1. Maaf
Tersadar dari keterdiamannya, Prima membalikkan badan menatap gadis itu.
"Lo, si cupu itu?" tanya Prima dengan nada tak percaya.
Bukannya merasa tersinggung gadis yang di panggil cupu itu malah tersenyum sumringah sambil mengangguk.
Masih dengan tatapan tak percaya miliknya, Prima menelisik gadis itu dari kepala hingga ujung kaki, "lo serius?".
Gadis itu kembali mengangguk dan mulai membalas tatapan yang diberikan Prima kepadanya, sejak beberapa detik yang lalu.
Sampai beberapa saat kemudian, hanya keheningan yang terjadi. Lelaki ini rupanya enggan untuk beralih dari pemilik netra di hadapannya.
"Lo cantik juga ternyata." ujar Prima tanpa sadar dengan ucapannya.
Tak ada jawaban, gadis itu malah menunduk menyembunyikan senyum sinisnya.
Dan Prima menangkap jelas walau ia sendiri tak tahu maksudnya.
Tanpa disangka, gadis di depannya malah tertawa tiba-tiba, membuat Prima semakin kebingungan.
"Lo kenapa?"
Menghentikan tawanya, gadis itu mengubah ekspresinya seperti semula.
"Kalo aku cantik gini, Prima suka aku ngga?"
Jawabannya adalah 'iya', karena Prima mengangguk.
"Berarti Prima mau dong jadi pacar Dona?" gadis itu bernama Dona.
"Lagi, lo nembak gue untuk yang ke-10 kalinya?" tanya Prima dengan wajah tengilnya.
"Jawab aja."
"Oke, kali ini gue terima," jawab Prima tanpa berpikir.
"Wahh, seriously?" jawab Dona pura-pura terkejut.
Dona menarik napas melanjutkan ucapannya, "ternyata bener ya kepercayaan diri kamu masih setinggi langit!"
Sekilas Dona dapat menangkap keterkejutan dari mimik wajah lelaki di depannya.
"Kamu pikir setelah kejadian itu, aku bisa tetep suka sama kamu?"
"bahkan, kejadian itu jauh lebih sakit dari yang aku bayangin." Dona mencoba tegar walau rasa sesak kian menerpa.
"Kamu emang sebodoh ini ya Prima?" netra kelam milik Dona tidak bisa berbohong, kalau ia memang terluka, dan Prima yang b******k tahu itu.
Ketika Dona mulai terisak dan menjauh, Prima mendekat hendak menggapai lengannya. "Don, gue mohon lupain hal itu!" pinta Prima.
Dona menatap Prima tak percaya, "see, kamu bahkan gak merasa bersalah Prim?"
"hati kamu terbuat dari apa sebenernya?!" meluap sudah amarah Dona, ia bahkan memukul d**a lelaki itu berkali-kali.
"Stop Don, gue cuman gak mau lo semakin sakit!" Prima me nggenggam erat lengan Dona, mencoba meluluhkan amarah gadis di depannya.
"Gue minta maaf buat semuanya, gue salah." ucap Prima sambil memeluk Dona.
Dona kembali terisak di dalam dekapan Prima, "aku kecewa Prim, kamu bahkan udah buang aku dan dia." gumamnya.
"Please, biarin gue jadi egois lagi ya, gue mau nebus kesalahan gue!" lalu Prima mengeratkan pelukannya.
"Gak semudah itu Prim,"
"aku bukan Dona yang bodoh lagi. Gadis cupu yang suka sama lelaki b******k seperti kamu, dia udah mati 3 tahun lalu, setelah kamu buang dia tanpa perasaan." ucap Dona dengan lancar tanpa peduli dengan perasaan lelaki di depannya.
Prima diam tanpa kata, ia menatap gadis di hadapannya dengan perasaan gamang dan menyesal, bahkan hatinya berdenyut nyeri. Hati dan pikirannya bekerja sama membawa ia ke masa kelam itu.
"Cuma kamu yang aku punya saat itu, tapi kenapa sulit rasanya buat kamu bertahan di sisi aku." setetes cairan bening kembali turun dari wajah cantiknya.
"Don..berenti, jangan buat hati lo sakit!" ucap Prima memohon.
"Makasih ya Prim, untuk rasa sakit yang kamu kasih ke aku dulu." ucap Dona seraya tersenyum manis, tapi entah mengapa Prima menangkap itu adalah sebuah kesakitan mendalam.
Dona menepuk pundak Prima dan berkata, "jangan pernah muncul di hadapan aku lagi ya, aku mau lupain kamu sumber kesakitan aku." setelahnya, Dona berbalik dan melangkah meninggalkan Prima dalam keterdiamannya.
Prima jatuh terduduk setelah Dona pergi, ia terisak menyesali perbuatannya di masa lalu.