Best Moment

1137 Kata
"O my God! O my God ...." Lanina tak bisa mengendalikan dirinya. Kakinya gemetar hebat bahkan Arkana yang sedang fokus mengemudi sampai bisa melihat bagaimana kedua kaki Lanina gemetar dengan jelas. "Kenapa?" Bahkan, satu kata tanya dari Arkana lebih dahsyat dari pada pertanyaan guru mate-matika killer sekali pun. "K-ke-kenapa?" Lanina juga mendadak gagap. "Kamu baik-baik saja?" tanya Arkana. 'No, Arkana! Kamu sudah membuat ritme detak jantungku gak karu-karuan! Please, ada apa ini sebenarnya? Siapa kamu yang sebenarnya? Kenapa kamu menjemputku dalam keadaan gak siap kayak gini?' Lanina meracau dalam hatinya. "Huh, terserahlah!" Arkana mendengus karena Lanina tak jua menjawab. Lanina benar-benar terlampau gugup walau hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Arkana. "Jadi ... maksudnya ini apa, Kak? Kenapa ... Kak Arkan tiba-tiba jemput aku kayak gini?" Lanina mulai memberanikan diri untuk bertanya. "Kamu udah tahu nama saya?" tanya Arkana heran. Perasaan Arkana belum sempat memperkenalkan diri, tapi kenapa Lanina sudah tahu namanya? Pikir Arkana. Arkana hanya belum tahu saja kalau namanya sangat populer di kalangan para gadis di kota. Bahkan Lanina sudah follow akun instagramnya sejak satu tahun lalu. "Kak Arkan tuh tenar banget di sekolahku!" jawab Lanina, gugupnya mulai perlahan berkurang. "Huh, tenar di antara ABG ABG labil yang annoying? Males banget!" cibir Arkana. Lanina jadi kesal. 'Idiiiih, kok sikapnya ketus begini sih? Untung ganteng! Tapi ... ini sebenarnya ada apa sih? Heloooo, apa ada yang bisa menjawab pertanyaanku? Ada apa ini? Ngapain Arkana jemput aku begini?' Lanina hanya bisa membatin. Berbincang langsung dengan Arkana terasa agak canggung, apa lagi sikap Arkana terasa sangat dingin cenderung ketus. Dan sepanjang perjalanan menuju kediaman Djayadiningrat, tak ada lagi interaksi yang terjalin. Arkana diam, Lanina senyap dan hanya menikmati rasa gugupnya. Lanina hanya bisa menduga-duga saja di dalam hatinya. Saat memasuki gerbangnya, 'Waaaah, rumahnya lebih gede dari pada rumahku ....' Lanina mengagumi betapa luasnya kediaman tuan Djayadiningrat. Arkana memarkir sedan hitam mengkilapnya di pelataran istana megah itu. Lanina masih kebingungan, masih belum ada yang bisa menjawab pertanyaannya. Semuanya masih buram dan abu-abu. "Turun!" kata Arkana terdengar seperti sebuah perintah. Lanina menurut saja, dia buka safety belt-nya lalu turun. Lututnya masih terasa lemas karena sepanjang jalan gemetaran terus. Tapi degup jantungnya masih terasa tak karuan. Ini adalah salah satu momen mendebarkan di dalam kehidupan Lanina. "Kak ...." panggil Lanina, sebelum melanjutkan langkah menuju pintu utama rumah, Lanina ingin mencoba meminta spoiler lagi pada Arkana. Arkana menahan langkahnya lalu menoleh. Astaga ... aksi kecil Arkana bikin hati makin dag dig dug der! Rasanya Lanina sudah seperti lelehan mozarela dalam corndog. Padahal, Arkana hanya menoleh lalu menatap tajam pada Lanina yang masih terlihat kuyu. "Apa lagi sih?" Tapi nada bicaranya yang ketus merusak momen. "Tolong jelasin dong, ini sebenarnya ada apa? Heum ... setidaknya kasih spoilernya, biar nanti aku gak kaget pas ada di dalam sana!" kata Lanina agak manja. "Heh, spoiler?" Arkana tersenyum masam. "Iya, ada apa? Apa hubungan tuan Djayadiningrat sama mendiang Kakekku? Aah, apa jangan-jangan mereka adik kakak? Kalau begitu ... kita sepupuan doang!" Lanina menduga-duga, dengan percaya dirinya mengklaim dirinya sepupuan dengan Arkana. "Saya sih maunya gitu! Udahlah, masuk aja! Gak usah ngajuin banyak pertanyaan lagi!" Arkana tak menjawab pertanyaan Lanina dia melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Lanina yang tampak yakin tak yakin. 'Hufhhh, bersiaplah! Bersiap untuk menerima kenyataan kalau Arkana itu adalah sepupuku!' batin Lanina melantur lalu dia mengikuti langkah Arkana. Saat masuk ke dalam istana, Lanina terus mengikuti langkah Arkana hingga sampai di ruang keluarga. Lanina disambut oleh Kek Djaya dan Irene, Mamanya Arkana pastinya. Sedangkan Papanya Arkana masih sibuk di kantor. "Lihat siapa yang datang, mendekatlah sayang ...." sambut Irene. Lanina tak menyangka kalau ia akan disambut sehangat ini oleh Irene dan juga Kek Djaya. Sikap hangat keduanya telah membuat Lanina terharu dan tersentuh. "Lanina ... benar kamu Lanina, kan?" tanya Irene begitu Lanina tiba di depannya, tatapan mata seorang ibu yang teduh yang Irene berikan padanya telah mengobati rasa rindu Lanina terhadap kedua orang tuanya, walau sedikit. "I-iya, tante ...." "Kamu harus kuat ya! Mungkin saat ini ujian sedang datang bertubi-tubi pada kamu, tapi yakinlah, Tuhan pasti ada rencana! Rencana untuk kebahagiaan yang nyata buat kamu!" Lanina sampai berkaca-kaca, sungguh, sambutan Irene telah menyentuh hati terdalamnya. Dia bahkan lupa dengan rasa berdebar-debar yang ia rasakan beberapa saat lalu. "Terima kasih banyak, tante." Irene pun tersentuh. Melihat sosok Lanina, tiba-tiba Irene langsung menaruh rasa empati yang luar biasa, apakah itu artinya Irene akan menyetujui perjodohan dini antara Lanina dan Arkana? "Ayo, kita duduk ... temui Kek Djaya!" Irene mengajak Lanina untuk duduk di ruang keluarga itu dan mendekat pada Kek Djaya yang hanya bisa duduk. Lanina memberi salah hormat pada pria 70 tahunan itu. Dan Kek Djaya juga langsung terharu melihat sosok Lanina. Apa lagi, dia tahu kalau Lanina baru saja mendapat musibah memilukan atas kepergian kedua orang tuanya. Belum lagi aset peninggalan yang dikeruk habis oleh tantenya yang serakah dan licik. "Maafkan Kakek ya, Nak! Maaf karena kakek baru bisa menemukan kamu sekarang," ucap Kek Djaya. "Gak apa-apa, Kek." 'Ini sebenarnya ada apa, sih? Apa jangan-jangan Kek Djaya ini Kakekku juga? Kalau begitu bener dong aku sama Arkana sepupuan!' Lanina menduga-duga lagi dalam hatinya. Rasanya senang sekali bisa jadi kerabat cowok populer yang dipuja-puja oleh seluruh teman-temannya di sekolah. Setidaknya Lanina bisa pamer kedekatan walau hanya sebagai saudara sepupu, ya walaupun itu terdengar mustahil, karena sejak awal sikap Arkana begitu ketus dan dingin. "Tinggalkan rumah kos kamu, ya! Mulai sekarang kamu akan tinggal di rumah ini, Lanina!" putuskan Kek Djaya. 'What? Tinggal di rumah ini? Serumah sama Arkana? So speechless!' Lanina masih meracau dalam hatinya. "Iya, Lanina ... Tante gak bisa membayangkan bagaimana kamu hidup sebatang kara di sebuah indekos! Sebaiknya kamu tinggal disini saja! Disini banyak orang yang akan memperhatikan kamu! Ada Kek Djaya ... ada saya, ada papanya Arkana ... bahkan kalau kamu mau, kamu boleh panggil saya Mama!" Lanina tambah terharu. Sungguh, kelembutan hati Irene telah membuat Lanina terharu berkali-kali. "Ma-mama ...." gumam Lanina, dia memang butuh sosok yang bisa menggantikan rasa kerinduannya terhadap almarhum orang tuanya. "Iya, anggap saja begitu! Anggap saja Arkana sebagai Kakak kamu juga, ya?!" Lanina menoleh ke arah Arkana yang hanya duduk malas dengan obrolan penuh drama itu. Di situasi ini, hanya Arkana yang tampak terlihat tak antusias bahkan cenderung tak suka. "Lebih dari itu Lanina! Kakek, akan menikahkan kamu dengan Arkana agar supaya tak terjadi kesalah fahaman di antara keluarga besar nantinya! Satu lagi, perjodohan antara kamu dan Arkana, sudah Kakek dan Kek Hardy rancang jauh sebelum kelian lahir di dunia, puluhan tahun yang lalu!" Lanina Freezee! Lanina tak berkedip, entah bagaimana kabar detak jantungnya?! Apa yang Kek Djaya katakan adalah satu hal yang tak mampu Lanina bayangkan. Apa? Menikah? Menikah dengan Arkana? Apa maksudnya? Tolong, tolong direwind pernyataan tadi, apakah Lanina sedang berhalusinasi? Apakah ini mimpi??? Itu lah gambaran isi otak Lanina saat ini. Lanina masih belum berkedip, dia tak tahu harus bagaimana menanggapi ini semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN