23. Danish Marah. Malam telah larut. Danish masih belum tidur juga. Tak bisa berhenti berpikir mengenai dirinya dan Sella. Dia harus bisa melupakan wanita itu secepatnya. Ya! Bagaimana mungkin dia terus memimpikan wanita itu sementara sang papa sudah berbahagia dengannya. Danish meraih ponsel di atas nakas, sudah pukul sebelas malam. Suhu menjadi semakin dingin saja. Pria itu beranjak dari tidurnya. Menghampiri Keyra yang tertidur di sofa. Danish berlutut di samping gadis itu, mengamatinya dengan saksama. Nafasnya teratur sepertinya sudah tertidur nyenyak. “Maaf,” gumam Danish pelan. Indra penglihatnya masih menatap wajah Keyra lekat. Ada rasa menyesal, karena membuat gadis itu ketakutan dan memutuskan tidur di sofa. Hampir saja, karena sifat kekanakannya Danish melupakan perjanji

