Serius! Ini Bukan Mimpi

1349 Kata
"Ini kamar kamu, Non! Silakan ...." Desi, kepala pelayan di rumah ini mengantarkan Lanina ke dalam kamarnya. Kamar yang luas dan nyaman hampir serupa dengan kamar di rumahnya yang dulu. "Terima kasih banyak, Bu." Lanina masuk lebih dalam lagi lalu duduk di depan meja riasnya. Lanina menatap pantulan diri di cermin itu lalu mencoba memastikan kalau semua yang terjadi sepanjang hari ini bukanlah mimpi. "Dijodohkan sama Arkana? Jadi ... Arkana adalah calon suamiku?" gumamnya agak meracau. "Ya Tuhan! Ini nyata gak sih? Kalau ini cuma mimpi, kapan bangunnya? Kok lama banget, aaah ... atau ... aku sedang berhalusinasi? Aaaah ... ini mengacaukan tingkat kewarasanku!" "Aaah, sebaiknya aku tidur, dan lihat, dimana nanti aku saat terbangun? Apakah masih di kamar ini atau di kamar kosku!" Lanina bangkit, melepaskan tas gendong di punggungnya serta sepatunya lalu naik ke atas kasur yang nyaman itu lalu tidur. Semua kejutan yang ia terima sepanjang hari ini telah membuatnya lelah dan tak percaya. *** Duk duk Skrasshhhh Arkana melempar bola basketnya ke tiang ring dan sukses masuk melewati jaring keranjang dari jarak yang cukup jauh. Arkana kesal, harusnya dia tak terlibat dalam sebuah perjodohan konyol, dengan anak SMA pula! Tapi, Kek Djaya adalah salah satu sosok yang sulit sekali Arkana bantah di dalam hidupnya. Jika kali ini Arkana membantah perjodohan itu, Arkana harus siap dilempar dari keluarga Djayadiningrat. Sial memang! Arkana belum siap jadi orang susah! Dia tak munafik, dia sangat butuh keluarganya. "Hey, Ar! Sorry telat!" Seorang anak lelaki tampan lainnya datang menghampiri Arkana yang sedari tadi menunggunya di court basket di tengah kota. Lelaki itu adalah Yuki. Masih satu frekuensi dengan Arkana. Tinggi, tampan, populer dan pastinya kaya raya. Dia adalah teman baik Arkana. Arkana dan Yuki sering dijuluki The most wanted guy di jagat dunia maya. Setelah menyimpan tasnya di bench di pinggir lapangan, Yuki langsung masuk ke area permainan dan meladeni permainan Arkana. "Ar, apa lo tahu kalau Luisa udah balik ke Jakarta?" Yuki memulai topik obrolan sembari masih mencoba merebut bola yang sedang didrible oleh Arkana. "Serius?" tanya Arkana. Dia agak tak percaya mendengar kabar dari Yuki barusan. "Iya, katanya dia mau menetap di Jakarta! Mau buka kelas modeling juga!" Konsentrasi Arkana buyar sampai Yuki akhirnya berhasil merebut bola dari tangannya. Yuki berlari ke sisi lawan lalu melakukan lay up sehingga bolanya masuk. Yuki tak heran kalau Arkana tiba-tiba kehilangan konsentrasi setelah mendengar kabar tentang Luisa darinya. Secara Luisa adalah perempuan yang Arkana puja selama ini. "Kenapa lo? Frezee setelah dengar kabar dari Luisa! Ternyata benar ya kalau Arkana Putera Djayadiningrat yang populer dan kerennya gak ketulungan itu adalah b***k cintanya Luisa Alexandra! Ha ha ha!" goda Yuki. Dengan puas dia menertawakan sahabatnya. "Asem lo!" rutuk Arkana lalu dia menepi ke bench dan meminum air mineral yang tersedia di pinggir lapangan. Sekarang tinggal Yuki yang bermain-main sendiri di tengah lapangan. "Sebaiknya lo temui dia! Setelah ini pasti jadwalnya sibuk lagi!" usul Yuki. "Gue gak tahu dia masih mau ketemu gue apa nggak?! Chat gue seminggu yang lalu aja belum dia balas, bahkan gak dia read sama sekali!" keluh Arkana. "Chat-nya ketumpuk kali, coba lo chat ulang! Lo harus tahu lah, dia kan sibuk!" "Gue rasa Luisa udah lupa sama gue!" keluh Arkana. Dia tampak begitu lemah saat membahas sosok Luisa. Siapakah sebenarnya Luisa? Luisa adalah seorang model profesional yang sudah cukup malang melintang di dunia modeling dalam bahkan luar negeri. Dia bahkan mengawali karir modelingnya sejak berusia 15 tahun. Luisa adalah gadis cantik penuh pesona dengan tubuh superb profosional. Ditunjang dengan wajah cantik dan karismatik. Bahkan dia sering dijuluki sebagai Gigi hadid-nya Indonesia. Wajah Luisa dan super model dunia itu hampir memiliki garis yang sama. Luisa adalah cinta pertama untuk Arkana. Bahkan, sampai detik ini Arkana belum juga bisa menyingkirkan Luisa dari dalam hatinya. Tak peduli walau puluhan artis lainnya mendekat mencoba menawarkan cinta pada Arkana, Arkana tetap saja mengharapkan Luisa. Bisa dibilang, kalau Arkana ini adalah bucin akutnya Luisa. Dan mungkin, Luisa adalah satu-satunya sosok perempuan yang paling bisa menggetarkan hati Arkana. Yuki meninggalkan lapangan lalu duduk di samping Arkana. "Oh iya, tadi siang lo ke SMA Harapan Bangsa? Ngapain? Kedatangan lo kesana trending hari ini!" Yuki membahas obrolan lain. Arkana juga tak tahu harus menghadapi perjodohan antara dirinya dan anak SMA bau kencur itu. Arkana tak tahu apakah ia perlu menceritakan problemnya itu pada Yuki? "Gue disuruh Kek Djaya!" "Ngapain? Lo jemput anak SMA dan bawa dia ke rumah lo?" "Iya itu, gue disuruh jemput tuh anak sama Kek Djaya!" "Emang siapa tuh cewek? Istimewa banget dia sampai dijemput sama cowok populer kayak lo!" goda Yuki, Arkana hanya mencebik, saat ini semangatnya sedang drop. "Entah! Gue juga gak tahu! Katanya dia cucu dari sahabat Kek Djaya! Bokap nyokapnya baru aja meninggal karena kecelakaan pesawat! So, dia cuma tinggal sebatang kara sekarang ini!" jelaskan Arkana. "Oh, kasihan banget tuh cewek!" "Heum." "Mungkin Kek Djaya mau angkat dia jadi cucunya juga! Tuh cewek bakalan diangkat jadi adek lo, Ar!" duga Yuki. Arkana hanya tersenyum masam lagi. 'Lebih dari itu Bro! Kek Djaya malah mau jadikan tuh bocah sebagai bini gue!' kata Arkana dalam hati. Arkana masih merahasiakan wacana perjodohan ini dari siapa pun termasuk sahabatnya sendiri. Kalau saja perjodohan ini sampai bocor ke khalayak, ini akan menjadi berita heboh yang menggemparkan. "Ayo semangat lah! Besok ada latihan resmi, akan ada manager club Sunrise juga! Siapa tahu kita beruntung bisa masuk squad dari jalur seleksi besok! Ayo, Bro!" semangati Yuki yang kembali masuk ke dalam lapangan. Sunrise Club adalah klub basket profesional yang saat ini sedang mengarungi musim kompetisi liga basket nasional. Dan Arkana maupun Yuki sangat menginginkan bisa menjadi salah satu pemainnya. Arkana bangkit dan melupakan rasa galaunya. Latihan basket adalah salah satu caranya untuk melupakan beban-beban di hatinya. *** Lanina bangun, dan saat membuka mata dia masih ada di ruangan yang sama. "Ya Tuhan ... jadi ini nyata? Jadi ini bukan hanya mimpi?" gumamnya masih saja meracau. Bangun dari tidur dan Lanina masih ada di keadaan yang sama. Saat ini ia adalah calon istri Arkana dan hal itu membuat hatinya berkedut sejak tadi. Rasa nervous sampai membuat perutnya terasa mules sejak tadi saking excitednya. "Eh ... itu kan barang-barangku? Apa sudah diangkut semua dari kamar kosku?" gumam Lanina lagi begitu ia mendapati koper-kopernya sudah ada di dalam kamar itu. Sepertinya Kek Djaya memang langsung memerintahkan para pekerjanya untuk membawa semua barang-barang Lanina dari indekosnya. "Sebaiknya aku mandi dan bersiap untuk bergabung dengan Kek Djaya dan calon mertuaku di bawah, hi hi!" Lanina terkekeh lalu bersiap untuk pergi ke kamar mandi. Dia merasa harus selalu tampil cantik dan menawan agar supaya Arkana terkesan dengannya. *** Selepas latihan bersama Yuki, Arkana malah pergi ke komplek perumahan Luisa. Dia memarkir mobilnya di depan rumah Luisa tapi Arkana tak ada niat untuk masuk dan bertamu, dia masih cukup segan dan ragu. Memandangi rumahnya saja sudah cukup membayar rindu menggebu yang ia rasakan selama ini. "Lui ... apa selamanya pun kamu akan tetap jadi bintang? Bintang yang sulit digapai?" lirih Arkana. Cowok populer sekelas Arkana dibuat galau oleh Luisa. Drdddd ... drddd .... Tiba-tiba ponselnya bergetar. Awalnya Arkana tak terlalu antusias karena dia berpikir kalau yang menelpon paling juga orang rumah yang menyuruh untuk cepat pulang. Tapi .... "Luisa?" Yang menghubunginya saat ini adalah Luisa! Gadis yang ia tunggu, seketika hati Arkana menjadi cenat cenut. Ini seperti sebuah harapan yang bersambut. Tanpa berlama-lama Arkana segera mengangkat telphonnya. "Ar ... kenapa kamu cuma diam di depan rumahku? Apa kamu gak akan masuk? Apa kamu gak kangen sama aku?" Suara lembut membuai menyapa membuat Arkana tambah excited. Ternyata Luisa melihat keberadaan mobil Arkana yang terparkir statis lewat balkon kamarnya. Diam-diam Luisa memperhatikan pergerakan Arkana juga. "Heum ... aku takut ganggu, aku takut kamu lagi istirahat!" dalih Arkana. "Nggak kok, tetap disana ya ... biar aku jemput ke luar!" kata Luisa. Degup jantung Arkana berdebar hebat. Ternyata Luisa masih mengingatnya dan bahkan bersikap manis padanya. Arkana senang bukan kepalang. Dia cepat-cepat merapikan tatanan rambutnya, tak lupa juga memastikan kalau penampilannya tetap baik walau hanya mengenakkan kaos jersey basket saja. Itu dia ... gadis manis pujaan hati seorang Arkana datang, dia masih tak berubah, tetap menarik dan mempesona!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN