Housemate

1110 Kata
Begitu sudah sendiri, baru aku bisa tertawa lepas tanpa suara. Rasanya ingin sekali menghubungi para Ukhtis sekarang juga. Tidak sabar untuk berbagi kabar gembira. - HAPPY READING - Ah... indah sekali mimpiku. Rasanya seperti terbang di atas awan. Aku berayun ke kiri dan ke kanan. Wangi. Aroma parfum Faris kenapa bisa sampai ke sini? Oh, mungkin karena di mimpi aku bertemu dia, jadi wangi parfumnya masih tertinggal. Eh, sebentar. Sepertinya ada yang salah. Seharusnya aku sedang bermimpi, bukan? Tapi, kalau ini mimpi, mengapa suara Faris dan Farhan terdengar sangat dekat dan nyata? Mataku membeliak di detik berikutnya. Ini, bukan mimpi! Sepasang iris mata berwarna cokelat milik lelaki yang selama tiga tahun terakhir bersemayam di dalam hati, sedang menatapku dengan sorot khawatir. Begitu aku tersadar, embusan napas leganya terasa menyapu setiap inci wajahku. Faris mempererat dekapan tangannya. Aku dipeluk Faris! Allahu Akbar! Mimpi apa aku bisa berada sedekat ini dengannya? "Ira! Kamu udah nggak apa-apa? Tunggu ya, sebentar lagi kita sampai apartemen," serunya heboh. Langkah kaki gebetan jangka panjangku terasa semakin cepat. Aku terdiam, membisu. Mulutku tertutup rapat, berlawanan dengan mata yang terbuka sangat lebar. Ini kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan. Aku ingin memandanginya sepuasku, juga menghidu aroma tubuhnya sampai aku sesak. Tidak hentinya aku berterima kasih pada-Nya, karena sudah mengabulkan doaku selama ini. Awalnya terasa seperti mimpi, tapi ternyata ini benar adanya. "Farhan, cepetan buka pintunya," perintah Faris pada adik lelakinya yang juga terdengar panik. Mataku langsung beredar, saat kami bertiga sudah berhasil masuk ke dalam tempat tinggal Faris. Lantai apartemennya terbuat dari kayu berwarna cokelat terang. Terdapat sebuah cermin besar di dinding sebelah kanan lorong apartemen, yang membagi keseluruhan apartemen menjadi dua bagian. Warna cat dindingnya putih bersih. Aku melihat beberapa poster hasil karya Faris tertempel di dinding ruang keluarga. Juga keyboard dan gitar yang suka dimainkan olehnya di setiap video-video yang ia unggah di media sosial. Aku tercenung. Sungguh. Aku tidak pernah menyangka bisa berada di sini. Melihat semua yang biasanya aku lihat melalui perantara, dengan mata kepalaku sendiri. Perasaan bahagia seakan mendesak, sampai mataku mulai lembab. "Ra, kamu kenapa mau nangis? Pusing banget, ya?" tanya Faris setelah merebahkanku di sofa tiga seater yang berada tepat di seberang TV layar lebar. Kepalaku menggeleng cepat sebagai jawaban. "Makasih banyak, Kak. Padahal baru ketemu, tapi aku udah langsung ngerepotin gini," jawabku lemas. "Teh Ira, ini diminum dulu." Tiba-tiba Farhan datang, menyodorkan sebuah cangkir ke hadapan. Faris membantuku untuk duduk, dan mengambil alih cangkir dari tangan Farhan. Saking gugupnya, saat minum pun aku tidak bisa fokus. Air hangat yang aku minum sempat meluber, dan bikinku tersedak sampai mereka berdua kembali heboh. Lama-lama aku malu juga kalau terlihat lemah begini. "Kak, aku udah baikan, kok. Beneran," ujarku cepat. "Ya, udah. Kamu istirahat dulu di sofa, ya," jawab Faris. Lalu ia berdiri dan menghampiri Farhan yang sedang duduk di kursi makan. "Farhan, kamu tadi nyusahin Teh Ira, ya? Sampe lemes gitu orangnya? Pasti kamu mager, kan? Main HP mulu," omel Faris tiba-tiba. Wah, baru kali ini aku mendengar Faris mengomel. Aku kira dia lelaki super tenang, ternyata tidak juga. "Farhan nggak selalu main HP kok, A. Tanya aja tuh, sama Teh Ira!" sanggah Farhan. Aku jadi tidak enak. Gara-gara aku, bocah itu jadi kena marah. Aku putuskan untuk bangun dan ikut masuk ke dalam obrolan mereka. Sebenarnya aku baik-baik saja. Hanya terlalu kaget dan tidak percaya dengan kenyataan. "Kak Faris, kamar aku yang mana?" tanyaku baik-baik. Mendengar perkataanku, Farhan malah mendengkus sebal. Waduh, bisa gawat kalau dia kesal sama aku. Status Farhan sekarang naik derajat, jadi calon adik ipar. Hehehe... "Kamu mau istirahat di kamar? Ya udah, sebentar aku bantu bawain kopernya." Faris berlalu lebih dulu, ke arah pintu kayu yang juga bercat putih. Secara keseluruhan, apartemen dua kamar ini tampak rapi dan modern. Pasti bikin aku betah, deh. Apalagi ada Faris di dalamnya. Ah, jadi hampir tertawa lagi kan, aku. "Teteh kenapa senyum-senyum? Seneng ya, lihat Farhan diomelin Aa?" sindir calon adik iparku dengan wajah merengut. Aku langsung menggeleng dengan wajah penuh rasa bersalah. "Enggaklah, Farhan. Lagian Teteh tadi cuma terlalu kaget aja. Ya, sama kecapean sedikit, sih. Tapi bukan gara-gara kamu, kok. Maaf, yah," balasku lembut. Rasa kesal masih tampak jelas di wajahnya, tapi Farhan mengangguk. "Ra, kamarnya udah rapi. Kamu istirahat aja dulu. Nanti aku panggil pas makan siang siap," kata Faris dari pintu kamarku. Aku mengangguk sembari mengucapkan terima kasih, lalu masuk ke kamar dan menutup pintu. Begitu sudah sendiri, baru aku bisa tertawa lepas tanpa suara. Rasanya ingin sekali menghubungi para Ukhtis sekarang juga. Tidak sabar untuk berbagi kabar gembira. Namun, kalau sampai terdengar oleh Faris atau Farhan, bisa bahaya. Nanti malam saja, deh. Untuk sekarang, biar aku simpan sendiri rasa bahagia ini. *** "Besok langsung mulai KP-nya, Ra?" Faris bertanya saat sendok yang aku pegang hampir masuk dengan sempurna ke dalam mulut. Meski agak terganggu, tapi aku tetap tersenyum. Mana bisa aku sebal sama sang pujaan hati. Aku mengangguk dengan anggun. "Iya, Kak. Besok jam sembilan pagi harus udah di butik. Kak Faris tahu Holland Village, nggak?" Lawan bicaraku ini sempat terlihat berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengangguk. Sekarang aku bisa mengamati detail wajahnya tanpa takut ketahuan. Paras Faris tidak berubah bahkan setelah dua tahun aku tidak menatapnya dari jarak dekat. Ia memang sempat beberapa kali datang ke kampus, tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk berbicara dengannya. Dan kini, kami hanya dipisahkan oleh meja makan kayu berbentuk persegi yang tidak terlalu lebar. Mungkin, hanya selebar ubin di rumah. "Tahu, sih. Di sana memang banyak butik-butik desainer. Aku pernah ke sana beberapa kali. Ada kafe-kafe juga soalnya." "Jauh nggak Kak, dari sini? Aku baru sempet cari tahu lokasinya deket MRT apa. Belum sempet cek jarak dari apartemen ke sana," kataku lagi. "Sebenernya nggak jauh, tapi kamu harus dua kali ganti MRT. Mau aku anterin besok?" Seketika mataku terbuka lebar saat mendengar kalimat terakhir dari mulutnya. Kepalaku mengangguk secepat kilat. Tentu saja aku mau. Meski bakal bertiga sama Farhan, tapi minimal aku bisa berjalan berdampingan dan mengobrol sama Faris sepanjang perjalanan. Membayangkannya saja, langsung bikin aku tersenyum semringah. "Tuh, Farhan dengerin. Besok bangun pagi-pagi, ya! Jangan males," sindir Faris pada adik bungsunya. Farhan yang sejak tadi diam karena tidak diajak bicara, langsung merengut. "Kenapa sih, Farhan diomelin mulu? Baru juga dateng, udah jadi sasaran terus," gerutu Farhan dengan muka yang ditekuk. Melihat adiknya kesal, Faris malah tergelak. Aku baru tahu ia bisa begitu jenaka seperti ini. Padahal dulu aku sudah sangat kepo sama Faris, tapi ternyata masih ada sifatnya yang tidak aku ketahui. "Bercanda kok, Adikku sayang," sahut Faris menggoda. Ia menarik Farhan ke dalam pelukan. Aku juga ikut tertawa dan menikmati suasana, sambil menyantap makan malam bersama calon suami dan calon adik ipar. Amin... to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN