04

2226 Kata
4. Makan Malam Tak Terlupakan. Jika biasanya Danish yang diminta datang untuk menemui Pak Suryo di ruang kerjanya. Kali ini spesial, Pria paruh baya dengan karisma yang tak pernah padam itu, berjalan ke ruangan anaknya dengan sengaja. Beberapa staf bawahan Danish melihat penuh keheranan dan refleks menunduk memberikan hormat ketika sanga direktur utama mendatangi ruangan putranya untuk pertama kali sejak Danish menjadi kepala manajer bagian di hotel itu. Pintu terbuka, Danish dan asistennya Doni masih duduk di kursi masing-masing dan sibuk dengan tumpukan map di hadapannya. Seketika Doni segera berdiri dan menyapa Pak Suryo, sedangkan Danish menatap nanar ke arah sang papa. "Kamu tidak lupakan acara makan malam hari ini?" tanya Pak Suryo berdiri di depan meja kerja putranya. "Emm ..., tentu tidak, Pa," jawab Danish sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia hampir saja lupa. "Ya, sudah kita pulang sekarang!" suruh Pak Suryo dengan wajah berbinar, keceriaannya terpancar hingga orang yang melihatnya pasti tahu kalau pria itu sedang bahagia. "Oh, tentu Pa," jawab Danish tak dapat menolak, sembari menggigit bibirnya karena tidak bisa menepati janjinya pada Doni untuk menemani lembur hari ini. Dengan senyum terpaksa Doni mengangguk. "Ok!" Semangat lemburnya ya Don!" ucap Pak Suryo sembari berjalan keluar dari ruangan putranya, senyum tipis-tipis masih mengembang di bibirnya. Kini hanya ada Doni dan Danish yang sudah bersiap untuk pulang, mengemasi berkas-berkas dan menutup layar monitornya. "Memangnya nanti malam ada acara apa?" tanya Doni penasaran, tetapi wajahnya tak lepas dari layar monitor yang ada di hadapannya. "Mau makan malam sama calon ibu tiri Gue! " jelas Danish sembari tersenyum menampakkan lesung di kedua sisi pipinya. "Yang benar?" tanya Doni melotot kali ini dia menatap Danish dengan tatapan tak percaya, beralih dari layar monitor yang menjadi teman setianya. "Iya," jawab Danish dan berlalu begitu saja tidak ingin menjawab semua rasa penasaran asistennya. Meski pun Doni adalah asistennya tapi Danish tak pernah menganggapnya sebagai bawahan. Karena Doni sudah bersahabat dengannya sejak dulu saat Sekolah Menengah Pertama. Danish berjalan cepat menyusul Sang Papa yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju tempat parkir. Seperti biasa saat bisa pulang kantor bersama Danish akan mengemudikan mobilnya sendiri. Danish duduk di belakan kemudi dan Pak Suryo di sebelahnya. "Jangan lupa sabuk pengamannya, Pa!" suruh Danish sejenak sebelum mobil di jalankan. Mobil mulai berjalan arah pulang, ke rumah Pak Suryo. "Nanti kita makan malamnya di rumah atau dimana, Pa?" tanya Danish membuka obrolan. "Di rumah saja, nanti kalau Kamu sudah setuju, baru papa akan mengajaknya makan di tempat terbuka, rekan papa kan banyak, takut kena gosip," jelas Pak Suryo. "Danish, akan selalu mendukung keputusan Papa, ini pertama kalinya Papa menyukai wanita setelah kepergian Mama, tak ada alasan untuk Danish, tidak menyetujui pilihan Papa, Danish sangat percaya dengan pilihan Papa," sahut Danish meyakinkan. Di setiap malan selama sepuluh tahun setelah kepergian Sang Mama, Pak Suryo selalu menghabiskannya sendirian. Dia bukan pria nakal yang menyukai hubungan singkat cinta satu malam, atau menjalin ikatan tak berguna. Dan jika kali ini dia ingin mengajak seorang wanita untuk mendampingi hidupnya. Pak Suryo pasti sangat mencintai wanita itu, siapa pun orangnya. "Kamu, memang anak Papa yang terbaik," sahut Pak Suryo mangut dengan bibir melebar. "Iya, Danish enggak mau Papa kesepian kalau Papa menikah, setidaknya Papa punya teman mengobrol dan menemani Papa saat Danish kerja atau lembur di luar kota," kata Danish mengangguk bahagia. Pak Suryo, ikut mengangguk dan menyuruh Danish menepikan mobilnya ketika sampai di pusat perbelanjaan yang dekat dengan rumahnya. "Sebentar ya, Papa mau beli baju!" ucap Pak Suryo berencana memilih baju santai untuk di kenakan nanti malam, ingin terlihat beda di depan calon istrinya. "Iya, Pa," jawab Danish menepikan mobilnya dan memarkirkan di tempat yang dekat dengan pintu masuk. Sepasang bapak dan anak itu keluar dari mobil dan berjalan beriringan masuk ke dalam mall. Melihat dua pria berdasi beberapa wanita pramuniaga segera menghampiri Pak Suryo dan Danish dengan antusias. Kemudian mereka berjalan ke sebuah gerai pakaian bermerek G. Danish menemani Pak Suryo yang sedang memilih baju santainya, Sang Papa akhirnya mendaratkan pilihan pada sebuah atasan berwarna merah maron, sangat tak biasa karena papanya paling sering memakai atasan warna hitam, putih dan abu-abu sesuai hidupnya yang monoton dan tidak berwarna. Setelah membayar di kasir mereka segera pulang, masih ada waktu tiga jam sebelum acara makan malam. Sesampainya di rumah Pak Suryo menyuruh Bi Inah yang sedang mempersiapkan hidangan makan malam untuk mencuci baju atasan yang baru di belinya, ini sungguh di luar kebiasaan Pak Suryo. Ya! Semua orang yang sedang jatuh cinta biasanya menjadi kekanak-kanakan tak pandan usia, Pak Suryo yang berusia hampir setengah abad pun ingin mengenakan kaos warna merah maron, sama seperti wanita yang akan datang nanti malam. ** Setelah mandi dan mengecek ponsel pribadinya, Danish kembali bernafas kesal. Pesannya untuk Sella lewat sebuah aplikasi berwarna hijau di gawainya belum juga di buka, padahal dia sudah yakin ingin mengajaknya kembali merajut kasih sayang, apa pun syaratnya. Cinta dan hatinya masih seutuhnya milik Sella Anindya, wanita yang dua tahun lebih tua darinya dan berhasil membuatnya nyaman. Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 19.45. Danish segera beranjak dari kamarnya dan melangkah pelan menuruni anak tangga menuju ke ruang makan. Banyak sekali menu yang sudah tersaji di atas meja, sate ayam, rendang, salad, balado, sambal, tumis sayuran buah dan minuman dingin. Danish sampai menelan ludah melihat semua hidangan yang terlalu banyak lain dari hari-hari biasanya. "Untuk apa masak sebanyak ini Bi?" tanya Danish pada Bi Inah yang sedang menata peralatan makan. "Bapak yang menyuruh, Mas," jawab Bi Inah sedikit manyun, harus pulang larut karena makan malam hari ini. Danish mengangguk, sembari duduk. Tidak sabar ingin segera makan. Tak berapa lama, Pak Suryo dayang memakai atasan warna maron yang di belinya tadi. Bau parfum tercium bersamaan dengan kehadirannya. Sang Papa memang terlihat lebih muda memakai baju pilihannya itu. Rambutnya juga terlihat baru di potong, begitu juga kumis dan jambangnya yang tampak rapi. "Wow," celetuk Danish menggoda, sambil memperhatikan penampilan Pak Suryo dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Pak Suryo tersenyum dan menggerakkan sepasang alisnya. "Keren, Pa," puji Danish untuk kedua kalinya. Ting ... Tong.... Suara bel pintu membuat Pak Suryo dan Danish sling menatap, tamu agung yang mereka tunggu sudah datang. "Biar Papa yang membukanya," kata Pak Suryo. Kemudian, berjalan menuju pintu depan dengan bersemangat. Sedangkan Danish masih mengungu papanya duduk sembari menatap menu di meja makan. Ceklek! Pintu terbuka, seorang wanita nampak. Wajahnya cantik dipoles dengan bedak tipis, bibirnya berwarna merah b*******h dengan blush on yang di aplikasikan sangat pas. Tinggi, dengan kulit putih dan gaun warna senada dengan atasan milik Pak Suryo. "Silakan masuk," sapa Pak Suryo. Kemudian berjalan berdampingan dengan wanita itu. Mereka berdua tampak serasi. Sesampainya di meja makan Danish, sibuk menatap layar ponselnya menunggu balasan dari Sella Anindya. "Danish," panggil Pak Suryo lembut. Pria itu menoleh ke sumber suara. "Kenalkan, ini Sella Anindya calon istri, Papa," ucap Pak Suryo sembari menoleh ke arah wanita menawan yang berdiri di sebelahnya. Danish bungkam, seketika jantung seperti lepas dari tempatnya. Bibirnya terkunci, menelan ludah menyembunyikan rasa kaget, kecewa dan tak percaya yang berpadu di dalam hatinya. "Aku Danish," ucap Danish sembari mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan. Kakinya gemetar lemas, seperti tak berpijak. Berpura-pura tak mengenal wanita cantik yang berdiri di hadapannya. "Aku Sella," ucap gadis itu tak gentar sama sekali, dengan sikap manisnya dia membalas jabat tangan dari Danish, seolah tak pernah terjadi apa-apa dengan dirinya maupun Danish. Karena dia memang tidak tahu, jika Danish Alexi adalah putra dari Suryo yang sangat berwibawa itu. Danish segera melepaskan tangannya dan langsung duduk, kedua kakinya sudah lemas tak mampu menopang berat tubuhnya. Pak Suryo duduk di kursi utama, sedangkan Sella duduk di sebelah kanan dan Danish di sebelah kirinya. Membuat kedua insan yang belum menuntaskan masalahnya itu saling berhadapan. "Silakan di makan sayang," suruh Pak Suryo pada calon istrinya, manik matanya selalu menatap mesra Sella Anindya. Danish semakin menundukkan kepala, merasa mual dan jijik. Ya, wanita yang tiga hari sebelumnya masih di panggilnya sayang, malam ini papanya sendiri yang memanggil wanita itu dengan sebutan sayang. Sungguh di luar dugaannya Sang Papa akan menikahi mantan pacarnya. "Iya," sahut Sella sedikit gemetar, takut melihat kemarahan di wajah Danish, mantan kekasih yang ternyata putra dari pria yang akan memperistri dirinya. Dia mengambil sedikit nasi dan sedikit lauk untuk mengisi piring yang ada di depannya. Manik matanya selalu melihat Pak Suryo atau ke bawah, tak berani sedikit pun menatap ke arah Danish. Danish mengambil nasi dan lauk dan sengaja bersentuhan dengan tangan Sella, wanita kejam yang tak pernah membalas atau pun mengangkat telefonnya ternyata lebih asyik berbalas pesan dengan Sang Papa, ada sedikit rasa marah dalam hatinya. Tak percaya, Sang papalah alasan mengapa Sella meninggalkannya. Alasan gadis itu mengakhiri hubungan dengannya tiga hari yang lalu, karena Pak Suryo ingin memperistri dirinya. Kejam bukan! Meski pun wanita itu sangat kejam, Danish masih saja tergugah melihat bibir seksi manusia yang duduk di hadapannya itu. Sella sangat terganggu dengan sentuhannya membuat dia segera menarik tangannya dan sibuk mengaduk menu yang ada di piringnya, tak berselera untuk memakannya. Namun, demi Pak Suryo yang selalu melempar senyum ke arahnya Sella memaksa rahangnya mengunyah nasi yang sudah masuk ke dalam mulut. Suara dering panggilan dari gadget milik Pak Suryo, memecah keheningan di antara mereka. Pria itu mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya dan melihat layar ponselnya. “Sebentar ya,” pamit Pak Suryo meletakkan sendok, kemudian mengangkat telefon dan berjalan menjauhi meja makan. Kini, hanya ada Danish dan Sella berada di sana. Pria itu mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk bertanya pada wanita iblis di hadapannya. “Dua hari aku khawatir tentang keadaanmu! Kemudian, Kamu datang ke sini menjadi calon ibu tiriku! Gila Kamu! Benar-benar iblis Kamu Sella!” ucap Danish pelan tetapi tegas penuh penekanan, sangat marah. Hatinya bukan hanya hancur tapi luluh lantak menjadi kepingan-kepingan kecil. Sella diam, dia menggigit bibir bawahnya untuk mengatur emosi yang berkecamuk di hatinya. Sungguh, dia sendiri tidak tahu jika Danish adalah anak dari Suryo. Pria yang di kenalkan salah seorang rekannya. “Kenapa Kamu diam saja! Ini rencana Kamu kan! Jelaskan apa tujuan Kamu mendekati Papaku! Jelaskan Sella! Dasar iblis” bentak Danish dengan menahan suaranya agar tetap pelan tidak terdengar oleh siapa pun. Pria itu sudah tidak mampu menahan lidahnya agar tidak mengumpat. Sella masih diam saja, dia mengembuskan nafas panjang. Menguasai emosi agar tidak terpancing dengan segala tuduhan dan u*****n yang keluar dari mulut Danish. “Jangan diam saja! Dasar wanita b*****h Kamu ya! Jawab atau aku bongkar semuanya saat ini juga! ” umpat dan acaman Danish keluar dari mulutnya, dengan suara yang semakin pelan, tetapi tatapannya semakin tajam. Sella mengumpulkan tenaganya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, baru saja ingin menjawab u*****n Danish. Pak Suryo datang dengan senyum merekah menghiasi bibirnya dan tidak tahu apapun yang terjadi. “Maaf ya, ayo kita lanjutkan makan,” ajak Pak Suryo kembali duduk di kursinya. “Tante Sella tinggal di mana?” tanya Danish membuka percakapan. Dia benar-benar ingin tahu wanita itu bertempat di mana setelah pergi dari apartemen miliknya. “Aku tinggal di rumah saudaraku,” jawab Sella singkat. “Sudah berapa lama?” tanya Danish menyelidik seberapa besar kejujuran Sella sehingga mendapatkan cinta dan perhatian dari papanya. Sella pura-pura mengunyah lebih lama untuk merangkai kata yang tempat, menjawab pertanyaan Danish. Pria yang selama ini selalu memperlakukannya dengan baik kini menjelma menjadi pria kejam yang akan menjatuhkannya kapan saja dia mau. “Baru dua hari aku tinggal di rumah saudaraku,” jawab Sella di sertai batuk karena sangat terganggu dengan tatapan Danish. Suasana meja makan hening kembali. Namun, ketika Pak Suryo pura-pura batuk dengan sigap Sella mengambilkan air putih untuk pria berkarisma yang duduk di sampingnya. Menunjukkan perhatiannya. Pak Suryo meneguk air putih. “Terima kasih, Sayang,” gumamnya lirih sambil menatap wajah ayu yang duduk di sampingnya. Setiap melihat ke arah Sella, manik matanya berbinar sangat memuja wanita yang kelak akan ia jadikan istri. Danish kembali merasa mual, setiap Sang Papa memanggil wanita itu dengan sebutan ‘Sayang’ cacing di perutnya seolah meronta ingin keluar. Samar Danish melihat senyum tipis di bibir Sella karena ucapan terima kasih dari Pak Suryo. “Danish," panggil Pak Suryo pada putranya yang sedang sibuk menatap layar gawainya. Wajahnya masih memancarkan keceriaan. “Iya, Pa,” sahut Danish ramah, tidak ingin papanya melihat amarah yang berkecamuk di hatinya. “Sudah dua bulan ini papa mengenal Sella, awalnya papa mengira dia seperti wanita biasanya saja, tapi dugaan papa salah. Sella mampu membuat papa kembali merasakan cinta,” ucap Pak Suryo dengan membawa tangan Sella dalam genggamannya. “Iya, Pa,” hanya itu kata yang keluar dari pita suara Danish. “Sella, wanita yang baik dan mandiri, papa ingin menjadikannya sebagai istri dan akan menjadi ibu tirimu, apa Kamu mengizinkan papa untuk menikah dengan Sella,” ucap Pak Suryo dengan serius dan dalam. Tampak dari pancaran matanya yang sedikit berkaca-kaca. Danish beringsut, tak menyangka kedatangan Sella malam ini akan membuat Sang Papa sekaligus meminta restunya untuk menikahi gadis itu. Bersambung. =============== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dreams_dejavu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN