[Nadia POV]
Aku berjalan kedapur mengikuti Intan dari belakang, “Kita
mau masak apa aja?” tanyaku melihat Intan yang sibuk mempersiapkan bahan-bahan
masakan.
“Kita masak telur balado saja bagaimana tapi isinya bukan
hanya sayur ada tambahan sayur kol, tahu sama tempe,” kata Intan bersemangat.
“Baiklah apa saja yang bisa aku bantu.”
Intan berjalan mengambil panic mengisinya dengan air keran, “Bantu
aku siapkan tahu sama tempenya, sementara itu aku akan mendidihkan air untuk
merebus telur.” Intan mulai menghidupkan kompornya.
“Nad umur kamu berapa?” Tanya Intan yang sudah mulai
mengintrograsiku.
“Aku umur 26 tahun,” jawab ku singkat dengan senyuman kecil.
Intan menatap kearahku, “Wwah serius kalian maksudku kamu
sama Dev seumuuran berarti kalian seangkatan apa kalian dulu satu sekolah?”
Astaga kenapa dia
begitu penasaran sekali? Apa setiap wanita itu memiliki rasa ingin tau yang
tinggi? Dalam hati aku bertanya-tanya.
“Iya dulu kami satu sekolah.” Mungkin jawabn ku cukup ambigu
sehingga Intan tidak puas dengan jawaban ku.
“Satu sekolah pada masa apa? Maksudku jaman SD? SMP? SMA? Atau
Kuliah?
Sebenarnya aku cukup geram dengan pertanyaan Intan tapi aku
tetap menjawabnya, “Jaman Smp setelah itu kami berpisah karena kami memilih SMK
dengan jurusan masing-masing.”
Tidak hanya disana intan masih terus bertanya hubungan ku
dengan Dev apakah Dev tidak memberitahu Intan tentang diriku?
“Apa kalian dulu pernah pacaran?” Tanya Intan yang membuat
ku kesulitan untuk menjawab. Mau jawab iya takut jadi pelakor dan jadi perusak
hubunga orang, mau jawab enggak dusta dan dosaku kian menumpuk belum juga
lakuin amal buat nutupin dosa sebelumnya.
Omma aku dalam masalah
hiks hiks. Tangis ku dalam hati pura-pura nangis sih.
“Lah diem Nad?” Tanya intan yang dikiranya aku sedang focus mengiris
tahu.
“Dulu Dev selalu menceritakan tentang mantan kekasihnya. Dia
bercerita seakan-akan dia masih mempunyai perasaan padanya. Setiap kali aku
bertanya padanya siapa namanya Dev tidak pernah memberitahuakn namanya. Aku
penasaran sekali degan orang yang mampu membuat Dev seperti itu.”
Ternyata dev masih memiliki perasaan pada ku tapi setelah
menikah? Entahlah sepertinya kalua aku menaruh harapan padanya aku akan
terjatuh dalam lubang yang dalam.
“Nad ulang tahun mu kapan?” Tanya intan lagi padaku.
“15 January,” jawabku singkat.
Intan memperhatikan potongan tahu dan tempe ku, “Wah nad
potonganmu lumayan rapi juga Dev bilang padaku kamu tidak pandai dalam urusan
dapur makanya dia memintaku untuk memasakkan sarapan untukmu.”
Sebenarnya aku bisa memasak tapi nurut aja sama pemilik
rumah takut ada cekcok kalua aku kelihatan lebih pintar kan gawat ya nanti disbanding-bandingkan
astaga PDnya aku. Sejak putus dari Dev aku banyak intropeksi diri. Aku turuti
perkataan Intan untuk mengiris tahu dan tempe, “Selesai ini tahunya digoreng?” Tanya
ku saat aku sudah selesai mengiris tahu dan tempe.
Dev berjalan menuju dapur ku perhatikan setiap langkahnya, “Wah
sepertinya kalian mudah sekali akrab ya aku kira kalian aku kesulitan untuk
medekatkan diri.” Dev mengambil minuman yang ada didalam kulkas.
Aku berjalan mengambil wajan bersiap untuk menggoreng, namun
siapa sangka ada sesuatu yang akan terjadi saat aku menghidupkan kompor
BUR
“NADIA!” teriak Dev langung menjauhkan diriku dari kompor
dengan cara memelukku.
Api itu terbang saat aku menghidupkan kompornya aku
benar-benar terkejut dan sedikit syok melihat api dihadapanku. Wajarlah aku ini
penakut tingkat Dewa.
“Intan! Kenapa bisa kamu tidak memperhatikan kalua kompor
yang kamu nyalakan tidak mengeluarkan api?” pekik Dev memarahi intan.
Jadi sumber masalahnya adalah kompor yang dihidupkan Intan
sejak tadi tidak mengeluarkan api namun menyala sehingga cairan gas itu keluar
dan saat aku menghidupkan kompor disebelahnya gas api itu menyambar gas yang
ada disampingnya. Intan langsung mematikan kedua kompor untungnya api tidak
begitu besar sehingga tidak terjadi kebakaran.
Aku masih belum bisa menghilangkan keterkejutanku sendiri
sampai akhirnya aku melihat Dev membasuh tangannya. Dia mengalami luka bakar
ringan. Aku tarik nafsku dengan gemetar, “Ayo Dev aku bantu isikan salap pada
tanganmu.” Aku mencengkram tangan kanan Dev dan membawanya menuju ruang tamu.
“Tolong obatin Dev dulu ya aku yang akan menghandel urusan
dapur.” Aku menganggukan kepalaku mendengar perkataan Intan.
Aku tidak akan pernah mengira bahwa Dev bisa memarahi Intan
seperti tadi. Baper? Iya aku sedikit kebawa perasaan namun tidak ingin terbang
terlalu tinggi. Aku mengambil kotak P3K yang ada didepan tembok kamar mandi.
“Sakit?” tanyaku melihat Dev yang meringis saat aku
mengoleskan salap pada tangannya.
Dev menggelengkan kepalanya, “Aku lebih sakit kalua melihatmu
yang terluka.”
Aku tersenyum getir mendengar rayuan Dev bahkan sejak kami
kembali bertemu secara tatap muka Dev selalu mengeluarkan rayuannya, “Bisakah
kamu berhenti membual?”
“Bisakah kamu berhenti bersikap jutek padaku bukannya tadi
kamu ileran melihat tubuh polosku?”
OH ayolah disaat seperti ini bisa-bisanya dia terlihat
santai bahkan menggoda? Merayu? Padaku? dan disini ada istrinya? Oh ya
TUHAN ini benar-benar membuat aku hampir
kehilangan kewarasanku.
“Nanti siang kita akan kedokter untuk konsultasi mengenai
programnya,” kata Dev sedikit meninggikan suaranya agar didengar oleh Intan yang
berada didapur.
“Baguslah lebih cepat lebih baik,” jawab Intan.
“Secepat itu?” Tanya ku pelan.
Dev tersenyum smirk dihadapanku, “Kenapa apa kamu tidak
ingin cepat-cepat agar bisa bertahan lebih lama denganku?
Oke fix kalua aku terus kayak gini lama-lama bisa jatuh hati
kembali dan itu sama dengan namanya gagal move on dan aku gak mau itu terjadi. Selesai
aku mengobati tengannya Dev aku bergegas untuk berdiri namun ditahan oleh Dev.
“Kenapa terburu-buru apa kamu tidak suka dengan cara
bicaraku?” Tanya dev dengan mata teduh.
Aku menghembuskan nafas berat dan berjongkok dihadapannya, “Tidak,
bisakah kamu melepaskan cengkramannya.”
Dev melihat diriku dia pasti bisa membaca Bahasa tubuhku kalua
aku dalam zona tidak nyaman, “Baiklah aku tidak akan melakukannya.”
Deg!
Entah apa yang aku rasakan saat ini. Rasanya ada sesuatu
yang akan ilang dari diriku sebuah rasa takut untuk kehilangan sesuatu. Tapi aku
tidak mungkin memaksakan kehendakku kembali bukankah aku cukup egois. Aku
tersenyum kecil perlahan aku melepaskan cengkeraman Dev meskipun ada hati yang
sudah bersiap untuk menitikkan air matanya. Aku berjalan gigih meninggalkan
dirinya perlahan.
Aku kembali membantu Intan didapur.
“Apa luka Dev begitu parah?” Tanya Intan dengan penuh
perhatian.
Aku sedikit iri meskipun Dev memiliki banyak karma namun
masih bisa mendapatkan istri yang sempurna seperti Intan rasanya hati ini
berteriak tidak terima. Aku menganggukan kepalaku kecil dengan senyuman aku
menjawab, “Dev tidak apa-apa tenanglah dia hanya mengalami luka bakar kecil
beri dia waktu luka itu pasti akan sembuh.”
Intan terlihat bersyukur dengan mengelus dadanya sepertinya
dia sangat khawatiir dengan Dev.
Luka fisik bisa sembuh. Luka yang dialami Dev bisa hilang.
Tapi bagaimana dengan lukaku? Tubuh lu bergetar saat luka itu kembali menyayat
hatiku. Luka yang tak akan pernah bisa aku hilangkan sampai aku bisa menemukan
obat yang tepat.