Bab 8

1046 Kata
PERNAH merasa menang dalam memperebutkan suatu hal tapi tidak merasa tenang? Menang, tapi tidak tenang. Ini yang Lagas rasakan sekarang ketika berhasil membawa Lema dari hasutan bodoh Judy. Selain kecewa karena tidak bisa membawa Judy juga, Lagas merasa tidak tenang karena… ah, sudahlah, tidak perlu dibahas. Dibanding itu, suasana aula sedikit lucu. Mereka seakan tidak bisa apa-apa tanpa Lagas. Ramy tidak banyak membantu, malah membuat pengurus lain semakin nervous. Ketika melihat Lagas muncul dengan Lema, tentu saja para pengurus menghela napas super lega. Aman…. “Acaranya sudah sampai mana?” tanya Lagas pada Ramy setelah meminta Lema masuk dalam barisan. Ramy mengangguk, sedikit gugup, kemudian menjawab secara perlahan kalau acaranya masih pembukaan dan sebentar lagi kepala sekolah tiba. Masih sesuai jadwal, menurut Lagas. Mungkin sekarang dia bisa mencari Judy? Sebelum kepala sekolah tiba. Sebelum semuanya semakin runyam. “Oke, jaga bentar, Ram. Gue mau cari satu lagi.” Dan lagi, Lagas memutar otak, kemana kucing bandel satu itu kabur? SAHABAT selalu menjadi hal pertama dan terakhir yang Judy punya. Sahabat tidak pernah meninggalkannya. Sahabat selalu mengerti. Judy hanya paham dasar itu. Kenyataan seolah menamparnya karena Lema memilih Lagas. Lagas, orang yang belum dua puluh empat jam mereka kenal. Seharusnya Lema mengerti Judy, kalau senioritas membuat trauma Judy dua tahun lalu kembali ke permukaan. Tapi Lema tidak mengerti. Judy menarik napas panjang. Dia yakin, dia bisa tegar meski seorang diri. Lagipula, tempat kaburnya sangat indah untuk dilewatkan dengan marah-marah. Sebuah taman kecil di pojok sekolah, jauh dari keramaian dan aktivitas orang lain. Damai dan tentram. Itu yang Judy butuhkan sekarang. Judy menarik buku super kecil dan pulpen dari saku seragamnya. Lalu, mulai menulis. Apa saja yang ingin dia tulis, yang selintas lewat di benaknya, dan keinginannya. Semua keluh kesah ada di sana, bercampur padu menjadi satu. Sampai satu orang menghancurkan momen ini. “Apa, nih?” tanya suara jahil laki-laki seraya menarik buku super kecil itu dari tangan Judy. “Eh, balikin!” seru Judy. Kontan, dia berdiri dan berusaha menggapai bukunya kembali. Sial, laki-laki ini lebih tinggi. “Aku ingin terbang, meski tidak punya sayap. Wow, enggak nyangka lo bisa bikin tulisan kayak gini,” ucap laki-laki itu, masih dengan cengiran yang sama. Dia masih membolak-balik buku itu dengan tampang menyebalkan. Tentu saja menyebalkan, laki-laki tidak tahu malu ini mengambil bukunya begitu saja! “Untuk ukuran cewek yang bicaranya b***k-berakan, lo romantis juga.” Mata Judy melebar. Dia tahu? Secepat itukah berita menyebar? Laki-laki itu mengulurkan tangannya dengan senyum cemerlang. “Zidan.” Cepat-cepat, Judy menepis tangan Zidan. “Enggak usah sok kenal.” “Loh, ini namanya bukan sok kenal. Kalo gue sok kenal, gue bakal nanya, eh, lo enggak tau siapa gue?” “Ah, banyak bacot. Balikin buku gue.” “Ada syaratnya,” senyum Zidan melebar. “Bikinin gue puisi.” Alis Judy mengerut. Apa sih, masalah laki-laki ini? “Lo tertangkap basah lagi bolos sekolah. Bukan, bukan bolos aja. Tapi, bolos dari acara 2P. Jadi, uang tutup mulutnya adalah puisi. Buat tugas Bahasa Indonesia gue,” cengir Zidan. “Jangan lupa pake artinya, ya!” “Kalo lo mau ngadu, ya ngadu aja,” balas Judy enteng. Tentu saja ucapannya membuat Zidan sedikit terkejut. Tidak banyak orang yang senekat Judy di sini. Apalagi murid pertukaran pelajar. Ketika Zidan masih termenung, itulah saat Judy merebut buku tulisnya kembali. Zidan semakin kaget, membuat Judy tertawa. Dia memang penuh kejutan. “Lo emang orangnya nekat, ya?” tanya Zidan. “Bawaan orok,” cengir Judy, lalu mengulurkan tangan. “Well, gue Judy.” Kini Zidan tersenyum setelah memasang tampang b**o cukup lama. Dia menyambut uluran tangan Judy. “Ziiidan!” Dan itulah awal mula Judy memiliki teman baru di SMA ini. MUNGKIN kesempatan pertama mencari Judy dan Lema adalah keberuntungan. Karena sekarang, Lagas tidak bisa menemukan batang hidung perempuan itu. Dia sudah keliling mencari, tapi hasilnya nihil. “Muka lo kesel banget, Gas,” ucap Reyno ketika mereka berada di kantin, jam istirahat kedua. Bagaimana Lagas tidak kesal? Dia harus mengikuti acara di aula tanpa satu orang peserta. Tentu saja kepala sekolah menyadari hal itu. Selesai acara, Pak Zaki, mengumpulkan mereka semua untuk membicarakan masalah ini. Pak Zaki menilai bahwa pengurus tidak kompeten dalam mengurus peserta Pertukaran Pelajar. Bila hal ini terulang lagi, Lagas akan diperhitungkan beasiswanya. “Zidan mana?” tanya Lagas berusaha mengalihkan topik dari wajahnya yang penuh kekesalan. Reyno mengaduk mie baksonya sebelum menjawab. “Tadi dia cabut pelajaran Bu Indah. Terus, enggak tau, deh. Dia ‘kan emang suka cabut.” Cabut. Kata itu… entah kenapa, untuk sekarang, Lagas tidak menyukainya. Dia jadi teringat tentang Judy. Ada masalah apa sih, dengan perempuan itu, sampai-sampai tidak mau berurusan dengan acara ini? Memangnya, mereka akan menindas peserta? Hah, jaman sekarang, malah pengurus yang ditindas. Reyno baru saja ingin membuka mulut, maksudnya mengobrol lagi, tapi ponsel Lagas tiba-tiba berdering. Lagas berdiri dari kursinya dan menerima telepon dari ibunya. Ketika ibunya menelepon, Lagas punya banyak dugaan. Pertama dan paling utama, ini bukan tentang dirinya. Selalu bukan dirinya. Karena, yah, dia adalah anak yang paling bisa diandalkan. Apakah Lagas bermasalah? Tidak. Apakah Lagas perlu perhatian ibunya? Ya. Apa ibunya peduli? Tidak. “Ya, Bu,” sapa Lagas setelah hatinya siap menerima telepon dari ibunya. “Lagas!” suara ibunya tampak panik di ujung sana. “Kamu bisa ke kantor polisi sekarang? Panji ketangkep polisi lagi!” Panji, selalu Panji. “Lagas masih ada kelas…,” balas Lagas dengan suara rendah. “Setelah kela—“ “Ini Panji, adik kamu! Dan kamu masih peduli dengan sekolah? Kamu mikir apa, sih, Lagas? Ibu sudah panik di rumah ketika dapat kabar. Kamu harus jemput adik kamu sekarang!” Lagas mikir apa, Bu? Lagas mikir masa depan Lagas! Bila beasiswa dicabut karena ini, apa Ibu bisa membayar biayanya, seperti ibu membayar biaya sekolah Panji yang sangat mahal? Bukan. Bukan bisa. Tapi, apa Ibu mau? Hitung sampai sepuluh, lalu menarik napas. Lagas tidak boleh emosi. Ini ibunya. Dia tidak boleh membangkang. “Ya, Bu. Alamatnya Ibu SMS-in ke Lagas aja.” “Bagus.” Tut. Ditutup begitu saja. Semua hanya tentang Panji. Bukan tentang Lagas. Ketika kembali, Reyno berkomentar lagi. “Ya ampun… mukanya makin butek aja, Gas.” “Gue cabut dulu,” ucap Lagas setelah menghela napas berat. Kapan semua ini berakhir? Lagas hanya ingin ini berakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN