"Kalau dipikir-pikir lagi, kamu yang membuatku tegar dengan caramu melukaiku. Dan untuk itu, aku berterimakasih."
(Hati yang Terluka)
JUDY melangkah perlahan, namun tetap saja, tiap langkah kucing yang ia lakukan, pendengaran Lema akan selalu lebih sensitif. Lihat saja. Sekarang, mata Lema mendadak terbuka. Irisnya langsung menghunus ke arah Judy dengan berbagai antisipasi.
"Kemana aja?" tanya Lema langsung. Perlahan melirik jam di dinding kamar. Jam sebelas malam. Astaga. Judy sudah gila, ya?
Selama Lema mengenal Judy, perempuan itu tidak pernah melanggar jam malam. Tepat sebelum jam sembilan, sudah harus ada di rumah. Tidak ada alasan apa-apa, pokoknya anak perempuan baik-baik harus pulang sebelum jam sembilan. Hanya itu.
Tapi sekarang, kelakuan Judy bukan seperti Judy biasanya. Dan Lema punya banyak jurus karate yang ia persiapkan untuk menghajar siapa pun orang yang membuat Judy berubah.
Judy menarik napas panjang, lalu menaruh ponsel dan jam tangannya di nakas tempat tidur. Perempuan itu bersiap-siap langsung selonjoran di tempat tidur, tapi Lema sudah menahannya lebih dulu. Bahkan, Lema yang tempat tidurnya ada di sebelah Judy langsung berdiri demi menahan lengan sahabatnya.
"Jud, kalo orang nanya, dijawab, dong."
Judy menepis tangan Lema. "Males."
Sabar... Lema tahu, Judy punya alasan sampai dirinya bisa seperti ini. Intonasi suara Judy sekarang sama persis dengan intonasi suara yang Judy gunakan pada orang-orang yang mengkhianatinya. Lema mengkhianati Judy? Sama sekali tidak. Mungkin, hanya cara Lema menasehati perempuan ini saja yang salah.
"Kenapa segitu enggak maunya, sih, ngikutin acara ini?" tanya Lema.
Kini mata Judy bersinar awas. "Gue males ngomongin ini."
"Jud."
"Le."
Lema lagi-lagi menarik napas. Bila seseorang sangat sulit terbuka akan masalahnya, bagaimana orang lain bisa membantu? Ah, jangan itu dulu. Bagaimana orang lain bisa tahu? Bisa peduli?
"Ya udah, seenggaknya, kasih tau gue. Lo kemana aja, Jud? Semua orang panik nyariin lo. Bahkan, Lagas nyariin lo."
Demi mendengar nama itu, mata Judy sedikit bersinar awas. Lagas? Nyariin dia? Mana mungkin! Paling, laki-laki itu hanya ingin reputasinya pulih.
"Kalo lo mau tau, lo udah bikin semua orang susah. Lo pasti terlalu picik buat peduli kalo orang-orang yang ngurusin acara ini punya beasiswa yang harus mereka pertahanin."
Kali ini, Judy benar-benar terjaga dari kantuknya. Matanya menatap Lema lekat. "Maksud lo? Beasiswa?"
Lema mulai gemas dengan tingkah Judy. Sangat gemas sampai ingin melindasnya dengan truk.
"Jud, Lagas kayak gini karena dia harus mempertahankan beasiswa. Dengan lo ilang-ilangan, semua pengurus dicap enggak kompeten sama kepala sekolah. Lo mau, gara-gara sikap bengal lo, orang lain kena imbasnya?" Lema menarik napas panjang melihat wajah Judy termenung. Sekarang, Judy mengerti. Menurut Lema, malam ini cukup itu saja. "Sikap lo enggak bertanggung jawab. Kalo kayak gini, dari awal aja lo enggak usah daftar jadi peserta! Masih banyak orang yang mau di posisi lo."
Lema kembali ke tempat tidurnya. Menarik selimut. Membalikkan badan sehingga hanya punggungnya saja yang bisa Judy lihat dari tempat tidurnya.
Dengan suara lirih, Judy membalas. "Gue enggak tahu."
Lema menatap dinding dingin kamar warna biru cerah, lalu dia membalas sama lirihnya.
"Kalo enggak tahu, jangan banyak berasumsi. Belum tentu, asumsi lo bener."
Judy tidak membalas. Dan Lema tahu, Judy merasa bersalah. Biarkan saja Judy seperti ini. Dia patut mendapatkannya.
Di sisi lain, Judy ingin mengatakan pada Lema bahwa dia hanya takut.
Judy takut memori lama yang sudah terpendam akan kembali.
TENANG, Lagas. Dengan tenang, semua masalah akan terselesaikan. Emosi hanya akan memperburuk segalanya. Jadi... tenang. Lagas harus tenang.
"Anjing, ngapain sih lo dateng?"
Tenang.... Lagas tidak perlu emosi. Bukannya, Panji memang selalu mengumpat pada dirinya seperti ini? Sikap Panji yang selalu dimanja oleh Ibu, membuatnya membangkang dan tidak sopan pada kakaknya sendiri. Lagas harusnya sudah tegar dengan ucapan Panji. Karena Lagas sendiri tidak bisa menasehatinya. Panji selalu mengadu pada Ibu dengan ucapan manis apabila Lagas bertingkah. Memutarbalikkan fakta adalah keahlian Panji. Dan keahlian Ibu adalah menjaga Panji dari sentuhan kejam dunia luar, tanpa tahu bahwa Panji sendiri lebih kejam dibanding dunia.
Panji ada di sana, berhadapan dengan Lagas langsung dengan dihalangi meja. Tangannya dibebat oleh borgol besi dan wajahnya babak belur bekas dipukuli. Pandangan matanya tajam dan menghina ke arah Lagas. Rambutnya yang acak-acakan menambah kesan berandal dalam diri Panji.
"Ketangkep kenapa lagi?" tanya Lagas. "Gue udah ngobrol sama Pak Doni. Dia bilang, lo belum bisa pulang. Kasus yang sekarang lebih parah dibanding kemarin," Lagas menarik napas panjang. "Ji, lo kenapa, sih?"
Sesampainya di kantor polisi, Lagas langsung mencari keberadaan Panji. Di sana dia bertemu Pak Doni, polisi yang kerap kali mengurus kenakalan Panji, sampai-sampai Lagas hapal nama dan wajahnya. Biasanya Pak Doni hanya tertawa melihat Lagas, mengatakan bahwa kelakuan Panji masih bisa ditolerir. Tapi kali ini, Pak Doni menatap Lagas sengit, tidak suka, seolah kelakuan Panji sudah di luar batas.
Dan mungkin memang di luar batas.
"Gue ketauan ngerokok," jawab Panji dengan mata melirik ke samping. Ketika adik sematawayangnya melakukan itu, Lagas tahu kalau Panji berbohong. Tabiatnya sejak kecil memang tidak pernah berubah.
"Ngerokok aja?" tanya Lagas mendesak.
"Minum... terus... nge-drug."
Lagas mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Tuhan....
"Ji, lo enggak kasian sama Ibu?" tanya Lagas. "Dia banting tulang nyari duit sekolah buat lo. Apapun dia lakuin buat lo. Tapi, lo ngebales dia kayak gini?"
"Anjing. Banyak bacot."
Lagas harusnya tenang. Emosi tidak akan menyelesaikan apa-apa. Namun ketika Panji bahkan tidak peduli dengan ibu mereka, Lagas tidak bisa menahannya lagi. Kalap, Lagas menggebrak meja sehingga Panji terkejut.
"Lo yang anjing," desis Lagas. "Kelakuan lo makin b*****t. Harusnya lo nyadar diri, Goblok."
Lagas melepas tangannya dari meja. Terasa panas. Dia mundur beberapa langkah. Dadanya kembang kempis. Matanya menatap benci ke arah Panji.
Panji menatap sama bencinya. Seolah Lagas yang patut disalahkan sampai akhirnya Panji seperti ini. Tapi, apa salah Lagas? Dia selalu berjuang seorang diri, sementara Panji selalu dimanja Ibu. Yang patut disalahkan adalah Ibu, tapi, apa Lagas berhak menyalahkannya? Tidak. Yang Lagas terima adalah imbas dari semua sikap Panji. Menyesakkan.
"Pergi lo, b*****t," desis Panji.
Lagas mengambil tasnya yang tergantung di sisi kursi. "Dengan senang hati."
Ketika keluar dari ruangan itu, tak sekali pun Lagas melihat ke arah Panji lagi. Tanpa Lagas tahu, Panji meringkuk, mengeluarkan isak tangisnya yang sejak tadi ditahan. Kepalan tangannya begitu kuat seiring rasa bersalah menghujamnya erat.
Malam itu, Lagas tidak tahu bahwa bukan hanya dirinya yang terluka.