuatu yang telah dijaganya selama ini. Dirinya terlalu berharga.
Sella memejamkan mata, takut dengan apa yang akan di lakukan Danish yang ada di atas tubuhnya. Walau bagaimanapun dia adalah lelaki biasa masih muda dan normal.
Untuk ke sekian kalinya, pria itu tak dapat marah meski telah di putuskan sebelah pihak. Wajah Sella yang ketakutan selalu saja meluluhkan hatinya.
"Kamu boleh, pergi dari ku, memutuskan hubungan denganku! Tapi berikan itu pada ku!" ancam Danish sambil meraih gadis itu dalam pelukannya. Dia tidak ingin kebucinnannya selama ini hanya sia-sia. Setidaknya, meski tak mendapatkan hati dan cinta Sella dia bisa mendapatkan sesuatu yang paling berharga
yang di miliki gadis itu.
Apa yang akan di lakukan Danish?
Bersambung.
===========
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dreams_dejavu