1. Insecure
Jadi mahasiswi tak semenyenangkan itu!
Kalimat itu yang sering Rhe lontarkan pada temannya yang sering mengeluh iri padanya yang bisa kuliah. Memang banyak teman Rhea yang tak merasakan bangku Universitas, namun banyak juga yang kuliah kok. Walau sering membantah ucapan penuh iri dari teman-temannya, namun Rhea tetap mengumbar senyuman pada mereka saat mengucapkan bantahan itu.
Semua karena sifat ramah Rhea yang terlalu membuat banyak orang nyaman. Karenanya Rhea memiliki banyak teman dari segala jenis Squad. Katakan, squad 'cabe-cabean?' Rhea di anggap teman oleh mereka, baik saat SMA ataupun Kuliah. Squad anak cupu kecintaan dosen? Rhea sangat masuk di squad itu, karena memang dia juga termasuk gemar membaca. Squad lelaki pemuja game online? Rhea bagaikan ratu di squad itu, karena dari semua teman wanita kelasnya yang hanya coba-coba main game online, Rhea adalah satu-satunya pemegang rank atas untuk setiap game hits. Keren memang.
Namun, tidak hanya itu saja squad yang menaunginya, kalau Rhea harus menyebutkan sebesar apa perannya ditiap-tiap squad , nyicil saja ya? Karena itu akan panjang, sangat-sangat panjang.
Saat ini Rhea sedang mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Kuliah di jurusan Informatika membutnya sering pulang malam dan begadang. Seperti hari ini, Rhea yang baru selesai praktikum pada jam 8 malam tadi dan dilanjut menyelesaikan tugas harian—yang banyaknya tiada tara—di kontrakan Dwi—teman cowoknya. Kini, barulah pukul 10 malam dia bisa on the way pulang ke kontrakan sederhana yang dihuninya dengan ketiga temannya.
"Lo mau langsung balik? Nggak mau makan dulu?"
Rhea menaikkan kaca helmnya saat Angga—yang memaksa mengantar pulang—melontarkan pertanyaan, begitu keduanya berhenti di lampu merah. Baru saja Rhea membuka mulut hendak menjawab, namun urung dilakukan karena kaget kaca helmnya yang turun mendadak. Bukan karena sulap atau sihir! Kaca helm butut Rhea memang ajaib, suka turun walau dirinya hanya bernafas. Apalagi kalau lewat polisi tidur. Sudah pasti itu kaca helmnya terututup tanpa sentuhan, hebat memang.
Berasa dia adalah anak sopan yang suka menunduk pada polisi yang tidur.
"Langsung balik deh, gue masih kenyang."
Sekadar informasi, Angga adalah seorang playboy kelas paus. Di kelasnya hanya ada 10 wanita, dan 40 lainnya adalah lelaki, karena memang jurusan Informatika tak lazim ditekuni wanita. Dari 9 wanita di kelas Rhea, semuanya sudah kena gombalan Angga, terkecuali Rhea. Kembali lagi, doa adalah ratu di squad gamers, karenanya tak ada yang berani macam-macam untuk mendekati Rhea. Namun yang membuatnya geli, tanpa sepengetahuannya, squad gamers mempatenkan bahwa Rhea milik bersama. Gila memang, namun bukan dalam segi negatif kok.
Mereka mempatenkan kalimat itu untuk menekankan bahwa Rhea adalah milik mereka semua—mungkin milik dalam artian mereka suka bermain dengan Rhea—jadi tak boleh perseorangan memiliki, alias menjadi pacarnya. Rhea sih setuju-setuju saja, karena anti kalau memacari teman kelas.
Walau Rhea sebenarnya pernah menyimpan rasa pada Dwi.
"Yaudah kamu jalan dulu gih." Angga berucap begitu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
Dengan kecepatan rata-rata Rhea melajukan motor Scoopy tercintanya. Namun cintanya bercabang pada Vespa matic. Sayang Umi menentang saat Abah ingin membelikan Rhea motor Vespa. Dengan alasan Rhea sudah punya motor, ngapain beli lagi?
Sepanjang perjalanan motor Angga mensejajari motornya, membuat beberapa keributan klakson yang dipencet oleh pengguna jalanan yang kesal. Sebenarnya Rhea tak menyukai Anngga, namun alasan kenapa dia setuju saja saat Angga memaksa mengantar adalah, karena jalan pulang menuju kontrakannya selalu melewati kafe 'Ramai Mboten?' Alias kafe yang pemiliknya adalah seorang transgander. Bukan gimana-gimana, cafe itu banyak didatangi 'banci' saat malam hari, lebih tepatnya tengah malam. Walau ini baru jam 10, namun Rhea takut jika dihadang banci di perjalanan pulang.
Menurut cerita yang dia dapat dari squad pergibahan, pernah ada anak Fakultas Teknik yang dihadang oleh banci, dirayu, dan di pegang-pegang. Rhea kurang mengetahui detailnya, karena dia terlanjur geli dan memilih mencari bahan gosip yang lebih menarik dari perkumpulan lain. Yang pasti, itu sangat menyeramkan, Rhea pernah dikejar banci saat masih kanak-kanak, karena itu ada trauma tersendiri yang sulit dilupakan.
Kembali Rhea berhenti ketika lampu menyala merah. Di sisi kanannya adalah cafe RM, inilah yang membuat Rose takut dikejar banci, karena kalau lampu merah terpaksa kan dia harus berhenti.
Mata Rhea melirik kanan dengan hati-hati, takut kalau ada banci yang keluar, walau kemungkinannya kecil. Namun setelahnya Rhea memicing tajam.
Seorang lelaki memakai kaos hitam dengan lengan pendek, dan super ketat, hingga otot bisepnya menjerit sesak. Dengan tato merayap padat dilengan kirinya. Turun dari moge dengan gaya sok keren. Siapa lagi kalau bukan trainer idaman wanita itu.
Christian.
Belum sempat berfikir untuk apa lelaki—yang masuk kedalam kafe—itu berkeliaran di sana. Pengemudi belakang sudah memberondong Rhea dengan klakson. Sialan memang! Perasaan lampu baru saja hijau!
Dengan geberan bak pembalap, Rhea melajukan motornya super kencang, bahkan Angga kelimpungan mengikutinya.
Satu squad lagi yang Rhea ada di dalamnya, squad pembalap, di mana anggotanya hanya Rhea dan Umi. Tapi tenang, mereka bukan squad toxic yang sein lampu ke kanan tapi belok ke kiri, karena bisanya mereka tidak memakai sein dan asal belok saja, kurang keren apa lagi coba?
***
Rhea menahan langkahnya yang hendak menaiki anak tangga pertama, tangannya menggusak handuk di rambutnya. Matanya melirik teman-teman kontrakannya yang bucin akut dengan Park Seo Joon sedang asik berteriak heboh begitu melihat adegan kissing dari layar Televisi Led 30 inchi di ruang santai. Walau Rhea juga cinta mati dengan aktor dengan panggilan Babang manly itu, namun dia tak mau terjun bebas mengikuti hal gila mereka. Rhea lebih suka menikmati ketampanan dan keseksian oppanya seorang diri. Di atas ranjang, bergelung di dalam selimut dan berteriak histeris ketika oppanya terlihat begitu tidak nyata.
"Besok kita fitnes?"
Tak ada jawaban, kesal rasanya pada tiga sahabat bobroknya yang sedang gila itu.
"Eh Rhe? Iya, besok jadwal kalian fitnes."
Rhea yang hendak melangkah pun menoleh menatap Manda. Hanya Manda memang, yang tak terlalu parah saat menggila. Manda adalah penghuni kontrakan yang paling dekat dengan Rhea, karena kegemaran membaca mereka yang ternyata sama. Manda adalah gadis polos nan lugu, serta sangat baik dan peduli pada sesama. Buktinya Manda tahu jadwal fitnes mereka. Padahal Manda tak ikut fitnes. Lagian badan Manda sudah ramping, walau setiap harinya selalu ditutupi pakaian kedodoran.
"Makasih ya Nda, aku naik,"
Hanya pada Manda, Rhea menggunakan kata aku kamu, kalau pada temannya yang lain mah lo gue aja, bodo amat.
Manda mengangguk lalu kembali fokus pada layar televisi. Sedang Rhea naik ke kamarnya di lantai dua.
Sampai di kamar, Rhea membuka ponselnya, sekadar membuka aplikasi berkirim pesan, siapa tahu Abah chat sudah kirim uang. Pada layar teratas terdapat grup fitnes yang diberi nama 'Pemuja Bang Ian'. Memutar bola mata malas Rhea melempar ponselnya, sudahlah tak ada pesan transferan, eh matanya malah menangkap nama Ian mengirim pesan di grup.
'Besok pagi, fitnes diundur satu jam ya.'
"Ya iyalah diundur, orang itu manusia lagi dugem sama cowo-cowo belok." Gerutu Rhea seraya melempar asal handuknya.
Rhea tak menyukai Ian, baginya Ian terlalu tebar pesona dan cari perhatian. Oke, Rhea akui kalau Ian memang tampan. Untuk seorang trainer fitnes badan Ian juga oke, tinggi dan kekar. Malah lebih cocok menjadi model atau aktor. Tapi Rhea tak suka! Ian sok ramah pada semua orang, dan di matanya, Ian tak tulus mendekati pengunjung.
Ada kesamaan sifat yang Rhea rasakan dari keduanya, yaitu pandai menipu dan sok ramah. Ya, Rhea merasa jika dirinya juga begitu, makanya ia tahu jika Ian hanyalah berpura-pura saja. Ditambah tadi Rhea memergoki Ian main ke cafe bences(banci), makin benci saja pada Ian.
Kalau bukan karena Rhea merasa tak percaya diri pada badannya yang melar dan berlemak, dia akan angkat kaki dari tempat fitnes itu. Jika bukan karena dua temannya yang mengancam memutus persahabatan kalau Rhea kabur dari tempat fitnes, mungkin saat ini Rhea sudah pindah tempat fitnes. Ia trauma di kucilkan, maka dengan amat terpaksa, Rhea mengalah.
Rhea menatap bingkai foto di meja belajar yang berada tepat di samping ranjangnya. Cukup lama ditatap, hingga Rhea mendecih kesal. Di foto itu menampilkan Rhea yang terlihat malu-malu dengan memakai kacamata besar. Pipinya begitu luber berisi, dan di belakang Rhea, sebenarnya adalah lelaki yang disukainya. Namun lelaki itu menolaknya dengan alasan jika Rhea jelek dan gemuk. Karena lelaki inilah Rhea merasa tak percaya diri dengan dirinya, penampilan, wajah bahakan proporsi tubuhnya. Mati-matian Rhea berdiet ketat. Namun diet saja tak membuatnya puas, itulah mengapa ia ikut fitnes.
Berguling mengubah posisi, Rhea menumpukan kepalanya dengan dua tangannya yang dinyamankan di atas bantal.
"Itu hanya masa lalu, Rhea yang sekarang akan menjadi cantik,"
Kalimat itu yang selalu dia gumamkan sebelum tidur. Ia ingin tidurnya menjadi nyenyak, Rhea mau mimpinya hanya berupa kebahagiaan, tak mau terus terfikir dengan ucapan orang lain. Walau nyatanya Rhea selalu memikirkannya.
"Selamat malam Rhe," Gumamnya lagi, lalu memejamkan matanya.
Setiap malam sebelum tidur, dua kalimat itulah yang Rhea gumamkan. Ia memang terbiasa mengucapkan selamat malam untuknya sendiri. Karena, sampai sekarangpun Rhea bahkan tak pernah dapat ucapan selamat malam oleh siapapun, apalagi lelaki. Rhea tak berani PDKT, menjauh saat lelaki berniat mengenalnya lebih jauh. Dia takut, tak percaya diri, ia takut kejadian masa lalu akan kembali terulang. Kejadian di mana membuat dirinya seperti ditolak, dibuang, dihina dan, direndahkan.