Penolakan Arkana

1214 Kata
Luisa tak mengajak Arkana masuk ke dalam rumahnya, Luisa malah masuk ke dalam mobil dan duduk di seat samping Arkana. Arkana mencoba tetap bersikap kalem walau sebenarnya hatinya sudah dag dig dug ser. "Hai, Ar ... apa kabar?" sapa Luisa dengan seulas senyum yang telah lama Arkana rindukan. "Baik." "Apa kamu sudah berhasil masuk squad team Sunrise?" "Belum, tunggu saja nanti!" "He he, kamu kok gak berubah ya, Ar! Kamu tetep kaku kayak gini, apa kamu gak pernah kangen sama aku?" protes Luisa. Luisa mengeluhkan sikap Arkana yang memang agak dingin dan kaku. Luisa hanya belum tahu saja kalau sebenarnya Arkana merasakan rindu yang sangat mengebu, hanya saja Arkana tak bisa menunjukkannya. "Kamu yang gak pernah balas pesan dari saya, Lui!" Arkan balik protes. "Pesan? Kamu kirim pesan sama aku?" "Ya, bahkan kamu udah gak pernah membukanya lagi!" "Kamu kirim pesan ke nomor yang mana, Ar? Apa jangan-jangan kamu chat ke akun official aku? He he, kalau nomor itu yang pegang Admin, bukan aku Ar! He he!" Sialan! Jadi selama ini Arkana chat ke nomor admin official Luisa? Sial! Sial! Pantas saja Luisa tak pernah membalasnya, pasti Arkana dianggap sebagai fans gaje (Gak jelas) dan fans nakal oleh team manager Luisa. "Mungkin!" dengus Arkana kesal. "Kamu juga gak follow akun instagramku, why? Aku gak ada sempat DM kamu karena aku terlampau sibuk!" "I know that," dengus Arkana lagi kesal. "Ayo masuk, Mami sama Papi lagi gak ada di rumah sih!" ajak Luisa kali ini. "Nanti aja kalau mereka ada di rumah!" kata Arkana. "Heum, kamu masih jadi anak baik ya, Ar! Tapi aku kangen sama Arkana yang nakal di masa SMA!" pancing Luisa. Arkana memanglah seoranf bad boy, suka tawuran, suka bolos bahkan sampai hari ini dia belum menyelesaikan kuliahnya. Tapi, Arkana selalu sopan terhadap orang tua. "Apa besok kamu sibuk?" tanya Arkana berbasa-basi lagi. "Yap, mungkin satu atau dua hari lagi baru waktulu luang!" "Heum, baiklah." "Kamu mau ajak aku jalan?" "Kalau kamu mau!" "Tentu saja aku mau, tapi ... ya begini lah, waktuku semakin sempit, padahal aku benar-benar kangen jalan berdua sama kamu, Ar." Arkana senang ternyata Luisa masih seperti dulu. Perkara mereka lost contact selama 2 tahun belakangan ini itu murni karena Luisa menjadi sangat sibuk sejak menjalani karir internasionalnya sebagai seorang super model. "Ya udah, kamu masuk lagi sana ... saya pulang dulu ya!" kata Arkana. "Oke," Kiss! Secara mengejutkan, Luisa meninggalkan sebuah kecupan manis di pipi kiri Arkana. Dunia Arkan serasa berhenti untuk beberapa detik. "Byee ... see you!" Luisa turun dari mobil Arkana tanpa rasa bersalah sedikit pun. Padahal Luisa sudah membuat hati Arkana menjadi begitu kacau balau selepas kecupan manis tadi. 'Luisa ... bahkan kecupanmu masih sama seperti yang dulu!' batin Arkana. Malam ini dia senang bukan main, hatinya yang telah lama layu kembali bermekaran. *** Lanina menunggu sang idola pulang. Tapi Arkana tak kunjung pulang. Bahkan Arkana tak ikut makan malam bersama di meja makan. "Setelah ini kamu istirahat ya, besok kamu sekolah biar Pak Yahya yang antar kamu ke sekolah!" kata Kek Djaya. Lanina kini ada di antara keluarga Djayadiningrat dan jujur saja Lanina merasakan kembali beberapa kepingan hidupnya yang hilang. Walau mendiang orang tuanya tak akan pernah terganti, tapi Lanina merasa sangat hangat dengan sikap semua orang di rumah ini. "Atau ... besok kamu berangkat bareng sama Arkana! Arkana juga kuliah pagi kok!" usulkan Irene, Lanina setuju sekali dengan usul itu. "Oh iya yah! Sebaiknya kalian berangkat bersama besok, kalian harus mulai mengenal satu sama lain!" kata Kek Djaya. "Kamu harus mengenal Arkana lebih dalam lagi, Lanina! Kamu harus siap dengan sikapnya yang agak ketus, kamu jangan kaget kalau Arkan juga bersikap dingin sama kamu! Memang seperti itu lah dia!" kata Irene. "Iya, Tante." "Lanina ... bisakah kamu berhenti memanggil saya dengan sebutan tante? Kamu bisa menyebut saya