Berkenalan dengan Mike
Kiara Maheswari, seorang wanita cantik dengan label bersuami, komplit dengan dua orang anak. Hidupnya sangat bahagia. Sekalipun ada permasalahan, itu hanyalah batu kerikil dalam perjalanan rumah tangga.
Kevin Aditya adalah suaminya. Pria tampan dan sukses. Kevin memiliki usaha butik yang cukup maju. Pria itu, tak pernah bertindak kasar sekali pun.
Suatu hari, usaha butik Kevin mengalami penurunan. Hingga ia harus menggadaikan sertifikat rumah mereka sebagai jaminan.
Tak sampai di situ. Mertuanya pun jatuh sakit, hingga membutuhkan biaya yang tak sedikit. Semakin lama, tabungan mereka pun terkuras.
Kiara memutuskan kembali bekerja. Dengan izin dari Kevin, Kiara pun melayangkan surat lamaran ke berbagai perusahaan.
***
Satu bulan berlalu. Kiara mulai merasa putus asa. Tidak ada kabar apa pun dari perusahaan yang sudah ia tuju.
Matanya menatap putra dan putrinya yang asyik bermain. Hingga ia tersenyum dan semangatnya pun kembali.
Kiara kembali menatap laptop di depannya. Tangannya mulai men-scroll tetikus. Matanya meneliti satu persatu lowongan yang tersedia.
Ia sendiri memiliki basic dalam bidang marketing. Namun, tidak ada satu pun perusahaan yang melirik lamarannya di bidang itu.
Matanya menangkap satu lowongan di perusahaan bonafit yang tak jauh dari kediamannya. Dengan merapalkan doa, ia mencoba melayangkan surat lamaran ke tempat itu.
Semoga saja, kali ini aku berhasil, batinnya.
***
Keesokkan harinya, Kiara bangun pagi-pagi. Ia menyiapkan sarapan untuk suami dan kedua buah hatinya. Ia tak menggunakan jasa asisten rumah tangga lagi, sejak kondisi ekonominya menurun.
Ia tak ingin membebani suaminya dengan banyak biaya. Lagi pula, ia masih mampu melakukan pekerjaan rumah sendiri. Usai menyiapkan sarapan, Kiara membangunkan Kevin, suaminya.
"Mas, ayo bangun! Sudah siang." Kiara mengguncang tubuh Kevin.
Kevin menarik
pergelangan tangan Kiara. Hingga istrinya itupun terjatuh. Ia memeluknya dengan erat.
"Sebentar saja, Sayang," ucapnya dengan suara khas bangun tidur.
"Mas, sudah siang loh," ucapnya. Kiara mencoba melepas belitan lengan suaminya.
"Morning kiss dulu." Kevin memajukan bibirnya.
Kiara pun melakukan keinginan suaminya itu. Sayangnya, Kevin justru tak melepasnya dan malah memperdalam ciumannya.
Kiara pun mencubit perut Kevin keras. Hingga Kevin melepas pagutannya dan mengaduh kesakitan. Kiara segera berdiri dan membuka gorden yang menutupi kamar mereka.
Setelah itu, ia menyiapkan pakaian ganti untuk Kevin. Kiara memastikan Kevin benar-benar bersiap, baru ia melangkah ke kamar anak-anaknya.
Kini, semua telah berkumpul di meja makan. Usai sarapan, Kevin mengantarkan Devan dan Dina ke sekolah.
Devan sudah duduk di bangku sekolah dasar. Sementara Dina, masih duduk di bangku TK. Kiara mengantarkan ketiga orang yang ia cintai itu sampai ke mobil. Setelah menutup dan mengunci pagar, ia masuk kembali.
Ia mulai membersihkan rumah. Pukul sepuluh pagi, Ia bersiap menjemput kedua buah hatinya. Itulah sekilas rutinitas harian Kiara.
***
Siang hari, setelah memastikan buah hatinya makan siang, Kiara kembali membuka laptopnya. Matanya mengernyit melihat notifikasi email di sana.
Ia membukanya dan mulai membacanya. Sekilas Kiara membaca jika ia telah diterima di perusahaan bonafit itu.
Kiara pun tersadar dan kembali membaca barisan aksara yang menyatakan ia harus mengikuti rangkaian psikotes dan interview.
Ia melompat karena rasa bahagia yang memenuhi hatinya. Devan dan Dina menatap Kiara heran.
"Kakak, adek, nanti kalau mama diterima bekerja, kakak dan adek tidak apa kan?" tanya Kiara pada kedua buah hatinya.
"Jadi, mama akan meninggalkan kami?" tanya Devan.
"Hanya dari pagi sampai sore saja, Sayang. Itupun, kita berangkat bersama." Kiara mencoba menjelaskan pada Devan dan Dina.
"Sabtu dan Minggu, mama tetap ada di rumah kok." Kembali Kiara menjelaskannya pada buah hatinya.
Devan dan Dina tersenyum dan mengangguk. Kedua anak itu mengerti dengan apa yang Kiara ucapkan.
***
Kiara tiba di perusahaan dengan membawa surat lamaran kerja lengkap dan berpakaian rapih. Berkas ini, hanyalah formalitas belaka. Sebelumnya, wanita itu telah mengirimkannya melalui email.
Rasa insecure, sempat menghampirinya. Namun, ia berusaha tetap tampil percaya diri. Ia menghampiri resepsionis dan memberitahukan kepentingannya. Dengan ramah, wanita yang menduduki posisi itu, mengantarkannya ke ruang pelamar yang sudah diterima melalui email.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat banyaknya orang yang mengincar posisi sekretaris. Lagi, Kiara berdoa dalam hati, agar bisa bekerja, demi membantu suaminya secara finansial.
Tak lama, ratusan peserta—termasuk kiara—masuk ke ruangan untuk melakukan psikotes. Nantinya, dari ratusan peserta yang mengikuti psikotes, akan dipilih lima peserta dengan nilai tertinggi.
Setelah berjibaku mengerjakan psikotes selama hampir dua jam, akhirnya Kiara bisa bernapas lega. Kini, ia akan menunggu hasil melalui pesan yang akan dikirim ke nomor ponselnya.
Kiara melangkah dengan terus memanjatkan doa, agar ia bisa diterima di perusahaan itu. Selain jarak tempuh yang cukup dekat, salary yang ditawarkan pun, cukup menggiurkan.
Keluar dari lift, matanya menatap sosok pria yang menunggu di lobby. Senyum di wajah wanita itu pun mengembang sempurna. Kiara berlari dan memeluk suami tercintanya.
"Hai, Sayang. Gimana psikotesnya?" tanya Kevin.
Kiara hanya mengangguk dan menggamit lengan sang pria. Keduanya melangkah meninggalkan perusahaan. Dari kejauhan, seorang pria paruh baya melihat kejadian itu.
***
Dua hari kemudian, Kiara yang tengah menjemput buah hatinya, terkejut mendengar suara ponsel dalam tas. Mas Kevin, kok cuma kirim pesan? Biasanya, telepon, tanyanya dalam hati.
Kiara mengambil ponselnya dan membuka pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Belum sempat ia membuka pesan itu, dering ponsel mengejutkannya. Kiara pun, menjawab panggilan itu.
Binar bahagia jelas terpancar di wajah Kiara. Wanita itu terlihat sangat senang, setelah panggilan itu terputus. Ia tak menyangka, jika dirinya mampu melalui tahap ini. Ya, ia lolos dalam tahap awal.
Tak lama, ponselnya kembali berdering. Kali ini, adalah nomor ponsel Kevin. Tanpa menunda, Kiara mengangkat panggilan itu.
"Mas, aku lolos," ucapnya setelah meletakkan ponsel di telinga kirinya.
"Lolos?" tanya Kevin.
"Psikotes kemarin, Mas." Terdengar suara Kevin yang terkekeh.
Kiara yakin, pria itu tengah merasa bangga padanya.
"Selamat, Sayang. Kapan wawancaranya?" tanya Kevin.
"Besok jam 9," jawab Kiara.
"Biar aku antar, ya. Anak-anak sudah pulang?"
Kiara menoleh dan melihat banyak anak yang mulai berlarian keluar dari kelas mereka. "Baru, saja," jawabnya.
"Okay! Be careful, Sayang."
***
Keesokkan harinya, Kevin mengantarkan Kiara untuk melakukan wawancara. Pria itu bahkan menunggu wanita yang dicintainya, hingga usai. Kiara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelahnya, ia menunggu.
Hampir setengah jam kemudian, nama Kiara pun dipanggil. Kini Kiara akan menjalani proses interview. Perusahaan yang ia tuju tengah mencari seorang sekertaris. Jujur saja, Kiara tidak memiliki pengalaman di bidang itu. Namun, ia tetap mencobanya.
Berbagai pertanyaan, Kiara jawab dengan lugas. Para pewawancara pun nampak menyukai pembawaan Kiara yang sopan. Dari cara berpakaian, bicara, dan mimik wajahnya, tak luput dari tatapan pewawancara.
"Baik, Nona Kiara. Kami cukup puas mendengar penuturan, Anda. Untuk hasilnya, akan segera kami beritahu." Kiara tersenyum ramah dan pamit undur diri.
"Kalau begitu, saya pamit dulu," ucapnya.
Kiara menarik napas lega setelah keluar dari ruangan yang terasa mencekik itu. Ia berjalan menuju lift dan akan meninggalkan perusahaan itu.
Tiba di lobby, Kevin masih menunggu dirinya. Kiara segera menghampiri suaminya dan mereka pun meninggalkan tempat itu.
***
Tiga hari berlalu, sejak wawancara berlangsung. Sore itu, Kiara tengah menemani Devan dan Dina bermain. Suara ponsel mengalihkan perhatiannya. Segera, Kiara mengangkat panggilan itu. Betapa bahagia hati Kiara, saat mengetahui, jika dia lolos tahap interview. Tahap selanjutnya adalah, tahap uji coba selama satu bulan.
Kiara pun mengucapkan banyak terima kasih pada wanita yang menyampaikan berita tersebut. Dalam hati ia berjanji, akan bekerja dengan baik.
***
Satu bulan sudah, Kiara menjalani pelatihan. Kiara sudah mampu menjalani tugasnya seorang diri. Ia cukup cekatan dan dinilai baik oleh atasannya. Serah terima jabatan pun, segera dilakukan.
"Terima kasih, Mba, sudah membantu saya selama ini," ucap Kiara tulus. Mereka baru saja menyelesaikan urusan pekerjaan.
"Sama-sama. Saya yakin, kamu pasti bisa bekerja sama dengan baik. Pak Jerry, adalah atasan paling baik yang saya kenal. Kamu juga termasuk cekatan. Beliau, saja, mengakui kinerja kamu," puji Sinta, sekretaris yang membimbingnya.
Keduanya saling melempar senyum haru. Mulai besok, Kiara akan mulai bekerja tanpa bimbingan Sinta. Aku akan melakukan yang terbaik, janjinya dalam hati.
***
Tanpa terasa, sudah lebih dari satu bulan Kiara menjalani pekerjaannya tanpa Sinta—mantan sekretaris Jerry dulu. Hari ini, akan ada rapat bulanan di tempatnya bekerja.
Saat rapat usai, ia melihat atasannya bersama seorang pria muda. Pemuda itu terlihat tampan dan seksi dengan bulu halus di sekitar wajahnya. Keduanya melangkah ke arah Kiara.
Sesaat, pandangan Kiara terfokus pada pria itu. Lambaian tangan dari Jerry, menyadarkannya kembali. Ia menghalau rasa kagum yang muncul di hati.
"Kiara," panggilnya.
"Iya, Pak Jerry," jawab Kiara.
"Perkenalkan! Ini putra saya, namanya Michael." Pria bernama Michael itu tersenyum ramah.
Kiara pun membalas senyumnya seraya menundukkan kepala hormat. Tiba-tiba saja, jantungnya berdegup dengan irama yang berbeda dari biasanya.
Ia menepiskan pikiran itu. Setelah sedikit berbasa-basi, Kiara pun berpamitan. Ia akui, ia sangat terpesona dengan penampilan pria itu.
Ingat Ki, kamu sudah menikah dan berkeluarga. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Kiara mencoba memperingati dirinya sendiri.