Bab 7

1132 Kata
[Nadia POV] Aku berjalan kedapur mengikuti Intan dari belakang, “Kita mau masak apa aja?” tanyaku melihat Intan yang sibuk mempersiapkan bahan-bahan masakan. “Kita masak telur balado saja bagaimana tapi isinya bukan hanya sayur ada tambahan sayur kol, tahu sama tempe,” kata Intan bersemangat. “Baiklah apa saja yang bisa aku bantu.” Intan berjalan mengambil panic mengisinya dengan air keran, “Bantu aku siapkan tahu sama tempenya, sementara itu aku akan mendidihkan air untuk merebus telur.” Intan mulai menghidupkan kompornya. “Nad umur kamu berapa?” Tanya Intan yang sudah mulai mengintrograsiku. “Aku umur 26 tahun,” jawab ku singkat dengan senyuman kecil. Intan menatap kearahku, “Wwah serius kalian maksudku kamu sama Dev seumuuran berarti kalian seangkatan apa kalian dulu satu sekolah?” Astaga kenapa dia begitu penasaran sekali? Apa setiap wanita itu memiliki rasa ingin tau yang tinggi? Dalam hati aku bertanya-tanya. “Iya dulu kami satu sekolah.” Mungkin jawabn ku cukup ambigu sehingga Intan tidak puas dengan jawaban ku. “Satu sekolah pada masa apa? Maksudku jaman SD? SMP? SMA? Atau Kuliah? Sebenarnya aku cukup geram dengan pertanyaan Intan tapi aku tetap menjawabnya, “Jaman Smp setelah itu kami berpisah karena kami memilih SMK dengan jurusan masing-masing.” Tidak hanya disana intan masih terus bertanya hubungan ku dengan Dev apakah Dev tidak memberitahu Intan tentang diriku? “Apa kalian dulu pernah pacaran?” Tanya Intan yang membuat ku kesulitan untuk menjawab. Mau jawab iya takut jadi pelakor dan jadi perusak hubunga orang, mau jawab enggak dusta dan dosaku kian menumpuk belum juga lakuin amal buat nutupin dosa sebelumnya. Omma aku dalam masalah hiks hiks. Tangis ku dalam hati pura-pura nangis sih. “Lah diem Nad?” Tanya intan yang dikiranya aku sedang focus mengiris tahu. “Dulu Dev selalu menceritakan tentang mantan kekasihnya. Dia bercerita seakan-akan dia masih mempunyai perasaan padanya. Setiap kali aku bertanya padanya siapa namanya Dev tidak pernah memberitahuakn namanya. Aku penasaran sekali degan orang yang mampu membuat Dev seperti itu.” Ternyata dev masih memiliki perasaan pada ku tapi setelah menikah? Entahlah sepertinya kalua aku menaruh harapan padanya aku akan terjatuh dalam lubang yang dalam. “Nad ulang tahun mu kapan?” Tanya intan lagi padaku. “15 January,” jawabku singkat. Intan memperhatikan potongan tahu dan tempe ku, “Wah nad potonganmu lumayan rapi juga Dev bilang padaku kamu tidak pandai dalam urusan dapur makanya dia memintaku untuk memasakkan sarapan untukmu.” Sebenarnya aku bisa memasak tapi nurut aja sama pemilik rumah takut ada cekcok kalua aku kelihatan lebih pintar kan gawat ya nanti disbanding-bandingkan astaga PDnya aku. Sejak putus dari Dev aku banyak intropeksi diri. Aku turuti perkataan Intan untuk mengiris tahu dan tempe, “Selesai ini tahunya digoreng?” Tanya ku saat aku sudah selesai mengiris tahu dan tempe. Dev berjalan menuju dapur ku perhatikan setiap langkahnya, “Wah sepertinya kalian mudah sekali akrab ya aku kira kalian aku kesulitan untuk medekatkan diri.” Dev mengambil minuman yang ada didalam kulkas. Aku berjalan mengambil wajan bersiap untuk menggoreng, namun siapa sangka ada sesuatu yang akan terjadi saat aku menghidupkan kompor BUR “NADIA!” teriak Dev langung menjauhkan diriku dari kompor dengan cara memelukku. Api itu terbang saat aku menghidupkan kompornya aku benar-benar terkejut dan sedikit syok melihat api dihadapanku. Wajarlah aku ini penakut tingkat Dewa. “Intan! Kenapa bisa kamu tidak memperhatikan kalua kompor yang kamu nyalakan tidak mengeluarkan api?” pekik Dev memarahi intan. Jadi sumber masalahnya adalah kompor yang dihidupkan Intan sejak tadi tidak mengeluarkan api namun menyala sehingga cairan gas itu keluar dan saat aku menghidupkan kompor disebelahnya gas api itu menyambar gas yang ada disampingnya. Intan langsung mematikan kedua kompor untungnya api tidak begitu besar sehingga tidak terjadi kebakaran. Aku masih belum bisa menghilangkan keterkejutanku sendiri sampai akhirnya aku melihat Dev membasuh tangannya. Dia mengalami luka bakar ringan. Aku tarik nafsku dengan gemetar, “Ayo Dev aku bantu isikan salap pada tanganmu.” Aku mencengkram tangan kanan Dev dan membawanya menuju ruang tamu. “Tolong obatin Dev dulu ya aku yang akan menghandel urusan dapur.” Aku menganggukan kepalaku mendengar perkataan Intan. Aku tidak akan pernah mengira bahwa Dev bisa memarahi Intan seperti tadi. Baper? Iya aku sedikit kebawa perasaan namun tidak ingin terbang terlalu tinggi. Aku mengambil kotak P3K yang ada didepan tembok kamar mandi. “Sakit?” tanyaku melihat Dev yang meringis saat aku mengoleskan salap pada tangannya. Dev menggelengkan kepalanya, “Aku lebih sakit kalua melihatmu yang terluka.” Aku tersenyum getir mendengar rayuan Dev bahkan sejak kami kembali bertemu secara tatap muka Dev selalu mengeluarkan rayuannya, “Bisakah kamu berhenti membual?” “Bisakah kamu berhenti bersikap jutek padaku bukannya tadi kamu ileran melihat tubuh polosku?” OH ayolah disaat seperti ini bisa-bisanya dia terlihat santai bahkan menggoda? Merayu? Padaku? dan disini ada istrinya? Oh ya TUHAN  ini benar-benar membuat aku hampir kehilangan kewarasanku. “Nanti siang kita akan kedokter untuk konsultasi mengenai programnya,” kata Dev sedikit meninggikan suaranya agar didengar oleh Intan yang berada didapur. “Baguslah lebih cepat lebih baik,” jawab Intan. “Secepat itu?” Tanya ku pelan. Dev tersenyum smirk dihadapanku, “Kenapa apa kamu tidak ingin cepat-cepat agar bisa bertahan lebih lama denganku? Oke fix kalua aku terus kayak gini lama-lama bisa jatuh hati kembali dan itu sama dengan namanya gagal move on dan aku gak mau itu terjadi. Selesai aku mengobati tengannya Dev aku bergegas untuk berdiri namun ditahan oleh Dev. “Kenapa terburu-buru apa kamu tidak suka dengan cara bicaraku?” Tanya dev dengan mata teduh. Aku menghembuskan nafas berat dan berjongkok dihadapannya, “Tidak, bisakah kamu melepaskan cengkramannya.” Dev melihat diriku dia pasti bisa membaca Bahasa tubuhku kalua aku dalam zona tidak nyaman, “Baiklah aku tidak akan melakukannya.” Deg! Entah apa yang aku rasakan saat ini. Rasanya ada sesuatu yang akan ilang dari diriku sebuah rasa takut untuk kehilangan sesuatu. Tapi aku tidak mungkin memaksakan kehendakku kembali bukankah aku cukup egois. Aku tersenyum kecil perlahan aku melepaskan cengkeraman Dev meskipun ada hati yang sudah bersiap untuk menitikkan air matanya. Aku berjalan gigih meninggalkan dirinya perlahan. Aku kembali membantu Intan didapur. “Apa luka Dev begitu parah?” Tanya Intan dengan penuh perhatian. Aku sedikit iri meskipun Dev memiliki banyak karma namun masih bisa mendapatkan istri yang sempurna seperti Intan rasanya hati ini berteriak tidak terima. Aku menganggukan kepalaku kecil dengan senyuman aku menjawab, “Dev tidak apa-apa tenanglah dia hanya mengalami luka bakar kecil beri dia waktu luka itu pasti akan sembuh.” Intan terlihat bersyukur dengan mengelus dadanya sepertinya dia sangat khawatiir dengan Dev. Luka fisik bisa sembuh. Luka yang dialami Dev bisa hilang. Tapi bagaimana dengan lukaku? Tubuh lu bergetar saat luka itu kembali menyayat hatiku. Luka yang tak akan pernah bisa aku hilangkan sampai aku bisa menemukan obat yang tepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN