Penghulu?

1136 Kata
Lanina dan Axel duduk di tepi lapangan basket di salah satu sudut halaman sekolah yang luas itu. SMA Harapan Bangsa adalah salah satu SMA elit dengan fasilitas terlengkap. "Sebenarnya aku kecewa sama kamu, Nin!" kata Axel memulai obrolan. "Kecewa? Kenapa? Emangnya aku bikin salah apa sama kamu?" tanya Lanina bertubi-tubi. Lanina tak mengerti kenapa Axel tiba-tiba merasa kecewa padahal Lanina tak merasa melakukan kesalahan apa pun pada anak lelaki 17 tahun itu. Axel melirik ke arah Lanina yang duduk di samping kirinya, Lanina pun, mereka saling memandang dengan jarak yang cukup dekat. Desir angin meniup anak rambut Lanina dan dia sungguh cantik, pikir Axel. Lanina memang cantik dan bahkan dia sudah membuat siswa populer sekelas Axel jatuh cinta padanya. "Kamu beneran udah jadian sama Arkana?" tanya Axel. Lanina tak tahu harus jawab apa. Jadian sih nggak! Tapi ... faktanya Lanina akan langsung dinikahkan dengan Arkana walau Lanina tahu itu masih abu-abu. Pasalnya Arkana sendiri menolak keras perjodohan itu. "Nggak kok ...." Lanina memalingkan wajahnya, dia tak ingin lama-lama berpandangan dengan Axel. Lanina takut jatuh cinta pada Axel secara Axel adalah cowok idola yang memiliki banyak team hore yang siap membully Lanina kalau saja Lanina jadian dengannya. "Terus ... kenapa belakangan ini kamu sering ke-gap boncengan sama dia?" "Baru tadi pagi aja kok!" sangkal Lanina. "Terus kemarin? Dia jemput kamu juga kan?" "Iya sih, tapi kami gak jadian! Itu mustahil, kamu kan tahu kalau Kak Arkana itu adalah pria yang nyaris sempurna! Udah cukup dewasa juga, mana mungkin tertarik sama anak SMA macam aku!" Lanina merendah. "Kamu ini meranik, Nin! Gak ada batasan usia kenapa harus atau nggak tertarik sama kamu! Tapi kalau Arkana coba-coba dekati kamu, aku curiga kalau dia itu seorang p*****l!" "Nggak lah ... dia juga kan baru dua puluh tahunan! Dan yang pasti kami gak ada hubungan apa-apa!" "Serius, Nin?" "Serius." "Berarti ... masih ada kesempatan buat aku?" Pertanyaan Axel sudah mulai mengarah pada kejujuran hatinya. Lanina tak tahu harus bilang apa, yang pasti, Lanina juga tak bisa menerima pacar sembarangan karena dirinya sudah dijodohkan dengan Arkana dan itu masih menjadi rahasia besar. "Kesempatan apa, Xel?" "Aku tuh suka sama kamu! Bahkan sejak kelas 10! Tapi aku gak berani bilang!" akui Axel. Lanina akui kalau hatinya cukup berkedut mendengar pengakuan Axel. Secara Axel adalah salah satu siswa populer di seantero sekolah. Selain itu dia memang keren. Tampan, karismatik dan jago basket. "Aaah, kamu ... bikin aku ... baper aja ...." Lanina malu-malu dan tak berani lagi melakukan kontak mata dengan Axel. "Serius, Nin ... aku cuma gak tahu harus mulai dari mana! Terlalu banyak siswa yang deketin kamu!" "Aah kamu suka berlebihan!" "So ... gimana? Apa kita bisa memulai kencan pertama kita?" "Xel, sebentar lagi kita ujian! Serius deh, fokusku saat ini cuma itu ... belajar! Aku belum memikirkan hal lainnya selain belajar!" dalih Lanina. Padahal itu bohong sekali! Setiap ada kesempatan, Lanina dan Emily selalu heboh membahas cogan-cogan yang ada di sekitar mereka. Hanya saja, Lanina memang sedang mencoba menjaga hatinya, takutnya kalau dia nakal dan pacaran sama Axel, perjodohan dengan Arkana akan gagal total. "Jadi aku harus tunggu kamu sampai lulus ujian nanti?" tanya Axel dengan ekspresi wajah kecewa. "Heum ... iya! Kamu juga harus fokus belajar! Apa lagi kamu akan ikut training camp di club basket Sunrise! Kamu harus fokus kesana Xel!" "Iya sih, tapi kan aku butuh penyemangat!" "Hey ... aku bisa jadi penyemangat! Teman kan memang bertugas untuk menyemangati teman lainnya!" Lanina mencoba memberi suntikan moril. Lanina memang menolak Axel secara tidak langsung, tapi Lanina tak ingin membuat Axel patah semangat dan berkecil hati. Maka tak lupa ia pun menyemangatinya juga. Tapi Axel tetap kecewa karena goal terbesarnya saat ini adalah memiliki Lanina sebagai pacarnya. *** Di tempat lainnya .... Arkana dan Yuki sedang mengikuti seleksi awal untuk masuk skuad basket Sunrise. Club Sunrise memang club basket kebanggaan ibu kota. Para pecinta basket ingin masuk ke squad utama tak terkecuali Arkana dan Yuki. Bahkan Axel yang masih pelajar pun begitu bercita-cita untuk masuk ke Sunrise. Arkana dan Yuki sedang melakukan pertandingan uji coba dan tiba-tiba .... Priiiit! Sebuah pluit menghentikan permainan. "Arkana! Ada telpon penting dari keluarga kamu!" kata seorang official. Arkana heran, ada telpon penting? Sepenting apa sampai harus menghentikan laga uji coba itu? "Ada apa, Ar?" tanya Yuki yang juga merasa heran. "Gak tahu! Sepenting apa sih sampe harus menyela pertandingan ini?" kata Arkana agak menggerutu. "Sebaiknya lo menepi dan angkat telponnya, pasti penting!" Arkana menepi dan keluar dari garis lapangan. Arkana mengambil ponsel milik official itu dan penasaran apa yang terjadi. "Arkan ... Arkan kamu harus pulang, Nak!" Suara Irene menyambut dengan panik, Arkana makin tak mengerti, ada apa sebenarnya? "Ada apa, Ma?" tanya Arkana. "Kakek ... kakek kamu collaps! Kamu harus pulang sayang! Temui kami di Rumah sakit!" Kakek? colapse? Arkana juga merasa kalau kabar itu bagaikan petir di siang bolong. "Iya, Arkan akan segera kesana!" putuskan Arkana lalu cepat-cepat mengakhiri sambungan telponnya. "Terima kasih!" kata Arkana lalu memberikan ponsel milik oficial itu. Setelah itu, Arkana meminta izin pada coach untuk pulang lebih awal. Karena keadaan yang urgent, Arkana diijikan untuk pulang. Tanpa buang waktu, Arkana langsung meluncur menuju rumah sakit dimana Kek Djaya dirawat. Apa yang terjadi dengan Kek Djaya? *** Lanina juga dapat kabar itu, dia yang sedang menjalani les privat langsung memutuskan untuk pulang menuju Rumah sakit tempat Kek Djaya dirawat. Kebetulan Lanina dan Arkana bertemu di lobi rumah sakit. Mereka pun berlarian bersama mencari letak ruangan Kek Djaya. "Kek Djaya kenapa? Tadi pagi kan masih baik-baik aja?!" tanya Lanina tapi Arkana sama sekali tak menjawab pertanyaan itu. Dia fokus berpacu dengan waktu dan akhirnya mereka tiba setelah melihat Irene dan Aria menunggu di salah satu lorong sepi itu. "Apa yang terjadi?" tanya Arkana dengan panik. "Ring jantungnya bermasalah, sekarang sedang ditangani oleh Dokter!" kata Irene dengan wajah sendu. Semua orang pasti belum siap kehilangan Kek Djaya. Kek Djaya adalah sosok menyenangkan yang selalu menghangatkan hari-hari mereka. Arkana juga sangat menyayangi kakeknya itu, walaupun belakangan ia agak kesal setelah berencana untuk dijodohkan dengan Lanina. Tak lama, seorang pria paruh baya dengan map di tangan datang. Pria itu berpakaian rapi dan memakai peci seperti pekerja kelurahan. "Assalamualaikum, Pak Bu ... saya Yahya ... penghulu yang dihubungi Pak Djaya tadi pagi. Beliau meminta saya untuk datang di jam ini, jam 4 sore!" Lanina dan Arkana hanya mengerutkan dahi. Penghulu? Mau apa penghulu itu tiba-tiba datang di saat-saat genting seperti ini? Dan apa pula rencana Kek Djaya, menghubungi penghulu untuk datang sore ini. Kek Djaya seperti sudah tahu kalau ia akan colapse sore ini. Ini seperti teori konspirasi yang sulit untuk dipecahkan. "Oh iya, mari ... mari masuk ...." Dan anehnya, Irene dan Aria tak se-shock Arkana dan Lanina dengan kedatangan penghulu itu. Apa mereka bersekongkol? Apa mungkin Lanina dan Arkana akan dinikahkan sore ini juga? Di samping brankar Kek Djaya yang sedang sakit?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN