"BARIS, cepat!"
Riuh suara pengurus siswa-siswi 2P, Pertukaran Pelajar, mengisi warna baru pada SMA Impian Indonesia. Banyak pasang mata yang penasaran, melihat dari balkon kelas mereka, sambil menilai dalam diam siswa-siswi yang berbaris di tengah lapangan. Sementara yang dilihat, masih banyak yang terkantuk-kantuk, memasang dasi dengan benar-tapi hasilnya tetap saja acak-acakan, dan mengelus perut yang meraung kelaparan.
Apel untuk siswa 2P dimulai jam lima dini hari.
Lagas mengetuk ujung tip puplennya pada papan jalan berisi runtutan acara hari ini. Sementara mata tajamnya menghitung dalam diam kepala-kepala siswa 2P. 47... 48... 49..., mana yang ke-50?
"Ram?" panggil Lagas langsung pada Ramy yang tengah merapikan barisan siswa. Tindakan Ramy tentu saja mendapat komentar pedas dari Lagas. "Mereka udah gede, masa baris-berbaris aja masih diatur sama kita? Woi, urus diri lo sendiri! Jangan bisanya ngurusin feeds i********: orang doang."
Mereka yang dikomentari tentu saja langsung merapikan barisannya, menunduk gugup. Mau bagaimana pun juga, Lagas senior mereka. Dan kekentalan senioritas di SMA Impian Indonesia jauh lebih terasa dibanding sekolah lain.
Ramy beringsut mendekati Lagas. Muka Ramy antara cengengesan dan gugup. Siapa juga yang tidak gugup bila berhadapan dengan macan yang satu ini? Salah sedikit, bisa kena cakarannya yang menurut legenda sudah diasah sebelum lahir.
Oke, Ramy berlebihan.
"Kenapa, Gas?" tanya Ramy, dalam diam laki-laki itu mengepalkan tangannya, takut kena omel seperti tadi.
"Lo bener enggak, pas ngitung di asrama tadi? Gue ngitung ini cuma dapet 49, satu lagi mana? Diculik Kalong Wewe?" tanya Lagas sedikit menyindir. Dugaan bahwa Ramy ceroboh seperti biasa terngiang-ngiang di kepala Lagas. Masalahnya, bila satu orang tidak becus, akan berdampak pada yang lain.
Apalagi pada diri Lagas.
Pandangan Ramy lantas tertuju pada siswa, lalu pada Lagas. "I-iya... gue yakin, kok! Tadi gue ngitung berderet. Jadi enggak mungkin salah hitung."
Lagas sejenak terdiam. Dia melihat pengurus lain tengah sibuk merapikan barisan. Ada menyuruh mulut mereka diam dengan galak. Ada juga yang sibuk mengecek atribut. Satu saja tidak lengkap, poin akan ditambahkan pada siswa.
Setelah lama memutuskan, akhirnya Lagas menghela napas. Urusan ini selalu membuatnya jengkel. Tapi, apalagi yang bisa Lagas lakukan selain menjalaninya?
"Halo, gue minta perhatiannya sebentar!" seru Lagas dengan suara lantang.
Masih terdengar bisik-bisik menyebalkan dari lapangan. Lagas tidak diperhatikan. Lagas tidak suka fakta itu.
"WOI, MULUT LO SATU TAPI NGOCEHNYA KAYAK KERAN BOCOR!" kali ini, Lagas tidak mau tanggung-tanggung lagi. Dia sudah biasa memarahi yang seperti ini. Biarlah pagi ini diisi dengan wajah-wajah syok siswa 2P karena sikapnya.
Tentu saja lapangan langsung lengang. Semua orang menatap Lagas takut-takut. Tidak hanya siswa, tapi pengurus pun juga. Memang tidak diragukan lagi dengan predikat Lagas Saputra sebagai ketua koordinir 2P ini.
Lagas berdeham. "Dimulai dari paling kiri, berhitung!"
Dengan gagap dan panik, perempuan yang berbaris paling kiri depan mulai mencicit. "Sa-satu!"
"Dua!"
"Tiga!"
Mereka terus berhitung dan tiap detiknya Lagas yakin bahwa dia kehilangan satu orang. Hitungan semakin menipis hingga akhirnya barisan paling belakang pojok kanan menyahut.
"Empat delapan!"
Kerutan di dahi Lagas memudar. Pias dan heran. Jadi, bukan hanya satu yang kabur?
"Ram, acara lo yang handle, gue mau cari yang kabur," ucap Lagas sambil memberikan papan jalannya pada Ramy.
Ramy kaget bukan main. Harusnya Lagas yang memandu acara. Ramy bisa apa?
Melihat wajah ragu dari Ramy, Lagas lantas berseru, sedikit memaksa-eh, banyak memaksa. "Udah, bisa enggak bisa, harus bisa!" tegasnya sebelum berderap pergi menjauhi lapangan.
Ramy meneguk ludah. "Se-semua harap tenang. Bapak kepala sekolah akan datang sebentar lagi untuk kata sambutan dan penanda dimulainya acara ini."
Tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan.
Di sisi lain, Lagas memutar otak. Dimana mereka? Dimana biasanya penjahat bersembunyi? Mencari di sekolah seluas ini perlu banyak orang dan berjam-jam. Tapi, Lagas tidak bisa menyerahkan ini pada orang lain. Dia yang harus turun tangan sendiri dan memberikan sedikit 'pelajaran' pada mereka.
"Kemana, sih?" tanya Lagas frustasi, sudah sepuluh menit dia mencari seragam yang berbeda dengan seragamnya. Ya, siswa pertukaran pelajar semuanya memakai seragam berwarna biru cerah sementara siswa asli SMA Impian Indonesia memakai warna peach pudar.
Perbedaan yang mencolok.
Lagas menatap bayangannya sendiri di cermin dekat dengan pintu lab. Biologi. Wajah tirus dengan pandangan mata tajam dan dahi berkerut itu menatap Lagas balik. Lagi-lagi, Lagas menghela napas. Beban tidak juga hilang dari pundaknya.
Kemana dia harus menca-
"Toilet," cetusnya dengan secercah senyum kecil terbit di wajahnya.
"DYYY, udah belum?"
Suara tanya Lema dari luar bilik toilet membuat Judy muak. Tentu saja muak. Sudah ke... ah, entahlah, Judy tidak menghitung. Pokoknya Lema terus-terusan menanyakan 'udah belum?' sampai-sampai ritual pagi Judy menjadi terganggu.
"Kalo enggak mau nungguin gue, sana balik!" seru Judy berapi-api.
Memang tiap pagi, Judy selalu setor 'tabungan' di toilet. Seperti pagi ini saja. Bukan salah Judy perutnya tidak bisa diajak kompromi. Salahkan acara Pertukaran Pelajar bodoh ini yang menyuruh mereka berkumpul di lapangan pagi buta. Buat apa, coba? Perpeloncoan? Aneh.
"Bukan begitu, Dy. Tapi kalo ketauan kita dihukum loh. Kalo kita enggak boleh sarapan, gue bisa sakit, loh," Lema masih membela diri.
"Ya udah, sih, tinggal makan di luar! Susah amat," celoteh Judy.
"Tapi kan enggak boleh keluar asrama kalo enggak ada urusan penting," ucap Lema makin panik.
Judy mendengus. "Jadi, urusan perut enggk penting? Kalo enggak boleh sarapan di aula, ya udah, makan di luar."
Tidak ada yang bisa membantah ucapan Judy, bahkan Lema sekali pun.
Lagian kita enggak bakal ketauan, tau. Tadi kan udah dihitung berderet sama mereka. Ilang dua, masa diperhatiin? Ya enggak, laaah. Kurang kerjaan amat harus nyari dua orang."
Langkah kaki pelan menuju toilet ini membuat perhatian Lema teralihkan. Lema mengintip dari balik pintu... dan....
Astaga.
"Gue yakin banget kita enggak bakal ketauan, dugaan gue kuat kali ini," celoteh Judy tanpa berhenti. Setelah ritualnya selesai, dia pun bersiap-siap keluar dari bilik. Mulutnya masih mengoceh, sementara Lema sudah panik karena pandangan sepasang mata yang menghunus tajam ke arahnya. "Cuma orang kurang kerjaan yang mau nyari kita!"
"D-Dy...," ucap Lema berusaha menghentikan ocehan Judy sebelum semua ini makin buruk.
"Kenapa, sih?" tanya Judy tidak suka dengan suara Lema yang gemetar. "Lagian ya, Le, siapa sih yang ngide ngumpulin kita ke lapangan? Sumpah, enggak jelas abiiis."
Judy keluar bilik. Disangkanya hanya ada Lema. Tapi satu orang laki-laki berdiri di sana dengan wajah itu. Wajah yang membuat Judy entah kenapa yakin bahwa sekarang dia dan Lema dalam masalah.
"Gue yang ngide. Kenapa? Enggak suka? Kalo enggak suka, pulang sana."
Suara itu berat dan penuh peringatan.
Judy menaikkan sebelah alisnya. Laki-laki ini barusan ngomong apa? Ngajak berantem?
Ayo. Siapa takut?
Judy melangkah maju sampai berada persis di depan laki-laki itu. Postur tubuh tinggi laki-laki dengan bet nama bernama Lagas itu tidak membuat Judy gentar. Tentu saja, tingginya dan laki-laki itu nyaris setara. Hanya beda beberapa senti, tapi tidak mematahkan keangkuhan Judy.
"Kalo enggak mau, lo mau apa?" tanya Judy, kembali melirik bet nama laki-laki itu, kemudian tersenyum miring. "Biogas?"
Wajah laki-laki itu langsung memerah malu. Gerahamnya mengencang, menahan amarah yang ingin mendesak keluar dari kepalanya. Judy tahu tipe laki-laki seperti ini. Dia hanya akan menahan emosinya sampai pada batas tertentu, dia akan meledak.
Dan sepertinya, Judy malah ingin laki-laki ini meledak.