Arafi berjalan dengan sedikit goyah, sesekali berpegangan pada tembok yang dilewatinya. Matanya agak mengabur dan perih akibat menangis tadi. Harusnya ia tetap berada disana, menunggu hingga Nares selesai melakukan operasi untuk melahirkan anak mereka. Namun perkataan yang ia dengar dari ayah mertuanya membuat dirinya tertohok dengan telat. Teguran. Sebuah teguran. Benar itu penyebabnya. Sejauh ini Arafi menjalankan sholat hanya untuk menepati janjinya pada Nares, tanpa benar-benar membiarkan hatinya percaya pada Allah. Tanpa benar-benar punya niat bersih untuk menjalankan keajaiban nya sebagai orang muslim. Semua itu ia lakukan semata-mata hanya untuk membuat Nares percaya jika dirinya menginginkan anak itu sama besarnya, sebuah upaya agar Nares mau mempertahan anak mereka. Dan karena

