[Nadia POV] Dengan telapak tangannya dia menghapus jejak lumatannya di bibirku. Aku memperhatikannya intens dan sangat dekat. Duniaku serasa rapuh bahwa kenyataan harus kuhadapi. "Kenapa harus mencium ku seperti itu?" Umpatan kekesalan ku padanya. Aku tau dia pasti mendengarnya secara jelas. Karena dia menyahutinya, "Kalau gak dibungkam, gak bakalan selesai debatnya." "Gak harus dengan acara ciuman juga." Dia tersenyum tipis, "Ini makanlah Aaaa..." Dia menyuapi ku sesendok nasi. "Aku bisa makan sendiri Dev," Tolakku "Kalau gak disuapin pasti kamu tunda lagi makannya, ayo aaa..." Mau tidak mau aku menerima suapan darinya, "Makasih," Ucapku sambil menutup mulut. "Sama-sama, sekarang kamu harus banyak makan." Dia menyerahkan sepiring nasi dan semangkuk sup yang dia baru saja di

