“Arghhhhh” eluh Yuna ketika matanya sangat berat untuk dibuka. Kedua tangannya menjambak rambut panjangnya karena pening yang dia rasakan.
“Arghhh!! Siapa yang datang jam segini?” Yuna berdiri dengan sekuat tenaga yang dia miliki ketika mendengar bel yang berbunyi tanpa henti itu.
“Kai.. Apa kau di sana?” Yuna bertanya kebingungan karena hanya gelap gulita yang dia lihat ketika membuka matanya. Jika bukan karena lampu gedung sebelah yang menembus hingga kesini, maka Yuna tidak akan bisa melihat apa-apa lagi.
Dengan sempoyongan, Yuna berjalan menuju meja kaca yang berada tak jauh dari sofa untuk mengambil ponselnya. “Jam 3 pagi?” Yuna semakin bingung dengan apa yang telah terjadi dengannya. Dia bahkan lupa kenapa dia datang ke sini.
Ah benar!! Yuna ingat sekarang. Dia datang ke penthouse Kai untuk mengatakan kalau dia akan dijodohkan. Yuna meninggalkan hotel sehabis acara pertunangannya digelar karena tak sanggup melihat wajah cowok yang akan dia nikahi nanti.
Yuna mengingatnya ketika melihat cincin berlian itu melingkar erat di jari manisnya, menyimbolkan pilihan tersulit yang pernah dia ambil seumur hidupnya.
Perasaan bersalah menyelimuti Yuna selama berhari-hari, karena sama sekali tak bisa berkomunikasi dengan pacarnya—Kai karena jadwal mereka berdua sangat padat. Kai sibuk dengan promosi album terbarunya bersama grup dan dirinya sibuk persiapan shooting
untuk drama pertamanya.
“Awhhh!!!!” Yuna berjongkok di lantai sambil merintih kesakitan. Pecahan kaca telah menusuk kaki kanannya yang telanjang. Kepalanya juga tidak bisa diajak kompromi, dia merasa seperti berputar-putar dan sakit secara bersamaan, ditambah mual di perutnya. Yuna tergeletak lemah di lantai tanpa tenaga.
Dengan segera Yuna merogoh meja kaca yang ada di depannya untuk menghidupkan flash ponselnya. Darah mulai bercucuran dari kakinya yang tertusuk beling. Dengan menutup sebelah matanya Yuna mencabut beling itu perlahan diiringi rintihan tertahan.
Yuna bahkan tidak bisa mengingat dari mana asal pecahan kaca ini. Apa berasal dari botol Cocktail yang dia bawa? Kepalanya terasa semakin sakit ketika Yuna berusaha mengingat apa yang sudah terjadi.
Namun, sedikit kesadarannya seakan kembali ketika melihat misscall dari Papanya beberapa jam yang lalu. Jangan lupakan puluhan misscall lagi dari managernya—Leon. Entah apa yang sudah terjadi di luar sana. Yuna seperti melewatkan sesuatu yang sangat mendesak dan penting.
Dia bisa saja menganggap remeh puluhan panggilan dari Leon, tapi tidak dengan satu panggilan dari Papanya.
Persetan dengan itu, Yuna memilih bangkit dan mengecek siapa yang datang ke Penthouse milik Kai ini. Tidak biasanya Kai menerima tamu apalagi di jam tiga pagi seperti ini.
Yuna berjalan dengan tertatih-tatih menuju tablet yang ada di dekat pintu untuk mengecek siapa yang datang setelah menghidupkan lampu di penthouse Kai. Yuna menyimpulkan Kai pergi mendadak tanpa memberitahunya karena ada urusan penting pastinya.
“HAH!! PAPA?!” Yuna seketika membekap mulutnya tak percaya ketika menggeser layar tablet yang ada di depannya. Bagaimana bisa? Papanya dengan wajah marah terlihat terus membunyikan bel dengan tak sabar.
Yuna tak tau apa yang harus dia lakukan sekarang. Jika dia keluar sudah pasti mendapat amukan dan segala macam sumpah serapah. Jika tidak, Papanya mungkin saja membuat keributan di penthouse ini. Bagaimana pun, Yuna tak boleh sampai mencemari nama baik Kai.
Dengan sedikit merintih kesakitan, Yuna berjalan lagi menuju sofa untuk mengambil coatnya sebelum membuka pintu menemui Papanya.
“PLAK!!!!!”
Yuna membeku. Belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Saat dia membuka pintunya seketika sebuah tamparan mendarat di pipinya. Rasa sakitnya mungkin bisa hilang dalam beberapa hari, tapi fakta bahwa ini adalah pertama kalinya dia ditampar oleh Papanya lebih membuat Yuna sakit.
Yuna menelan ludahnya susah payah. Tenggorokannya kering dan lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan apa-apa.
“Apa kau tidak bisa sekali saja tidak membuat saya malu? Kau pikir bisa seenaknya melewatkan acara pertemuan dengan Keluarga Andreson dan membuat keluarga kita malu?” Lee Minho—Papa Yuna yang masih memakai setelan lengkap itu sukses membuat Yuna semakin tak bisa berkutik dengan perkataannya. Rahangnya mengeras menandakan seberapa marah dia saat ini.
“Apa dengan memaksa anakmu berselingkuh tidak cukup membuatmu puas? Aku tidak punya waktu luang untuk menghadiri acara makan malam itu, dan aku juga sudah mengatakannya pada pria itu,” ucap Yuna menyanggah kemarahan Papanya. Secara langsung Papanya sudah memaksanya untuk meninggalkan dan mengkhianati Kai di belakang tanpa sepengetahuannya.
Lee Minho yang tak terkontrol hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat. Urat-urat lehernya terlihat muncul dengan deru napas yang tak beraturan. Tentunya, Yuna tau apa yang membuatnya sangat terobsesi menikahkan anaknya dengan Keluarga Andreson.
“KAU!!!” Hampir saja Lee Minho ingin meluapkan kemarahannya, namun berusaha dia tahan karena ini bukan di rumah. “Apa selama ini saya tidak pernah mengajarkanmu sopan santun? Walaupun pekerjaanmu rendahan setidaknya dirimu tidak rendah seperti
itu!”
Yuna mengepalkan tangannya erat-erat. Selain melukai harga dirinya, Papanya memang tak pernah melewatkan kesempatan untuk menghina pekerjaannya, seakan menajadi model terkenal papan atas yang wajah dan tubuhnya terekspos dimana-mana adalah sebuah dosa yang membuatnya malu seakan mencoreng nama keluarga.
“Katakan saja, apa yang keluarga kaya itu janjikan kepada Papa sehingga Papa sebegitu takutnya membuat mereka kecewa!” Perkataan Yuna sukses membuat Lee Minho kaku. Sudah dia duga! Dari gerak gerik Papanya saja sudah kelihatan ada hal yang lebih besar dibalik perjodohannya ini.
Yuna kembali berpikir kenapa dia harus mengorbankan Kai untuk hal tidak berguna ini!
“Dimana laki-laki itu!!! Saya harus membuat perhitungan dengannya!!”
“PAPA!!” Yuna berteriak ketika Papanya menerobos masuk ke penthouse Kai tanpa seizinnya. Yuna bertanya-tanya siapa yang tidak tau sopan snatun di sini.
“Lihatlah!! Laki-laki yang kau bangga banggakan itu bahkan tidak mempunyai nyali untuk menghadap saya!”
“Dia tidak ada di sini!”
“APA?!” Lee Minho tampak tak bisa berkata-kata ketika mendengar pernyatan Yuna. “Kau berada di kamar laki-laki sendiri dengan pakaian itu dan penuh dengan bau alkohol. Apa kau tidak punya sedikit saja harga diri sebagai perempuan? Kau memang tidak ada bedanya dengan wanita itu!!”
“Dia ibuku! Berhenti menyebutnya seperti itu!” Suara Yuna bergetar ketika mengucapkannya. Ribuuan sumpah serapah dari Papanya bisa dia terima tanpa terlalu memikirkannya, tapi satu saja pernyataan yang membawa nama Ibunya Yuna seakan lemah tak bedaya. Itu adalah kelemahannya.
“Ambil barang-barangmu! Pergi dari dini sekarang juga. Kau akan tinggal di rumah mulai sekarang. Jangan pernah berpikir kau bisa datang ke sini lagi, ataupun tidur di Agensimu itu!”
Yuna tak banyak berkata-kata. Juga lelah untuk berdebat. Dia mengambil barang-barangnya dan berjalan mengikuti Papanya setelah menutup wajahnya dengan masker juga topi hitam dan syal.
Namun, tanpa mereka sadari Paparazi kalah cepat dari Yuna. Mereka sudah mengambil beberapa foto sejak Yuna turun dari lift.
“Berita besar akan segara datang!” senyum devil muncul dari wajah pria itu sembari mengatakannya.