Mendadak Seleb

1012 Kata
Pergi ke sekolah sambil dibonceng Arkana naik motor sport super keren adalah salah satu impian semua gadis di kota. Saat ini posisi Lanina begitu dekat dengan Arkana bahkan dia bisa memeluknya dengan leluasa. Lanina memang jadi sedikit nakal, tapi ia benar-benar tak ingin buang-buang kesempatan. "Hey!" Arkana menoleh ke belakang. Lanina semakin gugup saja. "Iya, Kak?" "Pegangannya gak usah sambil meluk-meluk gini dong!" protes Arkana. Tampaknya dia memang tak suka dengan situasi ini. Lanina ciut, perlahan ia pun melepaskan tangannya yang melingkar erat di perut Arkana. Ternyata tak mudah mencuri kesempatan itu. "Tapi aku takut jatuh! Gimana dong?" "Ya udah gak usah naik motor saya!" sahut Arkana agak ketus. Lanina bisa langsung menyimpulkan kalau Arkana memang benar-benar tak suka dirinya keganjenan dan bersikap berani seperti ini. Tapi sungguh! Ada di posisi saat ini adalah salah satu momen langka yang tak boleh dilewatkan. Lanina pun mengalah, dia melonggarkan tangannya, alhasil dia hanya diperbolehkan berpegangan pada ujung jaket Arkana saja. "Jangan ngebut-ngebut ya, Kak ...." pinta Lanina. Arkana tak peduli, dia tutup kaca helm full facenya dan siap untuk menarik handle gas. Lutut dan sekujur kaki Lanina kembali bergetar hebat, sangat hebat sampai Arkana bisa merasakannya. Kedua belah kaki yang mengapit tubuhnya itu kiat gemetar dan sebelum benar-benar menarik handle gas, Arkana memegangi lutut Lanina sampai Lanina freeze lagi dan lagi. "Ini kenapa sih? Lutut kamu ini ganggu banget!" protes Arkana lagi, Lanina nervous plus malu lagi. "Gak kenapa-napa, jalan aja kak!" jawab Lanina lalu mencoba menyeimbangkan rasa gugupnya. Dan setelah itu Arkana sudah tak peduli pagi pada Lanina, dia segera bersiap lalu mulai menarik handle gas dan meluncur ke SMA Harapan Bangsa. Tak terbayangkan bagaimana hebohnya nanti di sekolah andai saja mereka melihat momen itu. Lanina benar-benar merasa jadi super lucky girl. Apa lagi Kek Atmadja sudah menetapkan tanggal perjodohan mereka. Lanina akan segera memiliki cowok impian teman-temannya secara utuh, sebagai suaminya. Dan benar saja, sesampainya di depan gerbang SMA Harapan Bangsa, setiap siswi yang baru sampai di sekolah sampai terpaku dan mencurahkan 100% perhatian mereka pada sosok Arkana yang pagi ini menjadi tukang ojek super spesial untuk Lanina. "Waah, itu beneran Arkana?" "Masih sama si Lanina? Kemaren juga Arkana jemput tuh anak." "Waduuh, bahaya ini! Kenapa si Lanina bisa se-lucky itu bisa dekat dengan Arkana?" "Aah pasti si Lanina main susuk tuh! Gak mungkin Arkana suka sama anak SMA!" "Yaa, walaupun si Lanina lumayan ... tapi .... aaah masa sih Arkana jadian sama si Lanina!" Desas-desus terdengar sangat kencang dan Lanina sungguh tak mempedulikan hal itu. Lanina hanya akan fokus pada calon suaminya saja, Lanina benar-benar yakin dengan hal itu. Lanina turun dari motor sport Arkana dengan perasaan bangga lalu melepaskan helm yang ia pakai tadi. "Makasih ya, Kak." "Sana masuk! Belajar yang benar! Jangan banyak halu!" kata Arkana masih terdengar ketus. He he, tapi, Lanina malah terkekeh dengan nasihat Arkana. Lanina berasa punya Kakak yang mengomel seperti itu. Gruuuung, Arkana tak peduli lagi dengan calon istri kecilnya itu lalu dia segera tancap gas meninggakan Lanina dan orang-orang yang bengong karena kedatangannya bersama Lanina sungguh membuat orang-orang kaget. "Hey Lanina! Itu beneran Arkana Putera Djayadiningrat? Apa itu Arkana kawe yaa?" ceeltuk salah satu teman yang ada di sekitar TKP. "Arkana KW? ya ampun, ada-ada aja kalian ini!" Lanina malah dibuat terkekeh lagi oleh pertanyaan temannya. "Jadi itu beneran Arkana? Kok bisa sih kalian barengan?! Apa kita gak salah lihat?" "Iya iya, beri kami klarifikasi dong! Kok bisa kamu boncengan sama dia? Terus, katanya kemaren juga dia jemput kamu, itu beneran gak sih? Kok kami agak sangsi yaa?" Seketika Lanina dikerubuni oleh beberapa fans fanatik Arkana sampai Lanina merasa gerah. Lanina merasa seperti seleb yang dikerubuni para wartawan gosip. "Duh, kalian bikin gerah deh ... permisi yaa permisi! Aku masih punya PR yang harus dikerjakan! Misi misi, kasih jalan!" Lanina langsung melepaskan diri dan pergi ke kelasnya. "Huuu, sok ngartis lo!" "Heleeeh, songong lo Nina!" Cemoohan merundungi Lanina tapi dia tak peduli. Lanina tak boleh asal bicara. Kalau dia katakan bahwa Arkana adalah calon suaminya, bisa gempar lah se antero sekolah dan Arkana juga pasti akan sangat murka padanya secara Arkana masih sangat tidak yakin dengan perjodohan itu. *** Sepanjang hari ini Lanina jadi trending dan dia tak menerima pertanyaan apa pun. Lanina tak peduli dicap sebagai orang sombong karena memang tak ada yang bisa ia jelaskan. Kalau Lanina bocorkan soal perjodohan itu bukan tidak mungkin kalau Kek Djaya juga akan marah dan membatalkan rencana perjodohan itu. Oh Nooo! Jangan sampai, ini kan kesempatan langka yang bisa jadi hanya akan terjadi sekali seumur hidup. "Lanina!" Di lorong yang menghubungkan beberapa ruang kelas menuju kantin sekolah ada yang memanggil nama Lanina dengan lantang. Lanina dan Emily sejenak menghentikan langkahnya dan itu adalah Axel. "Ya ampun, beruntung banget sih kamu, Nin?! Belakangan kamu dikerubuni cowok-cowok impian!" bisik Emily. "Entahlah Em, apa pesonaku sekuat itu sampai menarik atensi para kumbang-kumbang itu mendekat? He he ...." canda Lanina. "Ya, kamu deserve sih ... secara kamu mah syantik, manis, lucu, imut, ngangenin unyu-unyu ...." Kata-kata Emily semakin menggelitik Emily, mereka pun hanya cekikikan sampai akhirnya Axel tiba di hadapan Lanina dan Emily. "Kenapa, Xel?" sapa Lanina. "Banyak sekali yang mau aku bicarakan sama kamu!" tukas Axel. "Ya udah bicarakan aja," kata Lanina. "Ya gak disini lah!" "Dimana? Di kantin? Kebetulan aku sama Emily juga mau ke kantin!" Axel agak kesal, Lanina sangat tidak peka! Axel kan mau bicara empat mata saja, eye to eye, face to face! "Eheem! Kalian pergi duluan ya ke kantin, aku ketinggalan sesuatu di kelas! Pergi aja Nin, nanti aku nyusul!" kata Emily yang malah pergi meninggalkan Lanina dan Axel berdua saja. Axel tersenyum puas! Emily ternyata peka dengan keinginannya. "Huh, Emy ...." dengus Lanina. "Ya udah, kita gak usah ke kantin, kita ngobrol di court basket aja, yuk!" ajak Axel. "Tapi aku lapar nih, pengen nyemil sesuatu." "Itu mah gampang! Nanti aku suruh anak-anak buat belikan jajanan yang kamu mau! Yuk ...." ajak Axel agak memaksa. Lanina pun tak menolak, Lanina penasaran dengan apa yang ingin Axel bicarakan. Mereka pun pergi bersama ke arah court basket yang terletak di salah satu sudut sekolah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN