"Haii bang Ian!!!!"
Dua teman Rhea sudah berhamburan mendekati sosok trainer kekar perkasa bernama Ian. Sedang Reha, menaikkan sudut bibirnya dengan senyuman meremehkan. Apa ya tanggapan teman-temannya kalau tahu jika bang Ian kecintaan mereka ternyata mainnya sama cowok-cowok setengah matang. Ah, mungkin bang Ian merupakan salah satu dari mereka?
"Ayo kita mulai pemanasan dulu."
Rhea memutar matanya malas, bergerak malas-malasan mengikuti pemanasan yang dipimpin oleh Ian. Sebenarnya Rhea tak mau menggunakan jasa personal trainer, namun tentu sudah dapat ditebak, semua atas desakan teman-temannya. Rhea hanya menurut saja, tujuannya juga hanya fitnes, dan ia bahkan selalu menjauh dari sosok Ian yang selalu berpakaian ketat. Iya Rhe tahu kok badan Ian memang oke, sangat oke, tapi geli juga kalau dipamerkan macam itu! Maaf-maaf deh, sudah berasa lelaki belok saja.
"Ngalamun?"
Mengedipkan matanya kaget, Rhea melongo menatap Ian yang kini mencondongkan wajahnya kearah Rhea. Apa-apaan ini, sialan sekali! Untung dia lalaki setengah matang, jadi Rhea tak akan berdebar!
"Maaf." Gumam Rhea, seraya memundurkan langkahnya untuk menjauhkan diri, dan melanjutkan kegiatan pemanasan.
"Sampai kapan kau pemanasan terus?"
Rhea menoleh menatap Ian, lalu menatap sekeliling yang ternyata sudah tak ada yang pemanasan. Sialan, malu sekali, segera Rhea bergegas menuju treadmill. Suara kekehan Ian sempat Rhea dengar karena harus melewati tempat Ian berdiri. Terserah, Rhea memang wanita bodoh, sekalian saja biarlah dianggap apapun.
Sepanjang fitnes Rhea disibukkan dengan mencuri pandang pada sosok Ian, ia penasaran, lelaki itu benar-benar banci atau tidak? Secara, Ian kan masuk ke cafe itu, cafe yang identik dengan lelaki setengah matang alias banci, bukankah sudah pasti jika Ian adalah pelanggan di sana juga?
Menggeleng, Rhea kembali mengangkat barbel 10 kilo dengan susah payah, entah sudah berapa kali ia mengangaktnya, dan rasanya kini sudah kelelahan.
Kembali Rhea mencuri tatap pada Ian, lelaki itu sedang berhadapan dengan seorang wanita yang sangat, super duper seksi. Pakaiannya sangat ketat, bahkan tank top merah muda yang dikenakannya seakan tak mampu menahan beban d**a yang kini terlihat sangat menantang dan memberontak ingin dibebaskan.
Tanpa sadar Rhea menatap dadanya, miris, rasanya d**a Rhea hanya separuhnya saja. Dengan bibir mencebik Rhea menatap Ian lagi, lelaki itu hanya berwajah datar dan tersenyum seadanya saja saat wanita seksi itu bergelayut manja. Dilihat dari gerak-geriknya memang itu wanita sedang cari perhatian dengan badan montoknya. Tapi lihat, Ian biasa saja, matanya bahkan tak jelalatan menelusuri lekuk berlebihan badan wanita itu. Satu bukti untuk menguatkan jika Ian tak tertarik dengan wanita.
Rhea mengangguk yakin, lalu berjalan mendekat kearah teman-temannya yang sedang mencoba alat tummy trimmer, Rhea mengikuti saja dalam diam.
"Lihat deh itu buntelan, dari lama diliat-liat terus aja mepet ke bang Ian, sialan!" Cerocos Ayu.
"Au ah, kesel gue, enggak bisa kita diamkan, harus balas dendam, gimana kalau taburi bedak gatal? Gue bawa!" Jisna ikut menyahut.
"Udah deh, kalian tuh ngapain sih? Malah mau berbuat kriminal cuma karena Ian aja?"
"Bang Ian!" Koreksi Jisna dan Ayu serempak.
Rhea melirik sekitar, beberapa orang terlihat kaget dengan teriakan mereka berdua, dan tanpa sadar Rhea bersitatap dengan Ian yang menatap dengan alis terangkat. Sialan! Ian mendekat!
Buru-buru Rhea menyibukkan diri dengan tummy trimmer, ia memang selalu menghindar dari Ian yang tak ia sukai sejak awal, entah karena apa.
"Kenapa, huh?"
Rhea memutar bola matanya saat suara yang tanpa sadar sudah ia hafal, suara Ian. Entahlah mengapa Rhea jadi menghafalnya, kan tidak penting, tak berfaedah, dan tak ada gunannya.
"Ini bang, Rhe minta diajarin pakai ini."
Kampret? Kenapa jadi Rhea yang dibawa-bawa?! Ditatap dengan sorot horor, Ayu yang kini meringis dengan jari membentuk v. Sialan, kan Rhea tak mau berurusan dengan Ian si banci. Double sialannya, kini Ian mendekat kearahnya, menekan beberapa badan Rhea untuk membenarkan posisi. Mulai dari kaki, paha, dan sialan! Lelaki itu menekan perut Rhea dengan mulut yang terus bergumam menjelaskan. Rhea tak mendengarkan apa yang lelaki itu katakan, ia hanya fokus merapalkan kalimat kebencian dihatinya. Maklum, Rhea tak biasa bersentuhan dengan lelaki.
"Kakinya ditempelin di lantai, yang rapat, nariknya pelan-pelan aja."
Rhea hanya bergumam, dan lihatlah, ekspresi Ian biasa saja walau baru saja menekan-nekan badan wanita. Memang jelas ini lelaki belok, Rhea jadi makin penasaran dan ingin membuktikannya.
"Ian!"
Ian, Rhea, Ayu dan Jisna serempak menoleh saat suara tiba-tiba muncul diantara mereka. Seorang lelaki dengan pakaian olahraga ketatnya tersenyum semringah pada Ian. Respon Ian diluar dugaan, jika lelaki itu biasanya hanya tersenyum kaku dan alakadarnya. Kini Ian terlihat semringah, sangat semringah seakan senyum itu bisa merobekkan bibirnya, sangking teramat lebar.
"Ehh, lama banget nggak main kesini?"
Rhea melongo begitu mendengar nada ucapan Ian yang begitu ramah, kedua lelaki berbadan kekar dihadapannya kini saling berpelukan. Oke, pelukan lelaki pada umumnya, tapi ... tetap saja ganjal di mata Rhea.
Bukti kedua sudah Rhea dapatkan, Ian lebih ramah dengan pelanggan laki-laki. Hmmmm, rasanya ini semakin seru. Tanpa sadar Rhea tersenyum-senyum dengan wajah menyeringai seram.
"Sorry girl, sepertinya kalian lanjut sendiri dulu ya? Gue ada urusan, nggak apa kan?"
Rhea melonggo, mulutnya mengangga lebar dengan bodohnya, girl? Sejak kapan Ian memanggil mereka begitu? Sangat aneh, sungguh-sungguh aneh. Jika Rhea menganggap semuanya aneh, lain dengan kedua teman gilannya, mereka malah mengangguk bersamaan dengan cengiran t***l dan jawaban serempak yang rela saja Ian pergi. Gila-nya lagi, Ian pergi dengan saling rangkul dengan lelaki itu, gila!
"Eh, kalian curiga nggak sih kalau Ian belok?"
"BANG IAN!" Tekan ayu.
"Bang Ian lebih tua dari lo Rhe, sopan dikit dong!"
"Iya, iya bang Ian!!" Desis Rhea dengan wajah kesal, perkara panggilan saja mengapa diperpanjang sih?
"Jadi kalian curiga nggak?"
"Nggak lah! Bang Ian tuh lelaki tulen! Kalaupun belok, gue siap kok membuat bang Ian kembali pada kodratnya, goyangan gue yahud, jadi pasti bang Ian sadar setelah kita uh ah." Renges Jisna dengan wajah mesumnya.
Dua teman Rhea ini memang tak ada yang waras, percuma diajak tukar pikiran. Terlebih keduannya adalah bucin-nya si Ian, mau Ian berborok pun mereka nggak peduli kayaknya.
"Terlebih lagi nih, manusia seksi gitu kok lo anggap belok, ya nggak mungkin lah! Lo ngmong gitu karena nggak suka sama bang Ian kan? Ngaku!"
Ayu menudingkan telunjuknya hingga hampir mengenai mata Rhea, Rhea tak suka ditunjuk!
"Udah lah, cabut yuk, bang Ian juga udah pergi." Putus Jisna.
"Tunggu dulu! Gue mau cerita ..." Rhea berlari mengikuti Jisna dan Ayu yang sudah berlari terlebih dahulu menuju loker, Rhea harus membeberkan bagaimana keburukan bang Ian yang diagung-agungkan temannya itu.