Mama, panggil juga Om Arya Papa! It's okay ... sekarang kamu juga adalah anak kami!" Lanina tambah terharu. Senang sekali rasanya mendengar itu. Jadi Lanina boleh memanggil orang tua Arkana dengan sebutan Mama dan Papa juga? "Iya Lanina, lagi pula ... mereka kan akan menjadi mertua kamu! Mereka akan menjadi orang tuamu juga!" tambah Kek Djaya. "Terima kasih banyak ...." gumam Lanina dengan mata berkaca-kaca saking terharunya. "Kamu gak sendirian! Arkana juga akan melindungi dan menjaga kamu! Kamu gak usah merasa sepi yaa!" "Terima kasih banyak, tante ... eh, Ma-mama maksudnya ...." "Iya, Nina ...." Kejutan-kejutan ini membuat Lanina merasa kalau hari ini berjalan begitu panjang. Bagian yang paling mengejutkan adalah dimana ia akan dijodohkan dengan Arkana. Entahlah ... entah bagaimana nantinya, tapi yang pasti Lanina senang bukan kepalang. Entah nanti Arkana akan menerima atau menolak perjodohan ini. *** "Kak Arkan!" Lanina setengah berlari menghampiri Arkana yang sedang memanaskan motor sportnya pagi ini. Arkana sama sekali tak menoleh dan menyahut panggilan Lanina. "Heum ... Kata Kek Djaya ... pagi ini aku pergi ke sekolahnya sama kamu! Arah sekolah sama kampus Kak Arkan kan searah!" kata Nina penuh harapan. "Gak bisa!" Seketika semangat Lanina rontok. Ternyata benar, kalau kian lama, sikap Arkana ini semakin ketus. "Kenapa ... gak bisa?" tanya Lanina menuntut penjelasan, dia memajang wajah memelas agar supaya Arkana merasa tak tega padanya. Tapi itu sama sekali tak akan berhasil karena Arkana bahkan sama sekali tak menoleh ke arahnya. "Kak ... aku ini kan calon istri kamu, kok sikapmu dingin begini sih?" Lanina bahkan terpaksa mengatakan kata-kata yang cukup berani itu berharap Arkan akan bereaksi. Dan itu berhasil, Arkana melempar tatapan tajamnya pada Lanina. Perasaan Lanina dag dig dug lagi, tatapan yang mengintimidasi itu membuat situasi agak tegang tapi Lanina suka. "Wacana pernikahan antara kamu dan saya adalah hal bodoh yang pernah saya dengar! Kamu menanggapi ini serius? Please lah, jangan berharap terlalu besar!" Tapi, kata-kata sarkas Arkana menghancurkan semua harapan Lanina. Ternyata kenyataan ini bukan mimpi, dan penolakan Arkana juga terdengar nyata. "Dan satu lagi! Jangan buat kehebohan di sekolah kamu! Gak perlu kamu bikin pengumuman kalau kamu sekarang tinggal di rumah ini!" Arkana masih agak mengecam. Wajah berseri Lanina menjadi muram dan semangatnya hilang begitu saja. 'Ini memang bukan mimpi! Tapi jangan mimpi untuk bisa jadi pasangannya Arkana!' batin Lanina menasehati dirinya sendiri. "Maaf kalau begitu, Kak." Lanina menarik mundur langkahnya. Dia putuskan untuk minta antar sopir pribadi saja, tapi tiba-tiba Kek Djaya muncul dari pintu utama rumah. "Arkana! Beri Lanina helm yang aman, jangan kebut-kebutan ya!" seru Kek Djaya. "Nggak kok, Kek. Saya mau minta antar Pak Yahya aja, saya gak jadi berangkat sekolah bareng Kak Arkan!" kata Lanina yang kini sudah ada di dekat Kek Djaya. "Lhoo, kenapa? Kalian harus berangkat bersama! Apa Arkana menolak ajakan kamu?" Lanina mengangguk pelan, sisi nakal Lanina muncul dan berniat untuk menarik simpati Kek Djaya agar Arkana mau menarik kata-kata ketusnya tadi. "Hey Arkana! Kamu gak boleh bantah! Pergilah dengan Lanina!" seru Kek Djaya lagi. Arkana kesal karena pada akhirnya tak bisa menolak lagi, "Dasar pengadu!" gerutu Arkana kesal. Dia merasa kalau Lanina akan menjadi parasit dalam hidupnya. Sialnya, Lanina memang telah berhasil mencuri simpati Kek Djaya dan kedua orang tua Arkana sejak pertama kali ia datang ke rumah ini. 'Yes! Sepertinya aku bisa memanfaatkan Kek Djaya ... pokoknya aku gak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini! Aku harus mewujudkan perjodohan fenomenal ini! Aku harus mencuri kesempatan untuk bisa lebih dekat sama Kak Arkan!' batin Lanina. Ternyata, Lanina diam-diam ngebet dengan rencana perjodohan itu. Apakah ia akan berhasil?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN